
"Kemampuan apa lagi yang masih kamu miliki?"
Lola baru mengenal Melvin kemarin, dia tidak mengetahui kemampuan apa saja yang dimiliki oleh Melvin.
Satu-satunya hal yang dia ketahui adalah bahwa Melvin sangat kaya.
Bagi Lucia, selain Melvin kaya, dia juga tahu bahwa Melvin jago berkelahi. Jurus Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangan ciri khasnya membuat semua praktisi seni bela diri merasa iri!
Melvin memiliki pengetahuan yang baik dalam ilmu fisika dan mesin. Dia baru saja menyelesaikan masalah yang tidak bisa dipahami oleh para ahli.
Kedua aspek itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa Melvin adalah orang yang sangat hebat.
Namun, dia menguasai tiga aspek!
"Apakah masih ada rahasia lain yang dimiliki oleh Melvin?" Lucia bertanya-tanya sembari memperhatikan sisi wajah Melvin.
Baru beberapa hari saja Lucia mengenal Melvin.
Namun, mereka sudah seperti teman yang sudah saling mengenal untuk waktu yang cukup lama, dan mereka berbicara dan bergaul dengan santai.
Sebuah mobil berhenti di depan Vila, lalu Lucia dan Lola turun dari mobil itu.
Olivia mengajak para gadis keluar untuk menemui mereka.
"Selamat datang, Lucia!"
"Selamat datang! Kami menyambutmu dengan senang hati!" Para gadis berbaris dan bertepuk tangan sehingga membuat Lola menjadi merasa agak malu.
Namun, Lucia terlihat tenang. Dia telah tinggal bersama para gadis manis ini dan menjalin hubungan yang baik dengan mereka.
"Mereka... "
Lola menatap Melvin dengan heran, "Apakah mereka semua adik perempuanmu?"
"Ya, aku mempunyai dua belas adik perempuan. Yang sakit kemarin itu adalah Telma."
Melvin memarkirkan mobilnya dan turun. "Ayo kita naik ke atas. Makanan sudah siap. Kita bisa menyaksikan matahari terbenam sambil menikmati makanan."
Elaine memimpin jalan di depan sambil melompat-lompat kecil, diikuti oleh belasan orang lainnya.
Melvin berjalan melewati Lucia dan tanpa sengaja menyentuh lengannya.
'Aduh... " teriak Lucia kesakitan.
"Mengapa? Masih terasa sakit?"
Melvin mengingat saat Lucia terpukul saat melindungi Olivia, pipa baja itu meluncur kebawah dan pasti terasa sakit sekali.
Melvin menggandeng tangan Lucia yang lain dan berjalan menuju ke ruang kerja yang berada di lantai satu.
Lucia ingin menghindari, tetapi Melvin terlalu cepat dan tenaganya terlalu kuat.
Di dalam ruang kerja, Melvin menyuruh Lucia duduk dan menggulung lengan bajunya. Melvin pergi ke arah kotak untuk mencari pertolongan pertama pada kecelakaan, yang dibeli dari rumah sakit tadi pagi dan di lengkapi denga jarum perak.
Lucia tercengang ketika melihat Melvin mengeluarkan jarum perak, lalu dia bertanya, "Apa yang akan kamu lakukan?"
"Menyembuhkan lukamu."
Melvin memasukan jarum ke dalam alkohol dan menatap lengan Lucia.
Terlihat jelas lebam di tangannya, dan itu akan membutuhkan waktu tiga sampai lima hari agar bisa menghilang jika Lucia hanya mengoleskan salep di atasnya.
"Santai saja. Ini akan sangat cepat." Melvin tersenyum.
"Kami menguasai kemampuan medis?"
Lucia tidak merasa takut, sebaliknya dia merasa sangat tenang. Ini aneh. "Sejak kapan kamu menguasainya?"
"Hari ini."
Kemampuan medis adalah hadiah yang diberikan oleh Sistem hari ini. Jadi dia memang benar-benar menguasainya hari ini.
Namun, ternyata itu manjur. Bahkan, hasilnya lebih baik dari pada yang dilakukan oleh beberapa dokter profesional.
Jarum itu sudah menancap di kulitnya sebelum Lucia menyadarinya.
Yang pertama, yang kedua, dan yang ketiga ...
Melvin menusukan jarum kebagian tubuh yang berbeda, dan dia mengalirkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh Lucia melalui jarum-jarum itu.
"Seperti apa rasanya?"
Lucia mencoba merasakannya dan berkata, "Kebas, gatal, dan tidak sakit."
__ADS_1
Melvin tersenyum dan mencabut jarumnya. Pada saat bersamaan, telapak tangannya disapukan kebagian tubuh yang tertusuk jarum.
Lucia merasakan ada sesuatu yang hendak keluar dari bawah kulitnya, yang terasa seperti jerawat yang sedang dipencet.
Dia melihat kebawah, lalu tiga bintik hitam muncul di lengannya. Bintik hitam itu makin membesar, dan darah hitam mengalir keluar.
Melvin membersihkan darah itu dengan menggunakan selembar kain kasa, dan lengannya kembali berwarna putih dan halus seperti sebelumnya.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Melvin sambil menyimpan jarum.
Lucia menggerakkan lengannya, dan dia sudah tidak merasakan sakit lagi. Sebaliknya, terasa sensasi hangat mengalir ke seluruh lengannya yang memberikan lebih banyak kekuatan kepadanya.
"Wah ... "
Lucia menatap Melvin dengan heran, "Mengapa sebelumnya kamu tidak menceritakan kepadaku bahwa kamu mempunyai kemampuan medis yang hebat?"
"Aku bertanya kepadamu, lalu kamu bilang itu tidak apa-apa. Lagi pula, aku juga baru saja menguasainya hari ini."
Melvin mendorong bahunya kedepan dan membual seperti intruksi yang di berikan oleh Sistem PAM, "Mengenai kemampuan medisku, bila menggunakannya sekali aku bisa menyembuhkan segala macam penyakit, dua kali untuk membersihkan seluruh tubuh, dan tiga kali untuk menyembuhkan seseorang dari Kematian."
"Dasar pembual!"
Lucia tidak mempercayai ucapan Melvin. Baginya, ada beberapa kata-kata Melvin yang bisa dipercaya, tetapi ada juga yang tidak.
Padahal, semua yang dikatakan Melvin memang benar.
Lucia tiba-tiba menyadari lengan Melvin telah berada di bahunya, tetapi Lucia tidak menolak.
Lucia menyingkirkan tangannya, lalu berkata, "Tunjukan jalannya!"
Melvin melangkah maju dan membawa Lucia ke lantai empat. Ada balkon yang terbuka dimana mereka bisa menikmati makan malam sambil menyaksikan matahari terbenam.
"Mel, kemari dan duduklah. Ayo kita makan malam!" Teresa melambai kepada mereka.
"Aku datang!"
Melvin menarik kursi agar Lucia duduk disana, lalu dia kembali ketempat duduknya.
Para koki datang membawa troli makanan dan menghidangkan makanan kepada Meraka satu per satu.
Lola mendekatkan tubuhnya ke Lucia dan bertanya penasaran, "Apa yang barusan kalian lakukan berdua?"
"Lenganku terluka dan dia mengobatiku." Lucia mendorong Lola kebelakang, "Apa yang menurutmu kita lakukan?"
"Tentu saja menurutku kalian menyembuhkan luka," kata Lola sambil mengangkat bahu.
"Lalu ada juga makanan laut, sasyimi ikan salem, tiram, landak laut, telur kepiting, takoyaki...
"Untuk mengimbangi hidangan ini, aku juga memerintahkan para koki untuk memasak beberapa hidangan sayur-sayuran. Nikmatilah hidangan ini."
Melvin tidak mengambil garpu dan pisaunya. Adik-adiknya juga tidak melakukannya. Mereka semua memandang ke arah Lucia dan Lola dengan tidak sabar. Mereka semua harus menunggu hingga Lucia dan Lola makan sebelum mereka boleh mulai makan.
Mereka semua dididik dengan baik!
Lucia mengambil Sasyimi, memcocolnya dengan saus, lalu memasukkannya kedalam mulut.
Lola juga menyicil takoyaki.
Para gadis hanya menonton mereka. Bahkan, Nima sampai meneteskan air liurnya.
Teresa bertanya, "Lucia, apakah rasanya enak?"
Lucia mengangguk, "Lezat sekali!"
Lola pun mengangguk, "Sangat lezat!"
Melvin tersenyum, "Kalau begitu mari kita mulai!"
Melvin mengeluarkan anggur merah, membuka penutupnya, dan menuangkan anggur itu untuk Lucia dan Lola. "Aku tidak tahu anggur apa itu. Aku hanya mengambilnya dari ruang anggur. Cobalah."
"Kelihatannya mahal," ujar Lucia.
Kemudian, dia menyesap anggur itu, dan rasa yang tertinggal di dalam mulutnya tidak bisa hilang.
"Enak sekali!"
Lola menyesapnya dan berkata, "Ini adalah anggur merah terbaik yang pernah aku minum."
Melvin tersenyum, "Aku tidak terlalu paham soal anggur. Jika kalian suka, aku akan memberi kalian dua botol."
Semua orang berbicara dan tertawa.
Elaine dan Teresa masing-masing menyantap kaki domba. Setelah memakan dagingnya, mereka menggunakannya sebagai senjata untuk bertanding, menirukan suara-suara Senjata.
__ADS_1
Telma memegang cakar kepiting dan berpakaian seperti alien dalam film kartun. "Aku berasal dari bintang stam! Aku akan menguasai planet ini!"
Nina memakan sedikit moster. Rasanya sangat pesas sampai hidungnya mengeluarkan hingus, jadi dia segera meminum susu.
Sava dan Esther berdiri di sebelah Melvin sambil makan dan melayani Melvin. Mereka seperti sedang bermain perta teh.
Sissy dan gadis lainnya pendiam, dan Faye tidak pernah pilih-pilih makanan.
Olivia, Thea, Tonia, dan Flora semuanya duduk dan makan dengan tenang.
Melvin menatap Lucia setiap saat sambil mengetukkan jari ke mulutnya.
Lola tersenyum, "Apa yang kamu lihat?"
Melvin keceplosan, "Lucia sangat bagus ... "
Dia segera mengalihkan perkataannya, "Maksudku hidangannya terlihat sangat bagus, dan lezat."
Lola menatap Lucia sambil tersenyum. Lucia mengerlingkan matanya, "Makan makananmu."
Melvin sangat nakal, dan dia masih menatap Lucia.
Lucia menoleh dan menatap Melvin balik. Terakhir kali Lucia menatapnya adalah ketika Olivia memfoto mereka.
"Bagaimana cara kamu membuka detektor itu?" Lucia memulai topik baru.
"Mudah saja. Seharusnya kamu menemuiku lebih awal. Aku sudah pernah membukanya dan memasangnya kembali," ucap Melvin santai.
Lucia terdiam. Gara-gara Melvin, seluruh tim ahli dari institut sains dan teknologi Kasau tidak bisa membukanya setelah berusaha selama dua hari.
"Baguslah," ucap Lucia.
"Akan ku anggap itu sebagai pujian," balas Melvin.
"Aku mendengar bahwa kamu adalah seorang petarung yang hebat. Apakah itu sungguhan?" tanya Lola.
"Sepuluh kali pukulan hanya dengan sekali jentikan ... "
"Ya, kelihatannya begitu. Kemarin, kamu baru saja mematahkan pisau panjang dengan menggunakan tangan kosong ... "
"Apa yang terjadi?"
"Kemarin, Melvin... "
Mereka mengobrol dengan gembira dan makan selama satu setengah jam.
Akhirnya, semua makanan dan anggur sudah hampir habis, dan matahari di barat sudah terbenam.
"Terima kasih atas jamuanmu!" Lola menyeka mulutnya, lalu bangkit berdiri.
"Kalian sudah mau pergi? Jangan pergi, ayo kita menonton film!"
Melvin berdiri dan berkata.
"Kamu punya bioskop disini?" tanya Lola heran.
"Kami punya bioskop, ruang judi, ruang anggur, gimnasium ... "
Lola menatap Lucia, dan Lucia mengangguk kepada Lola, lalu mereka memutuskan untuk tetap tinggal.
Lalu, mereka menonton film bersama.
Sebelum mereka meninggalkan tempat itu, Melvin memberikan sebuah tas besar kepada mereka.
Tas itu berisi anggur. Melvin tidak bisa menemukan kemasan yang sangat indah dan hanya menemukan tas besar itu.
Jadi, mau tidak mau dia harus menggunakannya dan memasukan beberapa botol anggur kedalamnya.
"Pilih saja mana yang kalian suka. Aku tidak tahu mana yang bagus."
Melvin menaruh tas didalam mobil dan mengucapkan selamat perpisahan kepada Lucia.
"Sampai jumpa," ucap Lucia.
"Oke. Tunggu sebentar!"
Melvin menuju ke hamparan bunga dan memetik setangkai bunga, lalu kembali menuju ke jendela mobil. Dia memasangkan bunga itu ke rambut Lucia.
"Oke!"
Lucia tidak menghentikannya. Lucia juga tahu bahwa dia tidak bisa menghentikan Melvin.
"Berkendaralah dengan hati-hati!"
__ADS_1
"Oke!"
Lucia hanya menyesap sedikit anggur dan itu tidak akan membuatnya mabuk. Dia menyalakan mobilnya lalu pergi.