
Ibu dan Bapak berlarian menuju kebelakang. kami bertiga pun mengikuti bapak dan ibu.
Braaaakkkkkkk
Bapak membanting pintu belakang yang ku tutup karna ulah kuntilanak tadi yang menganggu ku.
Bapak melihat kearah kami. Terlihat dari ekspresinya kalo Bapak seperti bertanya siapa yang telah menutup slop pintu belakang.
Bapak melihat kearahku. akupun menundukkan pandanganku. "Lain kali lihat dulu situasi sekitar jangan langsung menutup slop pintu" Tegas Bapak melihat kearah kami rata.
Aku semakin tidak mengerti apa yang ibu dan Bapak lakukan. Mereka berpencar seperti mencari sesuatu. Bapak dan Ibu berteriak memanggil nama Mas Wahyu , Mas Ahmad dan dua orang teman kakak ku.
kami bertiga saling berpandangan tidak mengerti. Ibu berjalan ke arah dalam rumah. Ia membawa sendok dan piring masing masing 2 pasang.
Ibu memberitahu kami kalo ke empat anak yang sedari tadi main di kebun belakang rumah itu hilang. seketika kami semua terkejut dan ber tanya tanya Kemana hilang nya mereka.
Kami berpencar sesuai yang diinstruksikan Bapak. Aku dan Nurul ikut Bapak sedangkan, Bu ina bersama Ibuku. Bapak mengatakan jika salah satu menemukan keberadaan mereka berempat langsung membunyikan Piring dan sendok.
kami mengangguk dan segera pergi menyusuri kebun belakang rumah yang lumayan luas dengan ditutupi dengan rimbun nya pohon bambu dan pohon gayam.
Hari sudah sore namun kami tidak menemukan keberadaan mas Ahmad dan teman teman nya. Raut Bapak terlihat Lesu dan kecewa. pencarian kami tak kunjung menemukan titik terang.
TING TING TING TING TING TING
Terdengar suara Piring dipukul sendok berkali kali. Mendengar suara Itu aku yakin kalo ibuku dan bu ina lah yang melakukan nya. Kami bertiga mencari asal suara. walaupun kami sudah berada di ujung kebun hampir menuju hutan tetap saja asal suara tidak ditemukan.
"pak ini sudah mau sampai jurang tapi kenapa Ibu tidak ditemukan, " Tanyaku kepada Bapak.
Beliau meyakinkan Aku dan Nurul kalo Ibu dan kedua kakak kami akan segera ditemukan. Kami berjalan lagi menyusuri rimbun nya pepohonan.
TING TING TING TING TING TING
suara itu terdengar lagi. Kami pun lekas mencari Asal suara itu. Asal suara berasal dari arah utara kebun dekat jurang. kami berhasil menemukan Ibu dan juga teman teman mas Ahmad. Tapi Mas Ahmad dan Mas Wahyu tidak terlihat.
Terlihat disana Ibu sedang tengkurap memandangi seseorang yang berada di jurang. "Ppppaak tolong Wahyuuu dan Ahmad pak" kata ibuku ketika melihat kami datang. Dengan wajah yang bercucuran keringat Ibu ter gopoh gopoh ke arah Bapak.
Bagaimana bisa Mas Wahyu ada dibawah jurang sedang bergelantungan di akar pohon. Diatas nya terlihat juga Mas Ahmad sedang memegangi salah satu tangan mas Ahmad.
Aaaaaakkkkhhhhh Aku sudah tidak kuat lagi Ibuuuuuuuu
__ADS_1
Teriakan Mas Wahyu di bawah sana membuat Bapak kebingungan mencari sesuatu untuk mengambil apa saja guna membantu anak anak nya kembali lagi keatas dengan selamat.
Ibu tak berhenti menangis melihat keadaan kedua anak nya yang akan jatuh ke jurang.
Konon didalam jurang ini terdapat hewan buas. Masyarakat juga percaya kalo dibawah jurang adalah rumah bersemayam nya para dedemit.
Aku yang melihat kejadian itu. Kini berlari meninggalkan mereka untuk kembali kerumah mengambil tali tampar yang biasa Bapak gunakan untuk jemuran.
Jarak dari kebun ke rumah lumayan jauh. Namun demi menyelamatkan kefua kakak ku aku harus melakukan apapun. Setibanya dirumah aku kembali teringat kuntilanak yang tadi mengangguku.
huuuuuhhhhhh aku menarik nafas dalam dalam.
Aku harus berpikir positif agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sambil baca sholawat aku mulai memasuki rumah. "Dimana Bapak menyimpan Tali tampar nya ya, " ucap ku seraya mencari cari.
"Kamu mencari ini ta Nduk?" Ucap seseorang dari dalam rumah.
Deghhh,,, seketika jantungku seperti berhenti sejenak. Ketika mendengar suara seseorang dari dalam rumah. Dari mana datang nya Pak tua ini. Kenapa Ia tiba tiba muncul dan memberikan Tali tampar padaku.
Perlahan Aku mendekati Seseorang yang wajahnya tidak Asing. Aku mengambil Tali tampar yang dipegangnya. Wajah ku mengekspresikan ingin bertanya sesuatu. Namun aku teringat keadaan Mas Wahyu dan Mas Ahmad yang saat ini lebih membutuhkan pertolongan.
Akupun mengurungkan niat ku untuk bertanya. ucapan terimakasih ku lontarkan kepada pak tua itu seraya mengucapkan salam padanya.
Ku berikan kepada Bapak tali tampar yang berhasil ku ambil dari rumah. Bapak mengulurkan Tali tampar itu tepat di posisi Mas Wahyu dan mas Ahmad berada. Bapak memberikan aba-aba kepada kedua kakak ku untuk memegang Tali yang sudah bapak ulurkan.
Terlihat wajah Mas Ahmad sudah tidak bertenaga lagi. Kecemasan kami pun semakin bertambah. Berkali kali Bapak mengulurkan tali namun tidak ada satupun yang berhasil menggapai tali itu.
Dengan mengasih Aba-aba lagi kepada kedua kakak ku. Mereka pun berhasil menggapai tali. Kemudian Bapak meminta Bu ina dan Ibu untuk menolong nya dengan menarik Tali tampar itu di belakang bapak.
Aku, Nurul dan 2 teman kedua kakak ku tak mau berdiam diri saja melihat Orang tua ku berusaha menyelamatkan kan kakak kakak ku. kami berempat berdiri di belakang Bu Ina untuk menarik tali tampar itu.
*Bismillahirrahmanirrahim
Allahuakbar*
Kami bersama-sama menarik tali itu dengan sekuat tenaga. Kami saling menguatkan dan memberikan semangat untuk diri kita sendiri.
Jurang itu sangat dalam sehingga kami perlu tenaga lebih untuk menarik kakak kakak ku keatas. Aaaaaaaaaaakkkkkkhhhhhhhhh Dengan sisa sisa tenaga kami bersama berhasil menyelamatkan mas Ahmad dan mas Wahyu naik ke atas.
ALHAMDULILLAH
__ADS_1
Teriak kami saat berhasil melakukan tugas kami. Terlihat keadaan Kedua kakak ku sangat lemas tak berdaya. Bapak dan Ibu membopong kedua Kakak ku menuju rumah.
Ada sedikit kendala pada saat memboyong Kedua kakak ku. Tiba tiba Pohon Gayam yang tidak terlalu besar itu rubuh di hadapan kami. Untung saja kami semua tak terkena rubuhan pohon. Tak ada waktu untuk mengangkat pepohonan itu karna hari semakin gelap.
kamipun mencari akses jalan lain untuk menuju rumah. Setelah sampai dibelakang rumah. Kedua Kakak ku di tidurkan di Ranjang yang biasanya dibuat Bapak untuk mengistirahatkan badan nya setelah pulang dari Sawah. Ibu pun masuk kedalam rumah untuk mengambil gelas air minum dan juga teko yang berisi Air putih.
Ibu memberikan Kedua kakak ku gelas air minum. Bu Ina membantu Mas Ahmad untuk duduk agar bisa meminum dengan leluasa.
Melihat keadaan Mas Wahyu dan Mas Ahmad seperti ini. Terlihat wajah Orang tuaku merasa bersalah meninggalkan Mereka berempat main di kebun belakang rumah tanpa pengawasan.
Meski terbilang mereka sudah besar. Namun kebun belakang rumah cukup berbahaya untuk seusianya karna dekat dengan jurang. Berkali kali kudengar Bapak dan Ibu meminta maaf kepada kedua kakak ku ini.
Mas Ahmad hanya melihat kearah kami dengan tatapan sendu. Sedangkan mas Wahyu mengatakan Bapak dan Ibu tidak perlu meminta maaf. Karna ini pyur atas kesalahan mereka sendiri.
Ibu dan Bapak mengelus halus kedua kepala kakak ku. Seketika suasana menjadi hening. Lingga Dan Bimo berpamitan untuk pulang. Namun Bapak kali ini tidak mengizinkan mereka pulang sendiri. Bapak mau mengantarkan mereka pulang sampe rumah masing-masing.
Sebelum mengantarkan mereka pulang. Bapak membopong Mas Ahmad ke kamar. sementara mas Wahyu bisa berjalan sendiri. Mungkin Mas Ahmad masih syok dengan apa yang baru terjadi padanya.
"Bu Narsih saya pamit pulang dulu nggih, Saya sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Kawatirnya suami akan mencari saya" Pamit bu Ina kepada ibuku.
Ibu berterimakasih Karna bu Ina sudah banyak membantu keluarga kami. Bu Ina menjawab dengan mengangguk dan tersenyum kearah Ibu. Bu Ina pun pulang dari depan rumah karna sendal bu Ina ada didepan rumah.
Melihat mereka semua masuk kedalam rumah aku pun juga mengikuti mereka. Ketika masuk kedalam rumah aku teringat sesuatu. Iya aku teringat sesosok Bapak tua tadi yang memberiku Tali tampar. Siapa Bapak tua itu. Kenapa dia muncul dari dalam rumah?
Siapapun tadi yang sudah memberikan ku tali tampar itu. aku percaya ia tidak ada niat untuk menjahati ku. Ia baik buktinya dia telah membantuku.
Pada saat aku bertengkar dengan pikiran ku sendiri. Tiba tiba Bapak bapak tadi muncul dari arah belakang rumah. Mataku terbelalak. Ia datang seakan akan Ia mengerti apa yang ku fikirkan.
Tubuhku menjadi diam seribu bahasa.
Perlahan lahan Bapak tua itu mendekatiku....
Bersambung....
(JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK 🙏😍)
Like, vote , dan komentar kalian membuat Author bisa Up tiap hari.
Terimakasih 🙏
__ADS_1