
Lucia mengantarkan Lola pulang kerumah. Lucia menyimpan sebotol anggur untuk dirinya sendiri dan memberikan sisanya kepada Lola.
"Hanya satu?"
"Aku tidak tertarik pada anggur."
"Baiklah... Jika kamu mau, semua anggur ini boleh menjadi milikmu!"
Lucia membalasnya dengan senyuman, lalu pulang kerumah.
Setelah mandi, Lucia sudah bersiap-siap untuk segera tidur. Pada saat ini, Lola menghubunginya.
Ketenangan Lola hilang. Dia bertanya dengan suara pelan, "Lucia apa kamu tahu?"
"Apa?" Lucia menjadi bingung.
"Anggur! Aku mencarinya secara online. Yang paling murah berharga dua rarus lima puluh juta rupiah dan yang paling mahal seharga empat setengah miliar rupiah!"
Lola berseru.
Lucia kaget bukan main. Dia melihat ke botol anggur yang berada di atas meja, lalu berkata, "Apa?"
Bukan karna Lucia belum pernah melihat anggur mahal, tetapi harga sebotol anggur yang mencapai empat setengah miliar rupiah berada di luar dugaannya.
Bahkan, anggur itu lebih mahal dari berlian.
"Haeganya terlalu mahal. Sebaiknya aku mengembalikan anggur itu kepadamu!" ucap Lola dengan gugup.
"Mengapa? Sebaiknya kamu kembalikan anggur itu kepada Melvin. Namun, itu akan menjadi sebuah penghinaan baginya."
Lola mengenal Melvin dengan baik. Kalau Melvin menerima hadiah yang sudah diberikannya kepada orang lain, dia akan merasa sangat terhina.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Lola dengan bingung.
Lucia berkata dengan santai. "Minum anggur itu atau jual saja. Bagi Melvin itu bukanlah apa-apa.
"Jangan gugup. Apakah kamu tahu berapa harga makanan tadi?"
"Berapa?"
"Setidaknya seratus dua puluh juta rupiah. Satu gigitan saja yang kamu makan sudah bisa membeli sebuah lipstik."
Lola tidak tahu harus berkata apa.
Lucia menutup telponnya. Dia tidak terlalu mempedulikan barang-barang mewah. Dia hanya penasaran dan ingin mencobanya.
Lucia belum pernah makan makanan itu sebelumnya, tetapi bukan berarti dia belum pernah makan hidangan mahal. Apa yang pernah dia makan bersama keluarganya dalam makan malam negara tidak lebih murah dari itu.
Lucia memiliki pemikirannya sendiri dan tidak peduli dengan apa yang orang lain kejar.
Singkatnya, Lucia memiliki impiannya sendiri dan tidak akan mengikuti yang lain.
Itulah alasan mengapa Melvin menyukainya.
...
Di Rumah Megah 1.
Melvin mengajari Sissy Berenang pada keesokan harinya. Sissy cukup pintar. Dia bisa menyelam dan berenang dengan gaya dayung anjing.
Mereka yang bisa melakukan gaya dayung anjing mungkin adalah seorang perenang yang hebat.
[ Tugas selesai. Selamat kamu telah mendapatkan kemampuan baru, menyelam dalam. ]
[ Tugas karena telah mendapatkan 30% dari saham Konglomerasi Perkasa! ]
[ Menyelam dalam berarti kamu bisa menyelam selama satu jam tanpa bernapas. ]
Kemampuan ini benar-benar berada di luar kemampuan manusia. Itu hanya mungkin terjadi dengan Sistem PAM.
Seseorang mampu berada di bawah air selama satu jam tanpa bernapas kepermukaan.
Sungguh kemampuannya yang luar biasa!
Melvin memeriksa informasinya.
__ADS_1
[ Nama: Melvin Reed. ]
[ Dana: 3.787.500.000.000 ]
[ Aset: Villa Teluk Purnama Nomer 1, 30% Saham Konglomerasi Perkasa. ]
[ Keterampilan: Kemampuan Mekanik Tingkat Lanjutan, Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangan, Keterampilan Penyembuhan, Menyelam Dalam. ]
[ Gelar: Kakak Terbaik Di Seluruh Dunia. ]
Melvin telah memegang saham Konglomerasi Perkasa sebesar 30%, yang berarti dia memiliki kekayaan sebesar enam kuadriliun rupiah.
Melvin mengeluarkan ponselnya dan mencari pada pemegang saham Konglomerasi Perkasa dan mendapati bahwa pemegang saham Konglomerasi Perkasa adalah seorang pria misterius dengan saham hanya sebesar 30%.
Tidak lama setelah itu, berita itu pun menyebar.
"Sungguh mengejutkan! Shawn, Presidir Konglomerasi Perkasa, menjual 30% sahamnya dan menjadi pemegang saham terbesar kedua. Pemegang saham terbesar masih menjadi sebuah rahasia!"
Banyak akun pemasaran yang memberika informasi kepada para penonton itu.
Melvin terkekeh. "Yah, cepat sekali mereka bertindak."
"Mel, apa yang kamu katakan?" tanya Savana sambil menatap Melvin.
"Hari ini panas. Aku ingin minum Coka!" ujar Melvin dengan lesu.
"Aku akan pergi mengambilkan satu untukmu!"
Savana berlari untuk pergi mengambil seboto Coke dingin.
Melvin meminum Coke itu seteguk, lalu berbaring dengan santai diatas ranjang.
Esther berbaring di sofa sambil menonton televisi dengan posisi telengkup. Tidak ada yang tahu apakah dia bisa melihat sesuatu seperti itu. Mungkin itu yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak.
Melvin memeriksa waktu arlojinya. Waktu sudah menunjuk pukul sepuluh pagi. Dia terkngat bahwa ada sesuatu yang harus di lakukan olehnya. Jadi, dia meletakkan Coke itu, berdiri, dan berkata, "Aku akan pergi keluar. Siapa yang mau ikut denganku?"
"Kemana?" tanya Elaine penuh semangat.
"Balai keluarga harus didekot ulang. Aku harus mencari seseorang. Siapa yang mau ikut denganku?" tanya Melvin.
Gadis-gadis lain juga tidak tertarik.
Namun, Savana dan Esther ingin ikut dengan Melvin.
"Baiklah, Savana dan Esther akan pergi denganmu. Kamu tinggal dirumah. Jangan berlari-lari. Olivia yang akan bertanggung jawab. Mengerti?" ujar Melvin.
"Baiklah!"
Gadis-gadis itu selalu patuh. Melvin tidak menghawatirkan mereka.
Melvin mengendarai Cullinaz-nya kepusat kota bersama Savana dan Esther.
Selama satu jam, Melvin tiba di desa Reed. Eugene dan Verena sedang duduk di tempat yang teduh di pakarangan rumah.
Mereka mempunyai AC dan kipas angin listrik. Namun, mereka lebih memilih untuk menikmati angin di bawah pohon karena tidak terbiasa menggunakan itu.
"Kakek, Nenek!"
Savana dan Esther bergegas menuju ke rumah, lalu mereka menyapa.
"Anak-anak, di manakah kalian bersenang-senang?" tanya Eugene sambil tersenyum.
"Tinggal bersama Mel di rumah besar yang indah di tepi pantai!" jawab Esther.
Melvin menjelaskan, "Aku membeli rumah megah di tepi pantai. Bagaimana kalau kalian tinggal bersama kami?"
Verena berkata sembari tersenyum, "Kami sudah terbiasa dengan tempat ini. Kami bisa mengajak tetangga kita untuk melakukan permainan."
Eugene menambahkan, "Jangan khawatirkan kami. Kejar saja impianmu dan lakukan saja apa pun yang kamu inginkan. Melvin, kamu adalah yang terbaik di generasimu. Kamu yang akan menjadi kepala keluarga berikutnya. Kamu harus memikul tanggung jawabmu."
Melvin berkata dengan percaya diri, "Kakek, jangan khawatir. Dengan adanya diriku, keluarga Reed akan menjadi hebat!"
"Ayah ingin mendekor ulang balai keluarga. Apa pendapat kakek mengenai hal ini?"
Sambil merenung sejenak, Eugene berkata, "Halaman rumah dan jalan harus di renovasi. Aku mendengar bahwa kamu sudah kaya sekarang. Kalau begitu, kamu bisa mengeluarkan lebih banyak biaya untuk dekorasi."
__ADS_1
"Itulah yang sedang aku pikirkan."
Melvin ingin merenovasi seluruh balai keluarga karena tidak akan di gunakan untuk sementara waktu.
Selain keluarga Reed, desa Reed juga dipenuhi oleh orang luar. Keturunan keluarga Reed berada di tempat yang berbeda. Seperti kota Kasau dan provinsi souath. Mereka hanya kembali ke desa setahun sekali.
Melvin mulai melakukan pekerjaannya. Savana dan Esther pergi mengunjungi teman-teman yang mereka kenal di sekolah yang tinggal di desa ini.
Savana dan Esther bermain dengan dua teman mereka di depan sebuah toko yang berada di pinggir jalan.
Seorang anak berkata sambil memakan es krim, "Savana, apakah kamu tahu? Kita akan membuat film."
Savana bertanya dengan bingung, "Membuat film? Film apa?"
Esther fokus memakan es krimnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Anak itu berkata, "Aku tidak tahu. Aku mendengar dari ayahku bahwa desa kami akan membuat film."
Di dekat toko, ada seorang pria yang mengenakan kemeja.
Wajah pria itu basah kuyup karena keringat. Dia mengipasi dirinya dengan menggunakan topi yang di pegang nya dengan sebuah tangan, dan sebelah tangannya lagi memegang sebuah botol air yang telah diremasnya.
Semua orang tahu apa yang sedang dirasakan oleh pria itu.
Pria itu adalah Leif Watt, Produser media kejora. Dia berada di desa ini untuk melihat-lihat dan membuat rencana syuting bersama Jackie Grossman, sang sutradara.
Leif sedang meminum air dingin sambil mendengarkan percakapan mereka.
"Anak-anak, kalian salah," sela Leif.
Anak-anak menatap Leif dengan penasaran. Anak itu bertanya, "Apa yang salah?"
Leif berkata, "Itu bukan film, tetapi drama TV tentang pemberantasan narkoba yang berjudul 'Operasi Penghancuran Desa'."
Savana dan Esther tidak tahu tentang pemberantasan narkoba dan tidak bisa membedakan antara film dengan drama TV.
Mereka hanya mendengar.
"Penghancur desa."
Mereka tidak suka dengan kata-kata itu.
"Desa kami sangat bagus. Mengapa kamu ingin menghancurkan desa kami?" ujar Savana dengan marah.
"Desa kami sangat bagus!" timpal Esther.
Leif menjadi bingung. Drama TV itu berjudul "Operasi Penghancuran Desa".
"Aku tidak mengatakan ingin menghancurkan desa kalian ... "
"Kamu mengatakan itu lagi! Kami mendengarnya!" Mata Savana sudah berkaca-kaca hampir nangis.
Esther menangis dan berteriak, "Kamu adalah orang yang jahat!"
"Anak-anak, aku tidak ingin menghancurkan desa kalian. Ini adalah kesalahanpahaman. Jangan salah paham!"
Leif tidak berdaya. Bagaimana anak-anak ini bisa menangis? Mengapa mereka tidak mendengarkan penjelasannya?
Anak-anak itu melarikan diri, sambil meneriakkan beberapa kata. "Aku aku akan memberi tahu Mel bahwa kamu mengganggu kami!"
"Apa?"
Leif menggaruk kepalanya dan menghela nafas.
Pemilik toko itu melihat Leif, tetapi tidak membantunya.
Leif membasuh wajahnya dengan air yang tersisa dari botol itu dan membeli yang baru. Kemudian, dia bersiap-siap untuk pergi.
Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan olehnya. Tidak boleh ada waktu yang terbuang.
Ketika Leif hendak pergi, dia mendengar suara Savana.
"Mel, itu dia. Pria itu mengganggu kita!"
Savana bersama anak-anak lainnya datang ketoko itu membawa Melvin.
__ADS_1
Melvin kebingungan. Dia sedang menghubungi tim dekorasi. Namun, Savana dan Esther berlari kearahnya sambil menangis. Mereka mengatakan bahwa mereka diganggu dan ingin Melvin membalas dendam.