
"Jay, aku sudah menjual banyak!"
"Mantap! Kamu pasti akan jadi manager selanjutnya. Model apa yang sudah kamu jual?"
"A6L dan Q5L."
"Dua mobil? Bagus sekali Triston!"
"Bukan hanya dua, namun dua puluh."
"Apa?"
Jay pun tercengang. Dia membatin, dua puluh? Triston pasti bercanda!
Itu sama saja dengan total penjualan seluruh toko dalam setengah tahun.
Triston menjelaskan, "Pembelinya adalah Tuan Reed. Katanya, dia akan membuatnya menjadi mobil polisi dan menyumbangkannya ke kantor polisi di Distrik Maoudatin Utara.
Jay menelan air liurnya dan berkata, "Tidak masalah! Kita bisa menyelesaikannya dalam tiga sampai lima hari. Kita punya sebuah pabrik di kota Kasau. Itu tidak akan lama."
"Kalau begitu, aku akan memberitahunya." Triston berbalik dan menghampiri Melvin di area istirahat.
Melvin mengangguk. "Lebih cepat lebih baik. Berapa total semuanya?"
"Aku sudah menghitungnya ... Totalnya dua puluh lima miliar rupiah."
Triston menjawabnya dengan setengah tidak percaya mengingat jumlah sebesar itu.
Jay keluar dengan membawa kontrak pembelian dan menyerahkan kwitansinya kepada Melvin, lalu Jay pun menandatangani kontraknya sebagai bukti.
Melvin menikmati tehnya setelah dia menyelesaikan pembayaran.
Jay mengambil kontraknya untuk menyelesaikan prosedurnya.
Sebuah film lain di tayangkan di layar lebar itu, menunjukan adegan dimana aktor utamanya mengendarai mobil sport.
"Mobil yang mewah," Melvin tidak bisa menahan pujiannya.
"Tuan Reed, apakah kamu ingin melihat yang asli? Kebetulan kami punya satu disini," ucap Triston.
"Tunjukan padaku."
Melvin pun berdiri dan pergi melihat model R8 di Toko itu. Triston mengiringinya sambil mengangkat bahu ke arah Jay.
Gesturnya itu seolah mengatakan, ternyata mudah sekali untuk menjual mobil.
Triston berjalan mengitari R8 itu dan duduk didalam mobilnya sambil mencoba mengemudikannya.
"Mobil yang bagus. Bisakah warnanya di ganti?"
Triston mengangguk. "Tentu warna apa yang kamu sukai?"
"Merah muda. Ini untuk adik perempuanku."
Olivia hendak mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Berhubung dia akan segera menjadi mahasiswa, Melvin ingin memberinya sebuah mobil sport dan merah muda adalah warna yang paling cocok untuknya.
__ADS_1
"Baik."
Triston baru saja menjual mobil R8 lagi. Dia merasa sangat senang.
"Antarkan Q7 itu ke plaza Reed dan hubungi aku kalau sudah sampai.
"Kurasa biarkan R8 itu disini terlebih dahulu. Hubungi aku jika dua puluh mobil itu sudah disiapkan."
Melvin hendak membeli beberapa mobil untuk dirinya sendiri. Dia lebih tertarik dengan Eventador dan Wayron. Untuk kesehariannya, dia lebih memilih naik taksi.
Berhubung penduduk kota Kasau sangat padat, lalu lintas pun sangat ramai. Mobil apapun yang di Kendari Melvin, Dia tidak akan terhindar dari kemacetan.
"Tuan Reed, apa perlu aku menemanimu? Aku bisa membantumu untuk mendapat diskon, meski kamu mungkin tidak membutuhkannya."
Triston menawarkan dirinya.
Melvin memikirkan sejenak, lalu merasa bahwa gagasan itu bagus. Melvin memang kaya, tetapi bukan berarti dia harus menghambur-hamburkan uangnya.
"Kalau begitu, ikutlah denganku."
Triston melaporkan kepada Jay terlebih dahulu, Lalu dia pergi bersama Melvin.
Jay tidak menahan Triston, karna berkat dia volume penjualan tokonya sudah menepati peringkat pertama dengan penjualan dengan mencapai empat puluh lima miliar rupiah.
Namun, hari ini mereka menempati peringkat pertama.
Ini semua berkat Triston. Jika Triston bukan seorang sopir Uber paruh waktu, dia tidak akan bertemu dengan Melvin yang akan datang untuk membeli semua mobil itu.
Jay tahu bahwa Melvin tidak membeli mobil-mobil itu karena suka. Dia membelinya hanya agar tidak kerepotan.
Melvin membawa Triston keluar dari toko dan hendak membeli mobil di toko Lamborghini sebelah.
Tiba-tiba ponsel Melvin berdering.
Rupanya itu adalah panggilan video dari Olivia.
"Halo?"
Melvin mengangkat panggilannya dan melihat wajah sedih Teresa.
"Melvin, kamu pergi kemana saja?"
Melvin melihat tatapan sedih Teresa dan bergegas berkata, "Aku sedang berbelanja dan akan segera pulang. Apa yang terjadi, Teresa?"
"Melvin, pulang. Cepat pulang .... "
Teresa yang tidak bisa menahan tangisannya membuat Melvin merasa sedih.
"Baik, aku akan segera kembali. Berhentilah menangis. Berikan ponselnya kepada Olivia."
Melvin mengarahkan adiknya dengan lembut.
"Olivia tidak ada disini. Aku sendirian," kata Teresa sambil menangis.
"Aku akan segera pulang. Tetapi di rumah dan jangan kemana-mana, paham?" Ucap Melvin.
__ADS_1
"Bergegaslah!" jawab Teresa sambil menangis.
Melvin menutup panggilannya dan berkata, "Seperti aku tidak jadi membeli mobil sekarang. Bagaimana denganmu? Apa kamu sedang sibuk sekarang? Jika tidak, bisakah kau mengantarku?"
"Tidak masalah, Tuan Reed."
Triston kembali ketoko untuk mengambil kunci mobilnya. Jay melihat Triston yang masuk dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan?"
Triston berkata, "Jay, Tuan Reed tidak jadi membeli mobil. Aku akan mengantarnya pulang."
"Tentu. Omong-omong, kamu boleh menceritakan tentang pengumuman dipusat penjualan kepada Tuan Reed." Balas Jay.
"Tentu!"
Triston berbalik dan pergi.
Kabar mengenai daftar peringkat pusat penjualan itu sangat menggembirakan.
Di sana terdapat sebuah pengeras suara yang mengumumkan tentang jenis produk yang di beli pelanggan berserta harga total pembeliannya.
Disana khusus mengumumkan pelanggan yang telah menghabiskan sejumlah uang besar.
Melvin menghabiskanhan hampir empat puluh lima miliar rupiah. Dia telah memenuhi target pencapaian toko mereka.
Triston keluar bersama Melvin. Sambil berjalan, Triston pun memberitahunya prihal pengeras suara itu dan bertanya, "Tuan Reed, apa kamu mau mendengarnya?"
"Tidak perlu. Aku tidak peduli dengan itu."
Melvin menjawab denga enggan.
Mereka keluar dari toko itu.
Ketika melewati toko Bens, mendengar suara yang menyebalkan, "bukannya itu Triston? Sepertinya klienmu pergi dengan tergesa-gesa."
Itu adalah Raymond. Manajer toko di penjualan Bens sekaligus pacar Joanna.
Raymond memang tampak menatap Triston, namun sebenernya dia sedang melihat Melvin.
Joanna mengikuti Raymond pun berkata, "Melvin kukira kamu disimi untuk membeli sebuah mobil, dimana mobilmu?"
Melihat Melvin tidak membawa kontraknya, Joanna mengira dia tidak jadi membeli mobil.
Melvin meninggalkan kontraknya di toko karna buru-buru.
"Jangan sombong anak muda. Tidak apa-apa kalau kamu miskin dan mengendarai mobil lusuh. Tidak hanya bisa memberi tumpangan pada orang lain, mobilmu pun juga bisa terisi penuh," hina Raymond.
Joanna menambahkan, "Ray, mobil yang penuh tidak boleh terisi penuh. Jika begitu, pasti sopirnya akan di tangkap."
"Benarkah? Kalau begitu aku pasti keliru." Ucap Raymond sambil tertawa.
Pasangan bodoh itu saling melengkapi. Mereka terus mencemooh.
"Orang-orang bodoh," ucap Melvin dengan tenang.
Triston tidak bisa menahan tawanya. Dia merasa celetukan Melvin itu sangat menyakiti mereka.
__ADS_1
Melvin membuat Raymond dan Joanna terlihat bodoh.