
Badan pada sakit tidur di lantai, tak ber-alas pula. Uang sisa kemaren sudah tinggal seratus ribu. Uang lima puluh ribu untuk beli air minum, perlengkapan mandi dan rokok Mas Lengga tak bersisa. Nasib ya nasib. Sinta sama anaknya hidup enak, gak kekurangan duit, tidur di kasur empuk, segala kebutuhan ada, ini aku malah diajak hidup susah. Perut lapar, makan sehari sekali. Bener-bener nasib, buruk banget.
"Mas aku mau berangkat kerja. Kamu cari kerjaan jangan nganggur!" sentakku kesal sambil meninggalkannya.
"Kan aku juga udah kerja! Gak usah rewel! Jangan suka bentak suami! Baru sehari diajak susah, sudah seperti itu sikapmu!" sungutnya.
"Bukan gitu, Mas. Ini uang kita cuma tinggal seratus ribu! Belum kupake ongkos nanti!" sahutku tak kalah lantang.
"Otakmu ini isinya cuma duit! Gak bisa sabar! Memang ya, sikap lugumu hanya topeng semata! Harusnya aku tidak pernah tergoda oleh topengmu!" makinya.
Ya ampun hatiku sudah semakin dongkol, masih pagi sudah berdebat begini. Bodo agh, ingin sekali tangan ini menjambak rambutnya kalau saja dia bukan suamiku. Tapi aku takut dosa. Tanpa pamit aku berlalu meninggalkannya. Untung saja tempat kerjaku masih bisa di tempuh dengan jalan kaki, jadi aku tidak perlu merecehkan uang seratus ribu ini.
***
" Mba, mba yang biasa mana?" tanyaku pada Repsesionis yang wajahnya baru hari ini kulihat.
"Sudah keluar, Mba. Ini saya yang menggantikanya."
Deg … Astagfirullah!!!! Ingin rasanya aku menangis, ya Allah … hampir saja aku tidak bisa menyembunyikan air mata. Kenapa nasib sial selalu menimpaku. Sumpah, Nyesek bin dongkol, hik … hik ….
Kalau seseorang yang tidak menyukaiku tahu akan penderitaan ini, sudah pasti mereka akan menertawakannya.
"Kamu ngapain di sini? Kemarin kamu kenapa tidak datang?" Suara Pak David manajer hotel, membuat seluruh badan panas dingin karena grogi.
"Maaf, Pak. Kemarin ada urusan mendadak yang memang tidak bisa untuk di tinggalkan. Lalu, bagaimana, Pak? Apa masih ada pekerjaan untuk saya?" tanyaku sedikit berharap.
"Ada, jadi cleaning service. Kalau mau, hari ini juga langsung kerja," tawarnya.
"Siap, Pak. Saya mau."
Daripada gak ada kerjaan, aku juga sangat membutuhkan uang. Pak David menyuruhku untuk ke belakang. Berganti seragam khas OB. Tidak kubayangkan betapa lelahnya pekerjaan ini. Hanya air mata kepedihan yang tersimpan di dalam hati. Sebelum melakukan aktifitas, tubuh ini sudah lemas ketika mata menatap sepaket alat kebersihan, Sapu, dan kain pel.
****
'Ya ampun, Mas Lengga, Mas Lengga … kok dirimu seperti gak ada gunanya untuk istri. Capek banget dari tadi ngepel terus gak ada berhentinya.'
****
Akhirnya, waktu sudah menunjukan pukul 15.00 sore, waktunya pulang kerja, gantian sama bagian sore sampai malam.
"Besok jangan telat ya, Mira." Suara Pak David mengagetkanku.
"Siap, Pak. Saya pulang duluan." Pak David hanya mengangguk. Ajak pulang bareng, saya mau deh, Pak. Ckckkcck. Ganteng juga ya, Pak David.
****
Tepat pukul 15.20 wib aku sampai di rumah, sengaja di jalan tadi aku membeli makanan. Jelas paket hemat hanya nasi+ikan asin seharga delapan ribu rupiah di tambah satu botol air mineral dua ribu rupiah, jadi deh sepuluh ribu. Ampun deh kok hidupku jadi seperti ini. Tidak pernah terbayang sebelumnya.
Rumah masih sepi, pintu juga tidak dikunci. Sepertinya Mas Lengga belum pulang. Biar saja lah aku makan sendirian.
Tetap harapanku sambil menunggu Mas Lengga pulang dia membawa uang yang banyak … walaupun gak banyak, setidaknya bisa untuk membeli kasur ataupun bantal.
***
__ADS_1
Jenuh banget seharian di rumah tanpa hiburan. Bahkan ponsel pun aku sudah tak punya. Ponselku tertinggal di rumah Sinta. Apa aku ambil saja ya, lumayan handphone mahal. Tapi, aku malu.
Pasti banyak panggilan dari Sari. Ampun deh, dasar bodoh. Hem … Bt ….
"Assalamualaikum" ucap Mas Lengga.
"Akhirnya kamu pulang juga, Mas. Aku suntuk nungguin dari tadi sendirian," rengeku.
"Bukan jawab salam! Malah nyerocos aja." sinisnya.
"Kok kamu gitu si, Mas. Aku kan cuma kangen aja." Ih nyebelin banget si. Kalau kaya gini terus, aku bisa jenuh sama dia. Jangan lupa Mas aku masih muda!
"Ye bengong lagi! Ni duit! Mulai besok gak usah kerja! Di rumah aja!" seketika mataku berseri, dan rasa cinta itu tumbuh kembali seperti dulu. Aku pun langsung menawarinya makan dan kopi. Bersyukur doaku dikabulkan.
"Giliran lihat duit aja ijo! Pas diajak susah sehari aja, ngajakin ribut! Dasar mata duitan!" makinya. Oh aku tidak peduli terserah kamu mau bilang apa, Mas.
"Mas aku beli kasur busa dulu sama bantal ya, badanku pada sakit tidur di lantai."
"Terserah," ucapnya sambil masuk ke kamar mandi. Dengan perasaan yang ceria, aku pun naik ojek pergi ke supermarket mencari kasur dan bantal. Kalau ke pasar, takutnya sudah tutup, soalnya sudah masuk waktu Isya. Tapi Mas Lengga dapat uang darimana ya? ... agh masa bodo.
'Huhuhhhhhuhuhu' Aku bahagia ....
*****
Yeyeee semangat Mira … semangat! Posisimu sekarang nomor satu. Sinta mah tewas guys … ckckckck ….
Wih, aku gak nyangka sebelumnya, Mas Lengga cerai sama Sinta … ke tempat Sinta agh pamer duit dari Mas Lengga.
****
Repot juga kalau tanpa Hp, susah untuk menghubungi Mas Lengga, aku juga mau tahu kabar Sari, terakhir dia babak belur dilabrak istri sah.
Setelah selesai mengunci pintu, seperti biasa, nyari kang ojek. Kalau dulu nyari taksi, sekarang akang ojek, yang penting sampai. Tapi masa iya sih naik ojek, hih ketemu kang gosip repot, jatuh harga diriku. Dengan terpaksa, aku berjalan kaki ke jalan raya dimana taksi berseliweran.
Rupanya, nasib sedang berpihak pada Mira, tidak perlu berjalan jauh, sudah mampu menemukan taksi. Aku langsung menghentikan dan naik ke dalamnya.
"Komplek Bukit Mas ya, Pak," ucapku.
"Siap." Dengan cepat Pak Sopir membawa Putri Mira bertemu Pipiot. Alias Sinta si nenek sihir. Setelah beberapa menit kemudian, aku telah sampai tepat di depan gerbang rumah Sinta. Saat aku turun, kulihat gerbang tidak terkunci, sepertinya ada orang. 'Hah, jadi rindu tidur di rumah ini'
"Permisi!" Aku berteriak sambil menekan bel. 'Tidak ada jawaban pada kemana? Ya sudahlah aku masuk saja'
***
"Maaf, Ibu siapa kenapa tidak menunggu di depan?" cetus seorang gadis berusia Revan, 'wah jangan-jangan mereka pacaran, mesum ni di rumah saat Sinta gak ada.'
"Heh, kamu siapa? Kamu pacaran ya sama Revan! Minggir-minggir saya mau masuk." Aku menyingkirkan bahu anak itu dan langsung nyelonong masuk ke dalam. 'Adem sekali rasanya.'
"Tante Sinta!!!! Ada orang kurang ajar main masuk ke rumh Tante!" triaknya. 'Mak … jlepp … Tante Sinta, jadi dia, waduh Sinta di rumah, sial.'
"Siapa, Sifa?!" jawabanya sambil menutup pintu, dan ketika dia melihatku, raut wajahnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Sebenarnya aku menahan malu. Tapi, sudah terlanjur ….
"Kamu ngapain ke sini? Mau minjam duit lagi? Kemarin kan suamimu sudah pinjam duit!sih kurang?!" sentaknya. 'Jadi Mas Lengga pinjam duit ke Sinta! Awas kamu Mas udah bikin aku malu! Lihat saja nanti kamu pulang, kubuat bakwan kamu, Mas.'
__ADS_1
"Woy! Malah bengong! Kebiasaan banget kamu suka bengong di sini! Mau ngapain ke sini! Tuli ya?" sentaknya.
"Ih, santai dong Mba, gak usah ngurat! Saya ke sini mau ambil HP saya! Ketinggalan di kamarku! Banyak nomor penting di sana," ucapku hendak ngeloyor menuju kamarku dulu. Baru juga kaki ini akan melangkah, Mba Sinta menarik kerah kaosku.
"Mau ngapain kamu?" tanyanya lagi.
"Mba, B**ek ya! Apa tuli? Saya sudah bilang! Saya mau ambil HP saya yang tertinggal!" bentakku tak kalah nyolot.
"Tidak bisa! Itu saya potong buat bayar utang suami kamu kemarin!" Apa? Memang betul gila ini perempuan.
"Jangan serakah kamu! Woy! Inget, harta kau ini, harta suamiku! Jangan belagu kau! Miskin tahu rasa kau!" makiku kesal.
"Hahahhahaaa! Gaya kamu ini, Mira. Kaya orang!"
Sial emang aku orang.
"Sekarang keluar! Keluar saya bilang!" Dia menyeret kasar tanganku menarik keluar. Keributan yang di bunyikan dari mulutnya membuat kang gosip berkumpul.
"Dasar perempuan sakit jiwa! Pantas kamu di cerai suamimu! Ternyata begini kelakuanmu! Hahahha sakit hati kan kamu, suami kamu lebih memilih aku!" Tidak lagi kupedulikan hiruk pikuk suara kang gosip.
Cuih!
"Ternyata selain tuli, kamu juga buta! Kamu lupa saya yang menggugat cerai Lengga! Pergi kamu dari rumah saya! Jangan pernah ijakan kaki di sini lagi!" pekiknya sambil menutup pintu dengan keras.
"Halah, Mira! Rasain kamu kena karma kan!" cetus Bu Inem.
"****** kamu, Mira! Kemarin kamu angkuh dan sombong!" sahut Bu Nuning.
"Kalian bisa diam gak si? Ikut campur aja urusan orang! Dasar lambe turah! Dasar tukang nyinyir! Tukang gosip!" makiku.
Cuih!
Aku membuang ludah di depan mereka, lalu meninggalkan pergi. Tidak kupedulikan lagi apa mereka masih meng-ghibahi-ku, segera aku bergagas naik ojek Mang Sukri.
"Sabar, Neng Mira," ucapnya ketika aku sudah berada di atas motornya.
"Iya, Mang. Biar saja."
"Emang gitu, Neng, kalau kita nikah sama suami orang, apalagi ada desas desus pelakor! Sudah pasti jelek di mata orang! Dulu, Mamang pernah dengar, kalau banyak yang sering lhiat Pak Lengga jalan sama perempuan, hanya saja entah sampai ke telinga Mba Sinta atau tidak. Tapi, kabar itu berhembus kencang. Suami Bu Nuning juga sering melihat kalian, kabar itu berawal dari suami Bu Nuning. Kan pekerjaan suaminya itu Tukang ojek online. Nah Pas Neng Mira nikah, ternyata yang menjalin hubungan dengan Pak Lengga selama ini Mba Mira, maka dari itu, Mba Mira dianggap pelakor," terangnya panjang lebar.
"Udah Mang. Jangan dibahas. Saya malas dengernya. Saya naik ojek Mang Sukri, bukan buat di ceramahi, Mang!" ketusku.
"Maaf, Neng. Kalau gitu terima saja resikonya," celetuknya. Aku tidak menjawab lagi, malas nanti semakin memanjang obrolannya.
****
"Mang, setop disini saja! Saya sudah sampai!"
"Oh iya, baik Neng." Setelah turun, aku mengeluarkan uang dua puluh lima ribu rupiah dan memberikan pada Mang Sukri.
"Wah, uang pas. Makasih ya, Neng."
"Iya," jawabku sinis dan meninggalkannya tanpa ucapan terimakasih. Kecewa aku sama Mang Sukri ….
__ADS_1
Dan kamu Mas Lengga! Kutunggu kepulanganmu! Awas aja nanti kujadikan peyek!!!! Ya ampun rasanya aku ingin mengkeruwes wajah dan Mulut Mas Lengga.