Kakak Miliarder Saya

Kakak Miliarder Saya
Tinggal untuk makan malam


__ADS_3

Olivia menatap Melvin heran. "Melvin, kamu menyukai Lucia?


"Tidak heran. Dia masih muda dan cantik dan melihat tubuhnya ... Aku juga akan menyukainya jika seandainya aku laki-laki."


Melvin menyentil kening Olivia.


"Apa yang ada di pikiranmu seharian ini? Kamu seharusnya belajar untuk ujian masuk perguruan tinggi."


"Aku tidak bercanda! Teruskanlah! Lucia itu wanita yang keren!" Olivia berkata dengan tegas.


"Jangan membodohiku. Aku tahu kamu ingin dia melindungmu setelah kamu melakukan hal-hal yang buruk."


Melvin benar-benar gampang di tebak, tapi dia tidak marah. Semua orang pasti menyukai gadis cantik. Dia juga tidak melakukan hal yang aneh.


"Sissy, ayo. Aku akan mengajarimu berenang."


"Aku datang!"


Sissy berlari ke Melvin, dia melepas jaket pelampungnya, dan masuk ke dalam air bersama Melvin.


"Tenang, santai. Angkat kepalamu. Lakukan secara berirama."


Melvin terlihat sabar.


Kemasukan air kedalam mulut ketika sedang belajar berenang adalah hal yang normal. Tidak ada yang bisa mencegah hal yang itu.


Seseorang harus terbiasa dengan air sebelum menguasai cara berenang.


Mereka tetap berada di air selama setangah jam sebelum Lucia dan yang lainnya tiba.


Rombongan itu terdiri dari tiga atau empat mobil. Sebagian dari mereka adalah rekan kerja Lucia, sebagian lagi adalah polisi laut, dan sisanya adalah ahli mekanik.


"Dimana Melvin?" tanya Lucia pada Olivia begitu dia sampai.


"Di sebelah sana. Melvin sedang mengajari Sissy Berenang." Olivia menunjuk seseorang di laut.


Melvin keluar dari air bersama Sissy ketika Melvin melihat Lucia.


"Hai, cepat juga kamu sampai di sini," ucap Melvin seraya tersenyum.


"Bagaimana kamu menemukan benda ini?" tanya Lucia.


"Aku terjatuh saat masuk kedalam air. Jadi, aku menggalinya."


Melvin berjalan mendekat dan memperhatikan para ahli yang memeriksa detektor itu. "Apakah itu sampah?"


Pemimpin tim adalah Jim Blanco, seorang profesor di universitas kasau dan anggota akademik sains nasional. Dia sangat di hormati di negara ini.


Jim melirik Melvin, dia mengelus detektor itu, lalu berkata, "Ini detektor terbaru Naplia yang di lengkapi teknologi terbaru Naplia."


Lucia bertanya, "Berapa nilainya?"


Jim berkata dengan serius, "Nilainya tinggi. Jika bisa mengetahui cara kerjanya, teknologi Moplad akan mengalami perkembangan pesat."


Lucia menghela nafas lega dan berkata pada Melvin, "Terima Kasih. Jika ada teknologi berharga di dalamnya, aku akan memberimu hadiah dari atasan."

__ADS_1


"Hadiah? Hadiah seperti apa?"


Lucia lengah mendengar pertanyaan Melvin.


Benar, hadiah seperti apa?


Uang, namun Melvin tidak membutuhkan uang?


"Sebuah medali!" Lucia mengatakannya dengan wajah datar, namun dia mencebik dalam hati.


"Tidak. Aku menginginkan ciuman darimu," kata Melvin merajuk.


"Sebuah medali? Medali apa?"


Elaine mendatangi mereka sambil berlari karna mendengar mereka membicarakan medali.


"Aku juga ingin medali!"


Lucia menatap Elaine dan berkata, "Kakakmu akan memberimu medali jika kamu menciumnya."


"Tidak masalah."


Elaine meraih Melvin dan menciumnya.


Melvin mencubit pipi Elaine. "Aku akan memberimu medali jika kamu berhasil dalam ujian."


"Kalau itu terjadi, guruku pasti akan memberiku medali juga!" Kata Elaine, lalu dia kabur.


Melvin menatap Lucia sementara Lucia melihat Jim berurusan dengan mesin itu.


Lucia bisa merasakan tatapan Melvin. Dia berpikir Melvin akan berpaling sebentar lagi, namun Melvin tetap menatapnya.


Tak satupun dari mereka yang melepaskan pandangan.


Olivia mengambil foto keduanya dan mengirimkannya keruang obrolan keluarga.


Tonia bertanya, "Apa ini?"


Thea menjawab, "Aku melihat cinta."


Flora bertanya, "Kapan ini?"


Olivia menjawab, "Sekarang."


Mereka semua punya ponsel dan seketika menjawab begitu mereka melihat fotonya.


Terlebih lagi, mereka kembali dari berbagai area di pantai untuk melihat-lihat calon kakak ipar mereka.


Ponsel Melvin berdengung. Dia menarik pandangannya dan melihat ponselnya.


Dia tidak bisa berkata-kata.


Tonia dan lainnya datang berlari. Mereka berpura-pura melihat Jim namun mereka sebenarnya ingin melihat Lucia.


Lucia merasakan tatapan mereka. Lucia sempat melihat Melvin mengeluarkan ponselnya dan mengirim sesuatu, lalu saudari-saudarinya datang tak lama kemudian. Lucia mengira Melvin meminta mereka untuk datang.

__ADS_1


"Mengapa? Kamu butuh bala bantuan untuk mengalahkanku?" Lucia bertanya sambil mencibir.


"Apa? Bukan!" Melvin berkata dengan bingung.


Lucia mengabaikannya dan berteriak kepada seseorang, "Harold, Lacy, awasi dia!"


"Baik!"


Sepasang petugas polisi mendekati Melvin dan mengarahkan pandangan mereka padanya.


Melvin tidak bisa berkata-kata.


Jim bangkit, dia mendiskusikan sesuatu dengan asistennya, lalu berkata, "Kami akan membawa benda ini ke laboratorium. Aku akan menyerahkan hal lainnya pada kalian."


"Tentu," jawan pemimpin polisi laut itu.


Lucia melihat dan berkat, "Sudahlah. Kalian antarkan profesor Blanco kembali terlebih dahulu."


"Baik!" Harold dan Lacy mengalihkan pandangan mereka dari Melvin dan pergi membantu Jim untuk memindahkan detektor.


Mereka merasa stres menatap Melvin. Lagi pula, Melvin telah mengalahkan pria-pria kasar berlengan emas dan membunuh salah satu dari mereka.


"Detektif Lucia, tinggallah untuk makan malam, oke? Kamu menyelamatkan hidupku kemarin. Aku belum berterima kasih padamu.


"Keluarga Reed selalu menghargai siapapun itu. Jika kamu tidak datang, aku tidak akan bisa tidur dengan nyenyak tahun ini.


"ini adalah tahun terakhirku di SMA dan aku harus belajar dengan giat. Jika aku tidak bisa tidur nyenyak, aku tidak bisa belajar dengan baik, aku tidak bisa masuk perguruan tinggi yang bagus."


Olivia tiba-tiba bicara. Dia terdengar emosional. Melvin hampir saja terharu.


Melvin berkata, "Apa yang Olivia katakan benar. Tolong terimalah undangan kami. Olivia memang selalu berterima kasih dengan cara seperti ini."


Lucia menatap Melvin lalu Olivia dan mengangguk. "Baiklah."


Lucia memutuskan untuk tinggal bukan karna dia mempercayai ucapan Olivia. Dia punya beberapa pertanyaan untuk di jawab dengan Melvin.


Ditambah lagi, Lucia tidak pernah memakan makanan mewah dan dia ingin merasakannya.


Orang tuanya tagas padanya sehingga tidak mengizinkannya menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak perlu.


Lucia menanggapi hal itu dengan sangat tenang sehingga Melvin terkejut. Dia berbalik untuk berkata kepada kepala koki, "Kami akan makan malam lebih awal malam ini."


Chelsea mendekatinya dan berkata denga nada penuh penyesalan, "Tuan Reed, ada keadaan darurat di perusahaan. Aku harus ke sana sekarang."


Melvin melambaikan tangannya. "Silakan saja. Para koki ada disini."


"Terima Kasih."


Chelsea mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya sebelum dia pergi.


Melvin dan lainnya tidak meninggalkan pantai sampai makan malam siap.


Setelah menikmati makan malah yang mewah, Lucia meminta Melvin untuk mengantarkannya keluar.


"Terima Kasih untuk makannya yang enak. Makanan orang kaya sengat berbeda dari makanan yang kami makan," ujar Lucia.

__ADS_1


"Biasa saja," ucap Melvin merendah, "Masakan ibuku lebih enak."


Lucia mengangguk sambil berjalan. "Aku sudah bertanya pada pelatihku. Teknik yang kamu gunakan tempo hari itu adalah Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangan, bukan?"


__ADS_2