
...----------------...
Aku menundukkan pandangan ke bawah. Karna di depan ada pohon gayam yang diatas nya ada Bapak dan Ibu ku bergelantungan melotot ke arah kami.
Astagfirullah
Sebenarnya nya ada apa dengan Bapak dan Ibu. Kenapa mereka bisa tidak tenang. Ya Allah mereka memanggil memanggil aku dan juga anak ku. Wahyu memeluk ku dengan erat. Aku tau pasti Ia melihat dua orang sedang bergelantungan mengerikan di atas pohon gayam.
Aku meminta Mas Faris untuk berjalan agak cepat. Ia sudah faham dengan gelagat ku seperti ini. Kami membaca Ayat Kursi bersama-sama. Alhamdulillah. Kami fokus ke bacaan kami jadi mereka tak mengikuti kami lagi.
"Assalamu'alaikum Pak Faris Bu Narsih" Sapa Bapak tua itu yang muncul tiba tiba dari balik pohon mangga.
"Wa'alaikumssalam Inggih pak. Baapak dari mana kenapa tiba-tiba muncul dari sana. Apa ada sesuatu?" Tanya ku sopan. Aku menanyakan karna penasaran.
Bapak itu hanya tersenyum kepada kami. Wajah Bapak ini seperti asing bagi ku. Karna kalau warga sini pasti Aku atau Mas Faris langsung mengenal nya. Anehnya kenapa beliau bisa tau nama ku dan juga nama suami ku.
"Kalian mau mencari rumah Aji kah?. Kalau Ingin mencari Aji dan juga Istrinya. Kalian pergilah ke desa Amisoro. Jangan beritahu mereka kalau aku yang memberitahu kalian. Rumah mereka berada dipaling ujung desa itu. Datang lah ba'da isyak. Karna Aji kalau malam tidak pernah ada dirumah. Mereka memiliki anak kembar cewek. Wajahnya tak jauh beda dengan anak kalian Laras" Mendengar ucapan beliau aku semakin tercengang dari mana bisa tahu sedetail itu tentang keluarga kami.
Setelah mendengarkan perkataan nya. Kami segera berpamitan untuk pulang. Kami berjalan menuju rumah. Entah mengapa perasaan ku tidak enak kepada Bapak barusan. Aku pun menoleh ke belakang. Loh kemana dia. Pergi ke mana dia. Kenapa dia pergi ke arah sungai di depan kuburan. Loh loh mau kemana dia. Aku yang mau memberitahu kan Mas Faris dan Wahyu tidak bisa.
Bapak itu menyebur ke sungai. Apa jangan jangan perasaan ku benar kalau dia bukan lah manusia. Mataku terus menatap tak berkedip menunggu Bapak itu muncul. Sekitar Dua puluh menitan Bapak itu tetap saja tidak muncul.
"Dek ngapain kamu bengong disitu. Nanti kesambet setan nya kuburan baru tau rasa loh. Ayo cepetan kasihan mereka yang menunggu di rumah dek" Ucap Mas Faris sembari menarik tangan ku pelan.
Aku pun berlalu pergi meninggal kan Bapak yang menyelam di sungai depan kuburan itu. Saat aku mau membalikkan badan ku.
Astagfirullahalazim
Bapak tua tadi muncul ke permukaan sungai dengan wajah hancur penuh darah. Sambil menjulurkan lidah panjang ke arah ku. Badan nya hanya tinggal pundak keatas. Badan bawah nya bukan kaki. Melainkan organ dalam yang di penuhi darah. Aku mempercepat langkah kaki ku sampai tak terasa melewati mas Faris dan Wahyu. Mereka menatapku dengan tatapan yang aneh. Karena tampak sekali wajah ku yang ketakutan.
"Ibu dari mana saja kenapa lama sekali Ibuuuuu" Rengek anak bungsu berlari mendekati ku.
Aku menggendong putri ku yang sudah besar ke dalam rumah. Pak kyai sudah tidak ada lagi dirumah. Aku merasa bersalah karna terlalu lama meninggalkan mereka. Saat berada dalam gendonganku Nurul meringis kesakitan.
"Aaahhh Ibu. Di perut Ibu ada apa kok seperti ada sesuatu yang mengganjal? " Ya Allah aku lupa kalau di perutku. Aku menyembunyikan gunting yang tadi ku temukan dibelakang rumah mbah juwariyah.
Aku mengeluarkan gunting stainless yang berbalut daun pisang di kerudung. Semua bukti-bukti akan kami kumpulkan terlebih dahulu. Kalau kita melapor ke polisi tidak ada bukti yang kuat. Maka polisi tidak akan memprosesnya.
Laras menunjukkan hasil dari pencarian tadi siang. Topi yang sering digunakan Mas Aji ada bersama Laras. Ia juga menemukan gelang kaki dan gelang emas yang cantik. Aku yakin ini milik dari Gendhis.
Aku menyusun rencana bersama Mas Faris.
Pada malam hari setelah sholat ishak aku dan suamiku pergi ke desa sebelah. Aku membawa Laras saja. Ahmad, Wahyu, dan Nurul ku titipkan kepada Mbak Ida yang baru pindah tadi sore di samping rumah ku. Sengaja aku dan Mas Faris memakai pakaian serba hitam agar misi kita berhasil.
__ADS_1
Perjalanan untuk sampai ke desa sebelah cukup melelahkan. Syukur lah aku tiba di sini tidak terlalu malam. Jadi masih pantas lah untuk bertamu.
TOK TOK TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum"
Cukup lama aku berdiri didepan rumah seseorang.
TOK TOK TOK TOK TOK
"Assalamu'alaikum"
Tak henti-henti nya aku mengucapkan salam dan mengetuk pintu rumah.
"Wa'alaikumssalam siapa ya?" Setelah cukup lama kami berdiam diri depan pintu. Kini pintu terbuka dan dibalik pintu ialah Aninditha. Ia memang tidak mengenaliku. Karna pada saat remaja aku sudah tidak tinggal lagi bersama Ibuku.Ternyata benar rumah yang ditunjukkan Bapak tadi. Walaupun Bapak itu bukan manusia tapi aku bersyukur karna sudah memberitahu rumah mas Aji.
"Aku Narsih adik nya mas Aji mbak dan ini suamiku. Ini mbak Aninditha bukan" Ucapku sopan.
"Ya Allah kowe ta Nduk. Loh wis nikah ta. Ayu saiki yo,Lah iki bojomu? Iyo iyo Cah ayu jodohe wong manis. Monggoh pinarak riyen Nduk. Tapi mas Aji ne ora enek e" Mbak Aninditha menyuruh ku masuk ke dalam rumah.
(Ya Allah kamu kah nduk. Loh sudah nikah ta. Cantik sekarang ya, Ini suamimu ta? Silahkan masuk ke dalam dulu nduk. tapi mas Aji nya tidak ada dirumah)
Bukan hanya karna tidak mau mengakui bayi yang berada di kandungan Gendhis. Mas Aji mau menikah dengan mbak Aninditha karena tata krama nya baik. Orang nya juga cantik. Walaupun masih cantikan Gendhis.
Semakin aku membunyikan bangkai. Maka satu persatu nyawa keluarga ku akan melayang. Mbak Aninditha sedang membuat kan minuman untuk kami.
"Mbak mau aku bantuin ta" Ucap ku sedikit teriak.
"Nda usah nduk. Ini sudah mau selesai kok. Tapi kalau kamu mau ke dalam yo masuk o Nduk" Mbak Aninditha juga meneriaki ku dari belakang.
Aku memasuki rumah mas Aji. Rumah ini panjang nya sampai ke belakang. Kamar nya ada tiga. Ada ruang tengah beserta TV yang berhadapan langsung dengan mushola kecil seperti dirumah ku. Rumah ini sangat minim pencahayaan. Lampu yang dipake juga sama seperti dirumah ku lampu petromak.
Saat aku masuk ke dalam, pencahayaan nya semakin berkurang. Samar samar aku melihat ada seseorang yang berdiri di samping pintu kamar nomor dua. Rambutnya menjuntai ke bawah. Jubahnya berwarna merah. Ia melotot kearah ku. Didalam hati aku membaca Ayat Kursi berkali-kali.
"Mbak sendirian disini? Anak-anak mbak kemana?"
"Anak ku yang kembar di mondok kan Nduk, yang kecil ada di rumah pakdhe Mahmud. Tadi Ia merengek minta ikut. Katanya kalau dirumah tidak ada Bapak nya tidak enak dan takut. Entah takut apa lah wong selama disini aku nda ada apa-apa kok" Jelas mbak Aninditha sembari membawa nampan ke ruang tamu.
Mbak Aninditha tidak pernah mendapatkan gangguan apapun. Malahan Ia lebih memilih sendiri saja dirumah. Karena dirumah Ia merasa aman-aman saja. Entah apa yang dimaksud dengan perkataan nya.
"Mbak selama menikah dengan mas Aji tidak pernah terjadi keanehan? Atau mengalami kejadian aneh" Aku terus bertanya kepada mbak Aninditha. Ia selalu menjawab pertanyaan ku dengan baik.
Namun dengan pertanyaan ku yang satu ini Ia sedikit lama menjawab nya. Dengan satu tarikan Nafas mbak Aninditha mulai membuka suara nya. Ia bercerita kepada kami.
__ADS_1
"Aku sebenarnya sudah tidak kuat lagi dengan pernikahan ini Nduk. Bukan karna aku hidup susah bukan. Setiap malam aku selalu di datangi seorang perempuan. Wajah nya sangat mengerikan. Ia seperti mau menyampaikan sesuatu kepadaku. Namun aku tidak mengerti apa yang Ia maksud. Bukan hanya perempuan itu yang datang menemui ku. Ada dua orang laki-laki dan perempuan. Maaf ya Nduk Wajah nya mirip dengan orang tua nya Mas Aji. Aku semakin tidak mengerti ada apa dengan ini semua. Kenapa aku selalu dihantui. Aku selalu bercerita kepada mas Aji. Namun Ia tidak mempercayai omongan ku Nduk. "
Ternyata benar ketiga hantu itu meminta keadilan kepada kami. Mas Aji bekerja pada malam hari. Pagi pagi sekali dia pulang. Mbak Aninditha juga tidak tau suaminya bekerja apa. Pernikahan nya dengan mas Aji sangat tidak sehat. Kadang pulang bawa uang kadang tidak. Bukan nya mas Aji yang memberikan uang kepada mbak Aninditha. Melainkan kebalikannya. Jika tidak diberi uang maka mas Aji tidak segan segan mengancam akan membunuh Mbak Aninditha. Semua harta yang dikumpulkan hasil dulu bekerja ludes tak tersisa. Sekarang untuk makan aja susah. Bantuan dari pak Mahmud dan Bu Ina lah yang bisa diandalkan sekarang.
Mbak Aninditha selalu izin ingin bekerja. Namun tidak diperbolehkan. Pantas saja
keadaan nya sangat memprihatinkan. Ia sudah tidak tahan dengan pernikahan nya. Setiap malam Ia dihantui pagi hari nya Ia makan hati karena suaminya selalu main tangan. Ia menunjukkan kaki sebelah kanan nya tadi pagi dicambuk. Karena mas Aji meminta uang sedangkan istrinya tidak memiliki uang sama sekali.
Setiap hari mas Aji selalu seperti itu. Setelah lahir nya anak bungsu Mas Aji sudah jarang menyentuh nya. Walaupun melakukan hubungan yang Ia rasakan bukan kenikmatan melainkan kekerasan. Ia selalu di pukul di cambuk. Saat Ia mencoba menolak untuk berhubungan.
Sampai yang paling parah. Ia membawa dua orang wanita dengan pakaian yang sangat minim. Ia melakukan zina dengan kedua wanita itu di depan mata nya. Apakah masih pantas disebut sebagai suami kalau menghargai istri nya saja tidak sanggup apalagi memuliakan.
Setelah mendengar semua keluh kesah mbak Aninditha. Segera aku sampaikan maksud dan tujuan kemari. Aku menceritakan semua tidak kurang tidak lebih. Mbak Aninditha yang mendengar nya terperangah seakan tidak percaya. Ia tiba-tiba memotong pembicaraan ku.
...----------------...
FLASHBACK ON
"Mas kita mau kemana mas malam-malam begini kenapa bawa tas sebanyak itu" Ucap ku heran.
Mas Aji tidak mengatakan apapun. Ia hanya membawa ku ke pintu belakang. Aku semakin tidak mengerti dengan ulah mas Aji. Kenapa selarut ini Ia membawaku ke tempat gelap.
"Astagfirullah mmmmaaaassss kenapa bisaaa mas. Bapakk Ibuuukkkk kenapa mereka bisa melakukan yang dibenci Allah mas. Kenapa mereka bunuh diri" Aku melihat kedua mertua ku telah tergantung di pohon jambu air di belakang rumah dekat hutan. Aku bertanya kepada mas Aji namun Ia tak merespon semua pertanyaan ku.
"Kkkiiitttaaa harus lapor pak kampung mas. Kita harus melaporkan kepada mereka" Aku mencoba bicara dengan mas Aji untuk segera lapor kepada pak kampung. Namun Ia tercengang lama melihat kedua orang tua nya tak bernyawa. Mungkin Ia syok melihat kedua orang tuanya sudah meninggal dengan cara yang tragis.
"Jjjjaaaaangaaaan dek jangan beritahukan siapa-siapa. Kasihan Ibu dan Bapak. Mereka akan malu kalau semua warga tau mereka berdua mati dengan cara yang tragis.. "
"Kamu bodoh apa gimana sih mas. Jika kita tidak segera melapor kepada warga atau pak kampung, Maka kita yang akan terkena imbas nya. Mereka akan berpikir kalau kita yang merencanakan pembunuhan mereka mas. Aku tidak mau" Aku geram melihat sikap mas Aji yang aneh dan tak masuk akal.
Aku berlari menuju rumah Budhe dan Pakdhe ku yang tak jauh dari rumah. Dengan nafas ngos-ngosan aku menggedor rumah beliau. Mereka membukakan pintu untuk ku. Aku langsung membawa mereka ke belakang rumah.
"Sebentar Nduk ini ada apa. Kenapa kamu berkeringat seperti itu. Sabar nduk istighfar tarik nafas. Kenapa coba bilang Gendhis ini ada apa selarut ini kamu membangun kan kami? " Aku mencoba menuruti perkataan Pakdhe Mahmud.
Aku mengatakan apa yang telah terjadi kepada kedua mertua ku seraya menahan dadaku yang mulai terasa sesak. Kembali ku langkahkan kaki menuju mertua ku. Mereka tercengang melihat keadaan Bu Gantari dan pak Reksa yang sangat memilukan. Leher mereka terikat namun lidah mereka tak keluar. Karna yang ku tau kalau orang bunuh diri Saat tubuh sudah menggantung, tali sudah mengikat leher dan kaki tak menyentuh lantai, hal pertama yang dirasakan adalah gaya gravitasi yang sangat kuat, menarik tubuh yang tertahan tali. Leher akan tercekik dan tak bisa bernapas.
Setelah merasakan sakitnya tercekik, nyeri yang luar biasa menjalar ke tengkuk dan dada. Mata akan melotot dan terasa perih karena tekanan. Tekanan itu menyebabkan penyumbatan udara dan pembuluh darah ke otak atau tekanan pada syaraf vagus. Lalu perut dan dada akan kejang karena diafragma berkontraksi dengan hebat. Wajah manusia yang menggantung dirinya dipastikan berwarna ungu kemerahan. Busa halus dan liur akan mengucur dari sudut bibir, lalu terjadi pendarahan di tenggorokan. Ini karena terjadi kocokan pada tenggorokan dan dada saat berusaha bernapas. Lidah juga akan terjulur. Meski lidah sudah terjulur, belum tentu langsung mati. Secara reflek, tubuh akan meronta-ronta, berayun kian kemari.
Kondisi ini hal yang otomatis terjadi pada tubuh seseorang yang gantung diri. Semakin lama, gerakan meronta itu akan mematahkan tulang leher hingga terjadi pendarahan di otak. Pandangan mulai kabur, kontraksi diafragma kian menjadi-jadi. Setelah itu, secara perlahan, tubuh akan lumpuh, otak tak dapat mengontrol dengan baik dan akhirnya seseorang menemui ajal.
Aku menemukan banyak kejanggalan kepada kematian mertua ku. Namun tidak berani mengatakan nya karna aku tidak ada di kejadian.
"Suamimu mana Nduk. Kenapa tidak ada disini? " Saat budhe menanyakan keberadaan mas Aji. Aku langsung sadar jika mas Aji tidak ada di sini. Pergi kemana dia?
__ADS_1
BERSAMBUNG.......