
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK🙏❤
Vote, like dan komentar pembaca akan sangat membantu Author untuk bisa UP tiap hari.
tambahkan ke favorit agar tidak ketinggalan Episode terbaru dari saya🤗.
Thanks Loyal readers 🙌🏻🥰
...----------------...
Siapa yang menyiram kami. Aku dan mas Wahyu pun mengerjapkan mata. Kenapa Kami disiram air yang berisi bunga tujuh rupa.Tangisan. Iya aku mendengar tangisan banyak orang. Mata kami silau terkena cahaya lampu yang begitu terang benderang. Kenapa kami dimandikan seperti ini. Ada apa dengan kami.
"Bbbbaaappppaaaakkk Baaappppaaaakkk.." ucapku memanggil Bapak yang menangis sambil menyirami ku. Aku mencoba bangkit dan membantu Mas Wahyu untuk duduk.
Aaaakkhhhhh akhir nya kami bisa bangkit dan menghindari siraman Bapak Bapak itu. Loh aku dan Mas Wahyu kan sudah bangun tapi kenapa aku masih bisa melihat kami masih tertidur di atas Amben tempat tidur. Aku pun mencoba memanggil manggil Pak kyai dan juga Bapak. Namun mereka sama sekali tak menggubris panggilan kami. Mas Wahyu menyentuh nyentuh lengan Bapak. Namun Sentuhan itu tembus.
Aku dan Mas Wahyu semakin bingung. Kami tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Hati kami tersentak saat melihat Tangisan Orang orang. Apalagi tangisan orang tua ku. Oh ibu ada apa dengan ini semua bu. Aku ingin memeluk Ibu dan Bapak. Terlihat juga di sana Adek Laras dan Nurul sedang duduk menemani ibu. Mata mereka lebam seakan akan tidak tidur beberapa hari.
Tangan kecil ku ingin memeluk seorang Ibu yang sangat aku sayang. Ibu dan Bapak dengan susah payah sudah membesarkan ku. Aku ingin memeluk mereka akan tetapi setiap kali aku menyentuh mereka. Sentuhan kami menembus dari tubuh mereka. Tangisan ku dan mas Wahyu pecah. "Ahmad ingin pulang Ibuuu Ahmad ingin memeluk ibuuuu. Ahmad sayang ibu." Suaraku parau.
Mati? Apakah kami sudah mati. Tidak kenapa kami bisa mati. Aku belum siap meninggalkan Ibu Bapak dan Adik adik ku. Terlihat aku dan mas Wahyu dibopong oleh kerumunan Bapak Bapak. Tangisan ibu ku semakin parau melihat kedua anak nya di bopong. Ibu ibu yang lain meninggalkan Ibuku bersama Bu Tyas dan Bu Ina. Bapak Bapak itu mempersiapkan kain kafan dan perlengkapan untuk membungkus kami. Iya kami sudah meninggal dunia. kami sudah berbeda alam dengan mereka. Terlihat wajah pucat dan mata lebam kami. Aku menangisi diriku sendiri. Kenapa aku meninggal secepat ini. Tiba tiba aku merasakan seperti ada yang memukul kami dari belakang.
Aaaakkkhhhhhh.
Mereka berdua tidak sadarkan diri cukup lama. Wahyu merasakan sakit di bagian belakang kepala nya. Selang beberapa waktu Ahmad juga terbangun dan juga merasakan hal yang sama seperti Wahyu. Ahmad bertanya tanya kepada Wahyu dimana dia berada dan kenapa tempat ini sangat luas sekali. Ahmad merasakan hembusan angin. Iya mereka berdua seperti berada di gurun pasir yang sangat luas dan sepi hanya ada mereka berdua. Mereka berdua mencoba bangkit dan mencari jalan arah pulang.
Cukup lama mereka berputar putar mencari arah. Ahmad dan Wahyu merasa lelah dan sangat haus. Mereka pun menyandarkan badan nya ke pohon kelapa yang berada di gurun pasir itu. Entah kenapa bisa hidup pohon kelapa yang sangat rindang ditengah tengah panas nya gurun pasir ini. Dari kejauhan ada seseorang yang berbadan besar menghampiri mereka.
Berkali kali mereka ingin bangkit dan mencoba memanggil seseorang itu. Namun berkali kali juga tubuh mereka tidak bisa digerakkan. Mereka pun menangis sejadi jadi nya. Seseorang berbadan besar itu sama sekali tidak kelihatan wajah nya. Hanya saja Gamis putih yang dipakai menjuntai ke tanah. Seseorang itu membawa dua gelas yang berisi air kelapa di dalam nya. Ia memberikan nya kepada kami.
Cukup lama seseorang itu bersama kami. Aku ingin mengajak nya berbicara tapi tidak bisa. Siapa seseorang ini. Dari mana asalnya. Kenapa kami bisa berada di sini.
__ADS_1
Wahyu dan Ahmad menutup mata nya. Karena silau akan cahaya yang berada di depan nya. Ahmad dan Wahyu pun meminum air kelapa pemberian seseorang berbadan besar dan tinggi itu. Setelah meminum nya mereka pun di suruh pulang. Mereka kebingungan mau pulang lewat mana. lah wong dari tadi mereka hanya berputar putar saja tidak ada jalan keluar.
"Nak. Mbalek o wae. Iki sek gurung wayahmu mulih madep gusti Allah. Tugas kalian gurung mari ing dunyo. Sakniki sampean iki kabeh mbalek o mulih melu aku.. " Ajak pak kyai itu kepada Wahyu dan Ahmad. Namun pak kyai tidak menunjukkan badan nya.
(Nak, Kembali lah. Ini belum waktu nya kamu pulang untuk menghadap Allah. Tugas kalian belum selesai di dunia. Sekarang kalian berdua kembali lah ikut aku...)
Tiba tiba kami mendengar suara. Kami berdua tidak asing dengan suara ini. Sepertinya kami setiap sore selalu mendengar suara ini. pak kyai. Iya benar itu suara pak kyai. kami pun bangkit dari duduk nya. Aneh kenapa setelah minum kami bisa berdiri. Sudah lah yang terpenting sekarang kami menemukan seseorang untuk mengajak nya pulang. kami bangkit mencari asal suara itu. "Ayo nak cah ganteng cah apik melok o cahaya iku. Rungokne suarane pak kyai yo leh.... " suara pak kyai menggema di gurun pasir itu.
(Ayo nak yang ganteng anak baik ikuti cahaya itu. Dengarkan suara pak kyai ya nak...)
kami berdua mengikuti sesuai instruksi pak kyai. kami berjalan beriringan mendekati cahaya itu. Mata kami silau karna cahaya di hadapan nya sangat terang benderang. aaakkkhhhh keringat yang bercucuran membasahi tubuh kami.
"Ayo cah ganteng bukaen mripate. Sakniki samean kabeh uwis onok ing omah. Ayo buka mripate alon alon.. " Suara pak kyai mulai sirna. kami berdua mendengar kan perintah pak kyai.
(Ayo anak ganteng buka matanya. Sekarang kalian sudah ada dirumah. Ayo buka matanya perlahan)
kami pun membuka matanya dan mencoba menggerak gerakan jarinya.
Penduduk kampung yang melihat sendiri kejadian aneh ini jelas kaget dan tidak percaya keajaiban ini datang dan benar ada nya. Bu Narsih dan pak Faris sangat bahagia melihat anak nya hidup kembali. kapas kapas yang ditempelkan di hidung dan telinga mereka pun di buang. Bu Narsih dan pak Faris pun membopong Wahyu dan Ahmad ke kamar mandi nya. Mereka memandikan kedua anak nya serta pak kyai memberikan doa agar mata jahat tidak mengincar mereka lagi.
Sedangkan penduduk kampung membersihkan rumah Pak Faris seperti semula. Ibu ibu menyapu mengepel rumah pak Faris seperti sedia kala. Sementara Bapak Bapak yang lain mengembalikan semua peralatan jenazah ke pemakaman umum. Setelah semua selesai mereka tidak langsung di perbolehkan pulang oleh Pak kyai dan Bu Tyas. Pak kyai meminta warga kampung untuk mengaji bersama mendoakan Wahyu dan Ahmad karena telah kembali ke pangkuan Ibu dan Bapak nya serta berdoa untuk kesejahteraan warga kampung RORO ASRI.
Di dalam kamar Bu Narsih bertanya dari mana Anak anak nya kenapa bisa pingsan terlalu lama. Namun pak kyai belum memperbolehkan mereka untuk bercerita apa apa dulu. Pak kyai menanyakan apa mereka masih ingat dengan keluarganya dan juga warga kampung ini. Ahmad dan Wahyu mengangguk bersamaan. "Ahmad rindu Ibu dan Bapak " ucap Ahmad sambil memeluk erat Ibu dan Bapaknya. Wahyu tak mau kalah. Mereka ber enam berpelukan bersama. Pak Mahmud dan Bu Ina menangis terharu dengan keluarga pak Faris yang saling menyayangi.
Pak kyai pun menyuruh mereka duduk ke ruang tamu untuk mengaji atas keselamatan Ahmad dan Wahyu. Semua warga kampung RORO ASRI berkumpul dirumah pak Faris. Pak kyai pun memulai mengaji nya dengan Al Fatihah. Setelah doa bersama selesai Bu Narsih mengajak Bu Ina dan Bu Tyas untuk menemani nya ke belakang sebentar. Mereka bertiga pun kebelakang "Bu Ngapunten seng katah. Saya dan suami saya sudah bernazar kalau Anak anak kami selamat akan memberi santunan kepada warga kampung yang sudah membantu mendoakan anak kami. Ini ada sedikit uang 10 juta tolong bagikan kepada semua warga kampung. Dan ini uang 5 jutaan untuk Bu Ina dan Bu Tyas karna sebulan ini sudah membantu saya dan suami. Bukan maksud saya membayar kebaikan kalian akan tetapi saya sudah bernazar demikian. Tolong Bu jangan berpikiran jelek kepada saya dan suami. Karna saya sudah ikhlas dari lubuk hati yang paling dalam." lirih Bu Narsih sambil memberikan segepok uang kepada Bu Ina dan Bu Tyas.
Bu Ina dan Bu Tyas sempat menolak uang pemberian Bu Narsih. Namun setelah mendengar penjelasan Bu Narsih Mereka berdua Faham dan mengerti akan nazar Bu Narsih dan Pak Faris. Bu Ina dan Bu Tyas meminta amplop kepada Bu Narsih guna untuk membagikan rata uang tadi ke semua warga kampung yang hadir pada sore hari ini. Bu Narsih pun mengambil di laci depan TV diruang tengah. Bu Narsih dan Bu Tyas memasuk kan uang itu ke dalam amplop. Sedangkan Bu Ina menghitung warga kampung yang hadir. Setelah mereka selesai dengan misi nya mereka pun kembali ke ruang tamu untuk kembali berdoa.
Setelah selesai berdoa Bu Tyas pun mengumumkan niat baik Bu Narsih dan Pak Faris kepada seluruh warga kampung. Mendengar Perkataan Bu Tyas warga kampung bersamaan mengucapkan syukur atas kedermawanan Bu Narsih dan Pak Faris. Mereka semua tampak bahagia kecuali wajah Bu Endah dan Pak Basuki. Mereka suami istri rumahnya bertetanggaan dengan Bu Ida. Mereka berdua memasang wajah tidak suka setelah mendengar pengumuman dari Bu Tyas.
Acara pun sudah selesai saatnya mereka semua kembali ke rumah masing masing. Bu Tyas dan Pak kyai membagikan amplop kepada setiap warga yang bersalaman dengan nya. Tiba lah Bu Endah bersalaman dengan Bu Tyas dan Bu Narsih "Sering sering berbagi kek gini ya Bu biar anak nya selamat terus dan jauh dari musibah huhuhu" Ucap Bu Endah kepada Bu Narsih dengan bibir yang mengkerut.
__ADS_1
Bu Narsih mendengar perkataan yang dilontarkan Bu Endah hanya tersenyum pahit. "Sabar Nduk memang Bu Endah kalo bicara suka tidak direm. " Bisik Bu Tyas ke telinga Bu Narsih yang dibalas anggukan oleh nya.
...----------------...
Setelah mereka semua berpamitan pulang ke rumah masing masing. Suasana rumah menjadi sepi seperti biasa. Bapak meminta kami untuk tidur bersama saja di ruang tengah depan TV. "Nduk Laras dan Nurul tolong jagain Mas mu disini ya Ibuk dan Bapak mau mengambil karpet dan kasur lantai di dapur, " Ucap Bapak seraya berlalu pergi bersama Ibu ke belakang.
Sedangkan aku bersama kedua mas ku dan adik ku Nurul duduk berselonjoran didepan TV. Sebenarnya aku penasaran ingin menanyakan kedua mas ku ini selama sebulan pergi kemana saja. Sampai Pak kyai sudah memvonis bahwa mereka berdua sudah tak bernyawa. Mereka dibawa kemana sama kuntilanak merah itu.
Mengingat perkataan Pak kyai kalau kedua mas ku ini dilarang ditanya tanya sampai besok pagi. Aku pun menuruti apa yang Pak kyai perintah. Aku takut terjadi apa apa lagi dengan kedua mas ku ini. Aku tidak mau kehilangan mas ku lagi. Aku sayang mereka.
"Kenapa dek? " Ucap mas Wahyu menghapus air mata yang membasahi pipiku.
"Hm tidak apa apa mas Aku hanya mau bilang kalau Laras sangat menyayangi mas Ahmad dan mas Wahyu. Aku saaaayaaang kalian berdua" Ucapku sambil memeluk mereka berdua dan aku pun menunjukkan gigi putih ku ke mereka dengan nyengir kuda.
Nurul yang sedari tadi sibuk dengan membuka kacang tanah sambil menonton TV pun melihat kearah kami bertiga yang berpelukan. Ia pun meninggalkan kacang nya lalu ikut memeluk kami bertiga. Uhhh suasana malam ini sungguh mengharukan.
"Mas juga sayang kalian berdua" ucap mas Ahmad dan mas Wahyu bersamaan.
Tiba tiba Bapak dan Ibu datang dengan membawa karpet besar dan kasur lantai. "Loh ini kenapa kok pada berpelukan begini. Ayo selesaikan kegiatan kalian bantu ibuk dan Bapak ya menata semua ini biar kita bisa tidur disini. untuk sementara kita tidur disini dulu ya biar Bapak dan Ibu bisa leluasa menjaga kalian" Tukas Bapak menjelaskan kepada kami. Kami hanya mengangguk dan segera membantu mereka.
Kami semua menata karpet, kasur lantai, bantal guling dan selimut ke tempat nya masing masing. Setelah selesai kami pun duduk bersama diatas kasur lantai. Ibu pun membuka obrolan yang membuat ku semangat malam ini. Ibu mengajak aku dan Nurul untuk membuat cemilan dan membuat minuman untuk kita semua.
Aku dan Nurul pun mengikuti Ibu ke dapur. Sedangkan Bapak dan kedua mas ku mengupas singkong. Aku dan Nurul memotong sayuran untuk membuat bakwan. Sedangkan Ibu memanggang Ayam yang sudah di marinasi. kami pun memasak bersama sama. Suasana seperti ini lah yang aku rindu kan. Walaupun sederhana tapi berharga jika melakukan bersama sama.
Setelah semua matang kami pun membawa nya ke ruang tamu. kami bersama sama menyantap hidangan yang kami buat sendiri. Terlihat mas Ahmad dan mas Wahyu berebut sepotong paha ayam bakar. Kami yang melihatnya pun tertawa dengan kelakuan kedua mas ku ini. Sedangkan aku dan adik ku Nurul tertib makan nya seperti biasa. Selesai makan kami pun sholat isyak berjamaah di mushola dalam rumah.
Setelah kewajiban dilaksanakan akhirnya kami beranjak untuk tidur. Bapak tidur paling ujung sebelah kiri sedangkan Ibu tidur paling ujung sebelah kanan. Bapak dan bercerita tentang masa kecil anak anaknya. kami yang mendengarkan cerita pun akhirnya memejamkan mata satu persatu. Kami pun tertidur dengan perut kenyang.
Bersambung...
Sudah dulu ya bab kali ini... Author lanjut di bab selanjutnya ya bestie.. 😃
__ADS_1