
"Mas, kita tutup semua yang sudah berlalu, kita buka lembar baru ya?" ucapku seraya memegang tangan suamiku satu-satunya. Dari siang tadi hingga malam tiba, Mas Lengga seperti tidak ada semangat. Aku jadi merasa aneh dengan sikapnya yang seperti itu.
"Mas, kamu kenapa si? Kok diem terus?" Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutnya. Aku jadi serba salah dan ikut tidak bergairah melihat dirinya seperti ini.
Malas juga aku berbicara kalau tidak ada tanggapan.
"Capek aku kaya ngomong sama patung," ketusku sambil berbelok membelakanginya. Sebisa mungkin aku mencoba memejamkan mata. Namun, bayangan akan esok menari-nari di dalam pikiranku. Kepalaku menjadi sedikit pusing, leher juga terasa berat. Memang sialan Mba Sinta. Aku sungguh sangat membencinya, benci yang terlalu dalam. Aku berharap bisa sukses bersama Mas Lengga, dan membuktikan padanya kalau hidupku baik-baik saja.
Besok aku akan mulai mencari pekerjaan, yah berbekal ijasah SMK, entah pekerjaan apa yang akan kudapatkan, dulu aku bisa bekerja di kantor besar karena yang memilikinya sahabatku sendiri. Nah kalau sekarang?
Malam ini sebenarnya banyak yang ingin kukatakan pada Mas Lengga, tapi dia sedang dalam mood yang buruk. Dari siang tadi tiba di tempat Ibu, bahkan dirinya belum memakan apapun. Apa tidak lapar itu perut? Entahlah. Semakin lama, mataku begitu berat akhirnya aku pun tidur dalam posisi membelakangi Mas Lengga. Sedikit kurang greget, biasanya aku tidur memeluk dadanya yang bidang. Ini kali pertama aku tidur tanpa memeluknya.
****
Mataku terbangun kala suara benda berjatuhan tertangkap oleh telingaku. Rupanya suamiku sudah dalam posisi berbaju rapi. Entah pukul berapa dia bangun dari tidurnya.
"Mas, kamu mau kemana rapi banget?" tanyaku sambil menguce kedua mata yang masih terasa ngantuk.
"Mau cari kerja," jawabnya singkat.
"Sudah sarapan, Mas?" tanyaku lagi.
"Belum, sedang tidak bernafsu," ucapnya dan berlalu meninggalkanku yang masih mengumpulkan nyawa di tempat tidur. Tidak ada kecupan kening dan canda tawa seperti biasanya. Hem ….
Aku sendiri langsung bangun setelah kepergiannya dan bergagas mandi. Setelah selesai mandi, aku bersiap dan menyiapkan semua berkas yang di perlukan untuk melamar pekerjaan.
"Kamu mau kemana, Mir?" tanya Ibu ketika melihatku sudah rapi dengan menggunakan pakaian kantor.
"Mau cari kerja, Bu. Doakan Mira semoga Mira dan Mas Lengga bisa mendapatkan pekerjaan," ucapku lalu berpamitan pada ibu.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
****
Dari kantor A sampai kantor E, aku masih belum bisa mendapat pekerjaan, surat lamaran tersisa beberapa lembar lagi. Kaki ini juga rasanya terlalu pegal. Mas Lengga tidak ada menghubungiku. Di sudut kota Jakarta yang panas dan penuh polisi, menambah penderitaan ini, susah sekali mencari pekerjaan. Beberapa teman kuhubungi untuk mencari info pekerjaan, tapi semua nihil. Ya ampun susahnya mencari pekerjaan. Kira-kira Mas Lengga berhasil dapat kerja gak ya.
****
Kaki ini terhenti di depan hotel yang membuat pengumuman dibutuhkan karyawati dengan ijasah minimal SMK, Allhamdullillah … memang hotelnya hotel biasa, tapi daripada tidak dapat pekerjaan. Dengan semangat kulangkahkan kaki masuk ke dalam.
"Mba, di sini terima kariawan ya?" tanyaku pada Mba Repsesionis.
"Iya betul, Mba. Untuk menggantikan saya. Oh jadi saya akan menjadi Repsesionis?" ucapku girang. Beribu-ribu syukur aku panjatkan pada Allah.
"Mba tunggu di sini akan saya panggilkan manajer hote dulu." Aku menunggu di bnagku ruang tunggu. Tidak lama si Mba datang bersama yang mungkin pak manajer.
"Mba, yang mau bekerja?" ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Iya, Pak."
"Bawa lamaran?"
"Bawa. Ini Pak." Aku memberikan berkas terkahir padanya.
__ADS_1
"Ya sudah, mulai besok kamu langsung bekerja," ucapnya setelah membuka lamaranku. Mungkin karena aku cantik jadi langsung diterima.
Dengan perasaan yang cukup senang, aku kembali meninggalkan hotel itu.
****____****_____*****
"Sudah pulang, Mir? Gimana hasilnya?" tanya Ibu ketika aku sedang duduk di teras rumah.
"Allahmdullillah, Bu. Mira dapat pekerjaan dan mulai besok sudah bisa mulai bekerja."
"Syukur kalau begitu."
"Oh iya, Bu. Mas Lengga sudah pulang?"
"Belum … tu." Sikap Ibu menjadi sangat cuek, aku jadi merasa tidak enak untuk terus menumpang di sini, meskipun ini rumah orang tuaku, mau makan pun jadi terasa sedikit segan. Akhirnya aku menahan lapar seharian sampai Mas Lengga tiba. Sial emang Sinta. Dia tega membelokir Atm Mas Lengga. Harusnya aku dapat jatah bulanan di bulan ini, malah dia keburu mendepakku. Tahu kalau akan seperti ini, tidak akan kubelanjakan sisa uang yang ada. Nyesel … nyesel … apes banget sih.
***
"Sudah pulang, Mas." Mas Lengga tiba-tiba saja masuk tanpa mengetuk pintu.
"Iya," jawabnya singkat.
"Mas, udah makan?" tanyaku lagi sambil memegangi perut yang lapar.
"Udah tadi sama teman. Kamu kenapa megangin perut?" tanyanya.
"Aku lapar, Mas. Belum ada makan apapun."
"Besok kita pindah dari sini. Sepertinya Ibumu tidak menyukai keberadaanku," cetusnya.
"Memang kamu punya uang buat ngontrak?"
"Jual aja kalung kamu dulu, di lehermu masih ada yang nyangkut," jawabnya enteng. Kirain punya duit, dasar! Tapi gak apalah, dari pada tekanan batin gini.
"Oh iya, kamu udah dapat pekerjaan?"
"Udah," singkat lagi jawabannya. Ya sudahlah puasa malam ini, besok saja makan kalau sudah jual kalung. Nasib ya nasib.
*****
Semua sudah kubereskan, sepray bekas tidur dan baju kotor dua hari di tempat ibu sudah kucuci. Mas Lengga sudah uring-uringan tidak karuan meminta untuk segera pindah. Haduh kenapa jadi terlunta-lunta begini, harusnya hari ini aku memulai pekerjaan menjadi Repsesionis, malah gak jadi masuk kerja, entahlah besok aku masih diterima atau tidak. 'Mas Lengga kenapa jadi egois begini si.'
"Sudah siap kan? Tadi kalung sudah kamu jual?" ucap Mas Lengga sambil membawa dua koper ukuran besar seperti kemarin. Memang isinya juga masih utuh, untung belum ku-keluarkan semua isinya.
"Sudah Mas," sungutku sedikit kesal. Rasanya ingin kucakar wajah pria di depanku ini.
"Bu, kami pamit dulu. Maaf udah ngerpotin Ibu," ucap Mas Lengga menghampiri Ibu dan Bapa yang sedang duduk santai di ruang tamu.
"Lho kok pamit? Kenapa? Katanya mau tinggal di sini dulu sementara?" Ibu sedikit merasa tidak enak, dapat terlihat dari wajahnya. Mungkin ia sadar akan ucapannya yang lalu.
"Lengga gak mau ngerpotin, Bu. Mira kan sudah jadi tanggung jawab Lengga." Bapak sendiri tidak mengucapkan sepatah katapun. Entahlah, keluargaku ini sikapnya membuat tak enak hati pada Mas Lengga. Tidak ada ramah tamahnya, sikap dinginnya sangat ditampakkan.
"Iya, Bu. Mira pamit dulu ya." Aku mencium tangan Ibu dan Bapa untuk berpamitan. Tidak ada kata mencegah dari mereka. Jangan pergi atau apalah, ini gak ada sama sekali.
"Ya udah, kalau memang ini keputusan kalian. Hati-hati, kerja yang benar." Ibu menasehati.
__ADS_1
"Iya, kehidupan rumah tangga selalu ada krikilnya, Bapa harap kalian bisa melewati ujian bersama. Jadikan kisah yang lalu menjadi pelajaran untuk ke depannya," tambah Bapa.
Nampak raut wajah Mas Lengga begitu geram, tapi dia masih mampu menahannya. Setelah berpamitan, kami pun langsung bergagas keluar. Taksi sudah ada di depan gerbang rumah, jadi kami langsung naik. Sedangkan Ibu dan Bapa, bahkan tidak mengantar kami sampai di depan. Mereka masih tetap di dalam.
"Kehidupan seperti apa yang harus di jalani kalau kita tinggal di rumah orang tuamu!" cetus Mas Lengga.
"Tidak ada keramahannya seperti kedua orang tua Sinta. Bahkan mereka selalu menganggap aku anaknya sendiri." Waduh, kok Mas Lengga mulai membanding-bandingkan.
"Ya jangan kamu bandingkan orang tuaku dengan orang tua Sinta dong! Kalau kamu mau balik lagi sama Sinta silahkan saja!" cetusku kesal. Tidak ada balasan dari Mas Lengga.
****
Sekarang kami telah sampai di rumah kontrakan, rumahnya lumayan dekat dari hotelku nanti, tapi juga tidak terlalu jauh dari komplek perumahan Mba Sinta dan orang tua Mas Danang. Perkiraan letaknya, kami berada di tengah, antara rumah mertua dan mantan istri suami.
"Masuk jangan bengong." ucapannya begitu sinis. Hih, gak bisa lembut apa.
"Udah dibayar, Mas?"
"Belum, baru Dp. Nanti tinggal kamu kasihkan saja lima belas juta lagi, rumahnya yang itu, namanya Bu Mirna." Mas Lengga menunjukkan rumah pemilik kontrakan, aku pun segera berlalu ke sana. 'Yah, habis dong uangnya, sisa dua ratus ribu.'
****
"Mas! Sudah kubayar! Ini sisa dua ratus ribu buat ongkos sama makan! Enggak tahu cukup apa enggak!" cetusku sedikit sewot. Mas Lengga sedang sibuk membereskan rumah, menata ulang isi yang ada di dalamnya. Semua masih terlihat kosong, tidak ada apa pun di sini. Bahkan, lemari dan kasur pun tidak ada. Terpaksa kami tidur di lantai malam ini, paling beralaskan pakaian sebagai bantal. Perut terasa lapar, aku keluar mencari makanan, sedangkan Mas Lengga masih sibuk untuk membereskan semuanya. Aku berharap, semoga saat kembali membeli nasi, rumah sudah dalam keadaan rapi.
***
'Ich, jauh sekali cari makan, panas begini, perut sudah lapar … item deh kulit gue kalau begini. Ya Allah … hik … hik ….
'Dimana ya ada tukang makanan yang deket, kalau begini tiap hari bisa repot, masa adanya kang sayur yang mangkal. Iya kali aku makan sayur mentah, huft terpaksa deh jalan lagi.' Udah kaya orang gila aku nggrundel sendirian.
Akhirnya … setelah berjalan beberapa menit, nampak juga sebuah warteg, alias warung tegal. Secepat mungkin aku melangkahkan kaki.
"Mba, bungkus nasi ya dua bungkus, pakai ayam goreng sama tumisan," ucapku.
"Ini mba, jadi empat puluh enam ribu," tuturnya sambil memberikan dua bungkus nasi pesananku tadi. Ya Allah mahal amat. Baru terasa uang segitu besar nilainya.
"Ini mba, sama tambah air mineralnya dua ya, jadi berapa?" Aku menyerahkan uang lima puluh ribu rupiah pada Mba warteg.
"Pas ya, Mba." Dengan muka lesu aku mengangguk. Ya, duitnya tinggal seratus lima puluh ribu. Cukup gak ya buat besok. Kalau sekali makan lima puluh ribu bisa boros, belum lagi rokok Mas Lengga. Au Agh pusing. Sepanjang jalan kembali dari warteg aku terus memikirkan sisa uang dalam kantongku.
****
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Mas Lengga sesampainya aku di kontrakan. Sesuai harapan, rumah sudah rapi.
"Gak apa-apa, ini makan." Aku menghampiri dia dan duduk di sampingnya, membuka makanan yang telah kubeli. Sebenarnya aku sendiri jadi tidak bernafsu memakannya, mengingat harganya yang mahal. Padahal biasanya uang segitu gak ada harganya.
"Kamu makan! Ngapain bengong!" cetus Mas Lengga.
"Iya," jawabku singkat. Aku benar-benar memikirkan untuk hari esok. 'Boro-boro shoping ini mah, buat makan aja mikir. Mana scincare juga abis. Dasar Mas Lengga gak guna!'
"Kalau makan itu, yang niat! Nasi jangan diacak-acak! Bikin orang gak nafsu makan aja!" sentaknya. Bodo amat aku malas menjawab. Pusing isi kepalaku.
*****
Bersediakah kasih cerbung Mira Pelakor ulasan dan bintang lima? hehehhe terima kasih💕💕💕🤗🤗🤗
__ADS_1