Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 9 POV Sinta


__ADS_3

POV Sinta ….


Berakhir sudah kisah cintaku dengan suamiku. Pernikahan yang dilandasi cinta dapat ternoda oleh hadirnya orang ketiga. Rapuh sudah pertahananku. Di rumah ini begitu banyak kenangan indah bersamanya. Mustahil kalau aku tidak terluka, nyatanya aku sendiri juga mencintai Lengga. Mengapa suamiku tidak bersyukur, bahkan istri cantik sepertiku masih tega ia duakan. Apa salahku, selama ini aku yang berdiri menemaninya dari nol. Merintis usaha hingga jadilah dia seperti sekarang. Meski aku mampu merebut semua kesuksesannya, tapi aku kehilangan cinta. Aku tidak bisa menerima atau memaafkan kesalahannya. Kenapa dia bisa tergoda oleh wanita seperti Mira. Apa karena mereka bersahabat sedari kecil? Lantas aku ini apa? Akan kubuat kau menyesal, Mas. Aku yakin kamu akan menghubungiku dengan dalih anak, aku yakin kau menyesal telah berpisah denganku. Merintis suatu usaha dari nol itu tidak mudah, kalau dulu aku menemanimu penuh cinta dan kesabaran, kita lihat saja nanti, apa Mira akan bersabar? Meski dia kujadikan babu di sini tapi dia masih bisa memegang gepokan uang merah setiap bulan. Sekarang? Apa yang akan dia pegang? apa Mira tidak akan menuntut apapun darimu Mas? Aku juga yakin, Mira akan merasakan hal yang sama sepertiku. Pria yang telah berani berselingkuh, dia akan mengulanginya lagi. Aku yakin kamu akan tergoda oleh perempuan dimasa keberhasilanmu nanti, dan nasib pernikahan kalian? Jika benar terjadi, aku akan menjadi orang yang menertawakan nasib Mira. 


****


Tangisku pecah juga setelah berhasil mengusir mereka, nyatanya meski aku menghindari Lengga selama masih tinggal satu atap, tetap hati ini merasa sakit. Aku mengijinkan mereka menikah, karena hatiku sudah terlanjur sakit. Lagi pula desas desus mereka berselingkuh juga sudah sampai di telingaku. Hanya saja aku tidak bisa melawan pada saat itu, walaupun aku melarang, mereka tetap akan bermain api di belakangku. Tidak ada cara lain selain menerima pernikahan mereka.


Semakin lama aku berfikir untuk memindah semua aset yang telah terkumpul bersama menjadi atas namaku, setidaknya aku tidak terlalu perih karena bisa menghancurkan Lengga dan kekayaannya. Rencanaku pun berjalan mulus, semua aset sudah menjadi milikku, dan aku berhasil menggugat Lengga tanpa dalih pertimbangan harta gono-gini. Semua harta itu nantinya akan kuberikan pada anak semata wayangku. Karena hanya dia yang berhak atas semua itu


****


Aku menangis bukan karena kehilangan Lengga, atau aku tidak bisa hidup tanpanya, tapi aku menangis karena luka yang telah ia torehkan, rasanya sakit sekali. Kesepian ini merejam semenjak masuknya Mira dalam rumah ini. Bagaimana perasaan seorang istri menyaksikan sendiri suami tidak pernah keluar kamar istri barunya waktu awal menikah? Apa yang terbesit? Jijik bukan? Setelah puas dengannya, lalu akan bergantian menuju kamar istri pertama dengan dalih memberi nafkah batin? Sungguh aku tidak bisa seperti itu, dengan halus aku menolak menggunakan berbagai alasan.


Sekarang drama rumah tangga ini telah berakhir, aku akan fokus mengurus hidupku dan Anakku, serta mengolah usaha supaya menjadi lebih maju. Aku juga akan meninggalkan pekerjaanku di dunia permodelan. Untuk membuat Lengga menyesali perbuatannya, aku memiliki cara tersendiri melakukan itu, bahkan bisa membuat Mira merasa cemburu. Aku tidak akan mengambil Lengga, aku juga tidak akan merayunya kembali, untuk apa? Aku hanya akan memberi mereka sedikit pelajaran. Ini hanya rencana, sukses atau tidaknya, lihat saja nanti, tapi setelah perpisahan ini, aku akan tetap menjalin hubungan baik dengan Lengga dan keluarganya. Kisah antara Sinta dan Lengga telah ditutup, sekarang dia bukan lagi suamiku. Tapi,dia adalah orang lain, atau mungkin hanya akan menjadi seorang teman. Sepertinya cukup sudah aku menangis, tidak akan ada yang berubah juga.

__ADS_1


****


"Ma … Mama …!" Anakku sudah kembali, sebaiknya, aku mencuci wajahku terlebih dahulu agar tidak terlihat sembab.


"Bentar lagi Mama keluar!" Tidak lama setelah mencuci muka dan merapikan rambut serta wajah aku menemui Revan.


"Sudah pulang? Makan dulu, tadi Mama sudah pesankan makan siang ada di meja makan."


"Rumah sepi amat, Ma. Katanya hari ini Papa pulang. Pada kemana?" Sudah kuduga dia akan bertanya seperti ini. Anakku sudah lumayan besar, tidak perlu aku menutupi sesuatu darinya.


"Enggaklah, Mah. Revan di sini aja, nemenin Mama. Apapun keputusan Mama, Revan akan mendukung selagi itu bisa buat Mama bahagia," ucapnya dengan senyum yang tulus. "Mah, Revan mau ambil makanan dulu, Mama mau di bawain apa? Kopi? Atau mungkin minuman?" tanyanya sambil menggoda.


"Emmm … air putih aja deh, buat nemenin anak Mama makan"


"Siap boskuh." 

__ADS_1


Lima menit kemudian, Revan kembali membawa dua botol air mineral dan satu box makanannya. Revan duduk di sampingku, menyalalakan televisi, baru menyantap lahap makanannya, memang sudah menjadi kebiasaan makan sambil nonton televisi. 


"Mah, gak sebaiknya cari pembantu?" sarannya. "Mama kan sekarang sibuk, jadi alangkah baiknya, Mama cari orang untuk kerja masak sama beres-beres rumah."


"Benar juga, nanti Mama ke yayasan deh."


"Gak usah Mah, Revan punya teman Ibuknya butuh pekerjaan, dia teman sekelas Revan, namanya Sifa. Revan kenal baik sama mereka. Nah, Ayah Sifa ini sudah meninggal, untuk bertahan hidup mereka juga kekurangan, Ma," jelasnya penuh permohonan.


"Ya udah, besok suruh datang aja, ya kita kan cuma tinggal berdua, siapa tahu mereka bisa menjadi keluarga kita." 


"Mama memang yang terbaik," rayunya.


"Jadi selama ini Mama, gak baik gitu?" Hhahaahha, kami tertawa bersamaan.


Meski hanya tinggal berdua, tapi selama masih ada Revan, hidup ini tidak terasa sepi.

__ADS_1


 


__ADS_2