Kakak Miliarder Saya

Kakak Miliarder Saya
Bunuh dia


__ADS_3

Lucia melirik Melvin, lalu dia menutup berkas di tangannya dan membuka borgol Melvin.


"Kamu boleh pergi. Aku tidak percaya kamu seorang Miliarder. Kamu masih muda dan punya masa depan!"


Lucia memuji Melvin, tetapi ekspresinya tetap datar.


Dibawanya Melvin ke penjara. Olivia yang sedang menunggu di luar bergegas menghampiri Lucia dan Melvin saat melihat keduanya.


"Mel!"


Lucia menghela nafas dan berkata, "Nak, Kakakmu tidak bersalah, Lain kali kamu harus mencari tahu dulu dahulu baru memanggil polisi jika butuh bantuan. Jangan membuang waktu kami!


"Melvin tidak bersalah."


Olivia menatap Melvin kebingungan.


Olivia berfikir, Jadi uangnya sah?


Jadi, Melvin adalah miliarder?


Mana mungkin?


"Nyonya, apa kamu yakin? Mana mungkin dia tidak bersalah? Apa tidak di perlukan penyelidikan lebih lanjut? Mana mungkin dia tidak bersalah!"


Olivia bertanya dengan penuh kesangsian.


"Sial, Olivia kamu mengira aku orang jahat? Apa kamu berniat memasukan aku ke penjara?"


Melvin mengeluh begitu mendengar ucapan Olivia.


"Tidak, Mel. Apa kamu benar-benar seorang miliarder? Aku tidak tahu soal itu," timpal Olivia masih belum percaya.


"Sekarang kamu sudah tahu!" Melvin berkata sambil mengerucutkan bibirnya.


Lucia melihat jam dan ini sudah waktunya pulang. Biro keamanan publik baru saja didirikan. Sebelumnya itu adalah kantor polisi lokal, jadi pegawainya tidak banyak.


Lucia harus pulang kerja lebih awal. Dia baru saja lembur karna kekurangan pegawai.


Lucia berkata, "Baiklah, sebaiknya kalian pulang."


Melvin memegang bahu Olivia dan membawanya keluar. "Ayo, pulang, Olivia !"


Olivia mengerucutkan bibirnya dan mengendus.


Melvin dan Olivia berpamitan. Lucia berjalan di belakang mereka.


"Opsir Medison, tidak perlu mengantar kami. Kami bisa pulang sendiri."


Melvin mengatakan hal itu saat menyadari kalau Lucia berjalan di belakang mereka.


"Jam kerjaku sudah selesai." Lucia tidak ingin berbicara lagi dengan Melvin. Menurutnya, Melvin sangat tidak tahu malu.


Mereka semua keluar dari kantor biro. Melvin dan Olivia terus berjalan di depan Lucia.


Mobil Lucia tampat terparkir di jalanan.


"Aduh! Tunggu sebentar. Aku harus ke kamar mandi!"


Melvin tiba-tiba ingin buang air kecil. Jarak pulang kerumah cukup jauh jadi Melvin memutuskan untuk memakai kamar mandi di kantor biro.


Melvin kembali berlari ke kantor biro. Dia menyuruh Olivia menunggu di tempat dia berada.

__ADS_1


Kamar mandi biro terlihat jorok, tetapi setidaknya masih berfungsi.


Selesai memakai kamar mandi, Melvin mencuci tangannya terlebih dahulu sebelum dua keluar.


Namun, Melvin tidak melihat Olivia di lobi. Saat dia keluar, Olivia berdiri di sebuah mobil Bens berwarna hitam.


Lucia sedang membuka pintu untuk masukke mobilnya.


"Cepat! Opsir Medison bisa mengantar kita pulang!" Olivia berteriak.


"Baiklah."


Melvin berjalan dan bergegas melangkah untuk menyebrangi jalan.


Tiba-tiba, sebuah mobil boks datang dari jauh dan berhenti di depan Melvin. Dia kebingungan melihatnya.


Enam orang bersenjatakan pisau dan tongkat turun dari mobil itu. Mereka juga terlihat hendak menyebrang jalan.


Rupanya target mereka adalah Lucia.


"Awas!" Melvin berteriak.


Mendengar teriakan Melvin, Lucia berbalik dan melihat seseorang menyerangnya dengan pisau. Dia segera terkepung.


Tebasan pisau itu mengenai pintu mobilnya.


Pintu mobil itu rusak dalam sekejap.


Lucia segera menyerang balik. Ditendangnya perut pria itu hingga terjatuh.


Pada saat yang sama, dia menghindar pukulan tongkat yang di pegang pria lain.


Pemandangan itu membuat Olivia ketakutan.


Seorang polisi buru-buru keluar dan melihat Lucia di kepung. Dia berteriak, "Berhenti!"


Mereka tidak henti dan terus menyerang Lucia seolah mereka punya dendam terhadapnya. Lucia berada dalam masalah besar.


Lucia pandai bertahan. Dia menghindar serangan dan membalas Meraka.


"Panggil petugas lain!" Lucia berkata pada polisi yang berteriak tadi.


Polisi itu bergegas kembali ke kantor biro dan meminta bantuan ke polisi lain.


Seorang pria berusaha memukul Olivia dengan tongkat. Lucia mendorongnya dan terkena pukulan tongkat itu.


Lucia berteriak pada Olivia, "Lari!"


Olivia berada di sana dengan tubuh gemetaran. Kemudian, dia berlari penuh ketakutan hingga hampir terjatuh.


"Bos, dia memanggil bantuan polisi lain. Ayo, pergi! Kita tidak punya waktu!"


Seorang pria dengan bekas luka dan memegang tongkat besi mengatakan hal tersebut kepada bosnya.


Sang bos berusaha menyerang dengan pisaunya. Dia berencana menyerang Lucia sejak lama, karna itu dia tidak ingin menyerah selagi masih ada kesempatan.


"Tidak. Aku harus membunuhnya hari ini! Dia membunuh teman-teman kita!"


"Ayo! Ayo, bunuh dia! Habisi dia!"


Bos itu menerjang Lucia lagi dengan pisau di tangannya.

__ADS_1


Pada saat itu, tujuh polisi bergegas keluar dari biro. Mereka membawa baton, tameng, atau garpu baja.


"Berhenti!"


Seorang polisi berteriak.


Melihat para polisi itu, para penyerang Lucia berusaha melarikan diri.


Namun, bos tidak mau berhenti dan terus mengayunkan pisaunya kepada Lucia.


Lucia menghindari serangan dan mendorong bos hingga terjatuh dengan bantuan pisau.


"Berhenti!"


Para polisi yang makin mendekat itu memperingatkan lagi.


Bos berdiri. Dan melihat para polisi itu, dan bersiap untuk Kabur.


Saat itu juga, Olivia menghalangi jalan mereka.


"Menyingkir!"


Laki-laki dengan bekas luka itu akan memukul Olivia dengan tongkat.


Olivia ketakutan. Dia menutup matanya seraya berteriak.


Terdengar suara seorang dipukul.


Ada yang mengerang kesakitan.


Namun, Olivia tidak merasakan sakit. Dia pun membuka matanya.


Olivia melihat punggung Melvin yang kokoh melindunginya.


"Mel ... "


Melvin memiringkan kepalanya dan berkata, "Aku baik-baik saja. Tunggulah disini, aku akan segera kembali."


Pria dengan bekas luka itu terkapar di tanah dan mengerang kesakitan. Tongkat bajanya tergeletak di sisinya.


Tidak ada yang tau bagaimana cara Melvin merobohkan pria itu.


"Serang dia!" Bos memutuskan untuk menyerang Melvin.


Anak buahnya yang lain juga melakukan hal yang sama.


Mereka berfikir, kami di kalahkan oleh Kapten Medison. Anak laki-laki ini tidak mungkin bisa mengalahkan kami. Dia akan kami jadikan Sandra.


Mereka mulai menyerang Melvin. Para polisi itu segera menghampirinya.


"Anak kecil, habislah kamu!"


Orang-orang itu memukul dan mengepung Melvin.


Melvin berfikir dan mencibir, kalian ingin menyerangku? Aku akan menunjukan kepada kalian Kemapuan Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangan!


Kemudian, Melvin menggunakan Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangannya.


Kemampuan itu sederhana. Sengaja di buat untuk menyerang bagian-bagian vital lawan.


Melvin juga memiliki energi tenaga dalam.

__ADS_1


Jurus yang di peragakan Melvin ini memang sangat mematikan.


Melvin berhasil mematahkan pergelangan tangan, lengan, alat vital, dan tulang rusuk mereka.


__ADS_2