Kampung Horor

Kampung Horor
MENEROR WARGA


__ADS_3

(JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK🙏❤)


Vote, like dan komentar pembaca akan sangat membantu Author untuk bisa UP tiap hari.


tambahkan ke favorit agar tidak ketinggalan Episode terbaru dari saya🤗.


Thanks Loyal readers 🙌🏻🥰


...----------------...


Adzan subuh membangunkan Bu Narsih dari tidur nya yang nyenyak. Terlintas dibenaknya kejadian semalam. Lekas lah Ia memeriksa anak anak takut kuntilanak merah membawa nya lagi. Melihat ke arah suami sudah tidak ada lagi di tempat tidur nya.


Kenapa Mas Faris pergi sepagi ini? Tapi bukan nya mas Faris tadi malam bilang kalau dirinya tidak pergi ke sawah?


"Nduk Le ayo bangun sholat subuh dulu " Bu Narsih membangunkan anak nya satu persatu untuk sholat subuh.


Mereka kompak menggeliat bersamaan. Dengan menggelitik adalah cara untuk membangunkan Laras dan Adik nya Nurul yang susah untuk dibangunin. Mereka berdua kalau di bangunin untuk sholat subuh pasti lelet. Berbeda dengan Ahmad dan wahyu kalau dibangunin untuk sholat mereka langsung bangun. Karena takut mendapat pecut dari Bapak nya.


Hmmmmmm Aroma masakan dari dapur berkeliaran mengitari rumah.


Nurul Bergelandotan di belakang Ibunya. Mereka pergi menuju dapur. Satu persatu mereka mendatangi Bapak yang sedang memasak di dapur.


"Mas kenapa masak sih, Biar Adek saja yang masak mas. Aku jadi ga enak kalo seperti ini" Ucap Bu Narsih kepada suaminya yang terlihat sibuk dengan tangan nya mengulek sambel di cobek.


"Tadi mas ga bisa tidur dek. Jadi setelah sholat mas langsung masak. Mau bangunin adek mas ga tega. Wajah adek terlihat kelelahan"


Bu Narsih menurunkan Nurul lalu menyuruh nya ke kamar mandi. Ia mendekat dan memeluk suaminya dari belakang. Terlihat wajah berseri menandakan bahagia saat suaminya pengertian dan mau melakukan apa saja.


"Udah jangan nempel terus. Nanti mas nda tahan. Jangan mancing mancing mas loh ya. Udah tau si dede udah hampir satu bulan belum bermain di lorong yang sempit" Goda Pak Faris sembari merangkul dari samping.


"ih coba aja kalau berani. Lah wong dulu mas sering lakuin di mana aja kok. Apa nda ingat pas kita waktu masih pengantin baru" Bu Narsih mencoba nantangin suami nya yang mulai tergoda dengan jurus nya.


Mereka dari dulu memang susah senang bersama jadi apapun di lakukan bersama sama. Apalagi Bu Narsih menjadi saksi dari 0 suaminya tidak punya apa apa. Sampai sekarang yang sudah punya buruh tani dan karyawan di pasar.


Walaupun sekarang sudah sesukses ini Pak Faris tidak melupakan seseorang yang menemani nya dari nol.


Pak Faris hanya tersenyum saja melihat tingkah Istrinya yang mulai berani menggodanya. Padahal dulu Ia sangat pemalu. Mau buang angin saja harus lari menghindari nya.


Cuppppphhhh


Ia mengecup kening Istrinya. Senyum sumringah dari wajah Bu Narsih terlihat jelas saat suaminya mengecup kening nya beberapa kali. Mereka sampai lupa kalau di hadapan nya sudah berdiri ke empat anak nya menunggu Ibu nya untuk sholat berjamaah. Mereka menatap Bapak dan Ibunya dengan tatapan datar.


Hari ini pak Faris tidak pergi ke sawah. Mau menghabiskan waktu bersama anak dan istrinya dulu. Begitu pun Bu Narsih di larang pergi ke pasar untuk sementara ini sampai situasi di rasa aman. Mereka berlima sholat berjamaah. Karna pak Faris sudah sholat terlebih dahulu selesai sholat.


Kebetulan hari ini adalah hari libur jadi Anak anak selesai sarapan mereka pergi bermain di samping perkarangan rumah disana juga terlihat dua orang anak tetangga yang ikut bermain bersama mereka.


Bu Narsih membersihkan tempat tidur mereka yang berantakan. Tidak pantas jika ada tamu. Sedangkan keadaan rumah berantakan. Ia juga membersihkan seluruh ruang dirumah ini tak tersisa satu pun.


Sementara di kebun belakang pak Faris sedang berbincang bincang dengan pak Mahmud, mengenai panen nya pohon Mangga. Sudah dari dulu pak Faris menjual buah mangga nya kepada pak Mahmud. Buah mangga pak Faris besar besar dan rasanya juga asam manis segar. Jadi tak heran kalau warga di kampung Roro Asri lebih memilih beli di Pak Faris langsung ketimbang ke pasar. Harga nya juga lebih murah dari pasar.


...----------------...


Pov Bu Narsih


"Assalamu'alaikum" Ucap seseorang dari pintu depan.


"Waalaikumsalam" Jawab ku dari dalam. Aku membuka pintu. Rupanya pak kyai yang berkunjung pagi pagi buta ini.


Aku memanggil Mas Faris di kebun belakang karna ada tamu. Mas Faris meninggalkan pak Mahmud beserta anak buah pak Mahmud yang akan memanen buah Mangga nya.


"Sampean tinggal riyen pun Nak Faris. Biar aku dan anak buah ku yang memanen buah mangga ini seperti biasa" Jawab pak Mahmud seraya tersenyum kearah kami.


Aku dan mas Faris meninggalkan pak Mahmud dan anak buahnya di kebun. Kami menuju dalam rumah dan menemui pak kyai diruang tamu.


Aku ke dapur untuk membuat teh hangat. Pak kyai datang berkunjung karena ada sesuatu hal mau di tanyakan kepada kami yang ada hubungan nya dengan kuntilanak merah.


"Monggoh pak kyai di unjuk Teh nya mumpung masih anget" Ucap ku menawarkan yang hanya di jawab anggukan.


Pak kyai mengatakan kalau warga mulai resah dengan teror nya kuntilanak merah yang tak kunjung usai.


Tadi pagi saja anak nya Bu Sari di datangi kuntilanak merah pada saat buang besar di belakang rumah nya. Dikira ibu nya yang nungguin di sambi mencuci piring. Ternyata pas dia ngintip dari bolongan kecil di pintu. Ia kaget kalau yang mencuci piring bukan lah Bu sari. Melainkan seseorang berbaju merah dengan rambut panjang nya yang menjuntai kebawah. Kuku panjang di semua jari tangan sangat menakutkan bagi anak kecil seperti Anak nya Bu Sari.


Pada saat seorang wanita itu menoleh ke arah nya Bima melonjak kaget. Lingkaran merah berwarna hitam dan tatapan mata yang sendu. Tangan yang penuh borok luka memainkan piring piring dan sendok milik Bu Sari. Terkadang ekspresi wanita itu tertawa menakutkan sambil menunjuk kan gigi nya yang panjang dan tajam. Kadang Ia juga menangis. Air yang keluar dari matanya bukan air mata seperti orang pada umum nya. Melainkan darah.


Bima menyiram pelan pelan air ke dalam WC. Takut kedengaran kuntilanak itu. Selesai menuntaskan hajat nya Ia kembali melihat ke bolongan kecil tadi.

__ADS_1


Syukurlah


Ia merasa kesenangan karna wanita yang menyeramkan tadi sudah tidak ada lagi.


Hihihihihi hihihihihi kamu mencari siapa anak ganteng hihihihihi


Aaaaakkkhhhhhh Ibuuuuuuuuuuuu


wanita itu berada tepat dibelakang Bima. Anak itu terpontang panting berlari tak tau arah sampai menginjak kaki Bapak nya yang sedang tiduran sambil menonton TV.


Bapak nya memarahinya karna terkejut sekaligus kaget . Bima meringkuk kan badan nya dikamar depan. Sampai sekarang badan Bima panas dingin akibat ulah kuntilanak merah itu.


Aku yang mendengar pak kyai bercerita bulu kuduk ku langsung berdiri merinding karena takut. Aku pun pergi melihat anak anak yang sedang main di samping rumah. Anak anak tak suruh main di perkarangan depan rumah saja biar bisa ku awasi. Mereka semua menuruti permintaan ku. Aku pun kembali ke ruang tamu.


Mendengar cerita pak kyai mengingat kan ku cerita mbak Ida yang tadi pagi bercerita kalau di datangi Kuntilanak merah itu. Akhir nya aku juga bercerita kepada pak kyai.


Kejadian ini terjadi tadi pagi pagi buta. Setelah adzan subuh. Memang setiap hari mertua nya Mbak ida datang kerumah nya mengambil makanan yang sudah di masak nya. Kebetulan di rumah mbak Ida hanya ada suaminya, dua anak cowok nya. Mereka tidur di kamar masing masing.


Tok tok tok tok tok tok tok


Suara ketukan berasal dari pintu depan. Kebetulan mbak Ida sedang mencuci piring di dekat sumur. Tidak biasa nya Ibu mertua mengetuk pintu depan. Biasa nya Ia langsung membuka pintu dapur dan langsung membawa makanan nya itu pulang. Ini sedikit aneh menurut nya.


Tok tok tok tok tok tok tok


Ketukan pintu itu terdengar lagi. Mbak Ida sedikit geram karna Ibu mertua nya tidak kunjung masuk ke dalam rumah seperti biasanya. Mbak Ida mencoba bersabar siapa tahu Ibu mertuanya akan masuk.


"Masuk saja buk. Lewat pintu dapur saja tidak dikunci. Seperti biasa buk" Teriak mbak Ida dari dapur. Tetap saja Ibu mertua nya tidak masuk ke dalam rumah.


Tiba tiba saja indra penciuman Mbak Ida mencium bunga kantil. Setelah bau bunga kantil hilang kini telah berganti bau bangkai yang sangat mengganggu hidung nya.


Tok tok tok tok tok tok


Mbak Ida semakin geram akhir nya membuka pintu dapur itu. Ia melangkah kan kaki nya ke pintu dapur. Setelah pintu terbuka, Melihat ke sekeliling tidak ada apapun. Tidak ada seseorang yang berada di sini. Hanya kegelapan.


huekkkkk hueekkkk


Bau bangkai tercium lagi. Ia menutup pintu dan kembali ke dapur untuk mencuci baju. Pada saat dirinya menimba air di sumur tiba tiba Ia melihat sekelebat bayangan seseorang memasuki rumah nya dari arah pintu dapur. Ia mengira kalau yang lewat barusan Ialah Ibu mertua nya.


Ia tetap saja menerus kan pekerjaan nya. Mencuci pakaian nya. Suara gaduh terdengar dari meja makan nya seperti orang makan.


Apa Ibu mertua makan disini ya? Suara nya kok ricuh gitu. Tapi tumben dia makan di sini. Apalagi tidak menegur ku dulu yang berada disini. Ini sedikit aneh. Sudah lah mungkin Ia kelaparan. Jadi ga sempat menyapa ku.


"Astagfirullah kenapa rambut Ibu menjuntai ke bawah dan gimbal seperti itu. Sejak kapan Ibu memakai jubah panjang yang berwarna merah. Bukan nya Ibu ga suka warna merah. Biasa nya juga Ibu memakai daster selutut"


Mbak Ida melihat Ibu mertuanya makan membelakangi nya. Piring dan sendok berserakan dimana mana. Pantasan Ibu mertua nya tidak mau makan disini sebab cara makan nya seperti itu. Mungkin tidak enak pada mbak Ida.


Mbak Ida melewati nya karna terburu buru takut kesiangan.


Hihihihihihi hihihi hihihihi


"Hah suara apa itu?" Mbak Ida melongo mencari kesana kemari dari mana asal suara menakutkan itu.


Ia mencoba menanyakan kepada Ibu mertua nya. Namun langkah nya terhenti saat wanita berbaju merah itu membalikan badan nya.


Aaaaaaakkkkhhhh Astagfirullahalazim


Melihat wajah yang menakutkan membuat kaki Mbak Ida lemas tidak bertenaga. Mulut wanita itu lebar sampai terkoyak bibir sisi kanan dan kiri nya. Terpampang jelas wajah jelek dan menakutkan kuntilanak merah itu. Kuntilanak itu menangkring diatas meja makan.


Hihihihihihi hihihi masakan mu enak hihihihihi


Mbak Ida mencoba memanggil suami nya. Namun suara nya tertahan. Ia tak kuat melihat wajah menyeramkan itu. Akhirnya Mbak Ida pingsan tak sadar kan diri.


Ia ditemukan pingsan lumayan lama. Ia ditemukan pingsan oleh anak nya yang bernama Gilang pingsan di meja makan.


Akhirnya Mbak Ida diam seribu bahasa karena pingsan.


"Mendengar cerita pak kyai dan cerita istri ku membuat aku teringat kejadian tadi pagi setelah bangun tidur" Ucap suami ku dengan nada bicara yang antusias kepada pak kyai.


"Emang mas kenapa tadi pagi. Apa mas bertemu dengan kuntilanak merah juga. Lah wong tadi aku nda dengar apa apa tuh" Goda ku sambil menyeruput teh buatan ku sendiri yang manis nya pas.


Mas Faris mengatakan kalau dirinya tadi pagi pagi buta sudah kedatangannya tamu. Siapa lagi tamu pagi pagi buat yang datang kalau bukan si kuntilanak merah.


"Uhuk uhuk uhuk"


Mendengar mas Faris mulai bercerita membuat ku kaget sampai keselek ludah ku sendiri. Rupanya benar kuntilanak itu datang menggoda suamiku. Dengan Antusias kami mendengar cerita mas Faris.

__ADS_1


Pukul setengah 4 pagi terbangun karna tidak bisa tidur. Akhirnya memutuskan untuk pergi sholat tahajud. Ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Langkah kaki nya terhenti karena Melihat ku sedang terlentang tiduran di kamar Laras. Waktu itu aku sedang memakai baju yang sangat terbuka membuat Mas Faris tak sabar ingin melahap ku.


"Dek kok tumben pakai baju seksi kayak gini sih? Ih pakek dandan lagi. Mau kemana sih sayang" Mas Faris mendekati seseorang yang mirip dengan ku.


Mas Faris langsung mencumbu nya dengan ganas. Jelmaan itu ditindih nya. Ia menyentuh dan mencium. Mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Cacing Alaska yang besar sudah dibuka dari sarang dan kini berada di depan mata. Mengangguk ngangguk tanda ingin masuk kedalam liat kenikmatan.


Mas Faris membuka kaki jelmaan lebar lebar. satu per satu kancing mulai di buka. Sampai akhirnya Kancing bagian perut mulai di buka.


Aaakkkhhhhhhhh


Mas Faris terkejut setelah membuka baju tepat di bagian perut ternyata perutnya bolong. Terdapat banyak belatung yang besar besar disana. Darah dan nanah busuk juga memenuhi perut. Organ dalam yang berada di perut keluar semua.


Mas Faris terperanjat menjauh. Ia memasang lagi sarung yang tadi di gunakan. Wanita yang semula Adalah aku perlahan berubah menjadi wanita berbaju merah dengan rambut yang menjuntai ke bawah dan Wajah yang menakutkan.


Bola mata nya yang besar seperti ingin keluar. Bergerak ke kanan dan ke kiri.


hihihihi hihihihihi hihihihihi


"Ayo mas lanjutkan aksi mu mas. hihihihihi Sentuh aku mas. Aku Narsih"


"Tidak kamu bukan Narsih istri ku. Kamu wanita jahat yang mau mengambil nyawa putraku. Siapa kamu? Apa Tujuan mu mengganggu keluarga ku heh?"


"Hihihihihi hihihihihihi Haaaaaaaaaa tolong aku mas. Temukan jasad ku massss. Tollooooong haaaahhaaaaa hihihihihi"


Kuntilanak merah itu kadang tertawa kadang menangis. Mas Faris yang bersembunyi di tembok depan kamar Laras ketakutan. Kuntilanak merah itu nyengir ke arah nya menunjukkan gigi tajam.


Aaaakkkkkhhhhhh


Kuntilanak merah itu melompat ke arah Mas Faris. Ia lari pontang panting ketakutan menuju mushola. Kuntilanak tetap mengikuti nya merangkak sangat cepat. Mas Faris terus berlari menuju dapur.


Syukurlah kuntilanak merah tidak mengikuti sampai kesini


huuhhhh huhhhh Nafas Mas Faris tidak beraturan. Ia ngos ngosan akibat ulah kuntilanak merah.


kriiiietttt kriiieeeettttt


Terdengar suara kuku yang mencakar keras plafon. Ia mencari asal suara namun tidak ditemukan. Saat hendak membuka pintu belakang tiba tiba semua dinding berubah menjadi darah.


"hiyekkkk apa yang ku injak ini"


Mas Faris tak sengaja menginjak mata kuntilanak yang berada di bawah nya. Dinding dapur berubah menjadi darah merah sedikit kehitaman dengan belatung besar di mana mana. Keringat bercucuran di seluruh tubuh nya.


Hueeeekkkkk


Bau busuk menyengat indra penciuman. Kuntilanak merah itu nangkring di atas plafon rumah melotot ke arah Mas Faris. Ia mencoba mencari pintu namun tidak menemukan nya. Di ruangan itu tak terlihat satu pun benda rumah.


Aaaaaaakkkkhhhhhhh Lepasin lepasin akuu


Kuntilanak itu mencekik mas Faris dengan tangan nya yang penuh borok.


"Toooolllooong bantttuuuuu gendhiiisssssss. Massss Ajiiiii harussss matiiiiiii hihihihihi" Kuntilanak merah itu terus mengucapkan kalimat itu berulang kali.


Berkali kali Mas Faris mencoba menutup mata karna wajah mengerikan makhluk ini berada tepat di depan wajahnya.


Nafas Mas Faris mulai ngos ngosan. Penglihatan mulai kabur. Karna cekikan kuntilanak merah ini sangat sadis.


Allahuakbar AllahuAkbar


Suara Adzan subuh menjadi penyelamat dari cengkraman maut si kuntilanak merah.


"Huuuuhhhhhh Alhamdulillah ya Allah"


Seketika rumah pun kembali seperti semula. Tidak ada bekas darah ataupun bekas cekikan di leher Mas Faris. Ia Lekas mandi besar dan menunaikan kewajiban nya bertemu sang Pencipta.


Ia memulai memasak sarapan pagi untuk meringankan pekerjaan rumah ku.


Aku mendengar cerita dari Mas Faris semakin takut dan khawatir akan keselamatan anak anak ku.


"Pak kyai semua kejadian dirumah ini kenapa intinya sama ya. Mulai dari wahyu dan ahmad hilang dibawa kuntilanak merah, Laras yang digoda kuntilanak merah menyamar jadi aku, Sekarang Mas Faris yang hampir celaka gara gara kuntilanak merah. Inti dari semua gangguan ialah aji dan gendhis" aku menjelaskan kepada pak kyai.


Raut wajah pak kyai terlihat seperti berpikir sesuatu. Tiba tiba ia meminta tolong panggilkan anak anak yang sedang main di depan rumah...


Bersambung....


Ada apa dengan pak kyai ya...?

__ADS_1


Apakah pak kyai akan menyelesaikan teror?


Ditunggu di BAB selanjutnya ya Bestie🙏


__ADS_2