Jual Diri

Jual Diri
pertemuan pertama


__ADS_3

Suara ayam terdengar bersautan. Berkokok membangunkan semua termasuk Danil. Tubuhnya yang lelah terasa berat untuk digerakkan. Tapi harus dipaksakan.


Dengan gontai Danil beranjak kekamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi, berharap kantuknya lenyap.


Belum selesai menggosok gigi, terdengar sayup suara tangisan. Bulu kuduk Danil berdiri. Pandangannya berubah takut. Cepat - cepat dia berkumur. Dipaksakan kakinya melangkah mencari sumber suara. Dalam hati terus menyebut Asma Allah.


Ada - ada saja nih setan pake nangis dalam apartemenku. Buat takut aja. Danil bergumam dalam hati.


Tiba - tiba langkahnya berhenti. Tepat didepannya ada yang duduk membelakanginya dengan pakaian yang serba putih. Danil semakin merasa takut. Tubuhnya seperti ingin jatuh kelantai.


Tapi tunggu dulu, ada yang berbeda. Danil perlahan melangkah maju.


Oh iya. Dia lupa kalo sedang bersama Rin. Wanita yang semalam di bookingnya. Tapi kenapa dia menangis. Ada sedikit perasaan cemas dihatinya.


Tidak ingin mengganggu. Danil memilih berdiri dibelakang Rin dan mengamatinya. Dia ingin Rin menumpahkan segala kesedihannya terlebih dahulu. Setalah isak tangis Rin sudah tidak terdengar Danil menyentuh pundak Rin dari belakang.


Auwww


Secepat kilat tangan Danil ditarik maju oleh Rin. Setelah itu diputarnya sehingga Danil menjerit kesakitan karena dipelintir keras oleh Rin Dan hampir dibanting ke lantai.


"Sakit Rin. Aduh." Terdengar jeritan. "Gila, patah nih tanganku." Danil terus menjerit tidak berhenti. "Sakiiiit.. lepasin."


Kaget melihat Danil meringis. Rin melepas tangan Danil dan langsung meminta maaf. "Maafkan aku, aku kaget. Aku tidak tahu itu kamu." Berkali kali Rin menundukkan kepalanya dan merapatkan kedua telapaknya.


"Lain kali hati - hati dong. Kalo patah mau ganti?" Danil sebenarnya ingin marah tapi dia tahu Rin tidak sengaja. Danil bisa melihat itu dari matanya. "Lalu kenapa kamu menangis? Aku pikir kuntilanak." ucap Danil lugu.


Rin tertawa mendengar ucapan Danil. "Kuntilanak mana ada yang sholat." Rin sudah mulai melupakan kesedihannya. "Tidak apa - apa. Aku tadi hanya sakit perut."


Jawaban tidak masuk akal. Danil tahu Rin sedang berbohong. Tapi dia tidak ingin memperpanjang. "Ya sudah. Siap - siap nanti aku antar pulang. Pakai baju itu saja." perintah Danil.


Rin menggangguk dan segera melepas mukenahnya kemudian berlari kekamar mengambil tasnya.

__ADS_1


Sementara Danil mandi dan bersiap. Rin menunggu di ruang depan. Sekejap matanya sulit berkedip. Pria itu sangat tampan dengan setelan kemeja rapi. Rambutnya disisir klimis kebelakang.


"Kok ngak ngedip ngeliatin? terkesima dengan ketampanan ku ya?"


Rin membuang pandangannya. Dia tidak ingin terlihat salah tingkah. Tapi semburat merah di pipinya sangat terlihat jelas.


"Hahaha, lucu sih kamu." Danil mendekati Rin dan menyambut tangannya. "Yuk pulang."


Mereka bergandengan tangan menuju parkiran. Setelah masuk ke mobil dan menyalakan mesin. Danil tersentak karena Rin tiba - tiba menciumnya dan merangkul pundaknya. "Makasih untuk malamnya." setelah itu Rin kembali memakai cadarnya.


Danil hanya membalas senyuman karena dia sendiripun bingung harus bersikap seperti apa. "Tapi besok kalo mau cium gosok gigi dulu ya. Bau tau." Danil mencoba mencairkan suasana.


"Sialan."


"Mau diantar kemana?" tanya Danil.


"Nanti ikuti arahanku saja. Sekarang jalan aja Dulu."


Danil melajukan mobilnya. Selama diperjalanan Rin dan Danil tidak banyak bercerita. Dan Rin meminta Danil menurunkannya di halte dekat kampus karena Rin menolak diantarkan sampai rumah.


Pagi hari makan bubur ayam dan segelas teh hangat sepertinya nikmat. Yah inilah resikonya seorang bujang. Tidak ada yang memperhatikan makanannya.


Setelah teh hangat pesanannya datang Danil menyeruputnya pelan sambil menikmati wajah para mahasiswa dan mahasiswi lalu lalang. Jadi rindu masa ini. Masa kuliah tidak lebih indah dari masa SMA, tapi setidaknya semua berawal dari sini. Relasi dan pertemanan terbentuk dari kampus.


Sambil menunggu pesanan bubur ayamnya. Danil memainkan gawainya. Dilihatnya lima buah pesan yang belum dibaca dan dibalasnya. Pesan dari sekretarisnya. Malas sekali Danil ingin membacanya. Urusan pekerjaan sering membuat kepalanya semakin pusing. Bersantai sejenak tidak apalah.


Tak lama bubur ayamnya datang. Kebetulan sekali perutnya sangat lapar. Ditambah kuah kaldunya yang pedas menambah citarasa. Benar kata banyak orang. Makanan pinggir jalan rasanya jauh lebih nikmat dan enak. Sepertinya besok besok Danil akan lebih sering jajan dipinggir jalan.


Ditengah santap paginya. Seorang gadis lewat dengan aroma parfum yang tidak asing. Danil menoleh dan mendapati seorang wanita muslimah dengan cadar duduk disebelahnya. Kaya kenal. Ucapnya dalam hati. Tapi siapa yah? Danil mencoba mengingat.


Gadis disebelahnya juga memesan menu yang sama dengannya. Danil seperti merasakan sesuatu dekat dengannya, padahal ini pertemuan pertama mereka.

__ADS_1


Sadar pria disebelahnya sedang menatap ke arahnua, gadis itu menoleh dan tampak tersenyum. Ujung matanya yang menyipit tidak dapat menyembunyikan senyumnya.


"Hay." sapa Danil ragu.


Gadis itu memberi salam dengan mengatupkan kedua telapak ya.


"Kulia di kampus itu." Danil menunjuk dengan kepalanya.


Dijawab gadis tersebut dengan anggukan kepala. Sebenarnya Danil merasa canggung menyapanya. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya. Dia tahu gadis ini tidak bisu. Seperti berbicara dengan patung.


Akhirnya Danil memilih membayar makanannya dan pergi menuju mobilnya. Namun saat ingin membuka mobil, dia tidak menemukan kunci mobilnya. mungkin terjatuh ditempat bubur ayam tadi. Belum sempat Danil membalikan badan. Terdengar ada yang memanggil.


"Permisi mas."


Danil menoleh dan didapati gadis tadi dihadapannya. Danil menatapnya dengan tidak bersahabat.


"Kenapa?" tanya Danil ketus. Karena sebenarnya dia masih sedikit sebal dengan perlakuan gadis itu tadi.


"Ini milikmu?" Disodorkannya sebuah kunci dengan hiasan gantungan lumba - lumba berwarna biru.


"Iya ini punyaku. Dimana kau temukan?" Danil bertanya dengan nada ketus. Tapi melihat kebaikan hati gadis itu. Rasa kesalnya perlahan surut.


"Dibawah meja tempat makan tadi." Lalu dia menyerahkan kunci tersebut pada Danil.


"Oh terimakasih. Siapa namamu?"


"Rania." ucapnya lembut.


"Aku Danil. Sekali lagi terimakasih ya Rania sudah repot - repot menyusul demi ini." Diangkatnya sedikit kunci mobil.


Rania mengangguk dan berpesan agar Danil lebih berhati - hati kedepannya. Tak lama Rania pamit undur diri karena dia ada kelas. Takut telat.

__ADS_1


Setelah itu Danil kembali masuk mobilnya menuju kantor. Hari ini keuntungan perusahaan harus lebih bagus dari kemaren. Sedikit jawaban Rin tadi malam memunculkan ide brilian untuk perusahaan dan kesejahteraan pegawainya.


Aku haru membuat nyaman pekerja dan konsumenku. Aku tidak boleh sampai mengecewakan mereka. Pagi ini Danil tampak bersemangat. Karena rezeki yang aku peroleh adalah dari mereka. Bersikaplah seolah kau ingin diperlakukan.


__ADS_2