Kampung Horor

Kampung Horor
MALAM YANG PANJANG


__ADS_3

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK🙏❤


Vote, like dan komentar pembaca akan sangat membantu Author untuk bisa UP tiap hari.


tambahkan ke favorit agar tidak ketinggalan Episode terbaru dari saya🤗.


Thanks Loyal readers 🙌🏻🥰


...----------------...


Waktu menunjukkan pukul setengah 12 malam. Terdengar suara binatang malam di luar rumah saling bersahutan. Sedangkan di dalam rumah suasana terasa sunyi, sepi mencekam. Hanya terdengar suara jam dinding dan dengkuran dari Bapak. Sudah menjadi kebiasaan di rumah ini kalau malam hari semua lampu di matikan kecuali Lampu teras.


Semua lampu kamar juga di matikan kecuali kamar ku. Entah kenapa Ibu tidak mematikan lampu kamar ku. Mungkin karena Kamar ku berada di paling ujung, Jadi Ibu membiarkan nya untuk tetap hidup.


Aku terbangun karena suara dengkuran Bapak yang sangat mengganggu telinga. Karna biasanya Aku tidur bersama Nurul di kamar kami. Sedangkan Bapak Ibu tidur dikamar nya. Tidak biasanya aku terbangun tengah malam. Walaupun bangun aku pasti langsung melanjutkan tidur lagi.


Tiba tiba saja Aku ingin membuang air kecil ke kamar mandi. Aku mencoba membangun kan Ibu namun ibu sangat sulit di bangun kan. Aku coba membangun kan Bapak. Hasilnya tetap sama tidak ada yang bangun. Akhir nya aku membangun kan Mas Ahmad. Biasa nya Mas Ahmad tidak sulit di bangun kan.


"Mas bangun mas bangun massss massss Ahmaddd" Sudah lah mereka tidak ada yang bangun. Biar aku sendiri pergi ke kamar mandi.


"Nduk Laras.. Mau ke kamar mandi ya.."


Astagfirullah suara siapa itu. Ibu iya itu suara Ibu, Tapi kenapa suara nya rada melingking dan serak begitu. Perlahan aku menoleh ke kanan. Huuhhh Syukur lah ternyata suara itu memang benar suara Ibu.


"Ibuu ihh Laras kira suara siapa. Soalnya suara Ibu sedikit aneh, tak seperti biasa nya" Ucap ku kepada Ibu yang menghampiri ku.


"Kamu ini aneh aneh saja Nduk. Masa takut kepada Ibu mu sendiri. Ayo Ibu anter kamu ke kamar mandi. Kamu mau pipis kan? " Ujar Ibu. Aku mengangguk dengan ucapan Ibu.


Aku dan Ibu pergi menuju kamar mandi jalan beriringan. Pada saat melewati kamar ku, seperti ada bayangan orang duduk bersandar wajah nya menatap jendela kamar. Namun ku lihat lagi bayangan itu hilang. Sudah lah mungkin hanya perasaan ku saja.


Aku tetap melanjutkan langkah ku ke kamar mandi. Aneh tidak biasa nya aku merinding dirumah ku sendiri. Perasaan takut mulai menyeruak di dalam tubuh ku. Keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh ku. Untuk mengusir rasa takut ku pegang tangan Ibu ku. Ternyata Ibu juga merasakan takut sebab tangan nya dingin seperti ku.


"Kenapa nduk. Sudah jangan takut. Jangan mikir yang tidak tidak. Ibu bersama mu disini" Ucap Ibu menenangkan ku. Aku yang mendengar ucapan Ibu pun sedikit lega.


Ibu pun masuk ke dalam kamar mandi sebelah kanan yang berdekatan dengan sumur, Sedangkan aku di kamar mandi sebelah kiri yang berdekatan dengan dapur.


"Bu nanti kalau Ibu sudah selesai ke kamar mandi nya. Tungguin Laras sebentar ya. Laras hanya pipis saja kok" Ucapku kepada Ibu. Ia tak menjawab perkataan ku. Aku pun menoleh ke Belakang tidak ada siapa siapa dibelakang ku. Terlihat juga pintu kamar mandi itu sudah di tutup.


Sudah lah mungkin Ibu sudah tak tahan ingin pipis, Jadi Ia pergi terlebih dahulu menuju kamar mandi. Aku pun memasuki kamar mandi karna tak tahan juga ingin pipis. Cukup lama aku berdiam diri di kamar mandi, karna sekalian BAB.


Hihihihihi... Hihihihihi


Sayup sayup aku mendengar suara tawa seseorang. Namun ku dengar lagi suara itu tidak terdengar. Perasaan ku mulai tidak enak.


"Buuu Ibuuuuu apa Ibu ada di luar?. Tungguin Laras ya bu. Bentar lagi Laras selesai kok." Aku berteriak kepada Ibu, Akan tetapi Ibu tidak menjawab teriakan ku.


Lekas ku tuntaskan hajat ku. Perlahan aku membuka pintu kamar mandi yang sudah tua ini.


Kriiiiieeeekkkkk


Pelan pelan pintu kamar mandi ku buka. Tidak ada orang disini. Aku melangkah kan kaki ku ke kamar mandi yang dipakai Ibu tadi.


"Buuuu Ibuuuu Laras sudah selesai bu. Apa Ibu belum selesai juga? Ibu BAB juga ya?" Mulut ku nerocos saja bertanya kepada Ibu. Dari luar aku tidak mendengar jawaban dari Ibu.


Aku mencoba sabar untuk menunggu Ibu di depan kamar mandi. Sambil menunggu Ibu, aku pun melihat lihat ke sekitar kamar mandi. Langkah ku berhenti saat melihat kearah sumur. Kenapa sumur itu sangat gelap. Tidak biasa nya Lampu di luar di matikan oleh Bapak.


Tiba tiba ada tangan seseorang yang memegangi ku. Jantung ku berdetak sangat kencang. Ya Gusti pengeran lindungilah hamba mu ini.

__ADS_1


Aaaaaaakkkkkhhhhhhhhhhhhh


Iiiiibbbbbbuuuuuuuu Baaaaappppppaaakkkkkkkk


Aku langsung menutup mata ku, karna seseorang berbaju putih berdiri tepat di hadapan ku. "Tolong jangan ganggu aku. Aku takut. Pergi lah dari sini. tolooong..." Ucap ku memohon kepada sesosok yang berdiri tepat di hadapan ku.


"Nduk ini Ibu. Ibukmu nduk. Bukaen ta tangan mu itu jangan ditutup seperti itu. Ibu disini sayang." Kata seseorang itu yang mengaku sebagai Ibu. Aku tetap keukeuh tidak membuka tangan ku, yang sedari tadi menutup mata ku.


"Nduk ayo buka mata mu. Ini Ibu mu. Jangan takut sayang" lanjut Ibu itu. Perlahan aku pun membuka tangan ku.


Syukurlah yang berada di hadapan ku benar Ibu. Tangan Ibu yang lembut serta hangat menyentuh pipiku yang basah. Karena tangisan ku tadi. Ibu juga mengelus rambut ku. Melihat cara Ibu menenangkan ku, aku semakin percaya kalau yang memeluk ku sekarang ialah Ibu ku bukan dedemit.


Ibu bertanya pada ku kenapa bisa aku berada di sini malam malam. Aku pun bercerita dari awal sampai sekarang aku bisa berdiri disini. Ibu yang mendengar ceritaku terperangah seakan akan tidak percaya dengan cerita ku.


"Bu ibuuuu Buuuu Ibuuuu Ibu kenapa?" Ucap ku memanggilnya. Aku bertanya kepada Ibu, Akan tetapi Ibu sama sekali tak merespon nya.


Ekspresi Ibu tetap sama seperti tadi tidak berubah sama sekali. Aku pun menggerak-gerakkan tubuh nya. Ibu pun merespon ku dan tidak melongo lagi.


"Eh iya nduk. Kamu ndak bohong sama Ibu kan nduk? Ayo kita bangun kan Bapak mu dulu ya.. " Tanya Ibu kepada ku. Aku mengangguk saja saat ditanya karna memang benar yang aku ceritakan dari awal seperti itu.


Ibu pun menggandeng tangan ku menuju ruangan tengah. Katanya mau membangun kan Bapak. Aku tidak mengerti dengan apa yang Ibu tanyakan kepadaku. Aku kan menjawabnya dengan jujur. Kenapa Ibu meragukan nya. Padahal Aku dari tadi bersama nya.


Ibu melepas mukena nya dan menaruh di tempat asal nya. Lalu langkah kami menuju ke ruang tengah. Aku pun menoleh ke samping tepat nya kearah sumur.


Loh kenapa lampu yang berada di sumur itu sudah hidup lagi. Apa jangan jangan Ibu yang menghidupkan nya ya?


Aku heran namun ku hiraukan saja. Aku lebih memilih untuk mengikuti Ibu dari belakang. Ibu membangunkan Bapak pelan.


"Massss Massss bangun Mas Faris bangun masss," Ibu membangunkan Bapak dengan suara pelan setengah berbisik.


"Kenapa kalian belum tidur?. Ini sudah jam berapa hm? Ayo tidur lagi. Kenapa kalian bangunkan Bapak? " Tanya Bapak menyelidiki kami.


Ibu pun menceritakan kejadian barusan kepada Bapak. Ekspresi Bapak tidak jauh dari ekspresi Ibu tadi. Aku hanya mendengarkan Cerita Ibu ku. Ibu bercerita tidak Melebih-lebihkan dan tidak mengurangi.


"Udah bu jangan berpikiran yang bukan bukan. Harus nya Ibu menenangkan Laras bu. Agar Laras tidak ketakutan seperti itu." Ucap Bapak kepada Ibu.


"Bukan itu permasalahan nya Mas. Cerita Laras itu tidak seperti yang Ibu rasakan Mas" Kata Ibu memasang wajah serius kearah kami.


Mendengar perkataan Ibu aku juga terperangah. Aku pun penasaran dengan cerita Ibu yang kata nya tadi tidak sama dengan cerita ku.


Bapak pun meminta Ibu untuk bercerita tentang yang Ibu rasakan....


......................


FLASHBACK ON


pOV BU NARSIH


Setelah bercerita panjang kali lebar tentang masa lalu anak anak. Ku lihat anak anak satu persatu mulai memejamkan mata nya, tanda kalau mereka sudah benar benar tertidur. Aku dan Mas Faris bergantian cerita. Setelah memastikan mereka benar benar tidur aku dan Mas Faris pun ikut memejamkan mata kami.


Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku membolak balik kan tubuh ku ke sana ke mari. Namun tetap saja tidak bisa tidur. Waktu menunjukkan sudah pukul 11 malam. Dari pada aku bengong dan mikir yang bukan bukan. Akhirnya aku memutuskan pergi ke kamar mandi untuk ambil air wudhu' dan sekalian sholat tahajud.


Aku pun melangkah kan kaki ku ke arah dapur. Karna kamar mandi bersebelahan dengan dapur. Sambil berjalan aku melihat lihat ke penjuru rumah. Entah kenapa seperti ada yang menyuruh ku untuk ke ruang tamu. Aku pun membalikan tubuh ku ke ruang tamu.


Aku menyibak kan sedikit gorden besar yang menjadi pemisah antara ruang tengah dan ruang tamu. Aku melihat ke kesekitar ruang tamu dan juga teras. Disini tidak ada apa apa, Akan tetapi kenapa seperti ada yang menuntunku untuk kesini.


Lampu ruang tamu di matikan sejak habis isyak tadi. Aku mengelilingi setiap sudut di ruang tamu yang sangat luas dan gelap ini. Hanya ada pantulan cahaya lampu dari luar. Setelah berkeliling namun tetap tidak menemukan apapun di sini. Aku pun membalik kan badan ku menuju dapur. Tiba tiba tengkuk ku dingin. Seperti ada yang memegang. Secara spontan aku menoleh kebelakang namun nihil.

__ADS_1


"Mbaaaakkkkkk ttttooooollllloooong Gendhiiiiissss Mbaaaaaakkkkkkk yyyyuuuuuuu..." Terdengar jelas suara itu di telinga ku.


"Aaah Siapa kamu. Kenapa kamu mencoba membunuh anak ku. Tolong pergi jangan ganggu keluargaku" Aku berteriak kepada Suara itu. Namun tidak ada jawaban lagi.


Aku pun membuka pintu depan. Suasana yang dingin dan sepi menyentuh kulit ku. Aku memicingkan mataku saat indera penglihatan ku tertuju kearah pohon Bambu yang berada jauh di depan rumah ku.


Aaaaaahhhhhh tidak siapa wanita itu. Ia berambut panjang dan berbaju merah. Ia menatap kearah ku. Kenapa dia seperti memohon kearah ku. Ia terlihat begitu sangat cantik. Oh tidak aku yang tiba tiba teringat kalau ini sudah larut malam. Aku berpikir sejenak, tidak akan mungkin warga kampung malam malam begini nangkring diatas pohon. Apalagi pohon Bambu.


Aku pun langsung berlari dan mengunci pintu depan. Akkkkhhhhh jantung ku seperti mau copot saat teringat kalau hanya kuntilanak yang bisa nangkring diatas pohon malam malam begini.


Aku ingin hendak pergi tidur namun aku berpikir lagi. Jika aku hanya diam saja gangguan akan berdatangan mengganggu keluarga ku. Ku tatap semua anak anak ku dan juga suami ku. Aku tidak siap untuk kehilangan mereka. Akhirnya aku mengurung kan niat ku untuk tidur. Aku tetap pergi menuju kamar mandi untuk berwudhu'.


Ku langkah kan kaki ku menuju kamar mandi. Namun langkah ku berhenti saat berada di depan kamar Laras Anak ku. Melihat kamar Laras yang gelap. Aku teringat akan sesosok makhluk mengerikan yang pernah mengganggu ku pada waktu itu.


Aku berpikir sejenak. Jika aku tidak menghidupkan kamar Laras dan membuat kamar Laras gelap gulita. Maka makhluk halus lain nya akan menempati nya. Aku pun menghidupkan lampu di kamar Laras. Dengan perasaan was-was aku memasuki kamar anak ku ini. Lalu ku hidup kan lampunya biar terang benderang.


Setelah menghidupkan lampu Laras aku pun kembali ke kamar mandi. Sengaja aku pilih kamar mandi yang bukan di dekat sumur karna aku sendiri jujur masih trauma dengan cerita Laras pasal ia yang dihantui pada saat itu.


Aku pun membuang hajat dan menyelesaikan wudhu' ku. Setelah Wudhu' Aku langsung melaksanakan sholat tahajjud. Selesai sholat aku pun berlalu pergi ke kamar Laras. Aku berniat untuk mengaji di kamar Laras.


Badan ku senantiasa memakai Mukenah putih pemberian Ibu ku. Aku mengaji disana dengan pelan pelan. Aku sempat mendengar suara Laras berbicara dengan seseorang. Aku memanggil manggil anak itu, Namun Laras tak menggubris panggilan ku. Ia seperti berbincang bincang dengan seseorang. Akan tetapi aku tidak melihat seseorang itu.


Pada saat Laras mendekati ku. Tiba tiba tasbih ku jatuh. Aku pun mengambil nya ke bawah ranjang tempat tidur. Karena aku belum juga menemukan keberadaan Tasbih itu, Akhir nya aku pun ikut ke bawah ranjang agar bisa melihat jatuh kemana tasbih itu. Tasbih ini adalah tasbih mulai aku muda sampai saat ini masih ku jaga.


Setelah aku berhasil menemukan keberadaan tasbih ku. Aku pun kembali ke kasur untuk meneruskan kembali Mengaji dan juga wirid ku.


Kkkriiiiiiiieeeeekkkkkkk terdengar decitan suara dari pintu kamar mandi sebelah dapur.


Bbrrrraaaakkkkkkkkk tiba tiba pintu kamar mandi yang berada di dekat sumur pun tertutup juga.


Aku yang mulai tidak konsentrasi untuk mengaji pun akhirnya menyudahi ritual malam ku ini. Aku pun melanjutkan wirid sambil menunggu Laras sampai keluar dari kamar mandi. Sengaja aku tidak keluar dari kamar Laras karena ingin melanjutkan wirid ku.


"Mmbbbakkkkk yuuuuu tooolllong Gendhiiiiissss mbak yuuuu toloooooong temukan kebenaran tentang ku. Massss Ajiiiii harusssss matiiiiii" Ah tidak, siapa barusan yang berbicara kepada ku. Siapa dia.


Dari jendela kamar Laras, lagi lagi aku melihat gadis cantik berambut panjang dan berbaju merah sedang nangkring diatas pohon bambu yang mengitari rumah ku ini melihat kearah ku sambil menyatukan kedua tangan nya seakan akan meminta bantuan ku. Wajah cantik itu kini perlahan berubah menjadi hantu yang menakutkan. Dengan Darah yang mengalir dari kedua mata nya.


Ah astagfirullah. Aku pun kembali duduk diatas ranjang. Aji? kenapa wanita itu menyebut nama Aji. Apa yang dimaksud nya adalah Mas Aji. Mas kandung ku? Ada apa dengan mas Aji. Apa dia sudah berbuat yang tidak tidak kepada wanita cantik yang bernama gendhis itu? Astagfirullah kenapa aku menjadi berburuk sangka kepada Mas ku sendiri.


Aku yang melihat Laras berdiri didepan pintu kamar mandi di dekat sumur. Aku pun menghampiri anak ku Laras. Aku memegang pundak nya. Tiba tiba Laras terkejut melihat aku datang dengan tiba tiba.


FLASHBACK OFF


......................


"Seperti itu lah mas yang aku alami. Kalau menurut ku Wanita yang bernama gendhis itu ingin meminta bantuan kepada keluarga kita mas. kalau menurut mas bagaimana? " Bu Natsih menyudahi cerita nya.


"Jadi begini dek. Lebih baik kita istirahat dulu ya. Kita temukan cara nya besok pagi saja dek. Mas sudah ngantuk dan coba lihat tuh Laras sudah tidur duluan mendengar kamu bercerita. ayo sayang tidur kita yuk" Ucap Pak Faris kepada istri nya.


Terlihat wajah murung dan kecewa bu Narsih atas jawaban dari suami nya.


"Ayo sayang ku kita tidur dulu ya. Besok mas cari solusinya. kamu mau tidur apa mau saya tidurin" Goda Pak Faris yang membuat Bu Narsih salah tingkah.


"iiih mas Loh jangan seperti itu. Iya iya aku tidur nih hissss" jawab bu Narsih salah tingkah beneran.


Kini mereka kembali tidur dengan menghidupkan semua lampu kamar. Mereka tidur sangat lelap. Kecuali ada seseorang yang belum tertidur. Ia adalah kuntilanak merah yang sedang berdiri di depan jendela rumah Bu Narsih. Kini kuntilanak merah itu sedang melihat kearah pembaca dengan bola mata nya yang besar. Bola mata itu mengeluarkan air mata darah.... Hihihihihi


Bersambung dulu ya... Lanjut besok Up lagi.... Stay tune ya 😊👍

__ADS_1


__ADS_2