Jual Diri

Jual Diri
bertemu rania


__ADS_3

Entah kenapa pagi itu Danil ingin sarapan di depan kampus itu. Ketika hendak memesan Dia melihat Rania melintas. "Rania." sambil melambaikan tangan. Akhirnya wanita ini muncul juga.


Rania menyipitkan pandangannya. Sinar matahari mungkin menyilaukan. "Hay Dan." Rania mendekat. "Sarapan disini lagi?"


"Iya. makan bareng yuk." Ajak Danil.


"Ngak bisa. Aku puasa."


"Ups maaf. Aku tidak tahu."


"Santai aja. Tapi aku temani deh."


"Baik banget."


Pertemuan mereka terbilang singkat. Namun perbincangan itu mampu membuat tubuh Danil lebih bersemangat. Danil mungkin sudah mampu melupakan Vina. Untuk itu hatinya sudah mulai terbuka.


"Eh kenapa ya aku selalu kepikiran kamu terus. Rasanya seperti kita setiap hari bertemu."


Rania tampak canggung. Semburat merah memenuhi wajahnya. Namun tidak terlihat karena cadar menghalangi.


"Mau gombal ya?"


Tampak penjual bubur ayam yang memperhatikan mereka daritadi tersenyum - senyum. Danil menjadi tidak enak.


Danil kembali menyuapi makanannya kedalam mulut sambil menatap Rania dengan nyaris tak berkedip.


"Sudah selesai makannya?" Rin bertanya.


"Iya sudah. Kamu mau masuk ya?"


"Iya."


"Oke. makasih banyak dan hati - hati."


"Sampai bertemu lagi." melambaikan tangannya.


Rania bergegas meninggalkan Danil dan masuk gerbang hingga tubuhnya tidak lagi dilihat oleh Danil. Sejujurnya Danil tahu siapa gadis itu. Hanya saja dia harus mencari tahu terlebih dahulu. Seandainya aku bisa memintanya untuk melepas cadarnya. Pasti semua akan sangat mudah.


Danil kembali melajukan mobilnya. Dia merasakan udara segar masuk ke kerongkongannya dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Hari yang menyenangkan. Kini Danil bisa lebih yakin. Dia jatuh cinta.


Ditengah perjalanan mendadak Danil menghentikan mobilnya. Seorang wanita dengan mengendarai kursi roda sedang menyebrang jalan. Dan pria yang mendorong kursi itu nampak letih sekali. Benar saja. Itu Vina. Tapi kenapa tampilannya berbeda sekali dengan yang dia kenal dulu.


Danil keluar dari mobilnya dan berusaha mengejar. Sialnya Vina sudah tidak terlihat lagi. Danil berkeliling mengitari sekitar bertanya pada setiap orang yang ditemuinya. Tetap tidak ada yang tahu.


Segera Danil masuk kembali ke mobilnya. Mungkin kah pria itu suaminya. Tapi kenapa Vina berbeda sekali. Ada apa dengannya. Danil semakin penasaran dan berusaha mencari tahu.


Di kantor Danil mendapati seorang wanita yang tidak dikenalnya berada di tempat duduk dan ruang kerja Sisi. Melihat Danil memperhatikannya, dia segera berdiri dan memberi dalam. Sepertinya dia tahu posisi Danil di perusahaan ini.


"Siang pak. Saya Tia sekertaris baru bapak. Pak Andi yang meminta saya."

__ADS_1


"Oh iya. Jadi Andi yang minta kamu disini?"


"Iya pak. Sebelumnya saya OB di perusahaan cabang."


Danil sedikit membuka mulutnya tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang OB bisa menjadi sekretarisnya.


"Oh iya pak. Sebentar lagi pak Andi akan menemui bapak."


"Baiklah." Danil berlalu menuju ruangannya. Tunggu saja Andi. Kau hutang penjelasan padaku.


Danil mengeluarkan ponselnya dan menghubungi rumah sakit tempat Sisi dirawat. Dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada Sisi. Beruntung pihak rumah sakit memberitahu bahwa Sisi baik - baik saja dan sore nanti bisa pulang kerumah.


Ada rasa gembira di hatiku. Setidaknya rasa bersalahnya telah lepas. Kini Danil tidak perlu lagi memikirkan Sisi. Dan satu beban pikiranku berkurang.


"Hay Bro." Andi masuk tanpa mengetuk pintu.


"Kebiasaan deh."


"Hehe. Iya sorry." Dia menarik kursi didepan Danil dan mendudukinya. "Oh iy. Itu Tia jadi sekertaris pribadi lu ya. sekarang."


"Bener aja lu. Dia OB loh."


"Hehehe." Andi terkekeh. "Judge by cover. Dia itu sarjana dengan predikat Summa cum laude. Kalo lu tidak percaya bisa di tes kok."


"kalo dia sepintar itu kenapa jadi OB?"


"Itulah kalo terbiasa dengan kemudahan. Sekarang ini cari kerjaan susah pak bos. Lulusan sarjana aja Uda jutaan. Lapangan kerja cuma puluhan ribu. Daripada nganggur kan?" Andi menjelaskan dengan penuh antusias.


"Tia kesini sebentar." Andi menggunakan telpon kantornya.


"Iya pak." Tia masuk dengan berkas - berkas ditangannya.


Danil mengernyitkan dahinya. "Apa sebanyak itu ditangan kamu?" jarinya menunjuk berkas.


"Ngak tahu pak. Tadi bapak panggil saya. Saya pikir bapak minta ini."


Danil menepuk jidatnya. Sementara Andi hanya tersenyum. "Sudah Tarok kembali di meja. Lalu bawakan dua cangkir kopi kemeja saya."


"Oke pak. Kopinya manis atau pahit pak?"


"Manis."


"Untuk takaran manisnya berapa sendok pak?"


Danil tampak mulai kesal. "Dua sendok gula boleh."


"Nah, kalo kopinya. Takaran berapa sendok pak?"


Danil menarik napasnya menahan amarahnya keluar. "Dua sendok kopi dan dua sendok gula."

__ADS_1


"Baik pak. Ini mau kopi hitam atau kopi saset pak?"


Kali ini Danil tidak bisa menahan amarahnya. Wanita ini bener - bener bikin pusing. "Terserah kamu. Dan sekarang tolong keluar dari sini." Danil memandang Tia dengan mimik wajah serius. "Cepat pergi." teriak Danil.


Tia langsung buru - buru keluar ruangan. Tak lama dia kembali lagi dengan dua gelas kopi ditangannya. Dan setelah itu dia bergegas keluar takut bosnya marah lagi.


Danil yang meneguk kopi itu tertawa dibuatnya. "Bener - bener ya itu cewek."


Andi tersenyum. "Aslinya lebih kocak."


"Nanya berapa sendok. Ujung - ujungnya kopi saset juga yang dibuat. Tinggal tuang dan seduh air."


"Sabar. Tapi kalo kerja dia bagus kok. Lihat saja nanti hasil kerjanya."


"Semoga saja." Danil kembali menyeruput kopinya. Dingin AC di ruangannya memang cocok jika disandingkan dengan segelas kopi panas.


"Nanti malam Rin akan beraksi." Danil memulai obrolan.


"Emang wanita itu mau kamu suruh apa? Ruqiah si Davin?"


"Kalo bisa kenapa tidak." ucap Danil bercanda.


"Kamu tidak cemas? Bahaya loh. Nanti Rin kenapa - Napa."


Danil mengangguk paham dengan ucapan Andi. Tapi itu sudah dia pikirkan. Tidak mungkin membiarkan Rin dengan persiapan yang matang.


"Serahkan saja padaku. " ucapnya serius. "Dan tadi aku bertemu Vina di jalan."


"Lalu?" Andi tampak penasaran.


"Lalu dia hilang. Hahaha."


Andi menaikan sebelah bibirnya. "Sialan lu."


"Tapi Vina yang sekarang berbeda dengan Vina yang dulu."


"Beda gimana maksudnya?" Andi mencoba menafsir perkataan Danil.


"Nanti juga lu bakal tahu."


"Cacat ya?" tanya Andi.


"Kok tahu. Lu tau banyak ya? ceritain dong ke gue. Apa yang sebenarnya terjadi." Danil mendesak Andi.


"Cuma kabar burung. Tapi Vina beruntung dapat menikahi pria yang benar - benar tulus mencintainya." Andi menjelaskan. "Kaki Vina dipatahkan Davin." ujarnya hati - hati.


"APA!! Brengsek." Tangannya memukul meja dengan kuat. Tak terasa bulir air menetes diujung mata Danil. Seperti disambar petir. Hatinya perih sekali. Ini pasti ada hubungan dengan dirinya. Gara - gara dia, wanita yang dulu dia sayang harus menanggung beban seberat ini. "Davin harus membayar semuanya. Nyawa dibayar nyawa dan kaki di bayar kaki." Danil harus melakukan sesuatu untuk membalas perlakuannya pada Vina.


Saat ini Andi tidak berani memberi nasehat atau masukan apapun pada Danil. Amarahnya sedang membara membakar dirinya.

__ADS_1


"Matilah kau Davin."


__ADS_2