
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KAK❤
(vote, like dan komentar kalian menjadi penyemangat AUTHOR karna bisa UP tiap hari🤗)
SELAMAT MEMBACA 📖
Tidak ada cara lagi selain mendobrak pintu itu dengan paksa. Jika hanya diam menunggu kunci pintu ketemu. Maka istriku akan celaka.
Aku dan pak kyai mendobrak pintu dengan sekuat tenaga. Namun sama sekali tidak ada hasil. "Sebaik nya kita baca lagi Ayat kursi sembari mendobrak pintu ini sampai pintunya terbuka. Karna pintu ini sudah dipagari oleh seseorang, " Ucap pak kyai
"Inggih pak kyai" jawabku.
Kami pun membaca Ayat Kursi bersama sama sambil mendobrak pintu itu berulang kali.
syukur lah usaha kami tidak menghianati hasil kini pintu itu terbuka. Setelah pintu itu berhasil terbuka. ku lihat istriku sedang dipeluk oleh seseorang yang mirip dengan diriku. siapa dia? Kenapa dia mirip sekali dengan ku? sedangkan aku tidak punya kembaran. Melihat pintu sudah didobrak istriku berlari dengan keadaan yang sangat acak acakan.
Ya Allah ada apa dengan istriku. Kenapa dia begitu lusuh. Aku sebagai suami merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa istri ku. kemana aku sewaktu dia butuh pertolongan. Harus nya aku menemani nya dalam keadaan apapun. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini ya rabb...
Hatiku terkoyak melihat kondisi istriku seperti ini. Aku memeluk dan mencium nya beberapa kali. seakan akan dunia masih milik kami berdua.
FLASHBACK OFF
_________________________________________
poV Faris
"Assalamu'alaikum " syukurlah anak itu sudah pulang. kini suara cempreng itu mulai menghiasi rumah lagi. setelah beberapa kejadian menjadikan rumah ini terasa mencekam.
nurul pulang sendirian tidak bersama Laras. "Waalaikumsalam nduk, Mbakyu mu kemana kenapa tidak kelihatan, " Tanyaku kepada Nurul.
anak itu menghampiri ku dan menarik halus tangan ku. Kemudian mencium punggung dan telapak tanganku. Memang anak anak selalu kami didik dengan akhlak yang baik agar menjadi kebiasaan.
menurut orang zaman dulu. Akhlak itu nomor satu. ibuku sering menasehatiku. kalo baik itu perlu dibiasakan. Tapi kebiasaan itu belum tentu baik.
Tidak biasanya Laras pulang telat. Biasanya ia selalu pulang bersama adek nya naik angkot. perasaan ku mulai tidak karuan. Melihat anak bungsu ku pulang sendirian.
"Tadi sewaktu aku menunggu mbak di depan kelas. Ada teman nya mbak Laras yang menghampiri ku. Bilangnya Kalo mbak Laras pulang sekolah langsung mau belajar kelompok. Katanya lagi mbak Laras dan teman teman nya mau membuat kerajinan tangan, " ucap anak itu menjelaskan secara detail
".. Tadi juga aku mau menemui mbak Laras namun, sama teman nya mbak Laras nda dibolehin katanya mbak Laras sedang sibuk ngerjain tugas dari buguru. " lanjut Nurul sambil melepaskan tali sepatunya.
"kamu tau ta siapa nama teman mbak Laras yang tidak memperbolehkan mu menemui mbakmu tadi? " Tanyaku kepada nurul dengan memasang wajah serius.
"kalo tidak salah namanya itu Nur pak, iiiiya Nur namanya " jawab anak itu.
"Nur yang rumah nya bersebelahan dengan rumah pak kyai khosim nduk? " Tanyaku lagi. Dan nurul mengangguk tanda pertanyaan ku benar.
aneh, walaupun sudah dijelaskan kan sama nurul alasan mbak nya pulang terlambat. kenapa hatiku seakan kurang yakin ya. sudah lah mungkin hanya perasaan ku saja.
"Mungkin sebentar lagi Laras datang mas, " kata istriku sambil membawa kopi yang sudah ku pesan.
"Tapi perasaan ku kok tidak enak ya dek, Khawatir Anak itu kenapa kenapa, " jawabku.
aku mengambil kopi yang sudah dibawakan istriku. Dek Narsih duduk disampingku. Ia mencoba menangkan ku karna sedari tadi aku gelisah.
"Apa sebaiknya mas susulin dulu ya dek kesekolah nya. Perasaan mas tidak enak dari tadi dek," ucapku lirih kepada dek Narsih. Ia hanya mengangguk dan tersenyum melihat ku.
Jam sudah menunjukan pukul 2 siang. Namun Laras belum juga datang. Aku pun mengeluarkan motor butut ku untuk pergi kesekolah. Tiba tiba ketika hendak menutup pintu belakang rumah. ku lihat Wahyu dan Ahmad sedang bermain bersama kedua teman nya di kebun belakang rumah.
"Bapak mau kemana? " Tanya anak itu mendekati ku.
"Bapak mau menyusul adekmu dulu. Dari tadi belum pulang juga, kata Nurul tadi Laras belajar kelompok bersama Nur " Jawab ku yang dibalas dengan wajah kaget Ahmad.
"Nnnn nur yang bertempat tinggal disamping rumahnya pak kyai itu tidak pak? " Kata anak itu. Ia seakan kaget dengan apa yang barusan ku katakan.
"Iya benar Nur, Emang nya kenapa? kok kamu kaget seperti itu, " tanyaku kepada anak itu.
"pppppakkk si Nur itu kan ada di surabaya bersama bu ima. Sudah seminggu juga mereka perginya. seminggu lalu pas Aku dan wahyu pergi sekolah lewat dirumah bu ima. Aku bertanya kepada bu ima kenapa membawa barang banyak. Bu ima menjelaskan kalo nenek nya Nur di surabaya itu sakit. jadi untuk sementara ini Nur izin tidak masuk sekolah" kata ahmad menjelaskan dengan wajah yang amat serius.
Degh,,
__ADS_1
sekarang aku yang kaget mendengar penjelasan Ahmad. Bertambah lah rasa khawatir ku kepada Laras. aku pamit kepada Ahmad untuk menjemput adeknya ke sekolahan.
Motor butut ku naiki dengan kecepatan yang maksimal. Dari samping rumah ku lihat ada 2 orang. seorang ibu dan seorang anak kecil. Seperti aku mengenali anak itu. Tapi kenapa baju nya kotor.
"Assalamu'alaikum Bapak" salam Laras. Wajah Laras kelihatan kebingungan mencari sesuatu. Ia berlari menemuiku di samping rumah.
Melihat Laras Ku lupakan motor butut ku sejenak. Aku kembalikan lagi motor yang sudah keluarkan tadi ke belakang rumah. ku sambut kedatangan Laras dengan haru. seragam sekolahnya sangat kumal dan kotor. warna putih seragam di penuhi tanah dan bercak noda merah disana.
Anak itu menanyakan keberadaan adik nya. Ku jelas kan kalo adiknya ada didalam sedang bersama ibu nya. Aku juga mengatakan kalo Adiknya tadi pulang sendiri.
Laras bersalaman dengan ku. Lalu tergesa gesa masuk kedalam rumah. Ada apa dengan anak itu. Ia datang bersama bu Ina istri dari pak mahmud.
Ku persilahkan Bu ina masuk untuk kedalam rumah. Bu Ina hanya mengangguk dan Izin untuk pulang. Karna dia hanya mau mengantarkan Laras saja. Namun permintaan nya ku tolak. Tidak enak juga memperbolehkan Bu Ina pulang. Aku harus menjamu nya dulu karna Ia sudah berbaik hati mengantarkan Laras pulang ke rumah. Bu Ina ku paksa untuk duduk terlebih dahulu.
"Monggoh bu sampean duduk dulu. Istriku ada didalam. Bu Ina saya tinggal sebentar nggih. saya mau memindahkan motor dulu ke belakang, " pamit ku kepada bu Ina.
Melibat anak ku pulang. perasaan ku sedikit lega. walaupun anak perempuan ku kini sudah mulai tumbuh besar. Namun dimataku Ia masih seperti bayi kecil.
Laras melihat Nurul sedang makan bersama ibunya. Iya heran kenapa adiknya bisa pulang duluan sedangkan Dirinya tadi pulang bersama Nurul. Yang lebih membuat heran Laras lagi Adiknya tadi berubah menjadi kuntilanak. sekarang Ia bingung dimana adiknya yang asli.
"Asalamualaikum bu, " ucap Laras bersalaman kepada istriku.
Dek Narsih senang melihat anak nya yang dari tadi di tungguin sudah pulang. Ia langsung memeluk Laras. Istri ku heran kenapa aroma tubuh Laras berbau Amis darah dan baju putih nya kotor.
Laras tidak menjawab pertanyaan ibunya. Ia masih kepikiran adiknya itu. Nurul melihat mbak nya yang sedari tadi melihat was was ke arahnya kini mendekati mbak nya.
Oh tidak ini sangat menggemaskan, Ini benar adik ku yang asli. Aroma khas dari badan Nurul dan wajah nya yang menggemaskan menjadi jawaban dari semua kecemasan nya. Ia hendak memeluk Nurul. Namun, Ia teringat baju nya yang terdapat bercak darah dari kuntilanak tadi.
Ia pun tersenyum melihat adiknya kini kembali bersamanya. Dek Narsih pun menyuruh Laras untuk segera membersihkan diri.
"Buk Laras kesini diantar Bu ina." ucap Laras
"sekarang Bu ina kemana Nduk, " Tanya Dek Narsih.
Laras menjawab kalo Bu Ina ada diruang tamu bersama Bapak. Dek Narsih sedikit bingung kenapa Laras bisa pulang bersama Bu ina. Namun Ia mengurungkan pertanyaan nya. Anaknya sudah pulang saja membuat dirinya bersyukur. Ia tak akan menanyakan hal lain. Biar nanti dibicarakan bersama. Dek Narsih pun mengangguk mendengar perkataan Laras. Dek Narsih segera membuat Teh manis serta cemilan seadanya.
"Laras Mandi dan ganti baju dulu yo nduk, " Ucap istriku sambil memberikan Laras handuk.
Mendengar apa yang dikatakan Nurul. Laras terperangah. Ia mendengar kan baik baik setiap perkataan Nurul. Lutut Laras terasa lemas dengan kenyataan yang barusan Nurul sampaikan. Laras tidak menjawab semua pertanyaan adeknya.
Laras pamit untuk mandi dan sholat dzuhur terlebih dahulu. Ia akan menjelaskan nya nanti setelah sholat.
Melihat ada Ibu ina di ruang tamu dek Narsih langsung melihat ke arah ku dengan ekspresi bertanya. Aku pun meminta nya untuk menghidangkan kan minuman dan makanan ringan untuk bu ina. Istri ku pun mengangguk.
"Sebentar nggih pak Faris biar nduk Laras yang bercerita apa telah terjadi, " pinta bu Ina. Aku hanya mengangguk pelan.
"Monggoh bu Ina diunjuk teh nya, Ngapunten Ini hanya ada cemilan dan minuman seadanya, " Ujar istriku menawarkan ke bu Ina.
Kami pun duduk bersama menunggu Laras untuk bercerita tentang apa yang terjadi sebenarnya. kenapa bisa seragam nya terdapat noda merah seperti darah dan terlihat juga wajah Laras sangat lesu. Banyak sekali pertanyaan di otak ku yang ingin ku tanyakan kepada putriku.
Suasana menjadi hening ketika kami saling diam. Kami tidak banyak mengobrol karna dipikiran kami hanya satu. yaitu Laras.
selesai sholat Laras hendak menemui orangtua nya diruang tamu. Namun langkahnya terhenti ketika indra penciuman nya terganggu oleh bau bunga kantil. Laras pun mencari asal bau itu. Tidak ada apa apa disekitar sini.
Ia melangkahkan kakinya kesebuah sumur yang berada disamping rumah. Karna bau bunga kantil itu berhenti ketika Laras berada disana. Di sini suasananya gelap sangat sunyi dan sepi. Seketika Laras merinding. Ia memegangi tengkuk nya yang merasakan hawa dingin. Laras melihat jeli ke sekitar tempat itu. Namun ia lagi lagi tidak mendapat kan apa apa.
Saat Laras hendak membalikkan tubuhnya untuk kembali menemui orang tuanya. Tiba-tiba ada tangan seseorang yang memegang kaki nya. Tangan ini kasar seperti tangan seorang laki laki.
Ia pun perlahan melihat kebawah. Dugaan nya salah ini adalah tangan perempuan. Tangan seseorang yang memegangiku penuh luka dan bolong bolong. Kuku nya yang hitam dan panjang mencengkram kaki Laras.
Laras pun menoleh kebelakang. Badan anak kecil itu gemeteran ketika melihat sesosok Kuntilanak yang sangat mengerikan dengan rambut yang menjuntai kebawah. pinggiran mata yang hitam dan wajah nya yang hancur.
Bau darah dari wajahnya sangat busuk menganggu hidungnya. Iya ini kuntilanak yang tadi siang menganggu Laras yang menyamar sebagai adik nya.
Tangan kuntilanak itu kini berpindah ke lehernya. Kuntilanak itu mulai mencekik Laras.
Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh toloooooooong
Ibuuuuuu Baaaappppppaaaaaakkk
__ADS_1
Laras berteriak meminta tolong. Ia menutup matanya karna dia takut menatap wajah mengerikan si kuntilanak.
Aaaakkkhhhhh Rasakan ini!!!
Tangan Laras yang kecil mencoba menarik narik rambut si kuntilanak.
Aaaaaaaaaarrrrrggggggghhhhhhhhhh
kuntilanak itu mengerang kesakitan. Tangan nya pun melepas leher Laras. Melihat Kuntilanak kesakitan. Laras tidak menyia nyiakan kesempatan. Ia berlari meninggalkan kuntilanak yang sedang kesakitan. Kuntilanak terus mengejar Laras.
Beruntung nya kuntilanak itu tidak mengejar laras sampe kedalam rumah. Lekas sarah menutup pintu belakang rumah. Tiba tiba seseorang anak kecil muncul di hadapan nya.
hhhuuuhhhhhhh Nafas Laras ngos ngosan
"Mbak ngapain disini? Ibu dan bapak sudah menunggu mbak dari tadi, " Ujar Nurul mengagetkan Laras.
Laras tidak menjawab pertanyaan Nurul. Ia hanya meyunggingkan senyuman dan menggandeng tangan Nurul ke ruang tamu.
Laras dan Adeknya berjalan kearah kami. kamipun mempersilahkan Laras duduk dan memberinya air minum. Laras mulai bercerita mulai dari awal.
FLASHBACK ON
Ting ting ting ting ting ting,,,
Suara bel pulang sekolah berbunyi saat nya pulang. Aku membereskan peralatan menulis ku kedalam tas. Ketua kelas memimpin doa bersama. Selesai berdoa kami bersalaman kepada Bu wati satu persatu. Anak anak berhamburan meninggalkan kelas untuk pulang kerumah nya masing masing.
Sedang kan aku sudah ditunggu adik ku didepan kelas. padahal Bapak meminta adik ku untuk pulang bersama Bapak saja dijemput sepeda. Namun, Adik selalu tidak mau. Katanya Ia mau pulang bersama aku saja. seru naik angkot. ya sudah lah mau gimana lagi. Bapak dan Ibu pun agak setuju dengan keputusan Nurul.
Nurul lebih memilih untuk menungguku didepan kelas dari pada pulang bersama Bapak. Adik ku pulang jam 10 siang. sedang kan aku pulang jam 10.30 menit. Kadang aku kasihan melihat adik ku menunggu selama itu . Apa mau dikata Ia kalo sudah minta nya seperti itu ya kami tidak bisa menolaknya.
"Ayo dek pulang. mbak sudah selesai belajarnya," Ajak ku kepada Nurul yang sedari tadi duduk di taman di depan kelas ku. Ia hanya berdiri menghampiri ku dan tersenyum melihat ku.
Nurul terlihat sangat ceria seperti biasa. Anehnya itu, dia memegang es berwarna merah 3 bungkus plastik. Tidak biasanya Nurul meminum Es yang varian strawberry. Ia kan tidak terlalu suka dengan yang berbau bau strawberry. Aku mencoba menanyakan nya. Tapi sudah lah suka suka dia.
Dalam perjalanan pulang aku mengingatkan kalo terlalu banyak minum es tidak baik untuk kesehatan. Namun Nurul tidak menggubris ucapan ku.
Pada saat aku berbincang bincang dengan adik ku. orang orang yang melihat ke arah ku menatapku dengan tatapan yang aneh. seakan akan aku telah berbuat sesuatu.
kami berdua menghadang angkot dipinggir jalan raya. Aneh nya hari ini angkot satupun tidak ada yang lewat. Padahal biasanya jika waktunya Anak anak pulang sekolah angkot angkot itu Berjejer menunggu kami.
Setelah beberapa waktu kami menunggu Angkot pun datang. Angkot ini sedikit berbeda dengan biasanya. Mungkin Angkot ini sudah termakan usia. Warna nya sudah karatan.
Awal nya aku ragu ragu menaiki angkot ini. Namun, melihat anak anak lain mulai memasuki angkot. Aku tidak berpikir panjang lagi. Apalagi sebelum aku naik, Nurul itu sudah masuk duluan.
Saat menaiki angkot, melihat wajah penumpang lain rasanya aneh. Tatapan mereka kosong. Melihat tingkah Nurul yang tidak malu meminta minum kepada penumpang lain membuatku tidak nyaman.
penumpang lain hanya diam dan menyodorkan minuman mereka tanpa berbicara satu kata pun. Aku menyatukan tanganku tanda meminta maaf kepada para penumpang.
Tidak ada respon sama sekali. Mereka tetap menatap kosong kearah depan. Rumah kami sudah dekat. Aku meminta turun di pertigaan depan. Namun pak sopir hanya mengangguk.
setelah kami berdua turun. Tampak sekilas aku melihat wajah semua penumpang itu tersenyum menakutkan. aku Bergidik ngeri melihat pemandangan tersebut.
Aku mengajak Nurul berbincang bincang. Namun Nurul sama sekali tidak menjawab semua perkataan ku.
gelagat Nurul sedikit berubah. Bagian tubuh belakang yang basah ku pegang. Dikira nya basah karna keringat ternyata Darah. Darah yang sedikit lama lama menjadi banyak sampai mengoyak kan baju di badan nya.
perlahan Nurul berubah wujud menjadi kuntilanak menakutkan. Ini bukan Adik ku.
FLASHBACK OFF
Tak luput juga aku menceritakan kuntilanak yang barusan menganggu ku. Dengan antusias Mereka mendengar ceritaku.
"Wahyu dan ahmad ada dikebun belakang mas " Resah ibu setelah mendengar ceritaku yang belum tuntas.
Bapak dan ibu langsung berlari menuju belakang rumah. Tadi pas aku kebelakang tidak melihat Mas ahmad dan mas wahyu. Tapi kenapa Ibu dan Bapak Berlarian ke belakang?
Bersambung dulu ya permirsa🥲🥰
like, vote dan jangan sungkan sungkan memberikan aku Gifts ya 🤭🤗
__ADS_1
Tambah kan aku ke Favorit biar tidak ketinggalan Up terbaruku...
love banyak banyak buat kalian🥰🌿