Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 5 Rencana Sinta


__ADS_3

"Jurus jitu melawan pelakor supaya tidak kurang ajar ya memang kitanya harus tegas." Aku membahas seputaran tentang pelakor bersama Maya temanku. Dia baru saja mengalami apa yang aku alami, hanya saja Maya tidak sekuat aku, bodohnya dia malah langsung menyerahkan suaminya. 


"Sekarang Pelakor memang sedang merajarela, seperti sudah tidak ada pria single saja," ucap Ratna.


"Sebenarnya, ini semua tergantung mereka, mampu menahan hawa nafsu atau tidak. Tapi biarkan saja, aku tidak sebodoh itu menerima Mira. Setelah puas menjadikan babu, cepat atau lambat, semua surat-surat penting akan kuganti menjadi namaku. Kemudian, aku akan meminta cerai dari Lengga. Biar …. Jika sudah seperti ini, aku akan membuat mereka hancur, sehancurnya. Bermain cantik, butuh taktik," ungkapku pada kedua sahabatku.


"Gila! Sadis lu, Sint!" Ratna berucap sambil menengok ke arah Maya. 


"Laki-laki, jika sudah berani berselingkuh di belakang kita, tidak menutup kemungkinan dia akan mengulangi lagi. Selingkuh itu penyakit. Sekali dimaafkan akan keterusan, kecuali kehancuran yang mampu membuatnya kapok," geramku.


"Betul juga, seperti suamimu May, berapa kali dia selingkuh? Tapi kamu masih saja memaafkan. Sekarang kamu rugi sendiri kan?" cetus Ratna pada Maya. 


"Suami selingkuh memiliki watak tidak pernah puas dengan apa yang dia miliki. Oleh sebab itu, ketika dia meninggalkan istri dan anak untuk menikah dengan selingkuhannya, pada akhirnya, dia juga bisa kembali selingkuh dengan wanita lain.


Pria tidak setia, yang pernah mengecap manisnya selingkuh akan tergoda untuk mengulanginya." Terangku pada keduanya. Entah, aku menjadi sangat geram. Karena memang begitu kenyataannya.


"Biarkan saja, nanti dia juga akan di selingkuhi oleh suamimu, May. Sekarang buktikan pada Reno, kamu bisa bangkit tanpannya, kamu bisa dapat yang lebih dan lebih dari dia. Tunjukan prestasimu dan buat Reno menyesal. Satu hal, kalau perlu kau bekerja di kantor yang sama dengan Reno," lanjutku memberi semangat.


"Hah, betul juga ide Sinta. Kamu tunjukkan padanya, kalau kamu kuat dan baik-baik saja." Ratna kembali menimpali.


Maya masih terlihat tidak bersemangat dan pasrah.


"Jadi aku harus melamar pekerjaan di kantor tempat Reno bekerja?" tanyanya.


"Ho'oh. Betul itu. Biar nanti kubantu, ok?" ucapku menutup obrolan kami. Aku sangat mengenal pemilik perusahaan tempat Reno bekerja, kebetulan aku menjadi brand ambassador di sana. 


****


Mira, tidak ada rasa kasihan untuk dia, sepolos apa pun wajahnya. Kalau memang dia baik, tidak mungkin tega mendekati Lengga. Bukankah dia tahu kalau Lengga sudah beristri, lantas mengapa dia tidak menolak Lengga. Sakit hati aku dibuatnya. Aku akan membuat keduanya menyesal, untung saja aku pandai menyimpan sebuah rasa, perlahan akan kurebut semua kesuksesan yang telah dibangun. Pelakor, pelakor itu perempuan yang harus di musnahkan dari muka bumi, perusak, pengganggu. Bukan hanya pelakor, laki-laki ******** yang telah berselingkuh juga wajib mendapatkan imbalan. 


Kau makan harapanmu untuk bisa menjadi nyonya dalam rumahku. Pelakor bersembunyi di balik keluguan, tidak berpengaruh pada saya Mira.


***


"Bagaimana, kapan kamu kembali ke Jakarta?"  Sebuah pesan dari Lengga nampak di layar ponselku.


"Besok, kamu kapan kembali?" balasku.

__ADS_1


"Aku masih tiga hari lagi. Oke jaga dirimu."  tulisnya.


"Pa, gimana semua surat yang aku tinggal sudah di tanda tangani, balik nama jadi namaku?" tulisku mengingatkan.


"Amann …. "  Aku tidak lagi membalas. Yes, dasar bodoh. Nikmati perjuanganmu dari awal. Kasihan kamu Lengga, seharusnya sudah tidak perlu bersusah payah, ini harus kembali merintis bersama Mira. Doaku semoga sukses. Sabar, tunggu surat cerai dari pengadilan, Tidak ada lagi tuntutan harta gono gini. Enak saja, susah bareng sama saya, giliran sudah kaya, mendua! Dasar laki-laki luknut kurang iman dan tak punya pendirian. Kalian pelaku perselingkuhan, memang seharusnya diberi pelajaran, bikin gemas. Siapkan kuping untuk mendengar protes dari mertua nantinya. Hihihi masa bodo. Teringat nama Mira, aku menekan kontaknya dan mengirim pesan. 


"Mir, saya besok kembali, tolong rapikan kamar saya! Siapkan makanan! Ingat jangan sampai rumah berantakan! Kalau masih berantakan, uang jatah dari Lengga tidak akan sampai di tanganmu!" ancamku. Tidak lama muncul sebuah balasan.


"Sudah, Mba. Sudah rapi semua, ini Mira lagi pasang korden. Hati-hati di jalan ya, Mba, selamat sampai tujuan."  Mira mengirim foto dirinya dan korden yang sudah berhasil diganti. Hihihi rasain kamu! Emang enak. Ini belum seberapa, detik-detik perceraianku dengan Lengga, kamu akan kubuat semakin menderita. Berani menjadi duri dalam pernikahanku, rasakan sensasi panasnya. Dan kamu Lengga, berani menghianatiku, rasakan pembalasanku. Hahahhaha …  aku sungguh tertawa jahat. 


***


"Sinta! cekikikan sendirian. Kenapa gitu?" Ratna datang sambil menepuk pundakku. 


"Liat deh!" Aku menunjukan foto Mira dengan tumpukan korden.


"Hahhahaha … kelewatan lo!" cetusnya.


"Biar tahu rasa dia! Oh iya Maya mana?" 


*****


Huaaa … masih ngantuk. Kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 10. 00 pagi. Huwwwaa … kesiangan. Bisa di gorok aku sama Mba Sinta. Mudah-mudahan dia belum kembali, bisa repot aku. Dengan berat hati bahkan sampai tidak mencuci muka, aku bergagas lari ke tempat Mang Udin si tukang sayur. Ya Allah, mudah-mudahan masih ada sayuran. 


***


"Enak banget ya si Mira, jam segini baru bangun tidur," cetus Bu Nuning sesampainya aku di tempat Mang Udin. Astaga … aku kira kang gosip udah pada di kandang jam segini, ternyata masih ada yang berkeliaran. 


"Jangan sirik Napa, sama hidup saya, Bu Nuning," sungutku sambil memilih beberapa sayur. Untung masih ada ikan bandeng sama kacang panjang. 


"Ih amit-amit saya sirik sama kamu, Mira. Nauzubillah Minzalik." Wah, sembarangan Bu Nuning. Emang saya sehina itu pake ucap kata nauzubillah Minzalik. 


"Bu Nuning, jangan terlalu pedas kalau ngomong, dijaga sedikit perasaan orang, Bu," cetusku sedikit tersinggung. "Mang buruan bungkus, mumet saya sama ucapan Ibu-ibu sini." Aku menyerahkan selembar uang lima puluh ribu dan membayar semua belanjaanku. Lalu, tanpa pamit aku meninggalkan Bu Nuning yang masih sibuk memilih sayuran sambil terus menggerutu. 


"Nyuruh orang ngejaga perasaan, Mang. Dia sendiri gak punya perasaan ngganggu suami, Mba Sinta," ucap Bu Nuning pelan tapi masih dapat kudengar, karena dia mengucapkannya ketika aku hendak melangkah. 'Sabar Mira …. ' Tidak kupedulikan ucapannya, segera kulanjutkan langkah kakiku. Dasar emak-emak gak ada akhlak. Kesal aku tuh di hina terus sama orang. Rasanya aku ingin cepat-cepat pindah dari sini. Mulut orang yang buat aku tidak tahan.


***

__ADS_1


Sampai rumah, kuolah semua belanjaan tadi. Hari ini aku akan memasak tumis kacang, ikan bandeng goreng sama sayur sop. Tidak terlalu banyak, takut kalau tidak dimakan. Mba Sinta dan Revan, susah-susah gampang. Tapi, lebih banyak susahnya, ribet. Mulai dari menanak nasi, kumulai aktifitas dapurku.


***


Semua masakan sudah tertata rapi di meja makan, rumah juga sudah siap di bersihkan. Waktunya santai dan menikmati hiburan di televisi.


"Tante Mira … tolong buatkan Revan es sirup ya. Revan haus." Dia meletakan tas sekolahnya di meja, lalu membaringkan tubuhnya. Enak sekali … bukan bikin sendiri malah nyuruh. Hal ini yang paling kubenci, di suruh-suruh. "Tante … tolongin dong," ucapnya lagi. 


"Emang kamu gak bisa bikin sendiri? Gak sopan banget nyuruh orang tua!" bentakku kesal. Iya badanku terasa sangat lelah, baru juga aku beristirahat.


"Kok kamu bentak anak saya? Oh jadi begini ya kelakuan kamu kalau saya tidak ada!" Tiba-tiba saja Mba Sinta muncul. Haduh …  bikin males kalau harus bergaduh.


"Saya capek, Mba! Mba si enak kerjanya cuma potrat poteret di depan kamera. Emang kamu pikir saya babumu! Jangan mentang-mentang saya diam, anda berbuat seenaknya pada saya!" sahutku tak kalah lantang. Memang dia pikir dia siapa. Kali pertama aku meng-kamu-kan Mba Sinta selama menjadi madunya. 


"Revan, kamu masuk!" suruh Mba Sinta pada Revan. Dia pun menurutinya. Setelah itu, Sinta kembali mengibarkan bendera permusuhan.


"Kalau kamu tidak mau menjadi babu di rumah ini, silahkan angkat kaki dari rumah saya!" usirnya.


Cuih!


"Kamu pikir, kamu siapa? Berani ngusir saya? Kamu lupa kalau saya juga istri Lengga? Hah? Oh, mungkin kamu lupa, kalau aku bisa menikahi suamimu, tidak menutup kemungkinan aku bisa mengambilnya dan menjadikan Lengga hanya menjadi suamiku, dan menendangmu keluar dari rumah ini! Jangan besar kepala dan merasa sok berkuasa kamu! Seharusnya kamu bersyukur, aku masih bisa bersikap baik padamu selama ini! Semakin dibiarkan semakin menjadi! Dasar gak ada otak kau!" Aku menunjuk-nunjuk wajahnya. Memang ini sebenarnya yang ingin kukeluarkan. Aku capek, aku juga mempunyai batas kesabaran.


"Aku peringatkan kamu, bukan aku yang akan keluar dari rumah ini. Tapi, kamu! Kalau kau mau Lengga, ambil saja! Aku juga tidak membutuhkannya, kalian itu memang cocok, sama-sama sampah masyarakat!" makinya. Angkuh sekali wanita di depanku ini, tidak membutuhkan Lengga, lantas untuk apa selama ini dia bertahan. Sombong, mau tinggal dimana dia kalau di cerai oleh Lengga.


"Oke … kita buktikan saja nanti," ucapku seraya pergi meninggalkan Sinta. Tadi saja makanan kukasih racun. Tidak ada kata Mba lagi. Mulai hari ini, aku membencinya. Mira membenci Sinta.


"Oe, pelakor! Jangan lupa bereskan bajumu! Nanti kalau tidak kau bereskan sekarang, aku khawatir kau tidak sempat membereskannya jika nanti kuusir!" triaknya dengan PD. Lihat saja nanti siapa yang akan keluar dari rumah ini. Kuabaikan ucapannya dan bergagas masuk kamar. Entah keberanian dari mana aku mendebatnya.


***


Bermacam pesan singkat kukirimkan pada Mas Lengga agar dia cepat kembali dari pekerjaannya. Aku sudah tidak sabar ingin mengusirnya dari sini. Jurus mencari perhatian, sekali lagi kukeluarkan untuk meracuni pikiran  Mas Lengga. Tidak ada yang sia-sia dengan usaha Mira. Dia akan segera kembali, dan sepertinya Mas Lengga juga termakan oleh rayuanku. Sudah kubilang Sinta, kalau dulu aku bisa menikahi suamimu, sekarang juga aku bisa menendangmu!" 


***


Coba kalau kamu tidak berbuat seenaknya, mungkin kita bisa hidup menjadi saudara madu yang akur. Pada dasarnya aku wanita baik, dan berhati penyayang, tapi Sinta memanfaatkannya. Sebisa mungkin aku harus bisa membuatnya keluar dari rumah ini, dan bercerai dengan Mas Lengga.


 

__ADS_1


__ADS_2