Kakak Miliarder Saya

Kakak Miliarder Saya
Pengetahuan Mekanis


__ADS_3

Chelsea melihat kearah Vila, dan matanya berbinar.


Mewah sekali.


Dia tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Hanya satu kata, mahal!


"Jika aku bisa tinggal disana, aku ingin menjadi seorang simpanan!"


Chelsea tidak berani untuk menjadi Nyonya rumah. Meskipun dia yakin bahwa dia lumayan cantik, ada sedikit perbedaan antara dirinya dan Dewi sejati.


Dewi sejati adalah nomer satu, baik dalam hal temperamen, penampilan ataupun sosok.


Selain itu, dewi sejati harus memiliki pengetahuan luas, disertai kemampuan yang sangat baik, dan disiplin diri.


Namun, sekarang orang-orang bisa menganggap diri mereka sebagai dewi dengan kecantikan yang tak seberapa.


Begitu juga dengan pria yang manis.


Mereka memasak makanan siang yang mewah dengan sigap dan cekatan. Menurut harga pasar, makanan ini lebih mahal dari kemarin.


Melvin makan siang bersama mereka dan melayani anak-anak lucu ini sambil makan.


"Elaine, Teresa, kalian berdua cepat makan. Jangan menatap TV saja!"


Elaine dan Teresa suka maka sambil menonton TV. Menurut mereka, makanan terasa lebih lezat dengan cara ini.


Mereka tidak mendengarkan Melvin sama sekali. Jika Melvin menghalangi mereka menonton TV, mereka akan berteriak.


Melvin hanya bisa pasrah walaupun mereka sebenarnya lucu.


Nima dan Telma tidak suka makan sambil menonton TV. Mereka pendiem, patuh, dan peka.


Savana dan Esther mengrubungi Melvin dan terkadang menaruh makanan di piring Melvin, tapi mereka tidak bisa memegang garpu dengan stabil.


Sissy dan Savana sedang berdiskusi dengan apa yang di lakukan nanti. Savana ingin berenang dan Sissy ingin membangun rumah.


Faye sedang memegang konsol game, di tangannya dan bermain sembari makan. Dia seperti gadis yang kecanduan internet.


Olivia anak yang bijaksana. Dia adalah anak yang lebih tua.


"Mel, aku sudah kenyang!"


"Aku juga sudah kenyang!"


Elaine dan Teresa meletakkan sendok mereka.


Kartunnya sudah berakhir. Mereka mengambil skuter dan turun ke bawah.


Melvin melihat mereka mengendarai skuter di ruang terbuka di bawah. "Jangan jauh-jauh!"


"Oke."


Mereka bersaing untuk melihat siapa yang lebih cepat, ternyata Teresa lebih lambat.


Melvin mengecap makanan enak dengan santai dan sesekali mengelap mulut Esther.


"Kamu terburu-buru sekali."


Olivia tersenyum dan berkata, "Mel, kamu seperti ibu-ibu saja."

__ADS_1


Melvin memelototinya, "Kalau aku seperti ibu-ibu, aku sudah menyuruh kalian untuk mengerjakan PR sekarang!"


Jika Melvin tidak punya Sistem PAM dan kesabaran, dia sudah akan pergi keluar. Melvin tidak akan membiarkan anak-anak ini mengikutinya.


Setelah makan siang. Melvin ingin berbaring dan tidur siang dengan tenang.


Olivia dan anak-anak yang lebih tua lainnya telah tertidur disofa.


Esther dan anak-anak yang lebih kecil lainnya tetap energik dan masih bermain di bawah.


Teresa melompat dan menarik Melvin kebawah, "Mel, skuterku rusak. Tolong bantu aku memperbaikinya!"


"Skutermu rusak? Beli yang baru!"


Melvin tidak ingin menghabiskan tenaga untuk hal-hal yang bisa diselesaikan dengan uang.


[ Tugas Baru: Membantu Teresa Memperbaiki Skuter dan mendapatkan hadiah setelah menyelesaikan tugas. ]


Melvin tidak bisa berkata-kata.


Dia berdiri dengan enggan dan menepuk pelan kepala Teresa, "Baiklah, aku akan memperbaiki skuternya!"


Dia membawa Teresa turun untuk memeriksa skuter itu. Roda skuternya retak. Hanya masalah kualitas dan Melvin hanya perlu mengganti rodanya saja.


"Dimana kamu menemukan skuter itu?" Tanya Melvin.


"Di lantai satu!" Teresa menuntun Melvin.


Mereka menemukan aksesoris dan peralatan disana.


Semoga berhasil!


Hanya butuh waktu sepuluh menit.


Untuk meyakinkan Sistem bahwa dia bukan seorang bajingan, Melvin juga memeriksa skuter Elaine.


[ Tugasnya sudah selesai! ]


[ Selamat! Kamu mendapatkan 10% saham di Konglomerasi Perkasa! ]


[ Selamat! Kamu mendapatkan mekanis tingkat lanjut! ]


Konglomerasi Perkasa?


Melvin langsung mengeluarkan ponselnya dan mengeceknya. Konglomerasi Perkasa adalah salah satu dari tiga kelompok industri teratas di Provinsi Souath yang memiliki aset lebih dari seratus lima puluh triliun rupiah.


Melvin membatin, aku dapat 10%! berarti lima belas triliun rupiah.


Uangku yang sebelumnya masih belum habis, dan sekarang aku mendapatkan uang lagi.


Bagus!


Kemudian Melvin memeriksa pengetahuan mekanis tingkat lanjut ini.


[ Deskripsi Sistem: Pengetahuan Mekanis tingkat lanjut bermakna bahwa anda memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan untuk mengoperasikan semua mesin di bumi. ]


Ini bisa juga disebut sebagai ensiklopedia fisika!


Melvin mengecek informasi pribadinya.

__ADS_1


[ Nama: Melvin Reed. ]


[ Dana: 3.787.500.000.000 ]


[ Aset: Villa Rumah Megah No.1 Di Teluk Purnama, Saham Konglomerasi Perkasa (10%). ]


[ Keterampilan: Kemampuan mekanik tingkat lanjut, Delapan Elemen Gerakan Telapak Tangan. ]


[ Gelar: Kakak Terbaik Di Seluruh Dunia. ]


"Mel, kamu tidak apa-apa?" Teresa memperhatikan dengan penuh semangat.


Melvin tersadar dan menyerahkan skuter itu kepada mereka. "Baiklah, jangan jauh-jauh. Jangan pergi ke pantai. Nanti kita akan kesana."


"Oke!"


Teresa mengambil skuter dan memulai permainan lagi.


Melvin sudah mengatur kamar untuk Chelsea dan para koki. Mereka harus bekerja disini selama tiga hari kedepan.


Chelsea mengganti pakaiannya dan mendatangi Melvin untuk menanyakan tentang makan malam nanti, namun ternyata Melvin sedang tidur siang. Jadi dia langsung pergi lagi.


Telpon berdering.


Setelah tidur lebih dari satu jam, Melvin terbangun oleh dering telponnya.


Terdengar suara yang familiar dan aneh, "Melvin, apa kabarmu?"


"Kamu siapa? Oh, Opsir Medison, bagaimana kamu mendapatkan nomer telponku?"


Melvin lupa kalau dia mencantumkan nomer telponnya di transkrip kantor polisi.


"Aku sedang dalam kunjungan kemari. Kamu membunuh seseorang tadi malam. Apakah emosimu stabil sekarang? Apa ada beban psikologis?"


Dari suaranya, Melvin tidak tahu apakah Medison sedang senang atau tidak.


"Ya, Opsir Medison, kurasa aku terbebani. Aku mimpi buruk tadi malam. Mengapa kamu tidak datang menemuiku?"


Melvin memimpikan Lucia tadi malam. Isi mimpinya mesum. Bebannya terasa berat.


"Datang untuk melihatmu? Dari suaramu, aku yakin kamu baik-baik saja," Ujar Lucia dingin.


"Aku serius. Aku pusing dan tidak bisa cepat-cepat bicara. Datang temui aku!" Kata Melvin.


Lucia sempet ragu, dia membatin, Melvin sedikit bingung. Apakah dia benar-benar punya masalah psikologis?


Orang normal seharusnya mengalami gangguan emosi setelah dia membunuh seseorang.


Mengapa tidak pergi saja dan menemuinya? Lagi pula, dia sudah membantuku.


Saat Lucia hendak menanyakan keberadaan Melvin, terdengar suara seorang gadis dari ujung telpon.


"Mel, cepat bangun. Kamu bilang kamu akan membawa kami ke pantai! Jangan tidur!"


Mendengar suara itu, Lucia tercengang.


Tidur? Pergi ke pantai?


Beban psikologis?

__ADS_1


Begitu Melvin mendengar suara Teresa, dia tahu ini akan gawat. Dengan cepat dia mengisyaratkan Teresa untuk diam.


__ADS_2