
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK🙏❤
Vote, like dan komentar pembaca akan sangat membantu Author untuk bisa UP tiap hari.
tambahkan ke favorit agar tidak ketinggalan Episode terbaru dari saya🤗.
Thanks Loyal readers 🙌🏻🥰
...----------------...
Mas Aji datang bersama pak kampung dan warga sekitar. Tidak lama kemudian para rombongan polisi juga datang. Polisi menyarankan kan kami untuk menjauhi garis yang akan di pasang polisi. Entah kenapa aku mengalami banyak kejanggalan pada kematian mertua ku.
Jenazah kedua mertua ku di bawanya untuk diperiksa terlebih dahulu akibat kematian nya. Karna sebelumnya aku sudah mengatakan kepada salah satu pak polisi kalau kematian mertuaku tidak wajar.
Semua warga kampung berdatangan untuk melihat seorang juragan sayur meninggal karna bunuh diri. Mereka seakan tidak percaya kalau kejadian ini memang benar-benar terjadi. Para warga kampung mengeluarkan semua peralatan dapur dan yang lain nya. Karena kami akan mengadakan tahlilan sampai hari ke tujuh.
Sejak ditemukan nya jenazah mertua ku. Rumah ini seperti tak bernyawa lagi. Walaupun di sini banyak orang yang berlalu lalang. Tetapi kenapa aku merasakan sepi dan ketakutan. Aku tidak boleh berlarut dalam kesedihan, Yang sudah terjadi adalah kehendak gusti Allah. Besok pagi jenazah mertua ku pulang. Aku harus menyiapkan keperluan untuk mengurusnya.
Rasanya ngantuk sekali namun aku tidak boleh tidur. Jika aku tidur nanti apa kata tetangga. Aku mencoba menghilangkan rasa kantuk ku dengan menolong para ibu-ibu untuk menyiapkan alat-alat dapur yang nanti nya akan digunakan untuk memasak. Kantuk ku tetap saja datang.
Aku melihat mas Aji cekcok bersama kedua orang tuanya. Nampak sekali wajah mas Aji sangat murka kepada mereka.
Kenapa aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Mereka bertengkar hebat karna apa? Apa penyebab nya?
Pertengkaran mereka sangat hebat. Mas Aji berlari menuju dapur. Ia membawa gunting stainless milik ku yang sangat tajam. Gunting itu yang biasa aku gunakan untuk menggunting kain tebal.
Aaaaaaakkkkhhhh
Mas Aji menusuk perut Ibu dan Bapaknya secara bergantian. Terlihat Bapak melawan namun dengan sigap mas Aji menusuk lengan Bapak yang mencoba melindungi Ibu. Sementara Ibu yang memegang kaki mas Aji sambil memohon langsung ditendang nya sampai terbentur ke tembok. Darah segar bercucuran keluar dari kepala Ibu.
Suara Ibu memohon untuk dimaafkan. Terlihat dari kedua tangan nya yang seperti memohon. Entah apa masalah nya sampai mas Aji sekeji itu kepada mereka. Sementara itu Bapak masih menyimpan sedikit tenaga untuk melawan. Namun apa lah daya tenaga orang yang sudah berumur akan kalah dengan tenaga yang masih muda.
Aaaakkkhhhh
"Ya Allah mas Aji kenapa tega melakukan itu . Sebesar-besarnya masalah kekerasan bukan solusi nya"
Dengan gunting tajam itu mas Aji menusuk nusuk tangan kedua orang tuanya. Tenaga mereka sudah tidak kuat lagi melawan. Diseret lah kedua orang tua itu ke belakang rumah. Aku mengikuti mereka sampai belakang rumah. Kedua kepala mereka di benturkan ke tembok belakang rumah. Mereka tidak sadarkan diri. Lekas mas Aji menuju ke dalam rumah. Ia mengambil tali tampar dan menyeret kedua orang tua nya. Di tali kan nya tali tampar itu ke leher Bapak dan Ibu. Mas Aji memeriksa denyut nadi Mereka yang sudah tidak bernyawa. Ia tersenyum licik.
__ADS_1
Mereka digantung di pohon jambu air yang sudah tua. Mas Aji meninggal kan kedua orang tua tanpa merasa bersalah. Aku mendekati mertua ku. Orang baik seperti mereka kenapa diperlakukan keji oleh anak kandung nya sendiri. Di luar sana masih banyak yang tidak punya orang tua. Mereka ter pontang-panting mencari makan. Jangan kan makan untuk tidur saja mereka harus mencari tempat bernaung. Panas kepanasan hujan kehujanan. Mereka rela memakan makanan bekas orang. Kenapa mas Aji yang mempunyai segala nya malah menyia-nyiakan mereka. Mas Aji membunuh orang yang telah bekerja keras untuknya.
"Nduk Nduk Cah ayu bangun nduk Kenapa berteriak seperti itu. Kenapa tidur disini Nduk. Ayo bangun Anindhita" Budhe mencoba membangun kan ku. Aku tertidur pulas di amben kayu di dapur.
Syukur lah ini hanya mimpi. Tetapi kenapa semua seperti nyata. Apa ini pertanda kalau mas Aji yang melakukan nya.
Aku tidak boleh berpikiran yang jelek tentang suamiku.
Pipiku basah karena air mataku. Aku masih memikirkan mimpiku barusan. Seperti tak percaya akan kejadian ini. Terlihat mas Aji tidak punya tenaga. Aku mendekati nya yang duduk diam di pojok kamar.
"Mas sudah mas mungkin ini sudah takdirnya Bapak dan Ibu meninggalkan kita dengan cara seperti itu. Mas yang ikhlas ya. Harus tabah walaupun ini semua tidak mudah" Ucapku menenangkan nya.
"Dek aaaakkkkkkuuuu akuuu tidak sengaja dek... "
"Maksud mas apa? Tidak sengaja bagaimana?"
"Maksud mas mas sayang Bapak Ibu dek. Mas ga bisa hidup tanpa mereka. Mereka jahat dek ninggalin mas.. " Tangisan mas Aji pecah saat memeluk ku. Aku mencoba menenangkan sembari mengelus kepala nya.
Entah kenapa hidung ku seperti mencium bau darah yang membusuk saat aku mengelus rambut mas Aji. Pikiran dan hatiku tidak tenang. Selalu memikirkan mimpiku barusan yang seperti nyata. Aku merasa bersalah karena sudah meninggal kan Ibu dan Bapak di rumah berdua. Jika aku tidak pergi menemui teman ku pasti ini semua tidak terjadi. Tidak terasa air mataku terus membasahi pipiku. Aku pun tertidur sambil berpelukan dengan mas Aji di kamar.
Pagi ini jenazah mertua ku akan segera di makam kan para warga kampung sudah menunggu. Ibu ibu di dapur sedang menyiapkan makanan sementara bapak bapak menyiapkan segera keperluan untuk pemakaman. Adzan subuh membangun kan ku untuk menunaikan kewajiban ku. Aku keluar kamar menuju kamar mandi. Di amben kayu dapur terlihat dua orang Ibu Ibu yang tertidur pulas. Kalau dari bentuk tubuh nya mereka seperti Bu Tyas dan Bu Lasmi Tetangga yang lumayan jauh dari rumah.
Aaaaaahhhhhhhhhhh
Mereka bukan Bu Tyas dan Bu Lasmi. Melainkan wajah Bapak dan Ibu dengan mata melotot ke arah ku. Wajah mereka hancur. Tidak, bukan wajah saja yang hancur melainkan semua badan nya juga hancur. Tangan ku dipegang sangat kuat.
"Aaaaaaahhhhhh Lepasin lepasin akuuu"
Dengan sekuat tenaga aku melepaskan kedua tangan mereka. Aku berhasil melepaskan pegangan tangan nya.
Hahahahahaha hahahaaaahaaaaa
Ah tidak, kedua tangan itu copot dari badan mereka dan yang tetap memegangi ku ialah tangan mereka yang sudah buntung. Dengan sudah payah aku melepaskan tangan yang penuh dengan sayatan dan juga borok itu. Sementara mereka tetap melotot ke arah ku seraya tertawa menakutkan. Sambil melepaskan tangan buntung yang sedang memegangi ku. Ku bacakan semua Doa yang ku hafal.
Alhamdulillah
Tangan buntung itu bisa lepas dari badan ku. Pada saat aku melempar tangan ke belakang rumah. Tiba tiba saja aku mendengar suara langkah kaki dari dalam rumah menuju kesini.
__ADS_1
"Ada apa Nduk. Aku dengar suara orang meminta di lepasin. Apa terjadi sesuatu sama kamu" Aku bernafas lega karena yang datang bukan dedemit ataupun semacam nya. Budhe Ina datang kesini karena mendengar kebisingan.
Aku tidak mengatakan apapun kepada Budhe khawatirnya Ia bercerita kepada warga kampung. Jika warga sampai tau mertua ku jadi hantu maka tidak ada yang mau datang kesini untuk tahlilan. Budhe melangkah kan kaki ke amben kayu yang diatas nya ada dua orang sedang tidur dengan wajah hancur dan mata melotot yang ingin lepas tadi. Aku menutup mata rapat rapat saat budhe mulai membangun kan kedua nya.
"Yu bangun yu sudah subuh ini. Bangun yu Lasmi yu Tyas bangun" ucap budhe membangun kan mereka.
"haaaaahhh Sudah subuh to mbak. Tadi malam aku mau pulang nanggung mbak. Jadi kami memutuskan untuk tidur di sini saja. Karna di ruang depan ada Bapak bapak yang sedang berjaga" Ucap Bu Tyas sembari menguap. Aku yang mendengar suara Bu Tyas dan Bu Lasmi pun langsung mendekati mereka. Masih memikirkan apa tadi itu hanya halusinasi ku saja atau memang benar terjadi. Sudah lah aku akan sholat terlebih dahulu.
Pukul setengah 8 pagi jenazah Mertuaku datang. Jenazah tidak boleh disentuh cukup dilihat saja dan segera di sholatin. Saat para Bapak Bapak itu sholat aku mengintip dari selambu tengah. Terlihat Mas Aji sholat nya seperti tidak khusyuk Wajah mas Aji juga ketakutan seperti melihat sesuatu yang menakutkan.
Selesai mensholaatkan jenazah. Bapak Bapak memboyong dan membawa ke peristirahatan terakhir mertuaku. Aku tidak bisa menahan tangis saat suara keras dan nyaring Bapak-bapak mengiringi jenazah Mertuaku dengan bacaan tauhid.
Aku berdiri di depan pintu melihat jenazah mertuaku yang segera dikebumikan. Saat keranda yang berisi mertua ku lewat di depan ku. Aku melihat ada tangan yang keluar dari keranda itu. Tangan itu menyentuh ku seperti tangan buntung tadi subuh.
Setelah kematian mertua ku. Banyak sekali berita dari warga kampung yang di teror oleh dua orang laki-laki dan perempuan dengan wajah yang menyeramkan. Selain itu di desa sebelah mereka juga di hantui namun bedanya hantu yang meneror warga desa sebelah adalah seseorang wanita berjubah merah. Warga mulai resah akan teror dari dua orang itu. Warga menyangka kalau yang meneror mereka ialah hantu Bu Gantari dan Pak Reksa.
Semenjak kabar hantu tersebar luas mengganggu mereka. Sudah jarang Bapak Bapak yang datang untuk tahlilan (Doa bersama) . Begitu juga Ibu-Ibu takut kalau datang ke rumah ku untuk membantu buat persiapan orang tahlilan mereka takut jika malam hari sepulang dari sini pasti di gangguin.
Pernah kejadian pada saat Bu lasmi dan anak nya setelah pulang dari sini. Bu Lasmi dan anak nya melewati pemakaman. Memang rumah Bu Lasmi terbilang jauh dari rumah. Namun karna Ia sering di bantu oleh mertuaku jadi Ia merasakan kehilangan. Untuk membalas budinya Bu Lasmi pun rajin membantu ku di dapur bersama Ibu-Ibu yang lain. Bu Lasmi menggandeng anak nya yang masih berumur 9 tahun melewati area pemakaman. Karena tidak ada jalan pintas lain menuju desa nya akhir nya dengan keberanian nya Ia melewati pemakaman tersebut. Saat dirinya mulai memasuki pemakaman Hidung nya mencium bau bangkai dan bau Kembang kantil. Bu Lasmi berpikir bau-bau seperti itu sudah wajar karna dirinya sekarang berada di pemakaman. Dari sudut matanya Ia seperti melihat dua orang sedang duduk di atas makam. Ia berniat menyapa sepasang suami istri itu. Saat sapaan pertamanya tidak digubris akhirnya Ia mencoba menyapanya lagi. Sampai sapaan ketiga Sepasang suami istri itu menoleh ke arah nya.
Sepasang suami istri yang disapa nya itu bukan lah manusia. Melainkan dedemit dengan wajah polos tanpa adanya bagian tubuh seperti mata dan mulut menoleh ke arahnya. Bu Lasmi berteriak sembari berlari meninggalkan dua orang itu.
"Larrriiiii Ibuuuuuu Ada hantuuuuuuuu"
Anak nya bu Lasmi sudah lari duluan ketimbang dirinya yang masih berada di belakang. Bu Lasmi mencopot sandal nya dan berlari dengan sekuat tenaga sampai kerudung yang dipakai nya hilang entah kemana. Setelah berada di sekitar rumah nya Ia berhenti sebentar mengambil nafas. Tiba-tiba Ia merasakan ada seseorang di belakang nya. Bu Lasmi pun menoleh.
"Buk e Bapak kenapa ditinggal sendirian. Kan sudah tak bilangin tadi se. Kita pulang bersama tapi ini kenapa pulang duluan?" Ucap pak Arso suami Bu Lasmi.
Ia tidak mengerti akan perkataan suaminya.
"Loh bukane Bapak tadi tak awe-awe nda mau. Trus nyamperin aku kalau disuruh pulang bareng Fian" Bu Lasmi dan suami sama-sama melongo.
"Jangan jangan yang nyamperin kita adalah arwah Bu Gantari dan Pak Reksa.." Ucap mereka bersamaan.
Mereka berdua segera pulang ke rumah. Bu Lasmi menggendong Fian. Sesampai dirumah Pak Arso dan Bu Lasmi kaget. Karena di dalam rumah nya seperti ada suara orang sholat sedangkan pintu rumah masih tertutup. Kunci nya dibawa Pak Arso. Mereka berpikir kalau yang sedang di dalam ialah Ibu dan bapak nya Pak Arso. Karna biasanya mereka tidur di sini. Yang bikin mereka merasa aneh karena semua pintu rumah ini di tutup.
Pak Arso pun membuka perlahan pintu depan itu. Pelan-pelan Ia dan istrinya melangkahkan kaki ke asal suara itu. Suara orang sedang sholat berada di pintu tengah. Perlahan Pak Arso menyeka gorden perbatasan ruang tengah dan ruang tamu itu. Ketika gorden dibuka ternyata yang sedang berada di dalam ialah....
__ADS_1
Bersambung....