
Melvin berkeliling cukup lama, dan akhirnya menemukan restoran yang menjual roti.
"Jay, aku ingin membeli dua kantong roti!"
"Baiklah, kamu mau rasa apa?"
Melvin tidak bisa berkata-kata.
Melvin dan Jay tertegun dan saling tersenyum.
"Aku ingin dua rasa. Aku juga ingin dua sosis ham dan dua telur."
Kemudian, dia membeli dua botol air dan kembali ke rumah sakit.
Anak-anak sangat pemilih soal makanan. Melvin membeli beberapa makanan untuk sarapan.
Saat Melvin memasuki pintu masuk rumah sakit, terdengar suara berisik dari meja layanan.
"Kamu tidak kompeten! Mengapa kamu tidak menyelamatkan ibuku? Mengapa?"
Kemudian, terdengar suara barang-barang yang di banting
Suara itu terdengar seperti meja yang di pukul keras dengan tongkat.
Melvin melihat kearah keributan, lalu melihat seorang pria paruh baya yang sedang memegang tongkat baja dan terus-menerus memukul meja perawat.
"Jangan bersikap impulsif. Kami sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengobati ibumu. Dia akan baik-baik saja!"
Kepala perawat berdiri dengan berani dan menjawab dengan lembut.
"Kamu berbohong. Ibuku belum bangun. Kamu berbohong!"
Pria itu mengangkat tongkat baja dan mengayunkannya ke kepala perawat.
Kepala perawat itu tercengang.
Orang-orang di sekitar berteriak.
Kepala perawat itu meletakkan tangannya di depan.
Pria itu memukul kedua lengan perawat.
Bagaimana mungkin seseorang bisa menahan baja dengan lengan? Daging dan darah melawan logam.
Lucia bisa menolong Olivia sebelumnya karna Olivia memperpendek jarak kerja dan tidak begitu bertenaga untuk memukul tangannya.
Namun, kepala perawat itu menerima pukulan keras, dan tulang tangannya kemungkinan besar retak.
Kepala perawat itu berteriak.
Kemudian, dia jatuh ketanah dan raut wajahnya menunjukkan bahwa dia kesakitan.
Perawat lain berlarian dengan panik. Ada yang mengangkat kursi dan memukul pria itu, ada yang bergegas menolong kepala perawat, dan ada yang melarikan diri.
Orang-orang di aula bergegas pergi karna takut mencelakai diri mereka sendiri.
Melvin berada sedikit jauh dari pria itu. Dia melihat roti dan air putih di tangannya, lalu melihat ke arah pria itu. Melvin sudah siap untuk berdiri.
Namun, sebelum sempet melakukan sesuatu, seseorang muncul terlebih dahulu.
Melihat sosok orang tersebut Melvin tercengang. "Mengapa dia ada disini?"
__ADS_1
Lucia bergegas mengambil tindakan. Setelah mengobrol dengan Lola di lantai atas, dia turun. Namun, dia baru saja menyaksikan kejadian itu setelah turun dari lantai atas.
Sebagai Kapten satreskrim, sudah pasti dia akan langsung bertindak saat menyaksikan kejadian seperti itu.
Lucia menerjang pria itu hingga menjatuhkannya sementara pria itu tidak menyadarinya.
Pria itu kesulitan mengatur nafas, dia tercekat, dan terbatuk-batuk.
"Aku Lucia, Kapten Satreskrim Distrik Maoudatin Utara. Sekarang, aku harus mengambil tindakan wajib terhadapmu. Mohon kerja samanya!"
Dengan aura yang mendominasi. Lucia memberikan tatapan dingin kepada pria itu.
Namun, tidak ada yang melihat tangan Lucia sedikit gemetar.
Meskipun Lucia tidak melukai tulangnya terakhir kali, dia tidak bisa pulih begitu cepat. Dia akan baik-baik saja jika tidak terlalu banyak bergerak, tetapi sekarang ...
Tindakannya bisa di anggap sebagai gerakan besar. Lucia hanya bisa berharap tindakan bisa menahan pria itu.
Untungnya, strategi Lucia berhasil.
Pria itu berhasil di jatuhkan dan mendengar Lucia mengatakan dirinya seorang polisi wanita. Dia tersadar dalam sekejap.
Dia menatap Lucia dengan sedikit ketakutan dan tidak berani bertindak gegabah.
Lucia bernapas lega, dia mengeluarkan borgol, lalu bersiap memborgol pria itu dan membawanya kembali ke kantor polisi.
Namun, sesuatu terjadi pada saat itu.
Seorang pria mengambil pisau dari kios buah di samping dan menerjang dengan pisau itu.
"Sial! Pergi dari sini! Pergi dari sini!"
Lucia tidak bereaksi. Gerakan pria itu terlalu cepat, dan perhatian Lucia terfokus pada pria yang dia jatuhkan.
Sebilsh pisau bisa memenggal kepala seseorang!
Pupil mata Lucia melebar dan dia melihat Pisau itu jatuh.
Lucia hanya manusia biasa. Meskipun kuat, dia hanya bisa menunggu ajalnya tiba saat ini.
Namun ...
Terdengar suara sumbang. Suara logam yang kencang seperti suara tongkat baja yang rusak.
Orang-orang di sekitar pun terdiam.
Senua orang tercengang dengan kejadian di depan mereka.
Seorang pemuda dengan pisau, dan seorang pria paruh baya yang di jatuhkan, Lucia, pasien dan perawat di sekitar, dan Lola, mereka semua turun dari lantai atas ketika mendengar sesuatu, semuanya tercengang.
Mereka menatap seorang pemuda yang memegang roti dan segelas air dengan satu tangan dan tangan satunya masih di udara.
Tangannya berhenti pada ujung pisau yang patah.
Semua orang bisa menyaksikan dia mematahkan pisau dengan tangannya.
Itu adalah pisau! Logam!
Logam itu di potong oleh tangan seseorang! Itu tidak bisa di percaya!
Lucia menatap Melvin kebingungan. Dia lega dan menunjukkan tersenyum masam.
__ADS_1
"Mengapa kamu ada disini?"
Melvin tersenyum dan berkata pada Lucia, "Aku datang untuk menemui dokter!"
Tiba-tiba, Melvin menampar pria itu sambil membuang setengah bilah pisau yang dia patahkan. Setelah di tampar, pria itu pingsan.
Melvin melirik pria paruh baya yang tergeletak di tanah. Pria paruh baya itu terkejut, dia menutup matanya, Lalu berbaring di lantai dan pura-pura mati.
Melvin tersenyum dan berkata, "Mengapa kamu disini?"
"Aku sedang berpatroli disini" ujar Lucia.
Sekelompok petugas keamanan segera bergerak dan mengikat kedua orang tadi dengan tali.
Orang-orang di sekitar bertepuk tangan dan bersorak untuk Melvin.
"Dia benar-benar keren! Dia mematahkan pisau dengan tangannya!"
"Aku kaget."
Kepala perawat yang terluka tadi dirawat. Untung saja dia sedang berada di rumah sakit.
Lola datang dari samping, dia menatap Melvin seolah Melvin adalah monster, lalu bertanya, "Apakah kalian saling mengenal?"
"Apakah kalian juga saling kenal?" Melvin pun bertanya.
"Lola adalah temanku," ucap Lucia kenapa Lola, "Dia adalah Melvin."
"Halo. Senang bertemu dengan mu."
Melvin menatap Lola dengan senyuman, "Terima Kasih sudah mengobati adikku."
"Apa yang terjadi dengan adikmu?" tanya Lucia.
"Sepertinya dia terlalu lama main air kemarin. Dia masuk angin dan masih demam!" Ucap Melvin dengan santai.
"Apakah kamu yang memesan ruang rawat Naratama untuk pasien flu?"
"Seperti yang kamu lihat. Memang benar, temperamen tidak bisa disembunyikan."
Tidak ada yang menjawab.
Lola dan Lucia tidak bisa berkata-kata.
"Baiklah, lakukan saja pekerjaan mu. Aku harus menyelesaikan beberapa urusan disini." Lucia melambaikan tangannya.
"Baiklah. Selamat tinggal."
Melvin berbalik dan pergi.
Lola menatap Lucia penasaran, "Aku belum pernah melihatmu bicara banyak kepada seorang pria."
"Dia istimewa," ujar Lucia.
"Seberapa istimewa? Apakah dia begitu istimewa sehingga kamu menyukainya?" tanya Lola sambil bercanda.
Lucia melirik Lola, berbalik, dan berkata, "Para pemimpin rumah sakitmu akan berada dalam masalah. Mereka berani meletakkan kios buah di aula rumah sakit.
"Ini rumah sakit swasta... "
Lucia tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1