
Saat Melvin kembali ke ruang rawat, Telma baru membuka matanya.
"Aku sudah membawakan roti untukmu. Roti mana yang kamu inginkan?"
"Roti mentega."
"Biar aku yang menyuapimu."
Melvin mendorong roti mentega ke mulut Telma dan memperhatikannya yang sedang memakan roti.
"Apakah kamu kamu ham?"
"Mau!"
Melvin menyuapi Telma ham.
"Bagaimana dengan telur rebus?"
"Aku ingin putih telurnya saja. Aku tidak suka kuning telur."
"Aku akan makan kuning telurnya."
Telma belum makan begitu banyak. Dia hanya makan sedikit semua makanan yang di bawakan Melvin.
Melvin menghabiskan sisa makanannya.
Telma tertidur setelah makan. Melvin tetap tinggal di rumah sakit. Dia akan memanggil doker jika botol infus kosong. Meskipun Melvin memperkerjakan seorang perawat pribadi, dia tetap merawat adiknya.
Namun, itu bukan masalah. Itu juga salah satu tugas yang harus di jalankan oleh Melvin.
Saat hari sudah senja, Telma terbangun. Tidur nyenyak membuatnya energik.
Mereka sudah boleh meninggalkan rumah sakit malam ini. Namun, Melvin khawatir Telma akan sakit lagi jika mereka pulang kerumah sekarang. Jadi, Melvin memutuskan untuk mengantar Telma pulang sesudah Telma benar-benar sehat.
Melvin menelpon Olivia dan memintanya untuk menjaga adik-adik perempuan yang lain. Kemudian, Melvin menelpon ayah Telma, yaitu paman Melvin. Jeremy Reed.
Setelah mengetahui Telma berada dirumah sakit, Jeremy terkejut. Namun, Jeremy memarahi Melvin setelah mendengar bahwa Telma hanya masuk angin.
"Mengapa kamu tidak memberitahuku secara langsung tentang apa yang terjadi? Tidak perlu menginap di rumah sakit hanya karna masuk angin. Apakah kamu melupakan tradisi keluarga Reed? Kakekmu akan menceramahimu jika dia tahu soal ini ... "
Telma tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya masih lemah. Namun, dia sudah tidak demam. Setelah cukup beristirahat malam ini, dia akan sembuh besok.
Melvin mengarahkan kamera ke Telma untuk meyakinkan Jeremy.
Jeremy berhenti mengomeli Melvin setelah melihat Telma dalam kondisi baik. Setelah meminta Melvin untuk menjaga Telma baik-baik, Jeremy menutup telponnya.
Jeremy menghawatirkan Telma. Namun, berhubungan Melvin sudah menemaninya, Jeremy mempercayai Melvin.
Melvin dan Telma bermain gim dan menonton film kartun. Tak lama kemudian, hari sudah larut.
Perawat pribadi masuk untuk memandikan Telma dan mengganti pakaian Telma.
"Mel, bacakan aku dongeng sebelum tidur!" Telma berbaring di ranjang dan berteriak.
"Cerita seperti apa yang kamu ingin dengarkan?"
Melvin mengeluarkan ponsel dan mencari dongeng sebelum tidur. Dia membacakan, "Kisah 1001 Malam," dan dongeng Grimm bersaudara yang sering dia dengarkan semasa kecilnya.
"Apa saja boleh," jawab Telma.
Di luar dugaan Melvin, Telma sama sekali tidak ingin tidur setelah mendengarkan dongeng yang di bacakan Melvin.
"Mel, bacakan aku dongeng lain!"
Melvin tidak bisa berkata-kata.
Namun, Melvin tidak bisa berbuat apa-apa selain memenuhi keinginan Telma.
"Mel, bacakan satu dongeng lagi untukku!"
Melvin menatap Telma dan menyentuh kepalanya. "Pada suatu hari, ada seorang putri yang dikutuk. Dia tidur nyenyak selama bertahun-tahun. Dia tidak bisa bangun sebelum seseorang pangeran menciumnya. Apa yang bisa kamu pelajari dari cerita ini?"
"Apa itu?"
"Seseorang tidak bisa menjadi putri jika tidak tidur nyenyak. Jadi, putriku tersayang, apakah kamu siap untuk tidur?"
Setelah mendengar ucapan Melvin, Telma menjawab, "Iya. Aku adalah seorang putri."
Melvin menyelimuti Telma dan menemaninya sampai tertidur. Kemudian, Melvin tidur.
Namun, semua orang sedang sibuk bekerja.
Di laboratorium institusi sains dan teknologi Kasau.
Jim dan rekan satu timnya sedang bekerja keras, tetapi mereka gagal membongkar mesin.
Mereka tahu ini pekerjaan berat. Jadi, mereka tidak menyerah. Namun, mereka lelah setelah bekerja hampir dua puluh empat jam.
"Profesor Blanco, istirahlah! Kamu tidak akan bisa membongkar mesin tanpa istirahat yang cukup," kata asistennya.
"Sudahlah. Tidak apa-apa." Jim berkonsentrasi mempelajari mesin itu.
Asisten itu tidak bisa berbuat apa-apa selain terus bekerja.
Terdengar suara berisik dari luar. Tak lama kemudian, suasana hening kembali. Kemudian, terdengar suara ketukan di pintu.
Sang asisten membuka pintu. Ada seorang pemuda bersenjata dengan seorang polisi wanita.
"Opsir Medison, apa yang terjadi?"
Lucia menjawab, "seorang mata-mata berniat menyelip masuk ke lab. Kami baru saja menangkapnya. Aku datang kesini untuk memastikan keadaan disini baik-baik saja."
"Tidak terjadi apa-apa disini," jawab asistennya.
Lucia menatap asistennya dan bertanya, "Bagaimana keadaannya?"
"Tidak baik!" Jawab asisten itu.
__ADS_1
"Jaga profesor Blanco baik-baik. Kamu akan pergi," ucap Lucia sambil tersenyum.
"Baiklah."
Kemudian, sang asisten memutuskan untuk menutup pintu.
Tiba-tiba, Lucia mendorong pintu dan menendang perut sang asisten.
Lucia menjatuhkan asisten itu kelantai dan mengunci tangan asisten itu di belakang punggungnya.
Lucia memborgol sang asisten.
"Baiklah!"
Lucia menepuk tangannya.
Para ahli kebingungan. Jim bertanya, "Apa yang kamu lakukan ... "
Lucia mengeluarkan dokumen dan menjelaskan, "Aku baru saja di beri tahu bahwa dia adalah mata-mata yang ada di dekatmu. Jadi, kami kesini untuk menangkapnya."
Lucia hendak berpatroli. Namun, dia di tugaskan untuk menjalani tugas dengan identitasnya.
Dia sedang tidak bertugas. Setelah di tugaskan dengan tugas, Lucia bergegas kemari.
"Aku tidak menyangkanya ... "
Jim menghela nafas.
"Profesor Blanco, apakah kamu sudah membongkar detektornya?" Tanya Lucia.
"Belum. Aku tidak bisa menemukan prosedur yang tepat. Mustahil untuk membongkarnya tanpa memicu perangkat penghancur diri.
"Ini sangat sulit. Sepertinya hanya pencipta Detektor itu dan orang-orang yang memiliki instruksi manual detektor itu yang bisa membongkarnya."
"Aku mencoba membongkarnya dengan keras. Namun ... "
Jim menghela nafas dan sedih. Rahasianya tidak akan terungkap jika mereka gagal membuka detektor.
"Profesor Blanco, jangan cuman. Tenang saja, "Lucas menenangkannya.
"Aku mengerti ... "
Setelah mengatakan itu, Jim merasa pusing dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
Terdengar suara keras.
Jim menutup matanya, lalu dia terjatuh.
"Profesor Blanco!"
Lucas bergegas memeriksa Jim. Nafas dan detak jantung Jim normal. Jim hanya pingsan.
Seorang peneliti berkata, "Profesor Blanco telah bekerja selama dua puluh empat jam."
"Dia kurang istirahat."
"Panggil ambulans sekarang," ujar Lucia.
Lucia melirik Lucas dan bertanya, "Lucas, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Lucass menjawab, "Laporkan kepada atasan kita!"
Lucas menyuruh rekan timnya melaporkan apa yang baru saja terjadi disini kepada atasan mereka. Para direktur langsung bereaksi.
Misi baru ini membuat Lucas tersenyum pahit. "Misinya belum selesai. Penelitian baru akan dikirim kesini."
"Butuh banyak biaya untuk mendapatkan detektor itu. Bagaimana mungkin kita bisa menyerah dengan mudah? Kita harus membongkar dan memeriksanya.
"Kecepatan pengembangan teknologi Naplia teras aneh."
Lucia membaca misinya.
"Baiklah, bagaimana denganmu? Aku dengar kamu diserang beberapa hari lalu. Siapa yang melakukannya?"
Lucas mengalihkan topik.
"Sekelompok gangster. Aku pernah menghancurkan markas mereka, jadi mereka membalasku kali ini," jawab Lucia santai.
"Apakah mereka sudah di tangkap? Haruskah aku membantai mereka bersama anak buahku," kata Lucas tegas.
"Sudahlah. Aku tidak ingin kamu di hukum karna aku. Aku sudah menangkap sebagian besar dari mereka. Sisanya akan segera di tangkap."
Lucia mengatakannya dengan yakin dan melipat tangannya di dada.
"Baiklah!" Lucas mengangguk. Tiba-tiba, dia teringat sesuatu. "Omong-omong kakek pernah mengatakan kepadaku kalau dia ingin kamu menjadi pegawai kantoran."
"Tidak! Aku tidak mau jadi pegawai kantoran," jawab Lucia.
"Kurasa ada baiknya kamu menjadi pegawai kantoran. Berkelahi tidak cocok untuk seorang gadis. Kamu bisa menikah dan melahirkan anak setelah menjadi pegawai kantoran."
Lucas tidak tahu cara membujuk Lucia yang keras kepala.
"Kalau begitu, hidupku akan hancur," ujar Lucia.
"Namun, kamu harus menikah. Apakah kamu menyukai seseorang? Aku bisa memperkenalkan ... "
Ucapan Lucas mengingatkan Lucia kepada Melvin.
Lucia bertanya-tanya dalam hati, mengapa aku memikirkan dia? Apakah aku menyukai dia? Bagaimana mungkin?.
Lucia menjawab dengan marah, "Baiklah, Lucas, itu bukan urusanmu. Aku tidak menghawatirkan itu sama sekali."
Lucas tidak kesal.
Namun, rekan satu tim Lucas tertawa diam-diam.
Rekan satu tim Lucas tidak pernah melihat Lucas di perlakukan seperti itu.
__ADS_1
Lucas melirik mereka. Rekan satu tim Lucas berhenti tersenyum dan menatap monitor dengan dingin.
"Ya sudah. Terserah kamu."
Lucas tidak khawatir dengan pernikahan Lucia. Lucia sangat cantik. Banyak pria yang mengejarnya.
"Aku tidak akan pulang malam ini. Aku akan beristirahat disini. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Setelah mengatakan itu, Lucia berbalik dan pergi.
Lucas menghela napas.
Dia berpikir, aku penasaran apakah Lucia akan jatuh cinta pada seseorang.
Banyak pria yang menyukainya. Namun, siapa yang dia suka?
Lucas menghela napas.
Keesokan paginya, sebuah pesawat mendarat di kota Kasau. Sebuah tim dari institusi sains dan teknologi Nasional turun dari pesawat dan bergegas pergi menuju institusi sains dan teknologi Kasau.
Para peneliti di utus untuk membongkar detektor di tempat Jim.
Sesampainya di institut sains dan teknologi Kasau, para peneliti itu mulai bekerja.
Mereka bekerja dari pagi sampai siang. Namun, mereka gagal membongkar detektor itu.
"Kami sudah meminta bantuan banyak orang, tetapi itu tidak berhasil."
"Mungkin, detektor itu mustahil untuk di bongkar."
"Tepat sekali! Sepertinya kita hanya bisa menggunakan kekerasan untuk membongkarnya. Namun, itu bisa memicu perangkat penghancur diri. Apa yang harus kita lakukan?"
"Mungkin kita terlalu cemas, ayo kita coba lagi!"
Melihat para peneliti yang cemas, Lucia menggeleng.
Banyak orang mengorbankan diri untuk berkontribusi pada perkembangan Moplad. Namun, tidak ada pencapaian tanpa pengorbanan.
Lucia berpamitan pada Lucas, lalu pergi ke rumah sakit. Jim sudah bangun dan Lucia menengoknya.
Di rumah sakit, Jim sedang di infus. Namun, dia menolak untuk beristirahat dan masih bekerja.
"Profesor Blanco, sebaiknya kamu beristirahat dengan baik," ujar Lucia mengingatkan Jim sambil berjalan masuk dan membawa sekeranjang buah.
"Aku tidak bisa istirahat. Aku harus membongkar detektornya."
Jim menjawab sambil terbatuk-batuk.
"Tim peneliti sudah diutus kesini. Mereka sudah berusaha sebaik mungkin untuk mengerjakannya. Kamu bisa istirahat sekarang," bujuk Lucia.
"Aku mengerti. Namun, mereka tidak mengerti metode untuk membongkarnya. Aku tidak bisa istirahat. Aku harus menyelesaikan masalah ini dengan secepat mungkin."
Lucia mengenal kepribadian Jim dengan baik. Jika Jim bisa dibujuk. Dia tidak akan sakit karna kelelahan.
Setelah meletakkan seranjang buah, Lucia melirik Jim dan pergi.
Beberapa menit kemudian, Jim berhenti menggambar. Dia memperhatikan data yang dia gambar dan tubuhnya gemetar karna sangat semangat.
"Aku yakin kali ini akan berhasil!"
Jim melepaskan infus dan berlari keluar dari ruang rawat tanpa mengganti pakaian.
...
Telma hampir sembuh. Masuk angin bukanlah masalah besar bagi seorang anak.
Melvin membantu Telma mengganti pakaian dan berkata, "Ayo kita pulang sekarang!"
Telma bertepuk tangan dengan girang, "Ayo pulang!"
[ Tugas Sudah Selesai. Selamat! Kamu Mendapatkan Keterampilan Penyembuhan! ]
[ Keterampilan Penyembuhan membuatmu mampu menyembuhkan orang yang sakit parah atau sekarat. ]
Melvin tertegun.
Dia kurang yakin dengan hal itu.
Sistem PAM membantu Melvin menguasai Keterampilan Penyembuhan. Tak lama kemudian, Melvin memperoleh keterampilan media ini.
Keterampilan Penyembuhan itu sangat efektif.
Melvin mengeluh, "Kalau aku memperoleh Keterampilan Penyembuhan ini lebih awal, Telma tidak akan dirawat di rumah sakit."
"Mel, apa yang kamu bilang tadi?" Telma berlari mendekati Melvin dan bertanya.
"Tidak apa-apa, ayo kita pulang."
Melvin mengeluarkan barang bawaan mereka dan mengikuti Telma. Mereka pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Mereka masuk ke Anton Martis yang di kirim oleh Triston.
Ketika mobil meninggalkan parkiran, Melvin melihat orang yang dia kenal. Melvin menghampiri orang itu dan berteriak, "Profesor Blanco, mengapa kamu ada disini?"
Ternyata itu Jim, dia terlihat cemas dengan pakaian dan sendal pasien.
"Ternyata kamu disini! Apakah kamu punya waktu sekarang? Aku harus kembali ke institusi sains dan teknologi Kasau sekarang. Maafkan aku jika merepotkanmu. Bisakah kamu membantuku dengan memberikan tumpangan?"
Jim bertanya dengan cemas.
"Tidak masalah. Aku akan mengantarkanmu kesana," jawab Melvin.
Lucia pernah memberitahu Melvin bahwa Jim adalah seorang ilmuwan dari institusi sains dan teknologi Nasional dan direktur institut sains dan teknologi Kasau. Jim memiliki status yang tinggi.
Lebih dari semua itu, Jim telah berkontribusi banyak untuk Moplad.
"Terima kasih," jawab Jim sambil masuk mobil.
__ADS_1
"Sama-sama, Profesor Blanco, bagaimana detektornya?" Tanya Melvin.
Melvin tidak tahu nilai detektor itu. Dia tidak menyadari itu ketika membongkarnya.