
"Sudah pulang dia?" Kalimat itu sedikit membuatku terkejut. Jarak kedatanganya dan kepergian Davin hanya beberapa detik saja. Dan Rin masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Jadi yang tadi aku lihat itu kamu."
"Jelas lah. Nanti kalo kamu kenapa - Napa gimana?" Ucapnya ringan. "Awalnya aku memang mau ketempat Andi. Tapi...." Danil membisu sesaat. "Aku tidak percaya meninggalkan kalian berdua saja." Dia berlalu ke kamarnya.
Seulas senyum terukir diwajahnya. Ucapannya membuat Rin senang. Perbuatan sungguh tidak diduga. Bahagia sekali ada yang memperhatikan. Sesaat Rin menikmati perasaannya.
Tanpa disadarinya Danil duduk di sebelahnya sudah berganti baju. "Hei. Mikirin Davin ya? Mulai suka sama dia?"
Rin menoleh. "Emang kenapa? cemburu?"
Danil memalingkan wajahnya. "Ayo aku bantu ke kamar." tangannya menyentuh pundak dan mengarahkan Rin merangkul pinggangnya. "Hati -hati. Dan sementara kau tinggal disini saja." Rin terkesiap dan menoleh ke arah Danil. Mata mereka bertemu. "Tinggal disini bersamaku sementara waktu dan semua urusanmu aku yang handle.."
Seperti janjinya. Malam ini Danil ke MP menemui menegemen Rin. Meminta izin karena Rin sedang cidera. Beruntung mereka memberi waktu beberapa hari untuk Rin.
Dalam kamar Rin memikirkan kuliahnya. Seharusnya hari ini dia ujian. Bagaimana dengan nilainya nanti dia tidak ingin jika harus mengulang. Tinggal dua semester lagi. Rin bercita - cita bisa bebas secara finansial di usia 30 tahun. Ditambah biaya kuliahnya terbilang mahal. Dia yang hanya seorang diri tanpa orang tua dan keluarga tentu tidak bisa mencapai ini dengan mudah. Perjalanan dan kesulitan yang membuatnya memutuskan mengabdi beberapa saat di MP. Tentu selalu ada yang dikorbankan untuk sebuah kesuksesan. Dan tidak murah.
Di tempat tidur Rin menerawang membayangkan masa depannya. Dia tidak ingin terlalu lama di MP. Sebaik apapun dia, jika orang tahu bekerja di MP. ******* adalah sapaannya Padahal selama ini mahkotanya dijaga utuh. Belum ada seorang pria pun yang melihatnya polos. Walau banyak pria yang sudah melihat separuhnya.
"Rin."
Suara bariton Danil terdengar indah. Lebih indah dari lantunan lagu. Sengaja dibiarkan terus memanggil. Terlalu betah mendengar namanya disebut.
"Hey Rin. Diam aja." Danil muncul dan membuka pintu tanpa permisi.
"Aku tidak dengar." ucapnya berbohong.
"Urusan MP beres." Danil memberikan jempolnya.
"Terimakasih."
__ADS_1
Danil berjalan mendekati Rin. "Sudah malam tidur ya. Istirahat. Besok pagi aku harus kerja. Tidak apa kan sendirian?" Danil bertanya sambil membaringkan Rin dan menyelimutinya.
"Iya. Tenang saja."
Danil memberikan ucapan selamat malam lalu pamit dan mematikan lampu tidur Rin agar tidurnya lebih nyenyak. Kehadiran Rin dirumahnya seolah mengusir rasa sepi selama beberapa tahun ini.
Dikamarnya Danil termenung sambil menatap keluar jendela. Matanya memandang taburan bintang yang bersinar keemasan di atas sana. Sepintas dia teringat Vina. Gadis cantik dengan rambut panjang terurai yang selalu mengajaknya melihat bintang setiap malam. Baginya bintang menghibur saat hatinya sedih.
Namun gadis itu sudah mendapatkan hidupnya. Pria yang mendorong kursi roda itu sangat tulus. Jelas pada matanya. Setelah bayang Vina hilang. Kerinduan sosok Ibu hadir dalam hatinya. Malam ini Danil merindukan wanita yang memberi warna dalam hidupnya. Semoga Rin bisa membawa warna itu kembali.
Karena hari makin larut. Danil menaiki ranjangnya dan mulai tidur terlelap. Besok pagi perubahan pada perusahaanya dimulai. Dia sudah tidak sabar.
* * *
Belum sempurna matanya terbuka. Hidungnya mencium sesuatu. Nasi goreng. Pasti Rin yang membuat. Tanpa mencuci muka Danil langsung ke dapur. Takut Rin kesulitan di dapur.
"Sudah bisa jalan Rin?"
"Cepat juga."
"Iya dong. Mungkin karena kemarin aku makan banyak buah pemberian Davin."
Mendengar namanya Mood Danil turun Drastis. Selain karena perbuatan Davin pada Ina yang tidak bisa di maafkan. Ada perasaan sakit dihatinya jika Rin membanggakan dia.
"Ngak ada hubungannya." Danil memutar badannya kembali ke kamarnya.
"Kita sarapan bareng. Aku tunggu." Rin menarik kursi didepannya dan menjatuhkan tubuhnya. Tangannya dilipat rapi.
Di ruangan lain. Danil duduk meluapkan kekesalannya. Dipukulnya kasur dan dilempar bantalnya ke dinding. "Brengsek."
Setelah tenang. Danil mandi dan menyusul Rin ruang tamu. Selama menikmati makanan tidak sepatah katapun Danil keluarkan. Rasa kesalnya belum hilang. Tidak seperti biasanya Danil mudah melupakan sesuatu
__ADS_1
"Danil. Nanti aku keluar sebentar ya." Rin membuka percakapan. "Aku mau ambil baju."
Danil menghela napas pendek. "Terserah."
Rin mengerutkan keningnya melihat Danil. Masih pagi pria dihadapannya sudah tampak kesal sekali. Sepertinya Rin masih belum peka.
"Ya sudah. Aku pergi dulu. Kamu hati - hati." Danil beranjak dari tempat duduknya.
Tidak tahu harus berbuat apa. Rin hanya mengangguk. "Iya. hati - hati."
Sepeninggalan Danil, Rin mempersiapkan dirinya untuk pulang ke tempat tinggalnya. Sebuah rumah tua peninggalan neneknya dulu. Walau Rin tinggal di panti asuhan. Hak waris atas Rin tetap di jaga. Nenek dan kakek Rin hanya memiliki seorang anak tunggal. Yaitu ibunya Rin. Semasa hidupnya Rin memanggil ibunya Ama. Mungkin darah Sumatera Barat yang mengalir di tubuhnya mengajarkan itu.
Baru beberapa hari tidak melihat rumah ini. Kangen sekali. Jutaan kenangan masa kecil masih jelas tersimpan di memori otak Rin. Jalinan dan rajutan kasih nyata diberi untuknya. Tentu seumur hidup Rin tidak mampu melupakan.
Saat melangkah memasuki halaman. Bau khas dedaunan menempel di penciumannya. Segar sekali. Rerumputan yang hijau itu tempatnya pertama kali belajar berjalan.
Rin mempercepat langkahnya. Tidak ingin orang tahu siapa dia sebenarnya. Buru - buru masuk ke kamar dan mengambil beberapa helai bajunya. Kemungkinan dia akan sedikit lama tinggal bersama Danil demi misinya.
Koper besar dibawa Rin. Dia masuk ke dalam taxi yang sudah dipesannya terlebih dahulu. Melaju kembali ke apartemen.
Tiba di apartemen Rin dapat melihat mobil Davin. Untuk apa dia kesini lagi. Perasaannya mendadak tidak enak. Pikirannya kalut. Ada ketakutan dalam dirinya. Takut semuanya terbongkar. Namun Rin berusaha membangkitkan paksa keberanian itu. Dia mulai melangkah seolah tidak terjadi sesuatu.
Benar saja. Di sana Davin berdiri di depan pintu apartemennya. Davin bersama beberapa pria yang mengawal. Sementara Rin tetap melangkah mendekat.
"Sudah lama?" tanya Rin.
"Tidak." ucap Danil santai. Matanya menatap Rin terang - terangan.
Rin mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya di pintu. Pintu terbuka dan mereka masuk bersamaan. Baru satu langkah tiba - tiba nyali Rin menciut.
Sebuah celana dalam pria tergeletak di tepi lantai ruang tamu. Matilah Rin jika kebohongannya terbongkar saat ini juga. Kenapa bisa Danil seceroboh dan sebodoh itu.
__ADS_1
"Itu apa?" Jari Davin menunjuk.