
Melvin mempunyai cara untuk mendapatkan banya uang, tetapi tampaknya dia tidak menyadari hal itu.
Melvin menguasai pengetahuan terori mekanik paling mutakhir, bahkan sedikir dari pengetahuan itu sangat bernilai.
"Aku akan kembali untuk membongkar detektor itu! Aku tahu cara membukanya," ucap Jim dengan penuh semangat.
Jim mempercayai Melvin. Lagi pula, itu bukan hal yang besar. Selain itu, Melvin adalah orang yang menemukan detektor itu dan mengirim pesan kepada Jim.
Mustahil jika Melvin seorang mata-mata.
"Bagaimana cara membukanya?"
Melvin kebingungan dan bertanya, "Namun... Apakah kamu belum membukanya?"
"Apa maksudmu" Jim terdiam sejenak.
Melvin menepi dan berbalik menghadap Jim. "Apakah kamu belum membuka detektornya? Bukankah caranya mudah?"
"Apa?"
Jim sangat terkejut dan tidak bisa berkata-kata.
"Apakah kamu pernah membukanya?"
Melvin mengangguk. "Iya, aku pernah membongkarnya untuk melihatnya. Kemudian, aku menyusunnya kembali."
Melvin sudah membukanya lalu menyusunnya kembali.
Sungguh memalukan!
Jim tenggelam dalam pikirannya.
Bagaimana mungkin? Melvin sudah membukanya? Bagaimana caranya?
Semua yang ada di dalam detektor itu masih utuh!
Apakah Melvin tahu cara membukanya?
Apakah Melvin mengatakan yang sebenarnya?
Itu...
Jim menatap Melvin kebingungan. "Apakah kamu mengatakan yang sebenarnya?"
"Untuk apa aku berbohong kepadamu? Aku bahkan memotretnya."
Melvin mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto yang dia ambil tempo hari kepada Jim.
Jim merebut ponsel Melvin dan melihatnya. Itu memang detektor yang sudah dibongkar. Dia bisa melihat struktur di dalam detektor itu.
"Mengapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?" Jim tampak kehabisan kata-kata.
"Aku..."
"Mengapa kamu menyatukannya kembali?"
"Aku khawatir kamu akan memarahiku. Selain itu, aku tidak akan yakin benda apa itu jika tidak membongkarnya."
"Apa..."
Melvin langsung berkata, "Tenanglah. Mengapa aku tidak membukanya untukmu sekarang?"
"Tentu saja! Ayo pergi ke institusi sains dan teknologi Kasau sekarang!"
Jim berkata dengan kesal.
Jim sangat kesal.
Jim telah berusaha keras cukup lama dan sangat kesulitan membuka detektor itu.
Poshville bahkan mengirim tim peneliti. Namun, mereka tetap tidak bisa membukanya.
Namun, Melvin baru saja mengatakan kepada Jim bahwa dia telah membongkar detektor itu, lalu menyatukannya kembali hanya agar Jim tidak memarahi Melvin.
Itu sangat memalukan!
Telma sedang makan permen lollipop. Dia berbalik karena penasaran, lalu bertanya, "Mel, mengapa Jim marah kepadamu?"
"Sepertinya dia mengingat sesuatu yang tidak menyenangkan."
Melvin juga merasa bersalah. Dia tidak tahu bahwa mereka gagal membongkarnya.
Telma mengeluarkan permen lollipop dari mulutnya dan mengerahkannya kepada Jim. "Jim, jangan marah. Ini lollipop untukmu!"
Jim merasa agak malu. Dia mengambil permen lollipop itu dan berkat, "Terimakasih, Nak. Aku tidak marah."
Melvin pergi ke institusi sains dan teknologi Kasau. Jim keluar dari mobil begitu mereka sampai.
Melvin dan Telma juga turun dari mobil. Mengikuti Jim dan masuk kedalam.
Petugas kebersihan di sana mengenal Jim. Dia terkejut saat melihat Jim, jadi dia bertanya, "Profesor Blanco, sedang apa disini? Aku kira kamu ... "
"Aku baik-baik saja."
Jim mengajak Melvin dan Telma masuk. Jim terlihat terburu-buru.
Para petugas dan tim penelitian melihat mereka, jadi mereka mengutus orang untuk memeriksa Jim.
"Profesor Blanco, ada perlu apa kesini?"
"Aku sudah menemukan cara untuk membongkar detektor itu. Biarkan aku masuk!"
Para penjaga bergegas menyingkir.
Mereka menatap Melvin dan Telma dengan penasaran dan berkata, "Mereka... "
"Mereka bersamaku."
Berhubung mereka datang bersama Jim, para penjaga tidak menghentikan mereka.
Jim mengajak Melvin dan Telma ke lab di lantai sebelas. Para penjaga tidak menghentikan mereka ketika melihat Jim.
Telma menatap para penjaga dengan penasaran dan berkata kepada Melvin, "Mel, apakah senapah mereka sungguhan!"
Melvin mencubit Telma dan berkata, "Apa kamu pernah melihat orang dewasa bermain-main dengan senapan mainan?"
Telma menatap senapan mereka. Dia menganggap senjata mereka keren. Jika dia membawa senapan kesekolah, teman-temannya pasti akan iri kepadanya.
Jim berjalan di lab. Dia menggesek kartu akses dan masuk.
__ADS_1
"Profesor Blanco, ada perlu apa kembali kesini."
Orang-orang di lab melihat Jim masuk. Mereka semua menghentikan aktivitas mereka.
Jim memiliki reputasi tinggi di institut. Semua orang menghormatinya.
Berdasarkan pengalaman dan prestasinya, Jim bisa menempati peringkat sepuluh besar di institusi sains dan teknologi Kasau!.
"Aku sudah menemukan cara untuk membongkar detektor itu," kata Jim
"Apa? Benarkah?"
Semua orang menoleh kearah Melvin dengan tatapan terkejut.
Itu adalah berita yang sangat bagus!
Ketua tim peneliti bergegas bertanya, "Profesor Blanco, bagaimana caranya? Tolong tunjukan caranya kepada kami!"
Jim menoleh kepada Melvin.
Semua orang juga menoleh kepada Melvin.
Melvin sedang melihat-lihat di lab yang sangat lengkap, tetapi peralatan yang ada di lab terlihat agak tua.
Melvin sadar semua orang sedang menatapnya. Selain itu, dia tersadar dan tersenyum. "Halo!"
Jim merasa lega. "Tolong tunjukan caranya kepada kami. Terima Kasih banyak."
"Dengan senang hati. Aku mengagumi ilmuwan seperti kalian."
Melvin sudah bercita-cita menjadi ilmuwan sejak kecil. Namun, entah mengapa Melvin malah menjadi mahasiswa jurusan olahraga.
Melvin mendekati detektor itu dan mengambil obeng.
Semua orang menatap Melvin dengan terkejut.
"Apakah dia bisa membukanya? Hanya dengan satu obeng?"
"Profesor Blanco, apakah kamu yakin tidak ada masalah?"
"Kami sudah mencoba banyak peralatan yang lebih canggih namun masih tetap gagal."
Jim berkata dengan percaya diri, "Kamu pasti sudah tahu. Tidak peduli berapa canggih peralatannya, kita bisa menyelesaikannya dengan mengikuti semua langkahnya."
Jim memasukkan permen lollipop pemberian Telma kedalam mulutnya dan menoleh kepada Melvin dengan raut wajah santai. Jim mempercayai Melvin.
Melvin tidak tertekan sama sekali. Dia membongkar detektor itu dalam waktu sepuluh menit.
Melvin meletakan obengnya dan berkata, "Aku sudah selesai. Silakan lihat dan periksa jika ada masalah."
"Apakah secepat itu?"
Semua orang berkumpul. Mereka memperhatikan bagian-bagian detektor di atas meja, lalu menemukan perangkat penghancur diri sudah di lepaskan dan di singkirkan.
Sepertinya Melvin sangat mengenal detektor itu karena berhasil membongkar dalam waktu sesingkat itu.
"Dia berhasil membongkarnya!"
"Astaga! Kita semua bekerja sama dan telah menghabiskan begitu banyak waktu, tetapi kita gagal. Namun, dia berhasil membongkarnya dalam waktu sepuluh menit!"
"Siapa dia sebenarnya?"
Melvin menjabat tangan mereka dan berkata sambil tersenyum, "Tidak usah di besar-besarkan. Terima kasih kembali!"
Telma tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia hanya memikirkan cara mendapatkan senapan sambil mengemut permen lollipop.
Jim berjalan mendekat dan menepuk pundak Melvin. Kemudian, Jim memperkenalkan Melvin kepada semua orang, "Nama pemuda ini adalah Melvin Reed. Dia mahasiswa semester dua di Universitas Olahraga Kasau. Dia adalah orang yang menemukan detektor itu."
"Hebat sekali, anak muda!" Beberapa profesor memuji Melvin.
"Kalian membuatku tersanjung. Silakan lihat lebih dekat benda-benda yang sudah aku bongkar."
Melvin tetap bersikap rendah hati.
"Tentu saja!"
Semua orang mulai fokus pada detektor.
Jim juga menoleh ke detektor tadi, walaupun dia masih mengenakan baju pasien dari rumah sakit.
Suasana hati Melvin sedang baik. Rasanya luar biasa karena bisa menunjukkan kemampuannya kepada orang-orang besar disana.
Melvin mengeluarkan ponsel dan menghubungi Lucia melalui panggilan video.
Ponsel Lucia berdering ketika dia baru saja kembali ke kantor polisi.
"Opsir Medison, apakah kamu sibuk malam ini? Haruskah kita makan malam bersama?"
Lucia merasa terkejut ketika mendengar suara Melvin.
Lucia tidak membenci Melvin. Hanya saja, dia merasa frustasi saat memikirkan Melvin.
Beberapa wanita cenderung menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dengan kemarahan.
Lucia adalah salah satunya.
Bagi seorang yang tinggi hari, jatuh cinta dengan seseorang adalah tanda kekalahan.
Lucia tidak akan mengizinkannya.
"Makan malam? Tidak mau! Apakah kamu sedang tidak sibuk? Kalau kamu memang tidak sibuk, mengapa tidak mencoba untuk membongkar detektor yang kamu temukan? Apakah kamu tahu Profesor Blanco dan rekan kerjanya berusaha keras mencoba membukanya? Dia bahkan jatuh sakit karna berusaha membongkar detektor itu. Dia melakukannya demi membuat negara kita menjadi lebih baik. Sebagai warga negara Moplad, pernahkah kamu berkontribusi untuk negara ini?"
Melvin menatap wajah dingin Lucia. Melvin kebingungan.
Apa yang sedang terjadi? Mengapa Lucia bersikap tidak ramah?
Melvin tidak bicara. Dia malah mengarahkan kamera ke detektor yang Lucia bicarakan saat Lucia sedang memarahinya.
Lucia sedang sibuk mengkritik Melvin ketika melihat detektor yang sudah dibongkar. Lucia langsung terdiam.
"Apa .... "
Melvin berkata dengan lembut, "Aku sudah membuka detektornya."
"Tidak mungkin!" Lucia tidak percaya dengan ucapan Melvin.
"Itu benar. Sepertinya aku akan meminta Profesor Blanco untuk berbicara denganmu."
Melvin memanggil Jim, lalu Jim berkata, "Melvin bisa menerima semua penghargaannya. Jika bukan karena dia, kita tidak akan pernah membongkar detektor ini dalam waktu begitu singkat.
__ADS_1
"Lucia, ternyata Melvin pacarmu! Dia baik dan aku berharap kalian berdua bahagia!"
Setelah mendengar itu, Lucia tersipu malu. Lucia bergegas menjelaskan.
"Itu tidak benar. Profesor Blanco, kamu salah paham. Aku bukan pacarnya dan dia bukan pacarku."
Telma mendengar suara Lucia dan mendekat karena penasaran, "Mel apakah kamu sedang bicara dengan Lucia, kakak iparku?"
Lucia terkejut.
Telma berbakat menjadi makcomblang!
Kemudian, Jim tersenyum. "Aku mengerti. Aku harus pergi sekarang. Sepertinya aku harus pergi meninggalkan kalian berdua mengobrol."
Kamudian, Jim beralih pada penelitiannya.
Melvin memutar kamera dan berkata, "Datanglah dan makan di rumahku malam ini."
Lucia menolak Melvin. "Aku ada janji dengan temanku malam ini."
Suara Lucia terdengar lebih lembut.
"Temanmu? Bawa juga temanmu. Aku akan menunggumu!"
Sebelum Lucia sempet menolaknya, Melvin menutup telepon terlebih dahulu.
Melvin menyimpan ponselnya dan mengajak Telma keluar.
Ketika masuk kedalam lift, Telma berbisik kepada Melvin dan berkata, "Mel, bagaimana caranya agar aku mendapatkan senapan?"
"Senapan?"
Melvin menyentil dahi Telma dan berkata, "Itu melanggar hukum! Kamu hanya gadis kecil! Apa yang kamu pikirkan?"
"Mel! Sakit!" Telma memegang kepalanya dan berkata dengan sedih.
Melvin terkekeh dan menyentil kepala Telma lagi.
Itu berarti Telma sudah sembuh total.
Melvin kembali ke Teluk Purnama. Semua adiknya menyambut Melvin dan Telma di gerbang.
Melvin memarkir mobil di pinggir jalan. Dia tidak perlu khawatir dengan kondisi lalu lintas karena dia memiliki seluruh jalan disana.
"Telma, aku akan mengantarkanmu pulang dan menunjukkan keahlian mengemudiku!"
Elaine sedang bermain papan seluncur. Dia berencana memberi tumpangan kepada Telma.
Teresa juga sedang bermain papan seluncur. Dia ingin balapan dengan Elaine.
Savana, Esther, dan Nina sedang memegang marshmellow. Mereka bermain bersama sambil makan.
Faye dan Sissy sedang membuat karangan bunga.
Tonia dan Flora sedang mengelilingi Melvin, meminta Melvin untuk membantu mereka menyelesaikan kuis.
Olivia dan Thea sedang memegang buku. Mereka sedang belajar untuk ujian masuk.
"Nanti malam, kita akan kedatangan tamu dan merayakan kesembuhan Telma. Apa yang ingin kalian makan untuk makan malam?" tanya Melvin.
"Aku ingin makan kue!" kata Esther.
"Baiklah, kue. Apa lagi?"
"Es krim! Coklat! Susu coklat!"
"Apakah kalian tidak menginginkan sesuatu yang mewah? Aku punya banyak uang, tetapi yang bisa kalian pikirkan hanyalah makanan ringan. Ya sudahlah. Aku akan menyiapkan hidangan makan malamnya."
Melvin menyesal sudah bertanya kepada Adik-adiknya.
Melvin akan malu jika hanya menteraktir Lucia dengan es krim.
Ketika Melvin kembali ke villanya, dia menemui koki dan memberitahunya tentang kedatangan tamu malam ini.
"Domba panggang, babi panggang, dan pesta boga bahari... Bagaimana menurutmu tentang hidangan itu?"
"Kedengarannya terlalu berminyak. Mengapa kamu tidak menyajikan beberapa hidangan ringan juga agar seimbang?"
"Baiklah."
Melvin mengobrak-abrik tempat penyimpanan alkoholnya, lalu menemukan sebotol anggur merah. Itu sempurna untuk pesta.
Ada minuman keras juga. Namun, Melvin khawatir minumannya terlalu keras. Dia mungkin tidak akan sadar setelah meminumnya.
Sissy menarik Melvin menjauh setelah Melvin selesai menyiapkan minuman.
Sissy meminta Melvin untuk mengajarinya berenang.
Itu adalah tugas dari Sistem, tetapi butuh waktu untuk menyelesaikannya.
Setelah Sissy cukup puas berenang, akhirnya dia mau keluar dari kolam renang. Melvin membawakan beberapa pakaian kering untuknya dan menyuruhnya segera mandi agar tidak masuk angin.
Meskipun Melvin tidak khawatir jika mereka masuk angin, akan lebih baik jika Sissy menghindari penyakit.
Setelah menonton beberapa film kartun bersama Nina dan Telma, Melvin menerima telepon dari Lucia.
"Aku sudah sampai. Izinkan kamu masuk."
Melvin pergi ke pintu depan dan menjemput mereka. Ada dua orang, Lucia dan Lola.
"Selamat datang!"
Melvin memutar balik dan mengajak mereka masuk ke Vila.
Lola melihat sekeliling karena penasaran. "Wah. Aku tahu kamu kaya. Tetapi aku tidak menyangka kamu sekaya ini. Rumah ini bernilai lebih dari lima belas miliar rupiah."
"Itu belum cukup," ucap Melvin sambil tersenyum.
"Kalau begitu, berapa harganya rumah ini?" Tanya Lola.
"Empat triliun rupiah." Jawab Melvin.
Lola langsung terdiam. Lola menoleh kepada Lucia, terlihat malu.
Lucia tersenyum. "Uangnya tidak terbatas."
Lola pun terkejut. "Sepertinya aku sudah meremehkanmu. Sepertinya kamu sama kayanya dengan orang terkaya di kota Kasau!"
"Cetek! Itu terlalu cetek! Kamu hanya melihat kekayaanku. Namun, apakah tidak ada hal lain yang bisa dilihat dalam diriku selai kekayaanku?" tanya Melvin.
__ADS_1