
jangan lupa tinggalin jejak ya kak 🥰
(like dan komentar kalian sangat brarti buat author biar tambah semangat UPnya)
SELAMAT MEMBACA📖
"Jadi begini agar kita sama-sama tahu siapa yang asli dan mana yang palsu. Saya kasih tantangan buat kalian." Ucap pak kyai dengan lantang nya mengajukan tantangan.
kami semua memperhatikan serius kearah pak kyai karna ingin tahu apa sebenarnya tantangan yang beliau kasih.
"He tua bangka!! Jangan berlama-lama !! jangan bertele-tele sudah ucapkan saja apa itu tantangan nya. Semua tantangan yang kamu ajukan saya tidak pernah takut dan tidak akan pernah kalah ha ha ha ha. " dengan matanya yang melotot ke arah kami Jelmaan itu membanggakan dirinya seolah-olah terkuat dimuka bumi ini.
"Nak Narsih , saya minta 1 botol yang sudah tidak isinya." ujar pak kyai
"Inggih pak kyai kulo mendhet aken riyen" jawabku seraya melepaskan tangan mas faris yang sedari tadi memeluk pinggang ku.
(Iya pak kyai, saya mau ambilkan sebentar)
sambil berjalan setengah berlari aku memikirkan mau diapakan dengan 1 botol kosong? Nah ini dia 1 botol bekas syrup.
Tapi sebentar aku mencium bau yang tak sedap. Bau apa ini? seperti bau bangkai? apa ada tikus mati ya? sudah lah nanti ku cari. sekarang aku harus menyelesaikan urusan ku yang belum beres.
sambil kurapihkan baju dan rok ku akibat ulah jelmaan itu. kuambil hijab ku yang kugantung di mushola.
"*niki pak kyai botolnya , maaf pak ini bekas syrup nya anak-anak" ucapku kepada pak kyai.
"tidak apa apa nduk." jawab pak kyai itu seraya mengambil botol yang ku sodorkan ke tangan nya*.
" Baik lah , tanpa berlama-lama saya hanya menantang kalian cukup 1 tantangan saja. barang siapa diantara kalian yang bisa masuk kedalam botol yang saya pegang ini itulah suami Narsih yang asli." Ucapan pak kyai dengan mengangkat botol bekas itu. Aku sedikit kecewa dengan tantangan yang pak kyai berikan. mana bisa mas faris masuk kedalam botol itu.
Aku menoleh ke hadapan mas faris. Terlihat rautan kesedihan di wajahnya.
"Ngapunten pak kyai, Apa tidak ada tantangan lain selain ini? " Tanya suamiku kepada pak kyai. pak kyai hanya senyum. Aku semakin tidak mengerti dengan tantangan yang di kasih pak kyai kepada suamiku.
"Kenapa kamu takut? kamu gabisa? lebih baik kamu nyerah saja. Masa masuk kedalam botol kecil itu saja ga bisa. Suami macam apa kamu ha ha ha ha." gelak tawa jelmaan itu semakin menjadi jadi menjatuhkan martabat suamiku. Aku hanya bisa melihat pandangan ke mas faris yang kini mulai redup.
"Saya duluan yang akan masuk kedalam botol itu tua bangka!!. Mana sanggup orang itu melakukan hal sepele begini." jelmaan itu membusungkan dada sambil menunjuk mas faris.
Aaaaaarggggggggghhhhhhhhh
jelmaan itu mengerang seakan akan mau berubah wujud. Perlahan dia berubah menjadi manusia kecil.
Aaaarrrrgggggghhhhhhhhhh
jelmaan itu melanjutkan aksinya berubah menjadi asap hitam dan mulai memasuki botol itu. setelah didalam dia berubah lagi menjadi jelmaan mas faris.
kami bertiga menganga melihat kejadian itu tak percaya . Kulihat pak kyai mulutnya komat kamit membaca sesuatu. "Tolong Bantu saya bacakan surah al Fatihah al-falaq Al-ikhlas An-nas." Pak kyai menuyuruh kita untuk membacakan ke empat surah itu.
kami pun mengiyakan. walaupun sebenarnya aku dan suamiku sedikit bingung karena jelmaan itu sudah berhasil masuk kedalam botol itu. Tandanya suamiku kalah dengan jelmaan itu. perasaan ku mulai tidak karuan.Namun ku turuti saja apa yang diperintahkan pak kyai khosim kepada kami.
setelah membacakan surah surah pak kyai itu memasukkan botol itu kedalam kantong plastik lalu diikat dengan tali yang berwarna putih. kami semakin bingung apa yang dilakukan pak kyai.
"Ternyata benar jelmaan Faris itu bukan orang biasa. Dia genderuwo yang menyamar menjadi faris. Sudah lama mengincar kamu nduk Narsih. Dari semua usaha yang dilakukan genderuwo ini mencoba mendekatimu, Hanya kali ini dia berhasil menemuimu dengan menjelma sebagai Faris." Pak kyai menjelaskan detail kepada kami. Aku dan suamiku sedikit lega mendengar penjelasan pak kyai. Aku langsung memeluk suamiku seakan akan takut kehilangan lagi.
"Tapi jangan senang dulu, perbanyak lah istighfar dan lebih dekat lah kepada gusti Allah. Jagalah anak-anak kalian. Bahaya akan datang kapan saja." lanjut pak kyai memberikan kami wejangan.
Ku suguhkan makanan dan minuman seadanya untuk pak kyai. Setelah bincang bincang , pak kyai pun pamit untuk pulang. Kami menawarkan untuk sholat berjamaah bersama kami namun, pak kyai menolak dengan halus. Beliau mengatakan kalau dirinya harus menjadi imam di mushola. Kami tidak keberatan atas penolakan nya itu.
-------------------------------------------------------------------
"mbak nurul haus, masih ada ga air yang di botol mbak?" Aku agak aneh melihat nurul dari tadi minum ga ada habisnya.
"kamu ini dek dari tadi mbak perhatikan minum terus. Itu sudah habis berapa botol es yang kamu minum? Ga baik minum es banyak-banyak. Masih ingat yang dibilang ibu ga sih? " ucapku sedikit geram dengan ulah adek ku ini. Ga biasanya di seperti ini.
"Iya ingat mbak. Tapi sekarang mbak diam dulu jangan banyak omong. nurul masih haus ini. mana botol minuman mbak." tingkah nya semakin bukan nurul yang kukenal. Sudahlah mungkin dia sangat kehausan apalagi cuacanya panas seperti ini. ku kasihkan saja botol minum ku yang sisa separuh itu.
ku perhatikan tingkah nya semakin aneh. Dia minta terus menerus air minum. Yang bikin aku semakin bingung dia meminta ke penumpang angkot lain nya yang notabennya adalah penumpang anak-anak pulang sekolah juga.
Terpaksa ku tegur dia dengan sedikit membentak. pasalnya dia sudah keterlaluan meminta minta ke penumpang lain dengan cara seperti orang malak. Biasanya kalo aku tegur 1 kali dia hanya diam dan meminta maaf. itupun hanya masalah kecil. Sekarang dia ku tegur malah menjawab lebih galak dari aku. Anak ini kenapa sih?
"Pak aku turun di pertigaan depan ya." ucapku kepada pak sopir dan menghiraukan ocehan nurul yang sudah mulai ngelantur. Bicaranya pun ga ada sopan sama sekali.
setelah sampai di pertigaan kamipun turun dari angkot dan segera membayar nya. Jarak kerumahku lumayan jauh. Jalan ke rumah melewati jalan yang hanya ada 2 3 rumah penduduk disana. Di pinggir kanan dan kiri jalan Ada pohon asam dan pohon jarak.
Tak ketinggalan pohon bambu yang sangat lebat beriringan dengan kuburan umum. kami melewati nya sudah terbiasa dengan suasana seperti ini.
kami berjalan beriringan seperi biasa.
"mbak ga suka ya dengan sikap kamu yang seenaknya sama orang. tua atau pun muda kamu harus saling menghormati. Bukan malah seenaknya seperti tadi. Kalo kamu melakukan hal yang sama mbak ga segan2 melaporkan nya kepada bapak dan ibu biar kamu dikasih hukuman." ocehku kepada Nurul.
"mbak bisa diem ga sih. Dari tadi nyerocos saja tuh mulut ga ada capeknya. Aku ini sudah besar ngapain harus gila hormat kepada mereka." entah apa yang menyebabkan adek ku bisa menjadi seperti itu. Sudah lah namanya anak kecil harus di didik dengan baik. mungkin caraku tadi kasar menegurnya terlalu keras seperi tadi.
aku pun memeluknya sebagai tanda minta maaf karna dari tadi aku marahin dia. pada saat memeluk nya aku merasakan punggungnya basah kuyup.
memang benar sekarang cuaca lagi panas-panas nya tapi masak keringat bisa banyak seperti itu.
"Sebentar dek. Ini kenapa baju bagian belakang kamu basah kuyup seperti ini? Tadi kamu main kejar-kejaran ta sama teman-teman mu hm? " Ku cek bagian belakang adiku ini. Dia hanya tersenyum melihat ku.
Darah? Iya darah. Ada darah di punggung adek ku. ku pegang pegang punggungnya. Darah itu semakin keluar menembus seragam nurul sampai terkoyak.
__ADS_1
Bau anyir dari darah itu masuk kedalam hidungku. aku cemas kenapa bisa nurul seperti ini.
" kamu kenapa dek? apa kamu tadi jatuh pada saat main lari-larian bersama teman mu? " Aku bertanya menyelidiki. Dia tak menjawab malahan dia senyum sangat lebar sampai-sampai
Krrrreeeeekkkkkkkkkkkkkkkk
Tulang rahang nurul patah. Gigi kecil-kecil putih yang sering ditunjukan saat berbuat salah kecil kini berganti dengan gigi runcing penuh darah menyeringai menatapku.
kuku kuku tangan nya kini berubah hitam dan memanjang. perlahan lahan wajah manis adik ku berubah menjadi makhluk yang mengerikan.
Bola matanya bergelantungan kekiri dan kekanan. perasaan ku sudah tidak karuan antara percaya dan tidak percaya. Siapa mahkluk mengerikan ini.
Aaaaarrrrrgggghhhhhhhhhh kamu harus matiiiiiii
Makhluk mengerikan itu berteriak. suara yang keluar itu bukan lah suara adek ku yang manis. Dia seorang perempuan yang sangat penuh amarah.
mengapa dia ingin aku mati?.
aaaaaaaaaahhhhhhhh dia menarik rambutku.
wajah menakutkan itu kini berada tepat disampingku. Bau anyir menganggu indra penciuman ku.
Lepasiiiiin Lepasin rambut kuuuuu. Kamu siapa? dimana adek ku?
wajah itu semakin mendekati ku. perlahan lahan kulit ditubuhnya mulai mengelupas. melihat pemandangan seperti ini membuatku ingin muntah.
Ku ludahi wajahnya yang mendekati ku. Dengan sekuat tenaga aku berlari meninggalkan perempuan itu. nafas ku ngos ngosan.
Lariku sangat kencang sampai jatuh berkali kali namun walaupun jatuh berkali-kali aku tetap terus berlari untuk menghindari serangan dari perempuan itu.
Aku berhenti sejenak di bawah pohon mangga yang sangat lebat milik pak mahmud. ku lihat sekitar , Alhamdulillah perempuan itu sudah tidak ada lagi.
Ber selonjoran lah aku dibawah pohon mangga itu. Suasana jalanan ini memang mencekam. Siang malam tidak ada bedanya. pohon pohon yang rimbun seakan-akan melotot kearah ku.
huuuuuuhhhhhhh aku menarik nafas panjang.
Tiba tiba kepalaku terasa basah. kupegang kepala ku dan kucium tanganku. Darah? mataku melotot melihat darah hitam. Darah ini dari mana?
hihihihiiiiiiiiiiiiiiiiii hiiiiihhhiiiiiiiiiiiiiiii
suara melengking itu berasal dari atas pohon mangga ini. perlahan aku mendongakkan kepalaku keatas. Ternyata perempuan itu menangkring diatas dahan pohon yang hampir roboh karna termakan usia.
hiiiiiiihhhhiiiiiiiiihiiiiiiiii hhhhhiiiiiiii kamu harus mati kamuuuuu harus matiiiiii hhhiiiiihiiiihiiii
suara lengkingan itu semakin menjadi jadi.
kuntilanak itu terus mengikuti dibelakang. sementara disini tidak ada siapa-siapa. Hening. Hanya terdengar suara lengkingan kuntilanak dan hembusan nafasku yang ngos ngosan.
setelah berulang kali jatuh. aku mencoba bangkit dan berdiri kembali agar tidak diserang oleh Kuntilanak itu. Dengan kaki yang terseret aku mencoba berjalan cepat.
Rumah pak mahmud sudah kelihatan.
Apa aku mampir saja kerumah pak mahmud ya? apa dia ada dirumah. sudahlah, aku butuh bantuan seseorang sekarang.
setelah sampai didepan rumah beliau aku langsung masuk ke perkarangan rumahnya, karna pagar bambu nya tidak dikunci.
Peeeer miiii siiii pakkkkk buuuuukkkk Assalamu'alaikum
Aku memanggil pak mahmud dan bu siti dengan suara terbata-bata.
"Wa'alaikumsalam eh Laras, Loh kenapa ngos ngosan gitu nduk?" bu siti akhirnya keluar setelah ku panggil beberapa kali.
"Bu di saaaa naaaa di sa na ada kunnnn kunnnti lanak bu tolong laras bu" Aku masih ngos ngosan karna lari dengan jarak yang lumayan jauh untuk menghindari kuntilanak itu.
bu siti meminta ku untuk masuk kedalam rumahnya. kemudian mengambilkan segelas air putih. Ku tenggak air yang disuguhkan bu siti guna mengurangi rasa takut dan cemas.
"Lain kali kalo pulang sekolah mintalah Bapakmu untuk menjemput. jangan pulang sendirian. Jalan menuju rumahmu sepi nduk. Jadi harus ada teman biar aman " Ucap Bu siti mengelus ngelus rambutku seraya menenangkan.
Aku tidak menjelaskan detail kejadian yang aku alami. Aku hanya diam dan mendengarkan nasehat bu siti.
"Diunjuk dulu minum nya, setelah itu biar ibu nganterin kamu pulang ya" ucap bu siti masih mengelus rambutku.
Alhamdulillah bu siti mau mengantarkan ku pulang. Dengan begini aku sedikit lega walaupun sebenarnya tidak enak hati karna sudah merepotkan. aku hanya membalas ucapan bu siti dengan anggukkan.
____________________________________________
**poV Bapak
FLASHBACK ON**
"Mas jagung yang sebelah selatan sudah siap dipanen. Kira-kira kita butuh 2-3 orang lagi guna membantu kalian. Coba kalian cari ya buat besok. Nanti gajinya kita bicarakan pantas nya dikasih upah berapa." Ucapku kepada 3 orang teman ku yang membantu mengelola sawah ini.
"Inggih mas. Nanti sore pulang dari sawah Aku mau ngajak tetangga ku semoga saja mereka mau." ungkap Parman
memang dari dulu sebelum aku punya sawah dia sering memberikan aku motivasi untuk semangat hidup dan jangan pernah menyerah. sesekali mengeluh boleh tapi jangan pernah menyerah.
Aku mengelola sawah peninggalan Bapak ku dengan baik. Walaupun berkali-kali gagal Namun aku yakin suatu saat aku pasti sukses menjadi petani yang besar.
Sawah peninggalan bapak kutanami padi, jagung dan juga sayur mayur. Dengan modal yang selalu buat muter dan hasilnya ku tabung untuk membeli tanah yang sekarang sudah di bangun menjadi rumah aku dan istri ku tercinta.
__ADS_1
Lamaran ku selalu ditolak oleh Bapak nya dek Narsih. Mungkin karna aku belum punya kerja jadi orang tua dek Narsih takut anaknya mendapatkan pasangan yang luntang lantung tidak jelas. Namun, aku tidak pernah putus asa untuk mendapatkan nya. Aku terus bekerja keras sampai bisa membeli beberapa hektar tanah dan mempunyai buruh tani.
"Mas faris ga pulang ta ini sudah mau Adzan dzuhur. Biasanya mas Faris jemput Mbak Narsih kepasar, " Ucap Rahmat membuyarkan lamunanku.
Aku sampai lupa kalau aku harus menjemput istri ku yang berjualan dipasar. Sudah ku peringatkan beberapa kali untuk istrahat dirumah saja Tapi istriku selalu menolak. Alasan nya kalo diam dirumah sendiri Ia kesepian dan badan nya sakit semua.
"Saya pamit dulu ya Bapak bapak mau menjemput istri dulu. Kalian jangan lupa makan siang terlebih dahulu biar tidak loyo saat mulai bekerja" Kataku seraya berpamitan kepada bapak bapak yang mengelola sawahku ini.
"Inggih pak faris"
"Inggih mas faris, " jawab mereka saling bersahutan.
Dengan sepeda butut ini aku perlahan menyusuri jalan menuju pasar. sambil menikmati suasana kampung ku yang adem namun, sedikit menyeramkan karena Sepanjang jalan terdapat pohon beringin , pohon mangga dan juga pohon bambu yang sangat rindang.
Suara deruman sepeda motorku menjadi sangat bising di keheningan Kampung ini. Setelah sampe di pertigaan Dari kejauhan aku melihat seseorang disana. Biasanya kalo mendekati adzan dzuhur seperti ini sangat jarang orang berlalu lalang dijalan sepi ini.
Kulajukan motor butut ku untuk menghampirinya sebentar. sepertinya orang itu berjalan menuju rumahku. Siapa dia?
Langkahnya begitu cepat seakan-akan mempunyai maksud tertentu. ku tambah kan lagi kecepatan motorku. Namun apalah daya ini hanya motor butut. Walaupun ditambah kecepatan nya hasilnya yah seperti ini. Tidak bisa cepat seperti motor yang bagus.
Istriku selalu menyarankan ku untuk menjual motor itu. Namun, Aku menghiraukan nya karna speda ontel dan motor butut ku ini menjadi saksi perjuangan ku pada masa masa mudaku.
sekarang aku sudah berada dibelakang orang itu. Dia ternyata laki-laki. seperti nya aku ga asing melihat postur tubuhnya.
"Assalamu'alaikum pak kyai", Sapaku kepada pak kyai.
Aku segera turun dan menghentikan motorku.
" Waalaikumsalam... Nak Faris baru pulang dari sawah ta? " Tanya pak kyai melihat aku membawa topi koboi ku.
"Inggih.. Pak kyai badhe teng pundhi kok kelihatan nya terburu-buru begitu," Tanyaku
pak kyai menjelaskan maksud dan tujuan nya kalo dia mau bertamu kerumah ku. Namun, lebih jelasnya biar di bicarakan saja dirumah sebentar. sekalian pulang aku mau mengabari dek Narsih kalo aku sedikit telat menjemputnya karena kedatangan tamu. Entahlah kenapa bisa lupa tidak membawa handphone ku.
Ku bonceng pak kyai menaiki motor butut ku ini. Di sepanjang jalan pak kyai bercerita kalo beliau mau mengadakan khitanan masal untuk warga kampung ini. Acaranya akan diadakan di tanah lapang dekat mushola.
"Apa sebaiknya pohon bambu ini ditebang saja yo Leh, biar sedikit lebih terang dan tidak terlihat menakutkan. Kasihan anak-anak kalo berangkat sekolah atau pun mengaji pasti takut dan akan berlarian ketika melihat sesuatu yang ada di pohon bambu ini, " Tukas pak kyai.
Mendengar ucapan pak kyai khosim ada benar nya juga. Dengan menebang salah satu pohon bisa membantu dalam penerangan anak-anak untuk berangkat dan pulang ngaji ataupun sekolah.
"Inggih pak kyai... Besok kita bicarakan dengan mbah Ina dan juga suami . semoga mereka berkenan untuk menebang salah satu pohon disini untuk membantu penerangan warga". jawabku kepada pak kyai.
Setelah sampai di depan rumah aku melihat pintu depan sedikit terbuka. Apa mugkin Dek Narsih sudah pulang duluan karena aku terlalu lama menjemput nya.
Aku dan pak kyai saling bertatapan. ku parkir motorku di depan rumah. Kami berdua akan masuk ke rumah namun anehh nya kami terpental. kami melakukan nya berulang kali.
"Astagfirullah... nak Faris apakah ada seseorang didalam rumahmu, " Tanya pak kyai heran
"Seperti ada seseorang pak kyai dirumah ku. kemungkinan besar ada Istriku didalam. ini sandal nya tergeletak disini." jawabku
Raut wajahku pucat pasi. aku khawatir istriku kenapa-kenapa. kenapa setiap kali aku masuk bersama pak kyai kami terpental. Seakan-akan kami tidak boleh memasuki rumahku sendiri.
"Sepertinya ada yang main sihir disini le, tolong bantu saya untuk membacakan ayat kursi dan jangan pernah berhenti sebelum aku menyuruhnya. Tetap fokus ya. jangan terpengaruh apapun" perintah pak kyai itu.
Akupun menuruti apa yang diperintahkan pak kyai. kami berdua duduk bersila didepan rumah. Dengan suara serak pak kyai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Aku hanya mengikuti nya dengan membaca Ayat Kursi.
Dibacaan Ayat kursi ketiga aku mulai tidak fokus karna seperti ada yang melemparkan sesuatu. Angin mulai bertiup sangat kencang seakan-akan mau membawa kita masuk kedalam pusaran nya.
ku dengar sayup sayup pak kyai sudah menyelesaikan bacaan nya. aku pun ikut berhenti.
"Leh sebelum kita masuk kedalam saya mau memperingati mu kalo kamu harus percaya kepada istrimu. Dia hanya dijebak oleh makhluk halus yang menjelma sebagai dirimu, Apapun yang dilakukan sama istrimu itu semua hanyalah jebakan jelmaan itu" ucap pak kyai mengingatkan ku.
Degh... ada apa dengan istriku. kenapa pak kyai berbicara sperti itu. La ilaha illAllah. mulutku tak berhenti mengucap kalimat tauhid. semoga istri ku Baik-baik saja.
Bismillahirrahmanirrahim...
Allahuakbar...
syukurlah kita bisa masuk kedalam. Aura rumah ini ga seperti biasanya. Rasanya gerah sekali.
Toooollloooong Tooooolllloooong
Itu suara istriku. suara itu berasal dari kamar Laras. Dengan sedikit berlari aku dan pak kyai menuju asal suara. Di depan kamar Laras ku gedor gedor pintu kamar anak ku.
"siapapun yang ada di luar tolongin saya"
Suara istriku meminta tolong.
Cukup lama kami mencoba membuka pintu kamar Laras. Namun, tak berhasil. Aku izin kepada pak kyai untuk mencari kunci cadangan. Anehh kenapa tidak ada kunci sama sekali padahal aku menaruh nya disini.
Aku kembali kepada pak kyai dengan tangan kosong. Pak kyai mencoba menenangkan ku. Aku menunduk dan mencoba cara terakhir. yaitu......
Bersambung....
Terimakasih sudah mampir kak.
jangan lupa dukungan kalian ya Like dan komentar untuk penyemangat agar author bisa UP tiap hari.
thanks❤🙏🌹
__ADS_1