
Selesai makan Danil beranjak kekamar membersihkan tubuhnya. Rin diminta menunggu diruang tamu sampai dirinya selesai bersiap.
"Rin." panggil Danil dari dalam kamarnya.
Rin beranjak mencari suara Danil. Dilihatnya dia sedang mengeringkan rambutnya. Perutnya benar benar sempurna. Sangat atletis dengan kotak enamnya. Wanita mana yang tidak tergoda. Hampir saja kesadarannya hilang.
"Ada apa?" tanya Rin yang terus memandang perut Danil.
"Kamu sudah makan? Mau pesan makanan?" berjalan menggantung handuk di kamar mandi. "Maaf ya aku lupa kamu belum makan."
"Gampang, tadi aku masak banyak kok. Aku makan itu aja."
"Serius?"
Rin mengangguk dan berjalan kedapur. Diambil piring dan disendokkan nasi goreng yang ada di kuali ke piringnya. Tak luput orange jus dalam lemari es juga diambilnya. Meski baru beberapa kali ke apartemen Danil, Rin hapal betul tata letaknya seperti rumah sendiri.
"Makan yang banyak ya." ucap Danil yang berjalan kearahnya dengan telanjang dada. Sungguh pemandangan yang menggoda iman.
"Pakai baju sana. Kaya monyet aja jalan sambil telanjang." Rin memalingkan wajahnya.
Danil terkekeh. "Iya, ini juga mau ambil baju di belakang." Setelah menggenakan baju Danil duduk disebelah Rin.
"Rin, aku pernah dengar seorang ******* yang dijanjikan surga karena memberi minum seekor anjing. Jika tuhan sebaik itu, kenapa manusia sangat suka menghakimi. Kenapa kita manusia tidak bisa seperti tuhan."
Mendengar itu Rin merasa tersindir. Dia merasa ucapan Danil untuk Dirinya. "Karena kesempurnaan hanya milik Allah. Dan manusia tidak luput dari salah." Rin mencoba menjelaskan yang dia tahu. " Tapi sebagai hambanya patutnya kita mengikuti semua anjuran dan menjauhi larangannya. Terus belajar dan menjadi lebih baik setiap harinya itu jauh lebih sempurna."
Danil tersenyum mendengarnya. "Apa aku bisa masuk surga?"
"Entahlah, hanya tuhan yang tahu." Rin kembali menyuapi mulutnya. "Ekh, bisnis kamu gimana?"
"Cukup baik, hanya saja omset sedang menurun 10 %. Bingung nih strategi marketing apa lagi ya yang harus aku coba?"
Kali ini Rin tidak menjawab apapun. Dia lebih memilih menghabiskan makanannya.
Melihat itu Danil menarik rambut Rin. "Ekh ditanyain." suara Rin terdengar meringis.
"Sakit. Bentar dong aku makan dulu." dia memukul pundak Danil. "Nanti aku keselek makan sambil bicara."
Danil tertawa renyah. "Oh ia ia, Maaf ya neng. Yaudah dilanjut. Aku tungguin." Ditopang dagunya dengan tangan kanannya.
Setelah selesai Rin langsung membawa piringnya kedapur dan dicuci segera bersamaan dengan piring Danil. Danil masih setia menunggu.
"Rin aku tunggu di ruang TV ya."
"Ia. nanti nyusul."
Dilihatnya Danil sedang berbaring santai dengan remote ditangan kanannya. Chanel TV dibolak balik seperti tidak tertarik menonton TV.
"Sosial media sudah dioptimalin kinerjanya?" Rin duduk disebelah Danil yang terbaring. Melihat Rin disebelahnya Danil bergegas bangun dan mengatur posisi duduknya.
__ADS_1
"Sudah semua online dan ofline."
"Nah kalo marketing langit?" tanyanya serius.
"Maksud kamu sedekah?"
"Salah satunya. Sholat, zikir dan baca Alquran tidak boleh ditinggalin. Karena setau aku satu langkah kita mendekati Allah. Sepuluh langkah Allah mendekati kita. Dan segala hajat akan mudah diijabah."
"Iya juga sih."
"Nah matematika tuhan itu beda sama manusia."
Danil kembali berbaring. "Aku sholat bisa. Ngaji kurang lancar."
"Aku saja yang jadi guru ngajimu, gimana?" tawarnya.
Sebenarnya Danil sedikit ragu. Namun dia mencoba mempercayai Rin. "Boleh aku mendengarmu ngaji."
Rin mengangguk dan segera mengambil Air wudhu. Membaca Alquran harus dalam keadaan suci. Diambilnya Alquran yang ada diatas lemari. Dikenakan mukenah dan dibukanya perlembar ayat. Dibacakannya surat pertama yaitu Alfatiha.
Danil takjub dengan lantunan ayat suci yang keluar dari mulut Rin. Tidak disangka wanita ini pandai mengaji. Pantas sosoknya berbeda dari wanita penghibur lainnya. Suaranya sungguh merdu membuat dadanya bergetar.
Prook prook prook
Danil menepuk kedua tangannya berkali - kali. "Bagus sekali Rin. Kamu dulu pernah ikut lomba MTQ kah?" Danil tampak penasaran.
"Kenapa Rin?"
"Tidak papa."
"Jangan bohong. Aku selalu memperhatikanmu."
Tanpa terasa bulir air menetes dari sudut matanya. Danil mendekat dan menyeka perlahan.
"Sudah sudah. Kenapa menangis?"
Rin berusaha menghentikan aliran amatanya dengan menggingit bibir bawahnya.
Dilepasnya mukenah yang digunakan saat ini. Dilipat dan dimasukan dalam lemari. Dia mencoba tersenyum dan menanyakan lagi apa ada yang diperlukan dari dirinya.
"Tentu ada. Temani aku malam ini. Aku kesepian di apartemen."
"Lalu kapan kita mulai ngaji?" Rin bertanya.
"Besok sore juga boleh. Selepas aku pulang kerja."
" Baiklah besok sore aku kesini lagi. Malam ini kita mau ngapain? ngobrol sampai pagi?"
Danil menggeleng tidak setuju. Besok dia pasti akan sangat mengantuk jika malam ini bergadang. "Jangan lah. Temenin aku ngobrol saja sampai pukul 23.00. Setelah itu kita tidur."
__ADS_1
Rin menyenderkan kepalanya di dada bidang Danil. Aroma wangi tubuh Danil membuat siapa saja betah berlama lama dekat dengannya.
"Wanita idamanmu seperti apa?" Tanya Rin asal.
"Bingung. Aku tidak punya kriteria. Jodoh mah terserah tuhan saja."
"Orangtuamu aku tidak pernah melihat."
"Mereka sudah meninggal sejak aku kecil. Dari kecil aku diasuh nenek. Tapi Nenek juga sudah tidak ada. Aku sendiri."
Ternyata perjalan Danil dan dirinya tidak jauh berbeda. Rin juga sudah lama hidup sendiri tanpa sanak saudara. Dia hidup dipanti asuhan sejak kecil.
"Keluargamu bagaimana Rin?" Danil balik bertanya.
"Aku dari kecil tinggal di panti asuhan."
"Oh maaf ya." Danil membelai lembut rambut Rin.
"Rin, aku menyukai seseorang. Aku tidak berani berkenalan dengannya. Sepertinya dia wanita soleha." Danil mencoba menjelaskan.
"Lalu?" Rin kembali bertanya.
"Sorot matanya sama persis denganmu. Itu yang membuatku tertarik padamu."
Jantung Rin berhenti berdetak beberapa detik. Jadi ini alasan sebenarnya Danil sangat baik padanya. Tidak pernah disangka sebelumnya.
Rin bangun dan menghadap ke Danil. Ditatapnya lama wajah Danil tanpa berkedip. Danil menaikan sebelah alisnya. "Sedang apa?" tanya Danil.
"Ngeliatin kamu aja." Ucap Rin polos. Tatapan mata Rin seolah menembus hingga ke hati mencoba mencari tahu sesuatu.
Danil terkekeh mendengar ucapan Rin. "Sudah malam tidur yuk!" Danil mengajak Rin.
"Tidur bareng?" tanya Rin.
"Jangan dong. Tidur sendiri - sendiri." Danil berlalu meninggalkan Rin.
"Selamat tidur." Rin melambaikan tangan.
Rin berjalan menuju kamar tidur tamu. Direbahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ditenggelamkan wajahnya dibalik selimut. Tubuhnya dibolak balik di atas kasur. Rin tidak menyangka dengan apa yang didengarnya tadi.
Rasanya dia ingin segera pergi dari apartemen Danil. Tapi nanti dia bermasalah di MP. Benar benar membingungkan.
Tidak lama kemudian Rin terpejam dan tertidur. Tubuhnya sangat lelah. Bola matanya tidak mampu dibukanya.
"Bangun." Danil membuka gorden jendela dan mengguncang tubuh Rin. "Sudah pagi. Kamu tidak mau pulang?"
Rin membuka matanya bergegas bangun menyiapkan barang barangnya. Dicari tas dan ponselnya.
"Pake baju itu aja." Suara bariton Danil terdengar sangat jelas.
__ADS_1