
Dilihat dari data statis, pemasukan dibulan ini mulai fluktuatif turun. Bagaimana ini. Penurunan omset tentu bisa berpengaruh pada perampingan karyawan. Tidak boleh terjadi.
Disaat genting seperti ini Danil ingat suatu tempat. Tempat yang tidak pernah dikunjunginya tapi tidak pernah sepi pengunjung. Danil mengetahui hal ini dari salah satu koleganya. Cerita mereka disana adalah surganya keindahan. Mengeluarkan puluhan juta dalam satu malam tidak jadi soal.
Bisa bisanya mereka buang uang sebanyak itu. Apa bagusnya disana?
Danil berbicara dengan dirinya. Rasa penasaran membendung pikirannya.
Malam ini untuk ke Ima kalinya Danil memutuskan kesana. Mungkin dia bisa belajar atau meniru strategi marketing mereka. Selesai menandatangi berkas dan meeting. Mobil siap meluncur ke MP.
Di pelataran parkir mata Danil dibuat tak berkedip. Bangunan berwarna merah muda yang diterangi lampu kelap kelip tampak sangat apik. Kakinya melangkah sambil melihat - lihat. Saat menuju lobi, pintu terbuka dengan otomatis. Dua orang wanita menggunakan jarik kain dan semi kebaya menambah kelas tempat tersebut. Mereka menyambut tamu sangat ramah dengan senyum yang selalu menempel. Apa tidak capek mereka senyum dan berdiri di depan pintu terus. Ngak kaku tuh bibir. Danil memikirkan yang tidak masuk akal.
Selanjutnya Danil pergi ke club karaoke karena itu tempat paling favorit. Tempat itu dijaga ketat security berbadan tinggi dan tegap. Tapi menurut Danil mereka lebih cocok jadi tukang jagal. Bangku disana dipenuhi para pria dengan wanita disamping mereka. Namun ada juga yang hanya duduk sendiri menikmati hiburan yang dihidang. Minuman keras beraneka macam dimeja para tamu . Tidak sembarangan tamu bisa masuk mereka harus memperlihatkan identitas terlebih dahulu. Disini eksklusif.
Danil memilih duduk di paling belakang. Agar tidak terlalu mencolok karena tujuan dia kesini hanya mengamati bukan mencari hiburan. Setiap sudut dan pekerja disana diperhatikan. MP memiliki kriteria. Rata - rata pekerjanya memiliki tinggi badan 170cm dengan bobot tubuh yang mendukung.
Tidak jauh dari tempatnya Danil melihat sekumpulan wanita berbikini menggunakan cadar dengan bentuk tubuh profesional sedang duduk dengan anggunnya seperti menunggu giliran. Walau wajah mereka tidak bisa dikenali. Danil yakin kecantikan mereka pasti melebihi wanita diluaran sana.
Benar saja didepannya satu persatu wanita muncul sambil menari di atas sebuah tiang. Gerakan mereka sangat erotis menonjolkan tiap lekukan. Terlebih Tidak sehelai benangpun menempel diarea dada. Berbeda dengan area bawah. Yah seperti kata koleganya. Disini alat kelamin sangat dihormati. Tidak boleh dipertontonkan.
Orang orang yang ada disini semuanya lelaki. Dari yang muda, paruh baya dan tua. Semuanya sangat terlihat terhormat. Mereka hanya menonton. Kesopanan sangat diutamakan. Tidak ada kerusuhan dan pelecehan. Jika ada yang berani menyentuh wanita disini tanpa booking. Security didepan tadi pasti segera bertindak. Meremukan tulang - tulangmu.
Sejauh ini Danil mengerti strategi mereka. Dia kagum dengan konsep yang diusung MP. Wajar jika pengunjung mereka tidak pernah sepi.
Sejam berlalu Danil merasa tenggorokannya haus. Dia menjentikkan jempol dan telunjuk memanggil waiters. Ajaib salah satu dari mereka langsung mendekat.
"Soft drink satu ya."
Seakan menahan tawa waiters itu mengangguk. "Tunggu sebentar." ucap waiters.
Tak lama pesanannya datang. Satu gelas kosong dengan batu es dan sekaleng soft drink. Danil tidak peduli jika dia ditertawakan. Yang penting dia membayar, daripada harus minum bir yang dia sendiri tidak suka rasanya. Kepalanya pasti sakit dan pusing berat.
Chiis
__ADS_1
Bunyi suara kaleng terbuka. Sedikit aroma samar tercium. Dituang kedalam gelas. Belum sempat diteguk. Gelas tersebut jatuh dan pecah.
Danil kaget dan langsung berdiri. Tumpahan air membasahi celana dan kaos kakinya. Segera diambil tisu di meja untuk membersihkan diri.
Danil menatap tajam kesamping. Seorang wanita yang tadi jalan tergesa - gesa menampilkan gurat bersalah. Wanita itu berpenampilan sama dengan kelompok wanita disana. Mungkin kah dia bagian dari mereka.
"Maafkan aku tidak sengaja." Dia berjalan mendekat dan menundukkan kepalanya.
"Lain kali hati - hati biar ngak rugiin orang." Danil tampak kesal sekali.
"Iya iya. Sekali lagi maaf." Karena terburu buru Danil ditinggalnya begitu saja.
Apanya yang tau etika. Apanya yang sopan. Danil kesal sekali dengan perbuatan wanita tadi yang tidak mau bertanggung jawab.
Danil masih saja mengikuti gadis itu dengan tatapannya. Benar saja dia bergabung dengan kelompok itu. Dia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya. Untuk apa benda itu.
Danil membuka mulutnya terkejut. Wanita itu seperti sedang berzikir. Dia menutupi tubuhnya dengan kain panjang disana. Tubuh awalnya yang cuma berbikini sekarang tertutup rapat.
Danil berjalan menuju mini bar. Dia bertanya mengenai wanita yang saat ini sedang berzikir. Namanya adalah Rin. Setelah mendapat informasi yang dibutuhkan Danill kembali ke bangkunya. Beberapa kali ekor matanya beralih.
Mungkin Danil akan lebih larut disini. Dia ingin melihat sajian Rin. Diliriknya lagi wanita itu masih setia dengan zikirnya.
Sejam berlalu tibalah giliran Rin. Manik bajunya yang seperti berlian memancar pesona bintangnya. Eye liner matanya yang tajam membuatnya tampil semakin misterius. Kali ini pandangan Rin terarah ke Danil dan fokus. Jelas matanya memancarkan rasa bersalah. Tangannya melentik membuat gerakan. Pengganti ucapan maaf.
Danil membalas tatapan Rin. Segera ditemuin managemen. Dia meninggalkan alamat dan meminta Rin menemuinya.
Danil pulang dan menunggu Rin di apartemennya. Disemprot semua ruangan dengan wangi yang lembut, ditata seindah mungkin. Malam tentu akan sangat istimewa. Untuk pertama kalinya seorang wanita memasuki apartemennya. Walau bukan pacar. Danil sangat menunggu kedatangannya.
Dinyalakan televisi, dicarinya acara hiburan. Dirinya mulai grogi. AC yang dingin malah membuat tubuhnya berkeringat. Tangannya dingin. Suhu tubuhnya panas.
Ting Tong
Tanpa melihat siapa yang datang Danil sudah bisa menebak. Dibuka lebar pintunya. Betapa kagetnya dia. Gadis itu masih menggunakan bikini yang tadi dan kali ini tanpa cadar. Segera Danil menarik lengannya, hampir saja Rin jatuh.
__ADS_1
"Kamu kenapa tidak pakai baju dulu?" Danil. sejalan ke kamarnya mengambilkan kaos oblongnya. "Ini cepat kenakan."
Wanita itu meraihnya dan langsung menggunakannya didepan Danil.
Cantik sekali dia. Pantas aku harus membayar mahal. Kecantikannya melebihi artis ibukota yang seliweran di TV.
"Jadi kamu orangnya?" Dia memandang Danil mendekati wajahnya. "Yang tadi maaf." ucapnya tertunduk.
Danil mengangkat wajah Rin. "Sudahlah lupakan. Kamu mau mandi dulu membersihkan diri?"
"Iya. tapi aku pinjam handuk yah."
"Boleh. Ambil saja dalam lemari kaca. Itu Handuk baru semua.
Danil menunjukan kamar mandi, Rin mengikuti arahan Danil. Dia masuk dalam kamar mandi dan menguncinya.
Dari luar Danil dapat mendengar suara air yang keluar dari shower. Pikirannya mulai kotor.
Sial. Apa apaan aku ini. Kenapa otakku jadi ngeres begini.
Danil memilih menjauh dari sana agar pikirannya jernih kembali. Dia tidak ingin melakukan hal itu kecuali dengan istrinya nanti.
Dibesarkan suara televisi. Diambilnya camilan kacang pedas. Dia harus mengusir pikiran dikepalanya.
Tidak berapa lama Rin keluar dengan kaos yang Danil kasih tadi dan handuk yang dililit dikepalanya.
"Aku belum isya. Boleh numpang sholat disini?" tanyanya lembut.
Danil melihatnya tak berkedip. Permintaanya sedikit menyentuh. Dia saja beribadah, lantas bagaimana dengan dirinya. "Si- silahkan, itu disana juga ada mukenah." Danil menunjuk musholah kecil di apartemennya.
Sejujurnya Danil canggung membayar wanita seperti Rin. Tapi dia saja menjajakan tubuhnya. Sangat tidak mengerti dengan wanita itu. Tapi bila diamati Rin bukan tipe wanita yang mau menjual tubuhnya demi uang. Hal yang sangat buruk mungkin terjadi. Sekali lagi Danil memandang Rin.
Siapa dia sebenarnya dan ada apa dengan kehidupannya? Pertemuan ini seperti sudah direncanakan. Dan memang tidak ada yang kebetulan.
__ADS_1