Kakak Miliarder Saya

Kakak Miliarder Saya
Telma sakit


__ADS_3

Triston mengirim mobil-mobil itu ke desa Reed hari ini. Mathew tidak pergi ke pabrik dan bertugas menerima delapan mobil ini.


Delapan mobil Audrey Q7 itu tampak sama, sederhana namun mendominasi. Mathew bisa mengemudikannya karna plat nomor sementara sudah disiapkan.


"Terima Kasih." Mathew bersikap sopan.


"Sama-sama. Itu yang harus kita lakukan. Jika kamu tidak punya pertanyaan, silakan tanda tangan disini."


Triston tersenyum sambil menyodorkan tanda terima ke arah Mathew.


Setelah Mathew mendatangani dan mengembalikan tanda terima itu, Triston menyerahkan kartu namanya. "Ini kartu namaku. Hubungi aku jika ada yang ingin ditanyakan. Baiklah, kalau begitu aku pergi."


"Sampai jumpa."


Begitu Triston duduk di dalam mobil, Melvin menelpon.


"Iya, Tuan Reed."


Melvin berkata, "Aku akan mentransfer uang kepadamu. Belikan aku sebuah mobil SUV. Aku ingin segera memilikinya dan aku tidak peduli dengan harganya."


Triston memikirkannya dan berkata, "Aku akan merekomendasikan Anton Martis DBX jika kamu ingin membeli mobil SUV. Salah satu mobil SUV dengan spesifikasi terbaik harganya akan mencapai tujuh miliar lima ratus juta rupiah. Ada juga Rull-Rose Cullinaz dengan spesifikasi terbaik yang harganya mencapai sekitar lima belas miliar rupiah. Maybock GLS dan Bentoly Bantanga juga bagus.


Melvin bingung dan tidak ingin memikirkannya, "Beli saja semuanya. Sebutkan harganya dan aku akan mentransfer uangnya kepadamu. Setelah kamu membelinya, simpan satu di rumah sakit Kesatria dan sisanya kirim ke Teluk Purnama Nomer 1."


"Siap!"


Triston mulai menghitung. Total harganya lebih dari empat puluh lima miliar rupiah.


Triston terkejut. Banyak pemuda yang menyukai mobil sport, tetapi Melvin hanya menyukai mobil SUV.


Sebenarnya, Melvin juga menyukai Mobil Sport, tetapi dia gagal mendapatkannya saat terakhir kali ingin membeli satu unit.


Kali ini, Melvin membeli mobil SUV karena mobil itu nyaman untuk berpergian. Dia akan mempertimbangkan membeli mobil sport nanti.


Di Rumah Sakit Pusat.


Melvin sedang duduk di bangku ruang tunggu sambil memangku Telma setelah mendaftar.


"Telma, bagaimana keadaanmu sekarang?"


Suara Telma terdengar lemah. "Aku merasa lemah dan tubuhku terasa panas."


Melvin memeriksa suhu kening Telma dengan bibirnya. Telma masih demam.


Melvin memandang ruang rawat jalan dengan cemas. Hanya ada satu orang di dalam, jadi mereka akan menjadi orang berikutnya.


"Nomer 18."


Dua orang keluar, lalu dokter menyebut nomer pasien dari dalam. Dari suara yang terdengar sepertinya, doker itu adalah seorang gadis muda.


Melvin menggendong Telma masuk dan melihat wajah yang tenang dan cantik dari samping. Wajahnya tidak mempesona. Tetapi bisa membuat orang jatuh hati.

__ADS_1


Melvin menatap doker itu dan berkata, "Halo, tolong periksa adikku. Dia sedang demam!"


"Harap tenang."


Lola Tanner mendengarkan detak jantung dan napas Telma dengan stetoskop.


Kemudian, Lola mengukur suhu tubuh Telma dengan termometer dahi.


Suhu tubuh Telma 37,3 derajat celsius. Dia mengalami demam ringan.


Untungnya, Telma tidak sakit parah.


"Apa kamu tahu apa penyebabnya?" Lola bertanya.


Suara Lola lembut dan meyakinkan Melvin.


"Kami berenang di laut kemarin. Sepertinya itu penyebabnya," jawab Melvin.


Lola mengangguk dan mencubit wajah Teresa, "Tidak apa-apa kamu masuk angin dan demam, hanya perlu minum beberapa pil."


Melvin langsung bertanya, "Apakah dia butuh infus? Infus glukosa atau semacamnya?"


Lola berkata, "Tentu saja, tubuhnya lemah, dan infus dapat membantunya pulih. Aku akan meresepkan obat dan dia bisa menerima infus di aula lantai bawah."


Ada tempat untuk infus di aula. Melvin melihatnya ketika dia tiba di rumah sakit.


Namun, ada banyak orang disana. Jika mereka kesana, baik Melvin maupun Telma tidak bisa beristirahat dengan tenang.


"Apa kamu ada kamar kosong?" tanya Melvin.


"Tidak masalah. Tolong pesankan ruang rawat untuk kami. Yah ... Ini Rumah Sakit Swasta, pasti ada ruang rawat Naratama, Kan?" Tanya Melvin.


"Apakah kamu yakin ingin memesan ruang rawat Naratama?"


Lola tidak bermaksut merendahkan Melvin, tetapi dia berpikir bahwa ruang rawat Naratama tidak sepandan dengan infus. Melvin akan menghabiskan banyak uang untuk infus!


"Iya, berapa biayanya per hari?"


"Baiklah ... Biaya ruang rawat Naratama adalah lima juta rupiah per hari ... "


Sebelum Lola selesai bicara, Melvin berkata, "Aku akan menyewa satu ruang rawat selama setahun."


Tindakan Melvin itu membuat Lola tercengang.


Lola tidak bisa berkata-kata.


Rumah sakit Kesatria adalah rumah sakit swasta dan selalu ada banyak orang kaya yang datang, tetapi Lola belum pernah melihat seseorang yang sangat tak terduga.


"Baiklah. Aku akan meminta seorang perawat untuk menyiapkan satu ruang rawat untukmu ... "


"Bisakah kamu menyediakan perawat pribadi untukku?"

__ADS_1


"... Untuk di periksa oleh perawat."


Lola memanggil seorang perawat. Perawat itu adalah seorang gadis muda. Dia mengantarkan Melvin dan Telma ke sebuah ruang rawat Naratama.


Perawat itu terus berbicara sepanjang jalan, dan itu membuat Melvin kesal. "Bisakah kamu menyediakan perawat pribadi untukku? Berapapun biayanya bukan masalah."


"Biayanya berbeda-beda untuk perawat pribadi yang berbeda, mulai dari tujuh ratus lima puluh ribu rupiah hingga tiga juta rupiah." Jawab perawat itu.


"Aku mau yang termahal dan terbaik."


Melvin tidak akan menabung saat ini karena tahu apa yang dia dapatkan akan sepandan dengan apa yang dia bayar.


Melvin mengganti pakaian Telma dengan pakaian pasien, membaringkannya di ranjang, lalu menutup tubuhnya dengan selimut.


Seorang perawat datang memberikan infus dan beberapa pil untuk menyembuhkan demam Telma.


Melvin menjaga Telma dan meminumkan pil itu kepada Telma.


"Mel, aku lapar!" kata Telma.


Telma baru makan sedikit tadi pagi, jadi dia lapar sekarang.


"Kamu mau makan apa? Aku akan membelikannya untukmu."


"Roti!"


"Baiklah!"


Perawat pribadi datang. Melvin membayarnya tiga juta lima tahun ribu rupiah per hari dan memberi tahu apa yang harus dia lakukan. Kemudian, Melvin keluar untuk membelikan Telma roti.


Beberapa saat setelah Melvin pergi, seorang gadis cantik masuk ke dalam klinik rawat jalan.


"Ada perlu apa kamu datang kesini?" Lola terkejut dan senang saat bertemu dengan Lucia.


"Hanya mampir saja. Kamu tidak sibuk, kan?" Lucia tersenyum.


"Aku baru saja menangani pasien terakhir. Apa kamu tahu apa yang terjadi? Orang-orang punya terlalu banyak uang! Pasien itu memesan ruang rawat Naratama hanya untuk infus demam!"


Lola mengerling.


"Orang kaya memang tidak bisa di tebak. Kemarin, seorang gadis mentraktirku di restoran pilihannya. Harganya makannya bisa lebih dari tujuh puluh lima juta rupiah!"


Lucia telah banyak berbicara dan tidak bersikap dingin saat bersama Lola.


"Penghasilanku sebulan bahkan tidak mencapai tujuh puluh lima juta rupiah ... " Lola menghela nafas. "Kapan kamu akan menikah dengan keluarga kaya raya? Aku ingin berkeliling dunia bersamamu."


"Apakah menurutmu keluarga ku akan setuju?" Lucia tertawa.


"Benar. Siapapun yang ingin menikah dengan mu tidak boleh sekedar kaya. Aku penasaran siapa yang akan jadi orang beruntung itu. Apakah aku orangnya?"


Lola menatap Lucia dengan mata berbinar-binar.

__ADS_1


"Tentu saja!" Lucia pun ikut bercanda.


Mereka mengobrol sebentar lalu memutuskan untuk makan, lalu pergi berbelanja akhir pekan ini.


__ADS_2