
Diruangannya Danil dan Andi semakin serius. Hari itu mereka membahas bagaimana nasib karyawan satu perusahaan mereka yang terpaksa ditutup. Sebagai manusia Danil tentu memiliki hati. Namun untuk saat ini kendala keuangan menjadi penghambat.
Perusahaan yang ditutup adalah perusahaan dengan pemasukan kedua terbesar. Dan ada ratusan karyawan di perusahaan itu yang nasibnya akan tidak jelas. Untuk membayar pesangon pun Danil kesulitan.
Andi sebagai teman tentu memahami. Hanya dengan Andi segala kekalutan diceritakan dengan leluasa. Rasa malu ditebas habis dihadapan Andi. Danil bercerita dia akan menjual seluruh harta yang dimiliki termasuk apartemennya. Setidaknya setelah hak mereka terima rasa bersalah tidak akan ada.
Dihatinya, Danil membenci Davin. Kenapa harus orang lain yang dikorbankan. Semula masalah mereka berawal dari perebutan tender masalah penyediaan tempat bagi para karyawan asing. Dan berlanjut saat Danil dan Vina saling jatuh hati. Setelah itu masalah diantara keduanya semakin serius dan besar.
"Lalu kau akan tinggal dimana?"
"Aku akan tinggal bersama istriku dirumahnya. Sambil membenahi semua. Untungnya perusahaan ini tidak mengalami kerugian dibanding lainnya. Jadi bisa bertahan dari sini hingga semuanya kembali baik."
"Aku doakan semoga kalian bahagia."
"Makasih."
"Apa kau tahu sekarang Sisi bekerja ditempat Davin?"
"Aku sudah tahu." angguknya.
"Kita tidak bisa menggunakan cara yang sama. Semuanya harus diubah agar Davin tidak bisa membacanya lewat Sisi."
Tiba - tiba pintu terbuka. "Eh maaf tidak ketuk pintu." Rin muncul dengan wajah bersalah. Dikedua tangannya ada rantang berwarna putih untuk makan siang sang suami.
"Ngak papa sayang. Masuk saja." Danil berdiri dan berjalan mendekati Rin. Diserahkan tangan kanannya dan disambut ciuman oleh Rin.
"Aduh sweet banget. Kapan nih kasih aku keponakan?"
"Doakan segera ya. Soalnya tiap malam selalu tempur."
"Apa sih." Rin mencubit lengan Danil dengan rona merah di pipinya.
"Hahaha. Pantes ya lu seger banget tiap harinya. Rupanya.." Andi tidak meneruskan ucapannya.
Rin yang ada disebelah Danil hanya mampu mengerucutkan bibirnya. Dan kembali menatap Danil.
"Kamu masih mikirin ya sayang?" Rin menyentuh pundak Danil. "Ini bukan sebuah kekalahan. Untuk sampai dipuncak Rintangan kan selalu ada."
"Tuh dengerin kalo istri lagi bicara."
__ADS_1
"Tentu dong. Istri kebanggaan gue." Danil merangkul pinggang ramping Rin. Mencium bibir merahnya sesaat.
"Ya ampun." Andi menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya. "Ada gue disini. Dikira obat nyamuk apa."
"Sorry lupa." ucap Danil.
"Gue juga ngak nyangka kalian nikah secepat ini."
"Susul dong." Tawar Danil.
"Sayang. Sudah masuk zhuhur. Sholat bareng yuk. Andi juga yuk." Rin menimpali obrolan mereka.
"Iya, duluan aja. Ntar gue nyusul."
"Oke sip. Setelah itu kita makan bareng ya. Masakan istri gue tiada lawan." katanya bangga.
Danil dan Rin berjalan meninggalkan Andi yang masih didalam ruangan menuju musholah kantor. Selama menemui karyawan Danil, dengan sopan Rin menegur mereka ramah. Disampingnya Danil tersenyum
"Aku tidak menyesal nikah secepat ini dengan kamu. Selalu disisi aku ya." Danil menggenggam tangan Rin.
Di musholah mereka sholat secara berjamaah. Ada ketenangan ketika dalam rangkulan tuhan. Beruntunglah mereka yang selalu meluangkan waktu untuk beribadah. Ketika masalah datang Tuhan seolah langsung memberitahu dengan cara yang tidak disangka.
Selesai melakukan sholat bersama. Mereka berdua kembali keruangan. Disana Danil masih asik dengan ponselnya sampai kedatangan Rin dan Danil tidak disadarinya.
"Katanya mau nyusul." Danil mengagetkan.
"Iya entar. Ekh gimana kalo kita kembali ke manual?"
"Apaan maksudnya?" Danil kurang mengerti
"Beberapa resto kita mulai sepi pengunjung. Kita turun ke jalan kita bagi brosur. Aku rasa ini lebih efektif dari sekedar sosial media." Andi menjelaskan dengan antusias. "Kita bisa lebih leluasa meyakinkan calon pembeli dan mempengaruhi mereka. Minimal satu hari ada satu pelanggan yang masuk resto kita untuk mencoba."
Danil menelaah semua perkataan Andi. Ada sedikit keraguan.
"Untuk lebih meyakinkan pembeli, kita sediain tester aja. Jadi calon konsumen bisa tahu masakan kita enak atau tidak." Rin menimpali. "Kurang bijak jika kita memberi informasi tanpa bukti. Sekarang itu bisa di bilang hoax."
"Boleh tuh." Jawab Danil cepat.
Untuk menjadi sukses. Kita harus mencoba segala cara hingga menemukan satu formula yang tepat. Keadaan sulit bukanlah halangan. Pertarungan menuju sukses adalah rahasia sukses itu sendiri. Dan kuncinya hanya kamu yang tahu. Terpenting jangan patah semangat.
__ADS_1
"Untuk brand fashion. Kita harus optimalkan sosial media dan marketplace. Iklan di TV juga boleh. Tapi ini untuk tahap kedua. Tahap pertama kita harus mengikuti pameran dan aktif di sosial media."
Keputusan Danil menjadikan Andi orang kepercayaannya tidaklah salah. Ide idenya selalu luar biasa. Dan rasa setia sebagai sahabat patut dicontoh.
"Thanks ya bro. Gue banyak utang Budi."
"Gue yang harusnya makasih." ujarnya. "Ya sudah gue sholat dulu. Kalian sudah tidak tahan untuk mesra - mesraan kan?" sindirnya.
"Sialan lu. Dah sholat sana."
Rin tersipu mendengar ucapan Andi. Sepeninggalan Andi pun wajah Rin masih memerah.
"Kenapa mukanya merah? mau di sayang ya?" goda Danil.
"Ih." Rin menjewer telinga Danil.
"Sakit tau."
"Habisnya ngeselin."
"Hahaha." Danil tertawa sambil memandang wajah istrinya. Setelah menikah Danil melarang Rin menggunakan cadar. Baginya cadar bukan sebuah kewajiban. Cukuplah Rin menjaga auratnya untuk suaminya.
"Makan yuk sayang. Udah laper." Danil mengusap - usap perutnya.
Rin mengambil rantang yang dia bawa. Dan memindahkan ke dalam piring yang sudah disiapkannya. Hari ini dia memasak rendang makanan kesukaan Danil.
"Disuapin ya sayang. Aku mau disuapin." kata Danil.
Dengan senang hati Rin menyuapi memasukan makan kedalam mulut Danil. Ini adalah sebuah pengabdian. Istri bukan pembantu. Tapi istri dituntut patuh pada suami selama yang diminta suami tidak bertentangan dengan syariat. Selama istri mematuhi suaminya dan menjaga *********** dia boleh masuk sorga dari pintu manapun. Enak banget kan.
Rin menyuapi Danil hingga makanannya habis. Andi yang semula ingin masuk tidak jadi karena tidak mau mengganggu. Dia memilih menunggu diluar sampai pemandangan indah itu berakhir. Bahagia melihat temannya bahagia.
"Gimana sudah selesai acara suap- suapan?"
"Yah dia iri. Makanya nikah." Danil sengaja memeluk Rin mesra dihadapan Andi. "Kan jadi bebas peluk - peluk." sambil memamerkan deretan giginya.
"Rese banget sih lu. Ngomong - ngomong. Makanannya masih ada ngak nih?"Andi membuka rantang dan ternyata isinya kosong.
"Itu masih banyak." tangan Danil menunjuk piring yang sudah disiapkan Rin diatas bupet sebelah kanan.
__ADS_1
"Wah, makasih ya di sisain."