
"Pagi pak Danil."
Sisi tersenyum menyapa, dengan tatapan penuh nafsunya. Yah dari awal Sisi memang mengincar Danil menjadi pasangannya. Menjadi seorang nyonya pemilik perusahaan adalah impiannya.
Ditambah pesona Sisi dengan segala kemolekan yang sengaja dipertontonkan membuat Danil semakin yakin memberinya posisi sekertaris pribadi. Sebagai lelaki tentu akan sulit menolaknya. Dan satu yang Danil suka sekaligus benci dari Sisi. Kancing baju atasnya sengaja dibuka menonjolkan belahan.
Tentu wanita seperti ini tidak cocok menjadi pendamping Danil. Tapi bagi relasinya, wanita ini bisa membantunya meloloskan sebuah proyek. Tak jarang rekan kerja Danil lebih suka meeting berdua dengan Sisi ketimbang dirinya. Tapi Danil tidak ambil pusing. Yang penting proyek lancar.
"Pagi juga sisi. Kamu makin cantik saja dengan baju pink itu." balas Danil. "Kerja yang rajin ya." sambung Danil.
Sisi tersenyum malu memegangi pipi kanannya.
Danil sengaja menggoda Sisi. Karena biasanya setelah dipuji dia akan langsung membuatkan segelas kopi untuk Danil.
Danil membuka pintu ruangannya dan langsung menjatuhkan bokongnya di kursi empuknya.
Ditariknya napas dalam, dihembuskan kembali melalui hidung. Terus diulang ya hingga tiga kali.
Tangannya mulai membuka laptop dan mengecek laporan keuangan kemarin. Belum selesai file terbuka tiba tiba ada ketukan dari luar. Danil bisa menebak itu Sisi.
Benar saja. Saat pintu dibuka Sisi muncul dengan nampan berisi segelas kopi dan beberapa potong roti. Wanita satu ini memang haus pujian.
"Wah repot - repot. Makasih yah Sisi." Danil menampilkan senyuman palsunya. "Ayo masuk." pinta Danil.
Pipi Sisi semakin merona mendapati perlakuan Danil. Dia berjalan perlahan mengatur langkahnya agar terlihat anggun. Dia berjalan mendekati Danil dan meletakan nampan di meja Danil. "Ini kopinya. Ada lagi yang bisa saya bantu pak?" Tanya Sisi sambil sedikit menunduk. Tampak jelas area sensitif itu.
Danil melirik jijik. "Tidak ada lagi Si. Kamu boleh pergi sekarang." ucap Danil sopan.
"Yakin pak?" Sisi semakin mendekatkan badannya ke arah Danil. Sedikit saja Danil bergerak kepalanya pasti akan menyentuh dada Sisi.
"Iya Sisi. Kamu boleh pergi sekarang." Danil sengaja memberikan penekanan tanpa sedikitpun menoleh ke Sisi.
Sisi memilih pergi melihat Danil yang sama sekali tidak menggubrisnya. "Baik pak, saya permisi." Sisi meninggalkan Danil dengan muka masam.
Sepeninggalan Sisi, Danil menyenderkan badannya dan memijat lembut pelipisnya. Kepalanya yang semula tidak pusing menjadi pusing.
__ADS_1
Berhadapan dengan Sisi memang sedikit berpengaruh dengan emosinya. Tapi patut diacungi jempol. Tidak sekalipun Sisi lalai apalagi membuat kesalahan. Sejauh ini kinerjanya bagus. Hanya Danil saja yang kurang suka dengan wanita yang kurang bisa menjaga kehormatannya.
Kriing kriting..
Ponsel Danil berdering. Dilihatnya panggilan dari Andi sahabat sekaligus orang kepercayaannya.
"Hallo, kenapa An?"
"Hari nih aku ke kantor ya. Biasa mau cuci mata dengan si bohay."
"Serah deh yang penting beresin dulu kerjaan disana."
Danil langsung menutup telponnya tanpa permisi. Sebulan sekali Andi rutin berkunjung ke kantor pusat. Selain untuk membahas persoalan dicabang dia juga ada keperluan dengan Sisi. Untuk urusan pribadi mereka Danil memilih tidak mau tahu.
Selesai memperbaiki seluruh laporan dan internal perusahaan Danil menyeruput habis kopi yang dibuat Sisi tadi. Walaupun sudah dingin tapi masih tetap enak.
"Hay Dan." Kepala Andi muncul dari balik pintu dengan senyum yang terkembang.
"Kebiasaan banget. Ketuk pintu dulu dong." ucap Danil sewot.
Andi melangkah duduk di kursi yang berada didepan Danil. Wajahnya yang tadi tampak biasa kini berubah kusut.
"Omset anjlok bro. Turun 30%. Kalo gini cabang bakal kesulitan di operasional." Suara Andi terdengar serius. "Kalo terus dibiarkan. Pengurangan pegawai harus dilakukan."
"Kok bisa? Jangan sampai lah ada pengurangan." Danil tidak percaya. Baru saja dia ingin menambah bonus untuk seluruh pegawainya. Tapi kalo kejadiannya begini. Uang dari mana.
"Aku dapat kabar. Ada yang bermain disini. Tapi aku juga tidak tahu orang itu siapa."
"Serius ada penghianat?" Danil masih tidak percaya. Pasalnya dia selalu memikirkan kesejahteraan pegawainya. Bagaimana bisa mereka balik berbuat jahat.
"Sisi. Aku curiga. Selama ini selain kita berdua. Dia juga tahu segalanya tentang kondisi perusahaan kita." Andi menjelaskan dengan berbisik.
Danil sadar akan hal itu. Namun untuk menuduh orang tanpa bukti tentu tidak etis.
Andi kembali meneruskan ucapannya. "Kali ini urusan sisi serahkan padaku." Sorot matanya tampak meyakinkan. Tanpa menunggu jawaban dari Danil. Andi langsung nyelonong keluar ruangan.
__ADS_1
"Tidak sopan." ucap Danil pelan tapi masih bisa ditangkap oleh Andi.
Dari kaca dalam ruangan, Danil dapat melihat Andi sedang berbicara pada Sisi dan sesekali mencolek dagu tirus Sisi. Tampilannya yang metroseksual ditambah mulutnya yang pintar merayu tentu tidak sulit menggoda gadis manapun.
Sontak Danil teringat dengan Rania. Gadis itu dan Sisi berbeda sekali. Eh. Danil menepis pikirannya. Kenapa malah terpikir ke dia.
Sepertinya malam ini dia akan ke MP bertemu dengan Rin. Sejak pertama mengenalnya Danil merasa Rin gadis yang pintar dan bisa membantunya menyelesaikan masalahnya.
Sebenarnya Rin sangat cantik, pintar dan terpelajar. Tapi latar belakang Rin membuatnya mengurungkan niatnya.
Danil sempat berpikir untuk menjadikan Rin sekretarisnya. Tapi mendengar jumlah uang yang MP berikan untuk Rin, niatnya diurungkan.
Pulang kerja Danil mengarahkan mobilnya ke MP. Kakinya melangkah menemui manageman. Awalnya management menolak Danil karena Rin sudah dibooking terlebih dahulu. Namun karena Danil berani membayar dua kali lipat, pihak management pun menyetujui permintaan Danil.
Tidak apalah merogoh kocek lebih dalam. Yang penting bisa bertemu Rin. Selesai membayar Danil bergegas ke apartement. Menunggu Rin disana.
Dalam kamarnya Danil sedikit gusar, apa Rin akan datang. Ternyata ketakutannya salah. Rin datang. Suara bel yang berbunyi itu pasti Rin. Danil segera bangkit dan membuka pintu.
Seorang gadis berdiri depan pintu dengan cadar menutupi sebagian wajahnya. Kali ini dia mengenakan pakaian yang sopan. Kaos putih panjang dan celana panjang.
"Masuk Rin." Danil mempersilahkan Rin.
Rin langsung melepas cadarnya dan duduk di sofa. Danil memperhatikan Rin lama. Semula dia mengira Rin menggunakan blush on warna biru keunguan. Tapi tampak sedikit bengkak.
"Ini kenapa Rin?" Danil menyentuh dagu Rin menatap memar itu.
"Oh ini bukan apa - apa. Ada sedikit masalah di MP." Tangannya mengelus pipi.
Danil paham Rin tidak mau bercerita. Mungkin Danil masih dianggapnya orang asing.
"Lain kali bilang ya kalo ada sesuatu. Aku tidak mau melihat ini lagi." Danil menatap lekat netra mata Rin.
Rin tersenyum. "Iya tenang aja. Lagian jangan terlalu baik lah. Nanti aku jatuh lagi sama kamu. Dan kamu tidak mau membalas."
Danil menelan ludahnya kaget. Sepertinya sikapnya kali ini berlebihan.
__ADS_1