Kampung Horor

Kampung Horor
BUKTI


__ADS_3

Aku memanggil anak-anak ku beserta teman teman nya yang sedang asyik bermain di perkarangan depan rumah.


"Budhe, kulo kale adek bade pamit wangsol riyen. Kuatos e bapak kale ibuk ngerantosi kulo" Ucap Gilang berpamitan kepada-Ku.


(Budhe, Saya dan adik mau pamit pulang dulu. khwatir nya Bapak dan Ibuk nungguin aku)


Aku tidak memperbolehkan mereka berdua untuk pulang berdua. Karna situasi sekarang tidak aman untuk keduanya. Anak anak ku giring untuk masuk ke dalam rumah.


Pak kyai bertanya kepada Ahmad dan wahyu satu bulan kemaren dari mana saja. Mereka menjelaskan kalau mereka pada saat itu sedang tidur. Setelah bangun tidur tau tau mereka sudah berada di suatu desa yang mirip dengan desa Roro Asri tapi suasana nya beda tidak seperti sekarang.


Ia juga mengatakan kalau dirinya melihat pak Reksa dan Bu Gantari di rumah yang sekarang di huni oleh mbah sofyan dan mbah juwariyah. Kami terperangah saat Ahmad dan wahyu menyebutkan nama kedua orang tua ku. Kami semakin antusias mendengar mereka bercerita.


Mereka juga mengatakan kalau dirinya bertemu dengan anak kecil yang mirip dengan ku. Di kediaman pak Reksa dan Bu Gantari dia kedatangan Bu ina dan pak Mahmud untuk melamar anak nya yang bernama Aji. Sementara itu Aji dan kekasih nya yaitu Gendhis sedang bertengkar karena Aji menuduh gendhis sudah melakukan hubungan terlarang dengan Aksa. Gendhis membantah tuduhan itu karna dirinya sekalipun tidak pernah menyentuh Aksa. Untuk membuktikan tuduhan kepada dirinya tidak benar .Terpaksa gadis itu mau melakukan zina dengan Aji. Pada saat berhubungan intim Aji merasakan jika memang benar Gendhis ini masih suci. Namun Ia tidak mengakui.


Dua minggu kemudian sang kekasih hamil namun respon dari Aji tidak baik. Aji tidak mengakui bayi yang di kandungan Gendhis ialah hasil dari perzinaan mereka. Aji mengingkari janjinya jika Gendhis hamil maka ia akan menikahinya. Namun sekarang justru Aji memberikan tuduhan kedua kalinya kepada Gendhis. kalau yang di kandung nya bukan anak nya dia saja. Melainkan anak Aksa dari perselingkuhan Gendhis darinya.


Tak Terima dengan bayi yang di kandung nya. Aji menyeret rambut kekasih nya di atas bebatuan sampai ke sungai. Ia menyarankan Gendhis untuk menggugurkan kandungan nya. Mereka bertengkar sangat lama diatas sungai. Setelah merasa puas Aji meninggalkan kekasihnya itu sendirian di sungai pada saat sunyi nya malam.


Pak Reksa dan Bu Gantari menyampaikan niat baik dari pak Mahmud dan Bu Ina jika mau melamar Aji untuk keponakan nya Aninditha. Aji yang sudah gelap mata mengiyakan tawaran Ibu Bapak nya.


Berita pernikahan Aji dan Aninditha menjadi buah bibir warga kampung Roro Asri dan sekitarnya. Berita itu sampai ke telinga Gendhis. Gadis itu tak terima kekasihnya yang sembilan tahun bersama nya. Kini menikahi seseorang gadis yang Ia tidak tahu siapa gadis itu. Gendhis melukai tangan nya sendiri dengan tak sengaja meremas pisau tajam milik si tukang sayur sebab syok mendengar berita itu.


Gendhis mencari keberadaan Aji. Ia tak perduli dengan darah yang mengalir di kedua tangan nya. Dengan baju yang penuh darah dan rambut yang acak acakan Ia mengitari desa Roro Asri tanpa menggenakan sendal. Gendhis mencari keberadaan Aji sampai larut malam. Namun Aji tidak juga di temukan.


Ia tak menyerah begitu saja walaupun kakinya terluka karena menginjak bebatuan dan beling. Usaha tidak akan menghianati hasil. Ia berhasil menemukan Aji yang sedang cekakakan bersama teman teman nya. Melihat kedatangan gendhis dengan kondisi yang memprihatinkan. Aji menarik tangan Gendhis ke sebuah tempat yang gelap berada di dekat hutan. Mereka bertengkar dengan hebat. Membuat Gendhis menusuk tangan kanan Aji. Gendhis mencoba menghunus pisau yang tajam ke tubuh Aji. Sampai akhirnya Aji lah yang berhasil menusuk pisau ke perut Gendhis yang berisi bayi di kandungan nya. Gadis cantik itu mati ditangan Aji. Mayat gadis itu di seret sampai masuk hutan.


Aji membuang mayat Gendhis di sebuah jurang dan meninggalkan nya begitu saja. Keesokan harinya Aji menikahi Aninditha tanpa merasa bersalah. Ahmad juga menjelaskan kalau dirinya pada saat itu hanya dua mingguan saja. Tidak sampai satu bulan. Pak kyai menjelaskan dimensi waktu alam ghoib dan dunia itu berbeda.


Setelah mendengar kan penjelasan dari Wahyu dan Ahmad kami mengerti akan maksud dari teror kuntilanak merah itu. Ia ingin kebenarannya terungkap. Ia ingin dirinya dan anak nya di akui oleh semua orang. Jika benar Mas Aji yang melakukan nya kami harus menyelidiki satu persatu dulu.


Aku meminta mas Faris untuk mengantarkan Gilang dan wawan ke rumah mbak Ida. Tak lama kemudian Mas Eko datang mau menjemput anak nya. Kami meminta Mas Eko untuk singgah namun Ia menolak halus ajakan kami karna dirumah nya tidak ada orang. Istrinya rewang karna ada kerabatnya yang menikah.


Kami semua pergi ke belakang rumah untuk mencari petunjuk yang sebenarnya terjadi. Berpencar mungkin bisa cepat menemukan bukti. Walaupun kemungkinan berhasil akan menemukan petunjuk tapi kami tidak menyerah begitu saja. Pak kyai bersama Ahmad dan laras mencari di sekitar kebun dekat jurang. Sementara aku dan Mas Faris pergi bersama Wahyu kerumah Bu Ina dan pak Mahmud untuk mencari tau keberadaan Mas Aji dan Istrinya.


Kami telah sampai dirumah Bu ina sepertinya rumah ini tidak ada orang. Kami berkali kali mengucapkan salam dan mengetuk pintu belakang dan jendela. Namun sama sekali tidak ada jawaban. Sedikit kecewa karna tujuan kami tak sesuai ekspektasi yang direncanakan tadi.


Kriiiiiieeeeekkkkk


Pintu depan rumah Bu Ina terbuka sendiri. Kami bertiga melihat kedalam rumah namun tidak ada siapa siapa. Rumah Bu Ina gelap, sunyi dan aura di rumah ini sangat dingin. Ketika kami hendak pergi tiba tiba ada langkah seseorang dari belakang rumah menuju kami. Kami yang mendengar kan langkah kaki tersebut menjadi sedikit takut.


"Oh kalian ta nduk. Monggoh duduk dulu. Maaf yo baru selesai aku sholat dzuhur berjamaah bersama pak Mahmud. permisi mau membuat kan minuman dulu buat kalian. Jauh jauh kesini masa tidak di suguhkan apa apa" Ucapa Bu Ina.


Kami tidak mengizinkan Bu Ina untuk repot repot membuat kan minuman untuk kami. Bu Ina hanya mengangguk. Karna tak sabar suami ku langsung membicarakan tujuan nya kepada Bu Ina. Mendengar pertanyaan suamiku wajah Bu Ina melonjak kaget. Ia gugup ingin menjawab wajahnya seperti ada yang di tutupi.


"Untuk apa kalian mau menemui Aji dan Aninditha mereka sudah bahagia dengan kehidupan nya" Tiba tiba pak Mahmud datang dari belakang.


Kami menjelaskan kalau ingin bersilaturahmi karna Aku adik dari Mas Aji. Sejak Ia menikah aku tidak mendengar kabar nya lagi. Kata orang Mas Aji tinggal di sebuah desa yang tidak jauh dari sini. Aku dan Mas Faris mencoba mencari keberadaan Mas Aji namun tidak ada hasil.


Pak Mahmud menatap dengan wajah yang tidak suka kepada kami. Mereka berdua tidak memberi tahu keberadaan Mas Aji kepada kami. Kecewa atas sikap Bu Ina dan suami nya Aku pun berpamitan pulang.


Sementara di kebun dekat jurang, pak kyai menemukan bukti topi yang selalu dipakai Mas Aji. Sedangkan Laras dan Wahyu menemukan Gelang kaki dan gelang tangan milik perempuan yang agak berkarat.


Di rasa cukup untuk pencarian hari ini karna sudah masuk waktu dzuhur. Pak kyai pun menyudahi pencarian hari ini dan mengajak anak anak untuk membersihkan diri ke kamar mandi kemudian sholat dzuhur berjamaah.


Aku dan Mas Faris pulang dengan tangan hampa. Saat melewati depan rumah mbah sofyan dan mbah juwariyah seseorang memanggil kami. Kami menoleh ke belakang rupanya mbah juwariyah yang memanggil kami.


"Enek opo to mbah kok panggil panggil kami seperti itu. Apa mbah juwariyah perlu bantuan" Ucap suamiku bertanya.


"Kalian tekan ndi kok wajah nya masam kayak gitu. Ayo masuk dulu ada yang ingin mbah bicarakan dengan kalian"

__ADS_1


Melihat raut wajah mbah juwariyah seakan ada sesuatu yang ingin beliau sampaikan. Saat aku memasuki rumah yang dulu aku tinggali bersama kedua orang tuaku rasanya terharu. Aku kembali mengingat kedua orang tua ku yang telah tiada karna gantung diri di belakang rumah.


Terlihat mbah sofyan datang dari sawah dengan sepeda ontel setia nya. Beliau masih awet muda padahal usianya tak beda jauh dari orang tua ku. Beliau tersenyum kepada kami. kami pun bersalaman kepadanya.


"Bersih bersih dulu sana pak e. Masa yo pantes dengan keadaan seperti itu menemui cah ayu dan cah ganteng iki" Goda Mbah juwariyah kepada suaminya sembari membawakan minuman dari dapur.


Aku yang mendengar mereka berdua terharu. Karena seperti itu lah Bapak dan Ibu ku kalau bersama pasti bercanda terus. Tak terasa air mataku jatuh. Mengingat orang tua ku lagi. Mas Faris mengelus lengan untuk memenangkan ku.


"Loh cah ayu kenapa nangis to. Wong mbah loh ga ngapa ngapain" Ledek mbah juwariyah lagi kepada ku.


Kami di suruh meminum teh buatan mbah juwariyah sendiri. Teh buatan beliau manis nya pas dan rasanya beda dengan teh yang biasanya dijual di warung warung dekat rumah. Mbah juwariyah meracik teh nya sendiri.


"Bu aku mau pipis bu" ucap anak ku wahyu yang sedari tadi bergoyang kesana kemari karna menahan ingin buang air kecil.


Aku mengantarkan nya untuk ke kamar mandi belakang rumah. Sambil menunggu Wahyu buang air kecil. Aku pun melihat sekitar rumah mbah juwariyah ini. Tepat di bawah pohon jambu air ada dua tali tampar di sini. Aku kembali terisak teringat Orang tua ku dulu di temukan tak bernyawa disini. Tiba tiba aku teringat sesuatu. Kalau sekarang adalah waktu yang tepat untuk mencari bukti. Siapa tahu Aku menemukan apapun sebagai bukti.


Aku mencari menelusuri di belakang rumah ini. Sampai akhir nya aku jatuh terjerembab karna kaki ku seperti ada yang menarik. Aku menemukan banyak bercak darah di belakang rumah mbah sofyan. Semakin semangat aku untuk mencari bukti. Sebuah gunting stainless yang berada dalam semak semak. Tepatnya dibawah genteng pas dibelakang dapur mbah sofyan. Ada bekas tangan seseorang di gunting itu. Ku ambil daun pisang untuk mengambil gunting stainless dan ku lilitkan kedalam kerudung ku yang kebetulan besar dan panjang.


Aku seperti mendengar seseorang berdengus kesal ke arah ku. Mencari ke sekeliling tempat itu namun tidak menemukan apapun. Terdengar lagi suara di semak semak. Terlihat seperti seseorang yang bersembunyi di balik tinggi nya semak semak. Aku semakin penasaran siapa yang bersembunyi di sana. Saat tangan ku perlahan membuka rimbun nya semak semak itu tiba tiba ada seseorang yang meniup tengkuk ku.


"Nduk nyapo awak e nang kene. Ayo nang njero omah wae. Aku seng duweni omah ra tau memburi kok. Wis wis ayo ayo ndang mlebu omah. wesohen sikil karo tangan kuwi" Ucap mbah juwariyah sembari Bergidik ngeri ke arah ku. Aku mengangguk dan mengikuti perintah mbah juwariyah.


(Nak, kenapa kamu berada di sini. Ayo ke dalam rumah saja. Aku yang punya rumah saja tidak pernah kesini kok. Basuh kaki dan tangan mu)


Aku meminta maaf karna telah lancang masuk ke belakang. Setelah membersihkan badan aku kembali duduk di ruang tamu. Tatapan mas Faris tak mengenakan. Aku hanya menundukkan kepala. Mbah juwariyah mulai buka suara. Ia memanggil kami karna ada sesuatu yang mau di tunjukkan kepada kami. Mbah sofyan membawa sebuah peti kecil yang bau nya menjadi seisi rumah.


Peti itu ditaruh depan kami. Aku semakin tidak mengerti dengan maksud mbah juwariyah.


"Gini nduk. Ini peti milik keluarga mu. Coba di lihat isi nya siapa tau kamu mengenali nya" Ucap mbah sofyan sembari memberikan kunci peti itu.


Mas Faris menoleh kearah ku. Aku memberikan nya isyarat kalau mas Faris saja yang membuka nya. Peti itu mulai dibuka.


Kami semua hampir ingin muntah ketika melihat isi peti. Seperti mengenali jam tangan itu aku mencoba menyentuh benda tersebut. Namun mas Faris menepis pelan tangan ku. Sembari menggelengkan kepala nya.


Di dalam peti itu ada sebuah kemeja dan celana panjang beserta jam tangan yang dipenuhi oleh darah. Wahyu membisikkan sesuatu kepadaku. Badan ku gemetar setelah mendengar perkataan nya. Segera ku tutup peti itu. Sikap ku yang aneh membuat wajah mbah juwariyah dan suami nya melihat ku dengan tatapan aneh.


Aku menanyakan dengan sopan asal usul mbah juwariyah dan mbah sofyan bisa menempati rumah bekas orang tua ku. Karna pada saat orang tua ku meninggal aku sudah nikah dengan mas Faris. Apalagi hubungan ku dengan mas Aji tidak terlalu baik. Jadi aku dan suami tidak tahu menahu soal rumah ini.


Mereka menjelaskan dengan detail.


...----------------...


FLASHBACK ON


POV Mbah sofyan


Selama pernikahan dengan istri ku Juwariyah aku belum memiliki keturunan. Sampai usia 60 tahun pernikahan. Di desa ku Jati Roto sering mengalami kebanjiran yang parah. Terpaksa kami meninggal kan desa yang penuh cerita karena suatu tragedi. Banjir pernah menenggelamkan Istri ku tercinta. Ia terselamatkan karena bantuan dari pak kampung muda yang bisa berenang. Sejak itulah aku mulai berpikir meninggalkan desa ini. Aku mencari kesana kemari rumah yang mau di jual. Tidak menemukan satu pun harga yang cocok dengan isi dompet kami. Sampai lah kami bertemu dengan Aji dan istrinya. Ia menjual rumah nya karna ingin menetap ke desa lain.


Rumah ini di jual dengan harga murah dua kali lipat dengan rumah sebelum nya yang orang orang tawarkan dengan harga tinggi. Aku dan istriku langsung boyong ke rumah baru. Hari pertama di sini kami mendapat gangguan dari makhluk halus. Memang awal nya kami tidak tahu kenapa rumah ini di jual dengan harga yang begitu murah. Tapi sudah lah apa mau dikata isi dompet kami pas pasan untuk mencari rumah yang lebih bagus.


Pada malam hari seperti biasa aku menjalani sholat tahajud bersama istri ku. Kami pergi bergantian untuk berwudhu'. Aku memasuki kamar mandi lebih dulu. Dari dalam kamar mandi sayup sayup aku mendengar dua orang berbincang bincang di belakang rumah. Suara itu seperti seorang perempuan dan laki laki. Aku lebih mendekat kan telinga ku ke dinding belakang. Suara itu semakin keras.


Aku menghiraukan nya karna ku pikir mereka adalah pasangan suami istri yang duduk duduk di depan rumah nya bersenda gurau.


Aku pun melanjutkan ritual mengisi gentong dengan mengambil air dari sumur. Aku menimba air perlahan lahan karna penerangan di dapur ini kurang. Sedikit lagi gentong ini akan full dengan air yang ku timba. Pada saat aku menimba air yang terakhir. Timba ini terasa sangat berat. Sangat tidak mungkin kalau air yang di timba nya berat seperti menimba batu.


Aaargggggghhhhhhhhhhh


Dengan sekuat tenaga aku menimba air dalam sumur ini. Akhirnya berhasil juga.

__ADS_1


Aaaaaaahhhhhhhh


Aku lari terbirit-birit ke dalam rumah sampai tak terasa kalau sarung yang ku pakai sudah terlepas saat lari terlalu kencang tadi. Istri ku tak bisa menahan tawa nya karna melihat ku tidak pakai apa apa.


"Ya Allah mas sampean ini bagaimana?. Kok bisa bisa nya masuk ke dalam rumah nda pakek apa apa itu loh. Kalau ada tetangga yang lewat depan rumah gimana. Apa sampean nda malu. Hhhhhaaaaa itu burung kenapa mengkerut begitu. Udah kepala nya botak nda pakek baju nda pakek sarung. Ini tuyul versi tua nya apa? Hhhhaaaahhhaaa Ya Allah udah sana mas ambil sarung sampean di lemari kamar depan itu loh. Ada ada saja sampean ini" Istri ku tertawa sambil mengeluarkan air mata.


Aku mengatakan kalau tadi pas di dalam kamar mandi mendengar obrolan dari dua orang yang berbincang bincang. Dikira itu tetangga belakang rumah kami. Obrolan itu sangat seru sepertinya. Aku tak menghiraukan suara itu. Pada saat aku menimba air yang ku ambil bukan air. Melainkan dua kepala yang penuh darah. Gigi mereka juga penuh darah. Senyum yang lebar menunjukkan gigi tajam nya kearah ku. Matanya hampir lepas dari tempat nya. Bau busuk dari darah dua kepala itu anyir. Seperti bau bangkai.


Istri ku yang mendengar cerita ku kini tertawa nya langsung berhenti. Ia seperti syok selesai aku berbicara. Ia juga mengatakan kalau di belakang rumah ini tidak ada lagi rumah warga. Melainkan hutan yang banyak ditumbuhi rumput liar. Sedangkan tetangga lain lumayan jauh jarak nya. Jadi sangat tidak mungkin kalau mereka mengobrol di belakang rumah. Apalagi selarut ini.


"Mas pantas saja rumah ini dijual murah. Lah wong banyak hantu nya mas. Kita pindah saja yuk. Aku takut"


Aku yang mendengar perkataan istriku mencoba berpikir positif. Aku mengatakan pada nya kalau sementara ini kita harus bertahan dulu sampai uang kami terkumpul untuk beli rumah baru.


Sarung ku pakai lagi. Aku menuntun istri ku untuk ambil wudhu' lagi ke belakang. Walaupun di hati kecil sebenarnya aku merasa sangat takut. Namun demi menghadap sang Pencipta aku kesamping kan rasa takut ku.


Kami melangkah kan kaki ke arah kamar mandi. Setiap langkah kami membaca sholawat agar hati menjadi lebih tenang.


Benar saja kami sudah berada di dapur. Disini tidak ada gangguan lagi. Kami segera menyelesaikan wudhu' dan lekas kembali ke ruang depan.


Istri ku menggelar karpet dan juga sajadah. Sebenarnya mushola dirumah ini ada di dalam rumah. Namun kurang luas kalau untuk berjamaah. Kami memulai sholat tahajud berjamaah. Saat takbir pertama kami merasakan angin datang masuk kedalam rumah. Aku meneruskan bacaan sholat. Suara rintihan , jeritan, tertawa sangat terdengar jelas di telinga. Namun semua tidak bisa memberhentikan sholat ku. Pada saat sujud Aku melihat dari celah kaki ku di pinggir istri ku ada dua orang satu perempuan dan satu laki laki menyeringai ke arah ku.


Semoga istri ku masih kuat melanjutkan sholat. Takbir kedua kami masih bertahan. Mereka memutari kami dengan menunjukkan tangan yang penuh sayatan dan juga borok yang penuh belatung. Sholat ku mulai tidak khusuk karena mereka berada tepat di sekeliling kami. Aku meneruskan sholat ku sampai salam. Sholat selesai mereka juga menghilang.


Setelah sholat istriku langsung memeluk ku dengan tangisan nya yang pecah. Aku mencoba menenangkan dan kening nya ku kecup.


"Hussss sssstttt Iya mas tadi juga lihat Dek. Sudah sekarang tidak apa-apa. Lain kali kita harus khusyuk ya" Ucap ku menenangkan nya.


Setiap hari kami selalu di gangguin. Biasanya istriku menunggu ku pulang dari pasar. Sekarang Ia ikut aku jualan juga ke pasar. Kalau dirumah ia selalu di tampakkan wajah wajah menakutkan dari dua orang hantu itu.


Sampai pada suatu saat aku membantu istriku untuk bersih bersih rumah. Pada saat aku membersihkan kolong ranjang di kamar utama aku menemukan sebuah peti yang terkunci rapat. Bau nya juga tidak sedap. Istri ku yang kebetulan membersihkan isi lemari. Ia menemukan tumpukan kunci. Kami mencoba satu persatu kunci itu namun tidak ada satupun yang cocok dengan gembok peti itu.


Tibalah kunci terakhir yang berhasil membuka gembok peti. Kami melihat isi di dalam peti baju celana dan jam tangan yang penuh darah. Segera kami menutup peti itu dan menaruh kembali peti itu.


Aku dan istriku mencoba mengetahui asal usul rumah ini. Kalau bukan Bu rahmi tetangga sebelah yang tak jauh dari rumah kami mengatakan kalau rumah yang kami tinggalkan bekas tragedi bunuh diri atau pembunuhan. Karna korban dua orang suami istri sudah di temukan tak bernyawa di gantung tepat di belakang rumah.


Kami pernah bertanya kepada pak Mahmud dan istrinya. Namun mereka tidak menjawab apa-apa. Aku juga mencoba mencari anak pemilik dari rumah ini. Namun pencarian kami tak kunjung menemukan titik terang. Al hasil kami pasrah dengan keadaan yang mengharuskan kami bertempat tinggal disini.


Sampai sekarang pun gangguan itu datang. Namun tak sesering dulu.


FLASHBACK OFF


...----------------...


Aku yang mendengar cerita mbah Sofyan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Aku berterimakasih atas keterbukaan nya keluarga mbah sofyan dan mbah juwariyah. Kami izin pulang dan membawa peti itu bersama kami.


Aku meminta kresek besar hitam kepada mbah juwariyah untuk menutupi peti ini. Pada saat kami keluar dari rumah mbah sofyan. Terlihat pak Mahmud dan istri nya sedang duduk di depan rumah. Ia sedang kedatangan tamu.


Tatapan mereka berdua tak mengenakan kepada kami. Aku membalasnya dengan senyuman.


"Besok bawain saya lagi ya nduk sayuran nya. Untuk hari ini terimakasih karna sudah repot repot untuk mengantarkan nya kesini. Ngapunten saya tidak bisa membalas apa-apa. Saya cuma ada singkong. Tolong sampean bawa. Hati hati dijalan nduk Le" Teriak mbah juwariyah kepada kami.


Aku langsung mengerti dengan maksud mbah juwariyah berbicara seperti itu. Kami bertiga pun pulang menuju rumah. Mungkin pak kyai terlalu lama menunggu kami.


Tiba tiba aku mencium bau bangkai. Aku menoleh ke atas pohon.


Astagfirullah


Aku menundukkan pandangan ke bawah. Karna di depan ada pohon gayam yang diatas nya ada Bapak dan Ibu bergelantungan melotot ke arah pembaca.

__ADS_1


Bersambung.... Besok Up lagi kok bestie🙌🏻


__ADS_2