
Pak Arso pun membuka perlahan pintu depan rumahnya. Pelan-pelan Ia dan istrinya melangkahkan kaki ke asal suara itu. Suara orang sedang sholat menggema di dalam rumah nya tepatnya berada di ruang tengah. Perlahan Pak Arso menyeka gorden perbatasan ruang tengah dan ruang tamu itu. Ketika gorden dibuka ternyata yang sedang berada di dalam ialah dua orang berpakaian serba putih panjang dan diatas nya terdapat kuncir kain.
"Ppppppooooocccccooooonnnggg"
Mereka berlari terpontang-panting setelah melihat yang berada di dalam rumah nya ialah Pocong dengan wajah bu Gantari dan suaminya. Wajah pucat kedua nya terlihat setelah memutar kepala nya ke belakang. Sejak melihat hantu di dalam rumah nya. Pak Arso dan Bu Lasmi tidak berani pulang kerumah nya.
Kejadian tidak hanya dirumah Bu Lasmi dan suaminya. Bu Fatimah tetangga mbak Ida pada saat pulang dari bantu-bantu dirumah ku. Ia pulang sendirian karna anak nya sedang menjaga suaminya yang sedang sakit. Dengan perasaan was-was bu Fatimah melewati depan lahan kosong yang berada di depan kuburan. Memang semenjak beredar nya teror pocong dan kuntilanak merah di kampung Roro Asri membuat warga kampung tidak berani keluar malam-malam.
Jalanan hening dan sunyi Ia menapak kan kakinya dengan perasaan gusar. Dari jauh Ia melihat seperti ada gundukan putih di tengah-tengah jalan yang menuju rumahnya. Bu Fatimah semakin memperjelas penglihatan nya kearah gundukan putih itu. Mulutnya yang cempreng melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan lantang. Saat mendekati gundukan putih yang perlahan mulai hilang dengan sendirinya. Ia melanjutkan perjalanan nya hingga ke rumah.
TOK TOK TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum pak, Assalamu'alaikum dayattt, Vikriii" Ia mengucapkan salam sembari berteriak. Karna sedari tadi mengetuk pintu dan mengucapkan salam tidak ada yang mendengar.
Mencoba membuka pintu depan tidak bisa. Akhirnya Ia terpaksa melewati kebun samping rumah yang lebat dengan pohon pisang dan salak. Saat dirinya mulai memasuki kebun. Terlihat dari sudut matanya. Sekelebat dua bayangan putih ber lompat-lompat. Ia menoleh samping badan nya. Namun hasilnya Zonk. Hanya kegelapan dan kesunyian yang di lihat.
Ia mempercepat langkah kaki nya ke pintu dapur di samping rumah.
Ceklekkkkkk
Pintu dapur memang jarang sekali di kunci. Bu Fatimah memasuki rumah nya dengan perasaan yang masih tidak enak. Ia langsung menuju kamar mandi membasuh wajah dan mencuci tangan beserta kaki. Selesai ritual malam, Ia memasuki kamar yang berada di paling depan.
Melihat suaminya yang sedang tiduran dengan menutup seluruh wajah ke dalam selimut Ia sedikit lega. Bu Fatimah yang memang sedikit ganjen. Jadi setiap akan tidur pasti tidak luput dengan memakai masker yang dibelinya di pasar. Ia memulai ritual malam dengan memoles wajah yang menurut nya tercantik sekampung Roro Asri.
Huhhhhhhhhh Huuuuhhhhhh
suara dengusan seseorang di belakang badan nya. Masih terus memoles wajahnya dengan masker. Kuas masker jatuh di samping kakinya. Ia mencoba mengambil kebawah.
Aaaaaaakkkkkhhhhhhhhh pppppooooocccccccooooooooonnnnggggg
Wajah yang penuh masker itu bertatapan langsung dengan wajah pucat dan mata melotot ke arahnya. Ia mencoba membangun kan suaminya. Namun langkah kaki terhenti karna yang berada di atas tempat tidur bukan suaminya melainkan pocong yang tersenyum mengerikan ke arahnya.
Aaaaahhhh Tidaaaakkkkk ttttttooooollllloooong
Braaaaakkkkkkkkkkk
Bu Fatimah pingsan setelah menabrak keras pintu kamar nya. Ia sadar setelah para warga berkumpul dirumah nya. Warga datang bersama Pak Halil suami Bu Fatimah. Ia masih belum bicara akibat kejadian semalam yang menimpa dirinya. Bu Fatimah sakit selama hampir 5 hari. Setelah agak sembuh Ia mulai menceritakan semua kepada suami dan anak-anaknya.
Teror terus terjadi membuat warga kampung Roro Asri takut. Hingga tahlil ke tujuh harinya Pak Reksa dan Bu Gantari hanya 4-5 orang yang datang. Belum selesai teror dari Ibu mertua ku datang lagi teror dari perempuan berjubah merah. perempuan berjubah merah tidak henti-hentinya meneror warga Roro Asri dan juga warga desa lain.
FLASHBACK OFF
...----------------...
Ternyata firasat ku benar kalau mas Aji pasti berada dibalik ini semua. Kami bertiga menyusun rencana untuk segera menemukan dalang pembunuhan orang tuaku dan juga pembunuhan gendhis. Jam menunjukkan pukul setengah 10 malam kami harus pulang. Anak-anak yang berada dirumah mbak Ida pasti sudah terlelap.
TOK TOK TOK TOK TOK TOK!!!
"Kenapa tidak ada yang buka ya mas" Ucapku kepada mas Faris karena sedari tadi kami mengetuk pintu tidak yang membuka.
"Mungkin sudah tidur dek. Apa kita pulang saja ya dek" Jawab mas Faris sembari mengintip di jendela panjang rumah Mbak Ida.
__ADS_1
"Coba sekali lagi deh mas siapa tau mereka dengar ketukan kita" Kata ku meyakinkan mas Faris.
TOK TOK TOK TOK TOK!!!!
Kriiiiiiekkkkkkkkk pintu itu terbuka. Dibalik pintu muncul seorang laki-laki dengan rambut nya yang gimbal.
"Walah samean to dek narsih. Kenapa dari tadi ngedor-ngedor pintu, pas saya buka malah ndak ada orang disini. Kalian sembunyi dimana? " Mendengar Ucapan Mas Eko suami mbak Ida. Kami tercengang karena tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan nya. Kami berdua hanya terdiam saling memandang.
Kami tidak menggubris perkataan mas Eko. Kami hanya tersenyum kearahnya. Mas Faris membangunkan Anak-anak sedangkan Nurul tetap di gendong. Sebenarnya Mbak Ida melarang untuk membawa Anak-anak pulang. Benar apa yang dikatakan mbak Ida. Tapi mau bagaimana lagi aku tidak bisa tidur tenang jika tidak ada Anak-anak di rumahku.
Dari kejauhan kami melihat ada seorang laki-laki tua yang sedang duduk di depan rumah kami. Bentuk badan orang itu tidak asing di mata kami. Saat melihat kami datang dari kejauhan laki-laki tua itu berdiri dan menghampiri kami.
"Assalamu'alaikum nduk le" Ucap lelaki tua itu .
"Waalaikumsalam Pak Kyai nungguin kami dari tadi ta? " Tanyaku sopan. Pak Kyai Khosim menggeleng sembari tersenyum.
Kami menyuruh pak Kyai untuk segera masuk kedalam rumah.
Urusan apa sampai pak Kyai malam-malam datang kesini?
Aku mengantarkan anak-anak ke kamar mandi untuk bersih-bersih badan dulu sebelum tidur. Sedangkan Mas Faris duduk di ruang tamu bersama Pak Kyai Khosim. Sayup sayup aku mendengarkan obrolan mereka tentang Gendhis.
"Apa mas yakin mau mencari malam-malam begini? " Ucapku kepada Mas Faris dengan tatapan ragu.
"Nduk, Jika tidak segera di telusuri kasihan arwah nya ingin segera kembali ke tempatnya. Sudah jangan berpikiran yang tidak-tidak kepada kami. Doakan saja semua nya akan baik-baik saja. Pak kyai juga sudah meminta bantuan pak kampung dan 2-3 warga kampung untuk menelusuri ini semua" Ucap pak Kyai menenangkan ku.
Mas Faris mengangguk ke arah ku. Tatapan wajahnya seperti memberikan pengertian kepada ku. Aku percaya kan semua itu kepada pak Kyai dan juga suami ku. Untung saja para warga kampung ini selalu bersedia. Jika terjadi sesuatu mereka akan berada paling depan untuk membantu warga nya yang sedang dalam masalah.
...----------------...
Di rumah yang hening dan sepi datang lah Seorang laki-laki dengan setengah sadar. Ia memasuki rumah istrinya yang berada di pojok kampung. Biasanya Ia akan pulang pagi hari atau siang menjelang sore. Lalu malam harinya akan kembali bekerja yang sama sekali tidak menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk istri dan anak-anaknya.
Keadaan rumah ini sangat gelap seperti biasa. Ia mengetuk pintu rumah itu beberapa kali. Namun tidak ada yang membukanya. Ia sangat geram kepada Anindita sampai menendangnya dengan keras pintu yang sudah usang itu. Ia melakukan nya sebab Istri nya membuat dirinya menunggu terlalu lama berdiri di depan pintu.
Saat Ia memilih duduk di depan teras nya tiba-tiba..
Kriiiiiiiiieeeekkkkkkk Braaaakkkk
Saat akan memasuki rumah nya. Tidak tau kenapa bulu badan laki-laki itu merinding seketika. Dengan jalan yang gontai Ia memasuki rumah.
"Woooyyyy Anindita buatkan aku minuman. Suami datang ga disambut malah di acuhkan" Teriak Aji yang mulai mencari tempat lampu petromak. Karna keadaan dirumah saat ini benar-benar minim cahaya. Bahkan secercah cahaya tidak ada disini.
Hihihihihihi hihihihihihi
Aku datang masssssssss hihihihihihi
Aji menoleh kesana kemari mencari asal suara yang mengagetkan dirinya. Ia merasakan hawa dingin memenuhi rumah. Sedari tadi memanggil nama Istrinya beberapa kali. Namun yang di panggil-panggil tidak muncul. Aji merasakan dadanya sesak karna di dalam rumah ini tidak ada cahaya sedikitpun.
Hihihihihihi hihihihihihi
Massssssssss akuuuu daaatttaaaaang
__ADS_1
Hahahaaaaaaahhhaaaa
Aji mencoba mencari jalan keluar. Ia mulai ketakutan dengan suara tangisan dan tertawa dari dalam rumah. Rasa takut sudah mengalir di darahnya. Karna Ia tau kalau suara itu ialah suara wanita yang Ia khianati.
"Sudahlah Gendhis kamu jangan menggangguku lagi. Kamu sudah mati. Kamu sudah matiiiiiii. Pergi kamu dari sini pergiiiiiiiiiiiii" Hardik Aji sembari mencari jalan untuk dirinya pergi dari gangguan Gendhis.
Aji mencoba memanggil Istrinya lagi. Namun hasilnya tetap sama. Dari dalam rumah munculah si wanita dengan jubah panjangnya berwarna merah dan rambut gimbalnya yang menjuntai ke bawah. Ia tidak akan pernah berhenti untuk mengganggu pengkhianat dan pembunuh seperti Aji.
Di ruang tamu yang sangat gelap. Bahkan tidak terdengar suara binatang malam dari luar rumah yang biasanya menghiasi sunyi nya malam. Aji semakin ketakutan dengan suasana yang seperti ini gelap mencekam hanya terlihat wanita si jubah merah dengan mata melotot melihat kearah nya.
"Kamu harussss mattttiiiiiii Ajiiiiii"
Aaaakkkkhhhh
Suara Aji keluar saat badan nya terlempar kesana kemari. Darah segar keluar dari mulut nya menandakan organ tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Ia meminta maaf kepada kuntilanak merah yang berada tepat di depan wajahnya. Namun semua sudah terlambat. Tidak ada permintaan maaf atau memaafkan diantara keduanya.
Kuntilanak merah itu murka kepada ulah Laki-laki yang pernah Ia cintai. Pengkhianatan, pembunuhan yang keji, dan Badan nya tidak di kubur dengan layak yang membuat dirinya harus membalas kan dendam. Tubuh Aji remuk serta tangan kanan nya patah akibat ulah si kuntilanak merah itu. Kondisinya sangat memperihatinkan. Jika dirinya tidak melakukan pengkhianatan, pembunuhan maka ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Arrrgghhgg kamu harus mengakuinya kepada semua orang Aji. Temukan jasadku atau kau tidak akan pernah bahagia seumur hidup mu hihihihihi" Teriak nyaring si kuntilanak merah melengking.
Tubuh Aji yang sudah tidak berdaya, diseret dibawanya berkeliling rumah. Darah berceceran dimana-mana. Aji hanya bisa menatap sekitar dengan mata yang sudah tidak sanggup melihat dunia. Berteriak sudah percuma tidak akan ada hasil. Karna yang menyeret bukan lah orang, melainkan setan yang ingin membalaskan dendam kepadanya.
...----------------...
Sementara di kediaman Pak Mahmud, Anindita sedang memasak makan malam untuk Budhe dan pakde nya. Sengaja Anindita menginap disini. Karena Ia sudah tau tabiat suaminya yang jarang pulang. Ia sudah pasrah jika akan mati ditangan Aji.
Anindita memikirkan nasib yang jalan hidupnya penuh lika-liku. Ia tidak sadar jika kuah sop yang dibuatnya tumpah-tumpah ke luar panci.
"Nduk kamu kenapa bengong begitu? "
Bu Ina yang mendengar suara rebusan air dari dalam dapur tiba-tiba lari menuju dapur. Lalu mematikan sumbu kompor yang hampir memakan habis panci berisi sop. Huuuhhhh Ia menghela nafas.
Melihat keponakan nya hanya terdiam mengiris mentimun tetapi mata nya melihat kearah depan. Ia mendekati Anindita yang sedari tadi melamun.
"Sudah Nduk jangan dipikirkan terlalu dalam suamimu itu. Nanti malah kamu yang sakit. Kasihan anak-anak Nduk. " Ucap Bu Ina sembari mengelus lengan keponakan nya. Wanita itu melihat nanar ke arah Budhe yang sudah dianggap sebagai orangtuanya.
"Aku sudah tidak kuat menerima semua perlakuan mas Aji kepadaku. Ia sudah menyimpang Budheeeee. Aku sudah tidak tahan" Tangis wanita itu pecah di pelukan Budhe nya.
Bu Ina menahan tangis agar air mata tidak jatuh dihadapan keponakan tersayang. Ia Memberikan dukungan dan nasehat nasehat baik yang Ia sendiri tidak akan kuat jika berada diposisi nya.
"Apa kamu akan menceraikan nya Nduk? Tidak apa-apa jika kamu sudah tidak kuat. Biarkan kamu bersama anak-anak tinggal disini. Maaf kan Budhe dan Pakde mu ini. Kami sudah salah dalam memilih pasangan untuk mu. Maafkan kami Nduk" Saut pakde yang sedari tadi sudah menguping pembicaraan Anindita dan Bu Ina.
Mendengar ucapan Pak Mahmud membuat Anindita memikirkan kembali nasib nya. Jika Ia berpisah maka Ia harus bersiap menjemput ajalnya. Namun Jika dirinya bertahan maka perlahan batin nya tersiksa. Karna suaminya sering mengancam tidak segan-segan untuk membunuh dirinya. Mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Pak Mahmud, air mata Anindita semakin deras membanjiri pipinya.
Ia memeluk bu Ina dan pak Mahmud dengan sangat erat. Seakan-akan besok Ia tidak akan pernah berjumpa dengan keduanya. Setelah berlarut dalam kesedihan. Mereka melanjutkan untuk makan malam yang sudah dimasak Anindita.
"Budhe Pakde nitip anak Dita lagi ya. Aku mau tidur dirumah lagi. Khawatir besok mas Aji pagi-pagi buta datang" Ucap Anindita kepada bu Ina dan pak Mahmud. Kedua nya membujuk Anindita untuk sementara waktu tinggal bersamanya disini. Namun Anindita tidak menuruti kemauannya.
Anindita benar-benar mengabaikan permintaan mereka. Ia melangkah kan kakinya keluar rumah. Langkah kakinya bukan ke jalan rumah nya. Malam ini Ia sudah membuat rencana dengan seseorang.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1