
Hari ini aku akan memasak makanan kesukaan Mas Lengga.Karena, hari ini dia akan pulang.
Aku bangun lebih pagi takut kalau sampai Mas Lengga pulang belum ada makanan yang tersedia.
Mataku seketika terbelalak melihat makanan yang aku masak kemarin tidak sama sekali tersentuh. Aku hanya bisa menggeleng kepala, mengelus dada dengan kelakuan mereka.
Dengan terpaksa aku membuang semua masakanku, terkecuali nasi karena masih bagus, dan Baru tersentuh sedikit olehku.
***
Pagi ini Revan berangkat ke sekolah menyiapkan sarapannya sendiri, dia mulai memanggang roti tanpa menyapaku. Sedikit sapaan Tante, tidak terdengar seperti biasanya. Mungkin dia marah dengan perlakuanku kemarin. Setelah sarapan, dia melewatiku begitu saja.
"Ayok jalan," ucap Mba Sinta pada Revan.
Tidak seperti biasa, Mba Sinta menyuruhku mengerjakan sederetan pekerjaan rumah, dia sama seperti Revan mengabaikanku begitu saja. Baguslah, memang itu yang aku inginkan. Sebentar lagi, aku akan mendepak kalian keluar dari rumah ini, supaya kalian tobat.
***
Kali ini aku belanja kebutuhan pokok di supermarket terdekat, malas bertemu rombongan Ibu-ibu nyinyir. Segala macam kebutuhan, dari sabun hingga setok sayuran kuambil hingga memenuhi troli belanjaan. Sungguh terasa begitu tenang belanja di tempat ini.
Semua telah kudapatkan, sekarang waktunya untuk pulang, bayangan Mas Lengga , membuatku lebih bersemangat ingin cepat sampai di rumah. Masalah Mba Sinta, masa bodo. Tak peduli.
****
Sampai di rumah, mataku disuguhkan pemandangan yang sedikit tidak enak. Ada Mas Lengga, dan dua orang laki-laki seperti pengacara, ada juga Mba Sinta di sana. Ada apa ini, pikiranku menjadi kacau balau.
Setelah masuk dan meletakan barang belanjaan ke dapur, aku kembali menghampiri mereka. Alih-alih memasak makanan kesukaan Mas Lengga, kubatalkan.
"Mas, ada apa ini?" Aku bingung karena wajah Mas Lengga terlihat panik, sedang Mba Sinta sedikit santai. Aku tidak berani menatap mata Kaka maduku karena terlihat begitu tajam, mungkin dia masih marah denganku.
"Mas, jawab. Ada apa? Mas nyerein Mba Sinta?" bisiku di telinga Mas Lengga. Mas Lengga tidak menjawab hanya menunjukkan selembaran padaku agar aku membacanya. Bola mata ini seketika melotot tajam, sedikit tidak percaya dengan apa yang telah kubaca.
__ADS_1
Jadi dua orang ini adalah orang-orang Mba Sinta. Lemas aku ketika membaca Mba Sinta menggugat cerai Mas Lengga. Tidak ada harta goni gini karena semua berkas dan surat penting, dari kendaraan hingga kantor atas nama Mba Sinta dan akan diberikan pada Revan selaku anak mereka. Oh my good. Dan Mas Lengga memilih untuk tidak adu banding. Tuhan … mudah-mudahan ini hanya mimpi. Tanganku gemetar, seluruh badan seperti mendapat sensasi yang tak biasa. Haduh, tak kubayangkan jika kami harus hidup miskin. Alih-alih untuk mengusir Sinta dan mendepaknya sejauh mungkin, justru berbalik padaku. Untuk kedua kalinya, senjata makan Mira. Eh makan tuan. Ternyata sumpah serapah Ibu komplek menjadi kenyataan.
"Mas ini beneran?"
Aku masih belum percaya. Mas Lengga kenapa pasrah gitu aja si?
"Benar, sekarang kemasi pakaianmu kita akan keluar dari rumah ini," ucapnya enteng seperti tidak ada masalah.
"Tidak ada perlawanan, Mas?" tanyaku lagi. Kini pandanganku beralih ke Mba Sinta. "Kok Mba Sinta tega banget sama kita? Bahkan Mba Sinta tega mengambil semuanya," protesku padanya.
"Aku tidak mengambil semuanya! Buktinya, aku tidak mengambil suamiku.
Aku memberikannya cuma-cuma padamu, Mira. Aku berikan Lengga untukmu. Ambil dia! Bawa kemanapun kamu mau, Mira," hinanya begitu merendahkan Mas Lengga, yang seperti tidak ada harga dirinya di mata Mba Sinta.
"Mas, kamu gak dengar Mba Sinta ngomong apa? Kamu seperti barang rongsokan untuknya," lirihku pada Mas Lengga. Mungkin Mba Sinta memampuskan aku. Nyesel aku kemarin telah mendebatnya.
"Sudah kamu diam! Kita tidak ada bukti untuk melawan Sinta. Sekarang kamu bereskan semua barang-barang yang bisa kita bawa." Benar-benar Surpaise untuk Mira. 'Apes banget hidup gue! Udah jadi babu, laki cerai gak bawa duit! Percuma gue nikah sama lo Lengga'
Dengan berat hati aku masuk kamar dan merapikan semuanya. 'Mana tadi habis belanja. Huft tau gitu gue gak belanja kebutuhan pokok dan sebagainya! Sial …! Sial …! Ya ampun, Sintahe … lo kelewatan banget! Hik … hik … apes … apes …'
***
"Udah, Mas," ucapku lemas.
"Kamu gak apa-apa kan?" 'Dasar bodoh, masih saja nanya aku gak apa- apa. Jelas aku syok lah'
"Hem … enggak apa. Kan yang penting ada kamu."
Hhooeekkk, serasa mual aku mengucapkannya. Idih kalau sampai dia miskin beneran, jijay aku. Gak akan ada lagi cinta untuknya. Ada uang Abang di sayang, gak ada uang Abang ku tendang.
"Mas masih punya uang di tabungan kan?"selidiku.
__ADS_1
"Tidak ada, Mira. Bahkan rekeningku atas nama Sinta. Dari dulu Sinta yang mengatur semua keuangan. Mas hanya memegang kartu Atm. Dan sekarang Atm-nya sudah di blokir oleh Sinta," jawabnya polos.
"Ya ampun, Mas. Kok kamu bodoh banget! Terus kita pergi gak bawa apa-apa? Misikin kita?" tanyaku dengan mata mendelik.
"Iya …, Sayang. Tak masalah kan?"
"Ya ampun, Mas. Ku menangis …."
"Sabar …rezeki kita bisa cari bersama nanti." Kalau sudah seperti ini aku hanya bisa pasrah dan mengelus dada, membayangkan betapa bodohnya Lengga.
****
"Woy! Kalian cepat keluar dari rumah saya! Cepat! Cepat! Cepat!" Mba Sinta terus berteriak sambil menggedor pintu kamar. Wajah Mas Lengga seketika berubah merah padam menahan amarah. Nah gini dong, Mas.
"Eh, kamu bisa sopan sedikit gak si!" bentak Mas Lengga ketika telah membuka pintu kamar. Aku mengikutinya dari belakang.
"Iya, gak ada sopannya, Mas," tambahku, berharap pertengkaran mereka semakin menggila.
"Tidak usah banyak bicara! Cepat kalian keluar dari rumah saya!" usirnya.
Plak !
Tamparan keras Mas Lengga melayang manis di pipi mulus Mba Sinta. Hem, ****** kau! Rasakan sensasinya. Mba Sinta mengusapnya pelan kemudian merebut koper di tanganku dan melemparkannya keluar pintu.
"Cepat pergi kalian! Atau kupanggil polisi," ancamnya.
"Mba kamu kok gak punya perasaan banget," cetusku sedikit sinis.
"Apa? Coba kamu ngomong apa? Saya mau dengar!"
"Iya, Mba Sinta kok gak punya perasaan!" ulangku.
__ADS_1
"Kamu jangan membahas soal perasaan! Kalian sadar? Kalian pun telah menyakiti perasaan saya! Kamu Mira, kamu tahu Lengga sudah beristri, lantas kamu terus menggodanya, apa kamu memiliki perasaan? Dan kamu Mas Lengga, apa ketika kamu berselingkuh dengan Mira, kamu memikirkan perasaanku? Tidak Mas. Kamu mungkin lupa, kita berjuang bersama untuk bisa meraih semua ini. Tapi kamu hilaf disaat karirmu sedang di atas daun! Jangan pernah kalian berbicara soal perasaan kalau kalian sendiri tidak punya perasaan! Perasaan sakit ini sudah terbayarkan dengan kehancuran kalian!" pekiknya. Sudah seperti orang gila yang berteriak-teriak.
"Kamu mendapatkan harta? Tidak masalah! Aku mendapatkan suamimu! Kalau dulu kamu bisa sukses hidup berdua Lengga, tidak menutup kemungkinan aku juga bisa sukses hidup bersamanya. Dalam persaingan ini, yang terpenting adalah skil! Akan kubuktikan padamu jika kami juga bisa sukses, bahkan lebih dari ini! Camkan itu! Satu lagi, semoga kamu mendapat karma atas perlakuan tidak adilmu!" sentakku. Lalu, menarik tangan Mas Lengga keluar dari rumah besar yang sudah menjadi milik Sinta. Entah bagaimana nasib kedepannya setelah keluar dari rumah ini.