Kampung Horor

Kampung Horor
WAJAH CANTIK GENDHIS


__ADS_3

"Loh kok kamu kesini dek? bukan nya sudah mas bilang kalau nunggu di rumah saja? " tanya mas Faris kearah ku. Aku yang merasa salah tingkah karena polisi Satria dari tadi melihat ke arah ku.


"Aaanu aaanuuu iiitttuuu maass, "


"Anu itu bagaimana sih dek. Coba bicara pelan-pelan kamu kenapa bisa sampai disini bersama mbak Anindita?"


Aku yang Mendengar pertanyaan mas Faris semakin tidak bisa mengendalikan sikap ku. "Hm tadi sewaktu mas keluar terlebih dahulu dari rumah mbak Anindita. Kamu berdua merencanakan sesuatu untuk segera mengulik kebenaran dari Gendhis dan juga orang tuaku, " ucapku pelan yang didengarkan seksama oleh orang-orang disekitar sini.


Mendengar penjelasan ku Mas Faris dan semua nya melanjutkan kegiatan nya untuk menemukan mayat gadis itu. Para polisi itu membawa anjing pelacak sebagai mencari tanda keberadaan Gendhis.


Mereka menemukan kain yang lusuh akibat dari endapan tanah bertahun-tahun. Teriakan salah satu polisi mengagetkan kami semua. Mereka mengangkat mayat gadis itu secara hati-hati. Entah amalan baik apa yang membuat jasad Gendhis utuh. Wajah cantik nya terlihat begitu jelas walaupun agak kotor karena lumpur yang menimbun nya. Tidak terasa air mata ku jatuh seketika saat melihat wajah polos Gendhis. Aku kembali teringat akan cerita Wahyu dan Ahmad. Dengan begitu keji mas Aji menyiksa perempuan ini.


Rasanya kaki tidak kuat berpijak diatas tanah. Mustahil mayat sudah beberapa tahun di kubur dan tubuhnya masih utuh. Cuma bau menyengat seperti bangkai berasal dari ******** nya. Aku sudah menceritakan masa lalu mas Aji dan Gendhis. Bagaimana perasaan seorang perempuan yang tidak hancur saat mendengar penyiksaan dan pengkhianatan begitu keji dan tidak bermoral.


Aku yang hanya mendengar dari mulut kedua anak ku saja sudah tidak kuat rasanya. Apalagi Gendhis seorang wanita bertubuh mungil berparas ayu bisa menjadi korban nafsu setan mas Aji. Mayat Gendhis dibawa ke balai desa. Malam ini menjadi malam yang menyedihkan untuk para wanita. Karena Siapa yang akan tega melihat sayatan dan tusukan di sekujur tubuh perempuan yang akan segera menjadi seorang Ibu. Akibat ulah dari pria yang berhati jahat.


Dimana pikiran mereka yang bisa melakukan hal bejat seperti ini. Padahal mereka dari kecil di didik, di kasih bekal agama dan pendidikan, di rawat sejak masih didalam kandungan oleh seorang wanita. Kenapa mereka malah menyia-nyiakan seorang wanita. Dimana hati nurani nya. Padahal perjuangan seorang ibu tidak ada putusnya mulai dari kau berada di kandungan. Sampai kita dilahirkan di dunia dengan penuh perjuangan. Hidup atau mati seorang ibu sudah tidak ada harga nya dibandingkan untuk melahirkan putra-putri nya.

__ADS_1


Bahkan Ibu lebih mementingkan nyawa anak-anak nya ketimbang dirinya. Ia lebih memilih mati asal anak nya hidup di dunia dan bahagia. Setelah kita dilahirkan perjuangan seorang ibu tidak sampai disitu saja. Ia rela bangun dari tidur lelapnya hanya karena ingin memberimu air susu. Lalu apakah pantas setelah perjuangan seorang ibu yang tidak kunjung usai. Apa pantas kita menyia-nyiakan seorang wanita hanya karena ego kita sendiri. Hanya untuk nafsu sesaat. Selama Ibu kita masih ada kita hargai dia kita hormati dia sebagai mana kita dulu di sayang nya.


Para warga Roro Asti berkumpul mengerubungi mayat Gendhis. Kini mereka membagi tugas untuk keadilan perempuan itu. Dua polisi menuju kerumah mas Aji di dampingi pak kampung beserta dua warga lain nya. Mas Faris dan tiga warga lain nya pergi menuju rumah Gendhis. Sedangkan Aku tetap berada di balai desa bersama pak kyai, Mbak Anindita dan warga lain untuk persiapan memandikan jenazah.


...----------------...


pOV Pak Faris


Aku dan Bapak-bapak yang lain berjalan menuju ke desa Joyo Asri. Kami mencari kediaman keluarga dari Gendhis. Benar memang sekarang malam menjelang pagi. Hanya ada dua sampai tiga orang yang berlalu lalang di desa ini. Desa ini tidak seluas Roro Asri. Jadi untuk mencarinya tidak begitu sulit.


Namun kehadiran kami tidak diinginkan oleh warga joyo Asri. Mereka menganggap kami datang hanya untuk membuat keributan. Karena kami dagang berbondong-bondong. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang menghantam wajah ku. Wajahnya merah penuh amarah.


"Kalian siapa? Ada perlu apa mencari rumah Gendhis heh?" mata laki-laki itu melotot kearah kami. Aku mencoba menenangkan dan menjelaskan niat kami kesini. Namun Laki-laki itu tidak mendengarkan ucapan ku. Ia masih keukeuh ingin menghajar ku.


Pak polisi menenangkan situasi agar kondusif. Salah satu bapak-bapak mencoba berdiri dan berbicara kepada kami. Kalau barusan yang menyerang ku ialah kakak kandung dari Gendhis. Bahrul namanya. Ia bersama keluarga sudah sejak lama mencari keberadaan adiknya yang tidak kunjung pulang.


Terakhir mendengar kabar dari warga jika Gendhis pergi dengan keadaan yang memilukan. Perempuan itu pergi dengan tangan terluka memegang pisau. Keluarga mana yang akan diam saja saat adik atau anak nya pergi dengan keadaan seperti itu. Setelah menjelaskan niat kami, kakak dari Gendhis akhirnya bisa diajak mengobrol dengan kepala dingin.

__ADS_1


Aku menjelaskan dengan terperinci agar warga Joyo Asri tidak salah paham dengan perkataan ku. Apalagi mas Bahrul kakak kandung dari Gendhis. Saat ini Ia sedang sensitif. Selesai menceritakan semua kejadian tentang Adiknya. Mas Bahrul mengajak kami menuju ke kediaman nya.


Seperti tidak asing ketika melihat rumah Gendhis. Sepertinya aku pernah ke sini. Tapi entah kapan? hmm seperti ada suatu kenangan di tempat ini.


Kami berjalan memasuki kediaman Gendhis dan keluarga. Beberapa kali kami mengucapkan salam. Namun tidak ada orang yang keluar dari rumah. Saat kami disuruh memasuki rumah itu. Aku yang notabene nya tidak pernah melihat dan bahkan jarang melihat hantu. Tiba-tiba saja dikagetkan seseorang di kursi goyang yang menghadap ke pojok tembok. Seorang wanita yang duduk dengan rambut berwarna putih.


Ia menoleh kearah ku. Wajah nya pucat, lingkaran mata yang nampak hitam dan Bola matanya melotot kearah ku. Wajah nenek tua itu perlahan berubah menjadi wajah yang menyeramkan. Tidak ini bukan manusia. Melainkan sesosok makhluk dari alam lain. Lihat saja kaki nya yang tidak napak ke tanah.


Keringat menjalar keseluruh badan. Rasa takut mulai menyerang jiwa ku. Aku mencoba tenang. Namun tetap saja semua tidak berubah. Nenek tua itu terus melihat kearah ku dengan wajah seram nya. Semua doa-doa yang ku hafal dibaca satu persatu.


"Loh pak Faris kenapa belum juga masuk? Saya jadi ndak enak karena sudah ditungguin pak Faris seperti ini. Mari pak kita menunggu pak Bahrul dan keluarga nya duduk dirumah saja"


"E e e e iya pak. Mari kita duduk disana. Bapak-Bapak yang lain ke mana semua pak," ucapku kepada polisi Faris. Pada saat kemunculan pak Faris. Tiba-tiba saja nenek yang berada di kursi goyang tersebut tidak ada. Entah kemama perginya.


Kami berdua pun duduk sembari menunggu kedatangan keluarga mas Bahrul datang. Pak Faris membuka pembicaraan. Beliau menanyakan tentang keluargaku. Aku sedikit curiga kenapa pak Faris selalu menanyakan tentang istriku. Saat aku bercerita tentang Dek Narsih. Pak Faris hanya mengangguk dan tersenyum. Seperti mengingat-ngingat sesuatu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2