
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK🙏❤
Vote, like dan komentar pembaca akan sangat membantu Author untuk bisa UP tiap hari.
tambahkan ke favorit agar tidak ketinggalan Episode terbaru dari saya🤗.
Thanks Loyal readers 🙌🏻🥰
...----------------...
POV NARSIH
"Assalamu'alaikum Dek."
"Waalaikumsalam monggoh mlebet riyen, " ucapku menyambut kedatangan Mbak Anindita. Syukurlah Ia mau menepati janjinya malam ini.
(Waalaikumsalam Mbak silahkan masuk dulu)
Semua pintu dan jendela ku tutup rapat-rapat agar tidak ada yang bisa memasuki rumah ini. Walaupun mustahil bagi makhluk halus untuk tidak memasukinya. Kami mulai mengikuti jejak mas Faris dan yang lain untuk masuk ke dalam hutan. Sedangkan anak-anak tidak akan ada yang berani bangun kalau keadaan sepi seperti ini. Kalaupun bangun pasti akan memejamkan mata kembali melanjutkan tidur.
Kami membawa masing-masing lampu petromak beserta obor dan korek kayu untuk jaga-jaga. Saat langkah kami mulai menelusuri hutan. Aku merasakan ada yang sedang mengintai kami berdua. Aku membisikkan Mbak Anindita supaya tidak lupa membaca ayat-ayat Al-Qur'an yang Ia ingat.
"Dek Narsiiihhhh Awaaaassssssss."
Tiba-tiba saja dari arah belakang muncul bola api yang akan melenyapkan diriku jika terkena badanku. Reflek aku membungkuk kan badan mendengar teriakan mbak Anindita.
"Dek kamu ndak apa-apa ta. Ya gusti siapa yang tega-tega mengirimkan ini ke kamu? Jahat banget itu orang bisa-bisanya mau Ngejahatin kita dek," geram mbak Anindita sembari membantuku berdiri.
Aku tidak mengerti apa yang dibicarakan. Ia menjelaskan kalau disini ada yang bermain santet. Ada seseorang yang berniat jahat kepada keluarga kami. Huuuhhhhhhhhhhh aku mengambil nafas dalam-dalam. Karena baru pertama kali melihat bola api yang menakutkan seperti barusan.
Mbak Anindita berjalan berdekatan dengan ku. Bahkan sangat dekat sampai aku sedikit susah berjalan. Mungkin Ia takut terjadi apa-apa lagi padaku. Kami berdua terus berjalan sampai ketemu mas Faris beserta lain nya.
"Eeehhh eeeh sebentar mbak. Maaf aku lupa tadi katanya mas Faris kita harus melewati jalan deket kebun itu mbak" ucapku sembari menunjuk ke arah kebun yang diatas nya ditumbuhi banyak sekali pohon pisang. Namun kebun pisang itu terpisah menjadi dua lahan. Jadi di tengah-tengah itu ada jalan khusus pejalan kaki.
Biasanya pak Ridwan jika menyiram pohon pisang berjalan di atas jalan itu. Memang kebun pisang milik pak Ridwan ini agak luas dan panjang. Jadi, kami harus hati-hati dalam berjalan di dalam nya. Karena menurut orang-orang yang lewat disini pasti diganggu oleh pocong.
__ADS_1
"Yakin kamu dek? Bismillah saja wis yo semoga kita selamat sampai tujuan" kata Mbak Anindita yang terlihat ragu-ragu.
"Bismillah saja mbak. Mau bagaimana lagi lah wong disini sudah ndak ada jalan lagi yang menuju bawah jurang. Tapi di bawah sana ada kok rumah pak Ridwan, Abah naim dan 3 rumah warga lain mbak, " jelas ku kepada mbak Anindita. Mungkin karena sudah lama pindah ke desa lain jadi Ia lupa rumah warga sini.
Kami berdua saling menatap dan memulai perjalanan memasuki kebun pisang yang terkenal dengan khas horor nya. Apalagi tengah malam begini. Benar saja awal memasuki kawasan ini bulu kuduk ku langsung merinding. Entah kenapa bayangan si pocong sudah ada di benak ku.
Ya Gusti lindungi kami berdua ya Gusti
"Aaaaaaaahhhhhhhh Dekkkkkkk ittttttuuuuuu dekkkkkk"
Aku yang kaget mendengar teriakan mbak Anindita reflek melihat ke arah yang dituju. Rupanya benar ada dua pocong yang sedang menangkring di atas. Kami berdua setengah berlari menghindari dua pocong itu. Untung saja kami tidak sempat melihat jelas wajah si pocong. Belum selesai aku berbicara didalam hati. Tiba-tiba kami berdua terjatuh akibat tersandung sesuatu dibawah sana.
"Aaaaaahhhhh mbbbbaaaaakkkkk ppppooooccccooong lagi mbaaaakkkk"
Teriak ku sembari mencoba membangun kan mbak Anindita yang agak susah untuk bangun. Dua pocong berwajah gosong itu melotot kearah kami sembari menunjukkan gigi nya yang penuh darah.
Kami berdua meneruskan berlari secepat mungkin agar terhindar dari serangan pocong gosong itu. Kain kafan yang sangat lusuh dan bau bangkai yang menyengat dari aroma tubuh si pocong. Membuat kami ingin muntah.
Braaaaaakkkkkkkkkkkkkkkk
Kreeeekkkkkk
Aku mencari dari mana asal bunyi seperti suara patahan.
Astagfirullahalazim
Rupa nya bunyi patah itu berasal dari kedua orang yang berada di depan kami. Mereka menoleh kearah kami. Namun badan nya masih tetap berada di depan. Wajah mereka rata alias polos. Tidak ada sama sekali organ tubuh disana. Leher mereka berdua seperti ingin terlepas. Bau busuk itu berasal dari darah yang bercucuran dari leher mereka yang hampir patah.
"Huuuuueeekkkkkkkk ayo kita lariiii mbakkkkkkkkkk"
Aku menarik tangan mbak Anindita yang sedari tadi menutup mata serta menahan perutnya agar tidak muntah. Kedua orang itu sudah tidak ada lagi. Kami berdua berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Karna sedari tadi lari tanpa henti akibat bertemu orang tanpa wajah.
"He kenapa selarut ini kalian berdua berada di sini" Teriak pak Ridwan dari dalam kebun berjalan menuju ke arah kami sambil membawa jantung pisan.
Apa ini benar-benar pak Ridwan asli apa hanya demit yang menyamar menjadi pak Ridwan.
__ADS_1
"Eeee ee ee aannuu Niku pak kulo kale mbak kulo bade mirsani pak kyai wonten di ndalem jurang. Kulo teng mriku wonten perlu pak, " ucap ku gugup saat langkah kaki Bapak tua ke arah kami.
(Anu pak saya dan mbak saya ingin menemui pak kyai di bawah jurang. Kami disana ada keperluan pak)
Rupanya benar yang datang dari dalam kebun itu pak Ridwan asli. Bu Romlah, istri dari pak Ridwan ingin membuat oseng jantung pisang buat besok pagi. Makanya Ia pergi ke kebun malam-malam hanya karna permintaan istri tercintanya itu.
"Ini Anindita istrinya Aji bukan ya?"
"Inggih pak. Saya istrinya mas Aji. Hm Bapak kenapa bisa tau suami saya?"
"Seng Ati-ati nggih Nduk. Aji iku setengah rolas. Kadang kumat kadang waras. Cah wedok koyok sampean iki kudu seng tabah seng sabar. Mbiyen Aji iku ndak ngunu. Mbuh mergo opo saiki kok wis berubah kek ngunu, " ungkap pak Ridwan kepada mbak Anindita.
(Harus hati-hati ya nak. Aji itu setengah dua belas. Kadang Kambuh kadang sembuh. Anak perempuan yang seperti kamu ini harus tabah harus sabar. Dahulu Aji itu tidak seperti itu. Tidak tahu karna apa sekarang kok bisa berubah seperti itu)
Aku semakin yakin kepada firasat ku kepada mas Aji setelah mendengar perkataan pak Ridwan. Karna bukan 1-3 orang yang berasumsi tentang mas Aji. Melainkan banyak orang yang bilang jika mas Aji setengah waras. Setelah perbincangan kami dengan pak Ridwan selesai. Kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
Selesai perbincangan nya dengan pak Ridwan, Mbak Anindita kini kebanyakan melamun. Aku mengerti Ia sudah tidak sanggup hidup bersama suami yang sering berbuat tidak adil kepadanya. Suami yang tidak pernah menganggap istri nya ada.
Aku mencoba menenangkan mbak Anindita dengan ucapan-ucapan ku yang lembut. Hingga sampai membuat Ia tersenyum kembali. Walaupun senyuman nya itu tidak tulus dan penuh dengan luka yang ditutupi.
Tidak terasa langkah kaki kami sampai juga di bawah jurang. Namun Aku tidak menemukan keberadaan mereka.
"Ayo, gali terus gali terus pak semangat" itu suara mas Faris. Terlihat disana banyak sekali orang. Nampak 4-5 orang polisi juga yang berdiri disana. Wajah polisi itu tidak asing di kepalaku.
Sepertinya Aku tidak asing dengan polisi yang berada disamping pak kyai. Kira-kira aku pernah bertemu dengan nya kapan ya?
Aku mencoba mengingat nya namun tidak bisa. "Ayo, dek kita kesana, " ajak mbak Anindita ke padaku. Ia menarik tangan ku kearah mereka yang sedang sibuk menggali disana.
Wajah tampan polisi itu menatap kearah ku. Sedangkan Aku sama sekali tidak ingat siapa dia.
"Mohon lapor pak Satria. Ada sesuatu yang aneh dengan jasad perempuan yang dicari"
Ah tidak dia Satria. Apakah Satria yang dulu pernah bersama ku. Apa benar dia orang nya?
Aku menerka-nerka di dalam hati. Apakah dia orang nya?
__ADS_1
BERSAMBUNG....