
"Ini sudah malam. Ayo, kita pulang!" Melvin menggandeng Olivia dan pulang bersama anggota keluarganya.
Tidak lupa, dia berpamitan kepada Lucia sebelum pergi.
Malam hari itu, dunia terasa sepi.
Namun, suasana itu terasa seperti ketenangan yang terjadi sebelum datangnya badai.
Sesampainya dirumah, balai keluarga Reed tampak terang benderang.
Kedelapan saudara dari generasi tua berada disana, begitu juga ketiga belas saudara dari generasi muda.
Melvin sedang berlutut di Tengah balai keluarga. Anggota keluarga lainnya menatap sekelilingnya.
Mathew duduk di tengahnya, lalu berkata. "Kami butuh penjelasan mu. Katakan sekarang!"
Melvin pun mulai menceritakan kisah buatannya tadi.
Lebih dari sepuluh menit dibutuhkan untuk menceritakan segalanya.
Mather bertanya, "Apa semua itu benar?"
Melvin berkata, "Aku bersumpah. Kalau aku berbohong, kalian tidak perlu memberiku tisu toilet lagi!"
Mathew memandangi kakak-kakaknya, kemudian istrinya.
"Baiklah, berdiri," Ucap Mathew, akhirnya menerima penjelasan Melvin.
Aidyn menjawab, "Tidurlah, kamu pasti ketakutan."
Semua paman Melvin memperlakukannya seperti anak sendiri. Bagaimanapun, dia memang anak laki-laki satu-satunya.
Mereka telah memutuskan bahwa Melvin akan menjadi kepala keluarga Reed selanjutnya.
Namun, mereka kebingungan karna mengetahui Melvin yang menjadi kaya dalam sekejap.
Mathew melambaikan tangannya. "Kalian semua tidurlah."
Anak-anak itu pergi, hanya tinggal para orang tua saja yang masih di sana.
Mereka membicarakan tentang bisnis Melvin.
"Anak ini menyembunyikan rahasianya dengan sangat baik. Apa kalian merasakannya?"
"Aku tidak akan bertanya jika aku tahu!"
"Jadi, bagaimana sekarang? Bagaimana kalau kita mengesahkannya sebagai kepala keluarga agar dia bisa mengangkat martabat keluarga Reed ketingkat yang lebih tinggi?"
"Apakah itu tidak terlalu cepat? Dia belum cukup dewasa untuk mengurus seluruh keluarga!"
"Uangnya akan tetap menjadi miliknya. Mana mungkin kita menginginkannya? Kita hanya ingin dia memperbaiki balai keluarga. Cepat atau lambat, dia akan menjadi kepala keluarga. Ini demi kepentingannya sendiri."
"Ide bagu!"
Mereka sangat mempedulikan budaya keluarga. Semua rumah disana sudah ada sejak setidaknya ratusan tahun yang lalu, dan keluarga Reed memiliki sejarah yang panjang.
__ADS_1
Akhirnya mereka mencapai kesepakatan setelah pertemuan itu.
Sementara itu, Melvin tertidur pulas setelah melalui hari yang melelahkan.
Sosok yang asing namun familiar muncul di sisinya dalam mimpi.
Rupanya itu Lucia! Dia mengenakan pakaian dalam seksi. Bibir merah dan stoking hitamnya begitu menggairahkan. Tersungging senyuman menggoda di wajahnya.
Melihat penampilan Lucia itu, Melvin tidak lagi bisa menahan diri.
Tiba-tiba dia terbangun. Jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Dia gemetar dan berfikir, mengapa aku selalu memimpikannya? Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama?
Sejujurnya 'cinta pada pandangan pertama' itu hanya soal penampilan luar.
Lucia tidak hanya cantik, Tetapi dia juga punya bentuk tubuh yang seksi. Melvin merasa tertarik kepadanya.
"Bagaimana kalau aku mendekatinya? Lagi pula, aku tidak akan rugi apapun."
Dia baru saja putus dari pacarnya. Memulai hubungan yang baru bisa membantunya untuk menyingkirkan kenangan itu.
"Baiklah ... "
Melvin mulai bangun dan mandi. Saat turun kebawah, orang tuanya baru saja akan berangkat bekerja.
"Ayah, paman. Aidyn, kalian tidak perlu lagi bekerja keras sekarang. Aku sudah kaya. Kalian cukup menikmati hidup!"
Aidyn tersebut dan berkata, "Itu uangmu. Lagi pula, kami tidak akan membiarkan keahlian ini berhenti di kami. Leluhur kita akan kecewa."
Bisnis itu makin membaik. Mereka baru saja mendapatkan pesanan senilah satu miliar rupiah.
Namun, tujuan bisnisnya mulai beralih untuk memelihara keahlian leluhur karna Melvin sudah kaya sekarang.
Mathew berkata, "Kamu bisa memperbaiki balai keluarga jika ada uang lebih. Kakekmu sudah memintanya berkali-kali."
"Tidak masalah!" Melvin langsung menyetujuinya.
Mereka berangkat dan Melvin mengikutinya dari belakang.
"Kalian mau kemana?"
"Membeli mobil. Apa ayah dan paman mau? Bagaimana kalau aku membeli masing-masing satu untuk kalian?"
"Baiklah ... "
Mereka belum terbiasa dengan kenyataan bahwa anak ini ingin membeli mobil seperti membeli sarapan. Masing-masing satu? Dia terlalu murah hati.
Mathew menjawab tenang, "Terserah kamu saja."
Lagi pula, rasanya tidak pantas meminta sesuatu dari orang yang lebih muda.
"Yah, baiklah!"
Melvin naik taksi dan pergi ke pusat penjualan mobil terbesar di kota Kasau. Ada banyak merek yang bisa dia pilih.
__ADS_1
Sopir taksinya berganya, "Apa kamu ingin membeli mobil?"
Melvin menjawab mantap, "Ya!"
"Mobil apa yang kamu inginkan? Aku bisa merekomendasikannya. Aku juga bekerja sebagai pramuniaga disana," Tersang sopir taksi itu.
"Aku mencari mobil untuk ayahku dan keluargaku yang lain. Kurasa kendaraan Utilitas Sport yang sederhana dan praktis dengan harga sekitar dua setengah miliar rupiah.
"Sederhana dan praktis sekitar dua setengah miliar rupiah ... "
Sopir itu mau tidak mau memperhatikan Melvin. Dia tidak menyangka bahwa Melvin adalah orang kaya di usianya yang masih muda.
"Aku merekomendasikan Audrey Q7. Tidak terlalu mencolok, Tapi kualitas dan tingginya cukup bagus. Aku bisa menunjukkannya padamu," tawarnya.
"Baik!"
Melvin tidak begitu peduli. Membeli dari siapapun semua sama saja.
Dia membeli roti di pintu masuk pusat penjualan dan masuk bersama pramuniaga itu.
Begitu masuk tempat penjualan, Dia melihat seseorang yang di kenalnya. Itu adalah mantan pacarnya.
Melvin ingin bersembunyi, tetapi sudah terlambat. Gadis itu sudah melihatnya.
Joanna Evans yang bersama pacar barunya, Raymond Anderson, yang merupakan manager penjualan toko Bens 4S ini.
"Apa kamu datang untuk mencari pekerjaan paruh waktu?" Joanna segera bertanya kepada Melvin begitu mereka bertemu.
"Siapa dia?" Tanya sang Manager penjualan.
Joanna menjawab tanpa malu-malu, "Mantanku."
Mantan? Raymond memperhatikan Melvin sebentar. Melvin hanya mengenakan baju santai sambil membawa roti di tangannya. Dia jelas terlihat seperti orang biasa.
Cuping hidungnya langsu mengembang bangga.
Sebagai Manager penjualan Bens, gaji tahunan Raymond senilai satu miliar rupiah.
"Aku bisa membantumu untuk bekerja disini." Dia tidak menyembunyikan hinaannya.
Sopir itu menyela Reymond dan berkata, "Dia adalah tamuku, Tuan Anderson, Kalau kamu membutuhkan pegawai baru, kamu bisa mencarinya di tempat lain."
"Tamu? Untuk membeli mobil?" Raymond terheran-heran.
Joanna meengkungkan bibirnya. Dia tahu betul latar belakang Melvin. Mana mampu dia membeli mobil?
"Melvin, bilang saja kamu kesini untuk mencari pekerjaan. Aku tidak akan menghakimimu!" Cemooh Joanna.
Dia mengejek Melvin seperti itu untuk menunjukkan kalau dia sudah mengambil pilihan yang tepat dengan meninggalkan Melvin dan memilih Raymond.
Melvin menghabiskan rotinya dan bersendawa. Dia berkata acuh tak acuh, "Bodoh."
Ucapannya sontak membuat Joanna marah.
Dia ingin melihat Melvin kesal. Bukan malah tidak peduli seperti itu.
__ADS_1