
Dengan sisa tenaga Rin memaksa tubuhnya bangkit. Sementara raut cemas disajikan Danil. Ada kenyamanan yang menyelimuti hatinya. Matanya tak lepas memandang pintu.
Disampingnya Davin memperhatikan. Wajahnya mengikuti arah pandang Rin. "Apa yang kamu lihat?" Davin tidak mendapatkan apa pun disana
"Tidak ada." ucapnya kembali berbaring. "Tapi aku mau pulang."
"Sabar ya. Jika dokter mengizinkan kau boleh pulang." Davin menyentuh bahu Rin.
"Tapi aku sudah baik - baik saja."
"Iya aku paham. Sekarang kamu tidur lagi ya. Hari masih larut."
Menyanggah ucapan Davin hanya menimbulkan debat. Saat ini Rin sedang tidak bersemangat. Pikirannya random. Banyak yang ia pikirkan. Pertama, saat ini Danil pasti sedang mencarinya. Kedua, dirinya pasti akan bermasalah di MP.
Paginya Rin mendapati dirinya sudah tidak di Rumah sakit. Pakaiannya sekarang hanya kaos dan celana boxer. keadaan disekelilingnya hangat sekali. Apartemen Danil. Bagaimana caranya sekarang dia bisa di sini. Seingatnya semalam dia masih di Rumah sakit.
"Selamat pagi."
Danil membuka pintu dengan menampilkan deretan giginya. Senyumnya manis sekali. Alisnya yang tebal seperti semut beriringan. Tatapannya persis mata elang.
Entah kenapa setiap melihatnya ataupun sekedar memikirkan. Tubuhnya seperti mendapat energi yang tiada habis. Rasa sakit tak lagi terasa. Hanya bahagia yang di rasakan. Seperti inikah kekuatan cinta.
"Makan dulu ya."
Danil duduk di samping lalu membantu Rin duduk. Sorotnya hanya mampu menatapnya. Netra matanya balas menatap. Rin membuka mulut sesuai arahan Danil.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya pilu.
Rin bungkam dan menunduk sesaat mencoba mengingat. Dia mulai bercerita. Pagi itu saat di apartemen Davin sebuah mobil melaju cepat dan Rin hanya ingin menyelamatkan. Karena tugasnya mendekati Davin untuk mencari informasi. Tidak mungkin juga dia membiarkan dengan mata kepalanya. Hatinya masih peka.
Danil memeluk erat Rin. "Syukurlah kau tidak apa - apa." Tangannya memeriksa setiap bagian Tubuh Rin memastikan tidak ada yang cidera. Bahkan sampai ke sela - sela jari kaki Rin. Bagian kaki merupakan salah satu yang sensitif. Terlebih tangan Danil seperti menggelitik. Tawa terbahak terdengar pecah.
"Sudah cukup Danil. Aku geli." mulutnya terus mengeluarkan tawa.
"Sekali lagi aku minta maaf." Danil memeluk Rin erat. Kali ini dia menangis tapi hanya beberapa tetes namun suaranya tersangkut diujung kalimat. Rasa cemasnya dari semalam ia tumpahkan. "Aku khawatir sekali. Kamu jangan gini lagi." Suara terdengar sangat tulus. Pelukannya semakin erat.
"Aku juga minta maaf sudah buat kamu cemas." ucap Rin parau.
Danil melepas pelukannya dan menyeka wajah Rin yang basah. "Kenapa Nangis. Disini aku yang salah." Danil tidak ingin Rin merasa bersalah. Cukup ini jadi pelajaran berharga bagi mereka berdua. kepalanya ditenggelamkan dalam pelukan Danil.
"Habisnya kamu nangis." ucapnya polos.
Danil tersenyum dan menyentuh hidung mungil Rin. "Kok lucu sih." ucap Danil.
__ADS_1
Rin cemberut. Bibirnya mengerucut dengan pandangan memelas. "Lantas kenapa aku disini?" tanyanya
"Aku yang membawamu." ucap Dani.
"Kok bisa? Davin gimana?"
Dia takut Danil dan Davin bertengkar disana. Seharian Davin tidak meninggalkannya.
"Seharian aku menunggumu disana. Saat Davin keluar aku langsung membawamu. Aku tidak suka kalian dekat." Danil berterus terang. "Dan aku semakin tidak suka ketika menyentuhmu."
Apa Danil cemburu. Rin menerka dari ucapannys. Hatinya melayang jauh, apa benar ucapan Danil malam itu. Bahwa dirinya sangat berharga. Rin menarik tubuhnya agar semakin dekat, memandang Danil mencari sebuah jawaban. Pria sebayanya yang selalu tampak tenang dan tegas. "Kenapa tidak suka?" Tanyanya lagi.
Danil terdiam. Kepalanya di tundukan mencari jendela yang mampu menembus hati. "Karena tidak suka. Itu aja." ucapnya polos dan kembali menyuapi Rin.
Jawaban Danil sedikit membuat Rin kecewa. Seperti sedikit tertusuk jarum. Sakit tapi masih bisa ditahan.
"Sudah. Aku kenyang." Napsu makannya mendadak hilang.
"Biar cepat sembuh." Ayo buka mulutnya lagi.
"Ngak mau. Maksa banget." Rin menarik tangan Danil kearahnya. Memutar pergelangan tangannya. Kalo hanya menyakiti sedikit tenaganya masih mampu.
"Ampun sakit. Galak banget."
"Makanya jangan berani sama aku." ancamnya.
Sebelum meletakan piring di dapur. Danil mendekat "Tuh dari tadi Davin telpon." Suaranya seperti menyindir. "Baru kenal sehari sudah tukeran nomor. Aku yang lama kenal aja ngak tahu nomormu berapa." Dia berlalu ke belakang.
"Kan kamu tidak minta." ucap Rin kesal.
Diambil ponsel di atas rak tepi ranjang. Rin mengirim pesan.
"Aku baik - baik saja Davin. Terimakasih untuk semuanya."
Tak lama Davin membalas.
"Nanti malam aku kerumahmu."
Rin membesarkan matanya menelan ludah. Diletakan kembali ponselnya. Bagaimana ini. Dia berteriak memanggil Danil. "Danil. Danil cepat sini."
Danil datang sambil berlari. "Kenapa Rin. Kamu kenapa? ada yang sakit?" suaranya cemas.
"Bukan aku. Tapi ini nih." Rin memperlihatkan pesan dari Davin.
__ADS_1
Danil membaca pesan tersebut. Rasa kesalnya muncul kembali. "Kamu sih pake hubungin dia segala."
"Kok nyalahin sih. Ngak dihubungi juga dia pasti datang kesini. Dia kan taunya ini rumah aku." Rin membela dirinya. "Dia ngerasa hutang Budi jadi tidak mau aku kenapa - Napa."
"Alasan. Ya sudah nanti sore aku ke tempat Andi. Silahkan berduaan dan menikmati malam kalian."
"Apa sih. Dasar aneh."
Danil melangkah ke lemari mengambil tasnya. "Aku tinggal dari sekarang aja deh."
"Cepat banget masih siang."
"Males dekat kamu lama - lama."
"Ih, kok gitu."
Danil cemburu sekali. Rasanya tidak rela meninggalkan mereka. Tapi dia juga yang membuat Rin bisa mengenal Davin. Ada penyesalan yang datang.
"Ini uang untukmu. Dan catat nomorku. Hubungi kalo sesuatu terjadi." Danil memberikan kertas kecil berisi nomornya dan pergi.
Baru ingin menjawab Danil sudah melangkah pergi. Rin bingung dengan tingkah Danil hari ini. "Kalo dia cemburu tidak mungkin. Barusan dia bilang tidak suka padaku. Mungkin dia hanya salah makan. Ya sudahlah". Untuk sekarang Rin hanya butuh istirahat. Bagus Danil pergi. Tidak ada yang ganggu.
Rin meletakan uang dibawah bantal dan segera mencatat nomor Danil. Untuk memulihkan kondisi dan tenaganya Rin memilih tidur. Entah berapa jam dia sudah tertidur.
Namun suara dering membangunkannya. Dengan berat matanya dibuka. Diambil ponselnya dengan malas.
Hallo. buka pintu aku sudah di depan.
Klik. Sambungan terputus.
Cepat sekali dia datang. Dilihatnya jam di ponsel. Katanya malam. Sekarang baru jam lima sore. Untunglah Danil sudah pergi dari siang. Tapi ada satu masalah lagi. Bagaimana membuka pintu. Dadanya masih nyeri dibawa banyak gerak.
Dipapah tubuhnya sendiri sambil bersandar pada dinding setiap ruangan sebagai tumpuan. Diraba hingga sampai pintu depan.
Ketika pintu terbuka. Davin terkejut melihat Rin dengan kaos dan celana pendek pria. Tapi tangannya langsung menyambut Rin yang kesusahan membopong tubuhnya, membawa masuk kedalam. Sekilas Rin melihat bayangan Danil sedang mengamati. Tapi hilang lagi.
"Kan sudah aku bilang istirahat dirumah sakit saja. Malah tiba - tiba pulang."
"Tidak apa." ucapnya. "Mau minum apa? biar aku buatkan."
"Kamu ini jalan aja masih susah. Sudah duduk saja." ucapnya memerintah. "Ini aku bawa banyak buah untukmu." Satu persatu pria dengan setelan jas rapi membawa masuk buah. Ditaksir ada dua puluh jenis buah.
"Banyak banget." Rin bingung meletakan buah sebanyak itu dimana.
__ADS_1
"Biar cepat sembuh." jelas Davin. "Ya sudah aku tidak bisa lama disini. Cepat sembuh ya. Ada apa - apa kabarin. Dan nanti aku pasti kembali lagi untuk melihat keadaanmu. Sampai jumpa."
Deg!