
Seperti kata Danil. Aku harus apa adanya. Mendekati dengan kejujuran pasti akan lebih meyakinkan. Sementara Danil pergi bersama Andi untuk bertemu koleganya. Aku duduk dilobi apartemen Davin. Mengamati sekitar.
Godyazar adalah apartemen yang sangat berwibawa. Dikenal dengan segala fasilitas internasional yang mengedepankan teknologi. Pintu masuk yang akan terbuka dengan panas tubuh serta para penghuni yang dikenal dengan pamor baiknya. Yah mereka bukan orang sembarangan.
Dengan menggenggam sebuah majalah. Rin pura - pura membaca. Matanya melirik Davin yang sedang menuruni anak tangga. Ekor matanya mengikuti arah Davin. Ketika dia mendekat Rin berlari kearahnya menabrakkan diri.
"Aduh." Rin meringis.
Davin hanya menunduk melihatnya terjatuh dilantai. "Hati - hati nona."
Rin mengangkat kepalanya. "Tidak mau menolongku?" Rin mengangkat kedua tangannya ke arah Davin.
Davin menggeleng. "Bukan urusanku." dan berjalan melewati Rin.
"Ih ngeselin." Rin berdiri dan mengejar. "Hay. kau lupa padaku?" Davin menatapnya sedetik dan kembali mengacuhkan. "Hey. buru - buru sekali." Rin kembali mengejar. "Tunggu dong."
Davin berhenti dan menatapnya. "Kamu mau apa?" Suaranya terdengar parau. Matanya menatap Rin lekat.
Bola matanya Davin yang jernih semula membuat Rin kagum. Terlebih wajah tampannya yang seperti malaikat. Tentu membuat siapa saja yang melihat pasti terpesona. Pria ini tampan sekali. Dan semerbak tubuhnya memabukkan.
"Aku cuma mau berkenalan." ujar Rin polos sambil mengulurkan tangan.
Davin teringat perkataan Rin semalam. "Kau bilang sudah menikah. Mana suamimu?"
Rin kelabakan. Dia harus berbohong apa lagi ya. Oh iya. Danil bilang harus jujur. "Aku bohong. Habisnya kamu tiba - tiba mau nyelonong masuk. Maaf." Rin mengatupkan kedua tangannya. Matanya memohon.
"Jadi kau mengikuti hanya untuk hal tidak penting begini?" ucapnya melotot.
Rin hanya terkekeh tidak tahu harus menjawab apa lagi. Davin pun pergi meninggalkannya.
Dari kejauhan Rin melihat sebuah mobil melaju sangat kencang ke arah Davin. Karena sedang sibuk menelpon mungkin Davin tidak memperhatikan. Sekuat tenaga Rin mengejar mendorong tubuh Danil bersamanya hingga tersungkur ke tanah.
Mereka jatuh menghantam tanah dengan punggung Rin sebagai alas.
Awwwu
Rin merasakan kulitnya bergesekan dengan batu kerikil disana. Tambah lagi Davin menghantam keras diatasnya. Sakit sekali. Darah segar keluar dari mulutnya.
__ADS_1
Ooooooiii
Davin meneriaki mobil itu. Tubuhnya berusaha mengejar. Namun dia mendengar suara. Melihat Rin menjerit dan meringis menahan sakit. Davin langsung menggendongnya dan memasukannya ke mobil. Semula Davin berprasangka buruk. Namun dengan yang diperbuat Rin, Davin merubah sudut pandangnya. Mungkin dia memang sedang ada keperluan atau temannya tinggal satu apartemen dengannya. Tapi itu sudah tidak penting. Keselamatan wanita ini lebih penting.
"Sabar ya. Kau harus tahan sedikit lagi." Davin semakin mempercepat laju mobilnya. Sesekali pandangannya mengawasi.
Rin menatap sendu. Mulutnya sudah tidak mampu berkata - kata. Tangisnya pecah ketika rasa sakit semakin meluap di sekujur tubuhnya. Davin yang melihat semakin cemas.
Rumah sakit sudah berada diseberang. Setir mobil diputar dengan lincahnya. Sampailah mereka ditujuan. Sigap Davin berlari keluar memanggil perawat untuk menolongnya. Beberapa perawat langsung membawa Rin masuk ICU. Rumah sakit ini adalah milik kolega Davin. Tentu pelayan terbaiklah yang pasti Davin dapatkan.
"Maaf ya pak. Tunggu disini saja. Tidak boleh masuk." Dokter berkata dengan intonasi yang menenangkan. Davin paham dan mengangguk.
Davin menghubungi orang kepercayaan. Hari ini dia tidak bisa datang. Dia minta digantikan untuk hari ini.
Seorang dokter keluar. "Sudah selesai pak. Ibu sudah bisa ditemui."
"Terimakasih" kata Davin.
Davin masuk dan berdiri di samping. "Siapa namamu?" tanyanya lembut.
"Rin." ucap Rin tertatih.
Rin mencoba menjawab dengan senyuman karena untuk berkata sakit sekali dadanya. Jauh dalam pikirannya. Rin masih bertanya - tanya. Orang dalam mobil tadi pasti berniat menabrak Davin. Tapi kenapa pria yang nampak baik itu memiliki banyak musuh.
"Masih sangat sakit ya?"
Rin tidak menjawab pertanyaan Danil. Pandangannya menatap sisi lain.
"Hey." Davin memanggil Rin yang tampak termangu. "Ngelamun apa?"
Rin menggeleng lemah.
Davin menyentuh dan menggenggam tangan Rin. "Istirahat saja ya. Kau harus sembuh. Dan kalo kau merasa kurang nyaman. Buka saja cadarnya." Davin takut pakaian Rin yang serba tertutup malah menghalangi geraknya yang saat ini terbatas.
"Tidak apa." tolaknya halus.
"Baiklah. Aku tinggal sebentar ya. Dan apa aku boleh meminta nomor ponselmu? agar lebih mudah mengontrol mu nanti." Davin menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
Rin langsung memberi nomornya. Karena tujuan awalnya memang untuk mendekati Davin.
"Terimakasih." Davin tersenyum. "Aku tinggal dulu ya. Kamu istirahat saja. Butuh apa - apa panggil saja perawat dengan menekan tombol ini." Davin menunjuk benda di sebelah Rin.
Sepeninggalan Davin. Rin berusaha memejamkan matanya. Bayang - bayang Danil memenuhi kepalanya. Dia membiarkan itu terjadi. Semakin menepis biasanya hatinya semakin merindu. Seandainya bisa berterus terang. Tapi dirinya sadar tidak pantas untuk disandingkan. Rin menikmati wajah Danil dalam pikirannya hingga terlelap.
Ketika tersadar. Davin di sebelahnya sedang duduk memandangnya.
Jika diperhatikan Davin tidak seperti penjahat. Hatinya tulus. Dia juga sangat peduli dengan orang lain. Dan ucapannya juga tertata. Apa mungkin mereka hanya salah paham kepadanya. Pikiran Rin mulai random. Banyak hal yang mengusiknya.
"Sudah selesai urusanmu?" Rin bertanya lembut.
Davin mengangguk. "Maaf Rin. Tadi dokter memintaku untuk menyuruhmu meminum obat. Kamu keberatan aku melihatmu tanpa cadar?"
Saat ini hanya Davin dihadapannya. Dan untuk menyuapi obat sendiri Rin masih belum mampu. Sekujur tubuhnya masih terasa nyeri. "Oh tidak apa."
Rin mengangkat sedikit kepalanya memberi isyarat. "Maaf ya." Danil menggerakkan tangannya membuka kain menutup kecantikan Rin. Dibukanya dengan lembut.
Benar saja. Kulit mulusnya yang putih diterpa cahaya lampu nampak bersinar. lesung pipinya ibarat permata yang mempercantik. Sempurna. Beberapa detik Davin tampak terbengong.
"Davin." Suara Rin mengagetkan.
"Iya Rin. ayo buka mulutnya." Danil menyuapi obat ke mulut Rin. Setelah itu meneguhkan minum.
"Davin." Rin memanggil. "Aku mau pulang."
"Jangan sekarang ya Rin. Kamu masih sakit." Danil memberanikan mengusap jilbab Rin.
"Tapi aku tidak bisa lama - lama disini."
"Tidak akan lama Rin. Tenanglah." Davin berusaha menenangkan.
Rin diam mencoba mengerti. Sepertinya ucapan Davin benar untuk beberapa hari dia harus disini. Hingga larut malam Davin setia menunggu Rin ditempat. Dia melayani Rin dengan sepenuh hati.
Namun saat tengah malam. Rin kaget melihat wajah Danil berada tepat di kaca depan pintu ruangannya. Matanya terbelalak. Bagaimana dia bisa berada disini.
"Danil." suara Rin terdengar berbisik.
__ADS_1
Jantungnya berpacu kencang melihat Davin seperti terbangun dari tidurnya.