
"Akhirnya, kamu siuman juga … Mira," ucap Ibu … memegang tanganku.
"Mas Lengga mana, Bu?" tanyaku sambil mata mengitari seluruh ruangan.
"Lengga kan kerja, kamu tahu sendiri menjadi karyawan di kantor Adrian sudah pasti padat jadwalnya." Aku hanya terdiam.
"Apa Mira, pinsan, Bu?" tanyaku.
"Iya, dua hari kamu tidak siuman."
"Anak Mira di mana, Bu?"
"Anak kamu ada di ruang bayi, keadaannya masih lemah," jawab Ibu lemas.
"Perempuan atau laki-laki?" tanyaku lagi.
"Perempuan, wajahnya sangat mirip kamu. Semoga saja nasibnya tidak seperti kamu," lirih Ibu.
"Ha? Ibu ngomong apa barusan? Mira gak denger, Bu." Memang aku gak dengar bunyi kalimat terakhir yang Ibu ucapkan.
****
Seminggu sudah aku di rumah sakit, rasanya sudah tidak betah, luka bekas operasi caesar-ku juga masih sangat basah. Aku sendiri bingung mengapa luka ini tak kunjung kering.
Dalam satu Minggu, Mas Lengga hanya datang mengunjungiku dua kali. Sedangkan Kedua mertuaku tidak nampak pun batang hidungnya. Kata ibu hari pertama aku masuk rumah sakit mereka datang. Aku kira tidak sama sekali.
"Assalamualaikum." Baru saja kupikirkan, Mas Lengga sudah datang. Antara senang dan kesal.
"WalaikumSalam," ucap Ibu.
"Dari mana aja kamu, Mas?" slorohku kesal.
"Kamu ini, suami baru datang bukan di sambut malah diketusin!" sosor Ibu.
"Ya bukan gitu, Bu. Istri sedang dirawat, bukan rajin nengok malah sibuk di luar!" kesalku pada Mas Lengga. Tanpa menjawab sepatah katapun dia kembali keluar dari ruanganku. 'Keterlaluan!' kalau saja bukan di rumah sakit, Mas. Ada apa sama kamu ini.
****
"Bu Mira, besok sudah boleh pulang, ya." ucap dokter setelah memeriksa kondisiku.
"Anak saya juga ikut pulang kan, Bu?" Aku belum melihat anakku sampai saat ini, dikarenakan kondisinya masih keritis di inkubator. Hanya foto saja yang dapat kulihat.
"Allhamdullillah sudah, Bu." Mendengar jawabannya aku merasa tenang. Aku menunggu Mas Lengga seharian ingin memberi tahu kalau besok aku boleh pulang, tapi sampai larut malam begini dia tidak juga datang. Ingin bertanya sama Ibu, tapi Ibu sedang beristirahat, kasihan ia, pasti sangat lelah terlihat bdari tidurnya cukup lelap. 'Mas jangan sampai kamu macam-macam di luar! Ingat anak dan Istrimu!"
__ADS_1
Salahkah jika sebagai seorang istri aku khawatir akan kelakuan suamiku yang super sibuk itu di luar?
"Namun, pada akhirnya mereka akan menuai apa yang mereka tanam. Karma tidak akan pernah lupa. Pada akhirnya, kita pun akan merasa," ucapan itu, kata-kata itu yang sebenarnya menghantuiku. Mungkinkah aku akan merasakan hal yang sama? Lalu aku bisa apa? Kapok aku jadi pelakor kalau harus merasa dipelakorin, jangan sampai ya Robb …"
"Karma itu bukan hanya pidana. Pelakor terlihat bahagia, tapi suatu saat batinnya akan menderita." Aku kembali teringat acara yang lalu. Tapi, memang benar batinku tak tenang. Namun, sebisa mungkin aku mencoba untuk tenang dan berfikir positif.
*****
Pagi ini kami sudah bersiap, Tinggal menunggu kedatangan Mas Lengga. Dalisa, nama anakku sudah berada di pangkuan Ibu.
"Coba kamu hubungi Lengga, apa masih lama?" ucap Ibu.
"Mira gak bawa HP, Bu." Mas Lengga kenapa ya, kok tega amat. "Kita naik Taxsi aja ya, Bu?" tawarku. Ibu mengangguk.
"Tapi biyaya administrasinya bagaimana? Yah … terpaksa dong tunggu Mas Lengga." ' Ya ampun, kamu ini, Mas … kebangetan.'
"Ya sudah kita tunggu Lengga saja," ucap Ibu. Menunggu itu benar-benar melelahkan. Ya Allah … rasanya aku ingin menelan seseorang.
"Assalamualaikum …." Melihat kedatangan Adrian dan Sinta, membuat hati ini sedikit tenang.
"Walaikumsalam," ucap Ibu. "Nak Sinta, Adrian, masuk."
"Kok kalian sudah rapi, memang mau pulang?" tanya Adrian. Sinta mengambil Delisa dan mengembannya.
"Bukankah Lengga, Iyan kasih cuti dalam satu Minggu?" jawabnya membuat darahku mendidih.
"Dia bilang kerja, Yan," cetus Ibu. Kemana kamu, Mas. Ingin rasanya aku cepat sampai rumah.
"Ya sudah … biar, Mas Adrian yang mengurus biyaya administrasinya. Kami tunggu di mobil," ucap Sinta, membuatku merasa lega. Akhirnya Adrian yang mengurus pembayaran, dan kami menuju mobil Adrian.
****
"Makasih ya, Mba Sinta. Maaf merepotkan."
"Tidak masalah, kita kan saudara," jawabnya penuh senyum sambil membantuku duduk di dalam mobil. Setelahnya, dia duduk di sampingku. Sedangkan Ibu mengemban Delisa duduk di jok depan.
"Kenapa bukan, Mba Sinta saja yang duduk di depan?" Aku merasa sedikit tidak enak.
"Aku ingin menemanimu di sini. Cerita padaku, ada apa?" pertanyaan Mba Sinta membuat bulir bening di mataku terjun bebas.
"Mba, Mira mau nanya boleh?"
"Boleh." Kuabaikan Ibu yang sedang fokus dengan Delisa.
__ADS_1
"Mira mau curhat, Mba. Huhuhuhu." Aku tidak dapat menyimpan sesak di hatiku.
"Jangan menangis, ada apa?" ucapnya sambil mengusap air mataku. 'Perempuan ini baik sekali.'
"Mba, dulu sikap Mas Lengga waktu selingkuh dengan Mira, bagaimana?"
"Awalnya, dia tidak lagi meletakan ponsel sembarangan, lalu memberi password supaya saya tidak bisa buka, makin hari dia semakin cuek, mudah marah, pulang telat banyak alasan, jarang pulang, dan yang terakhir tidak banyak berbicara, serta tidak pernah menyentuh saya," terangnya.
Tidak lama Adrian muncul dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Siap?" tanyanya.
"Siap …." ucap kami bersamaan.
"Memang ada apa kamu bertanya seperti itu?" selidik Mba Sinta penuh tanya.
Dengan Isak tangis yang tidak bisa kutahan, kuceritakan semua padanya. Ya Allah kenapa aku merasa kalau dia itu seperti seorang Kakak yang sedang menenangkan adiknya. Dari A hingga z aku ceritakan semua pada Sinta. Sedangkan Adrian fokus menyetir dan Ibu fokus dengan Delisa. Entah, mereka menguping atau tidak, tapi itulah yang sebenarnya aku rasakan.
"Sabar, coba nanti kamu tanya baik-baik. Waktu selingkuh sama kamu, tengah malam juga Mas Lengga rajin memainkan ponsel secara diam-diam, dering dibuat hening, dan tidur berbelok membelakangi kita," papar Mba Sinta. "Semoga saja Lengga tidak mengulangi hal yang sama. Jangan sampai kamu merasakan sakit yang sama sepertiku," sambungnya.
"Mba Sinta percaya karma untuk pelakor?" Tanpa malu aku mengatakannya.
"Karma pasti ada, apalagi pelakor, selain menahan malu, tidak menutup kemungkinan, akan merasakan suaminya berselingkuh. Kalaupun tidak terjadi pada pelaku, bisa terjadi pada turunannya. Pelakor itu penyakit nafsu yang mustinya kita lawan, sebelum melakukan, ingat tidak ada kebahagiaan yang abadi dari hasil merebut milik orang lain," jelasnya dengan bijak. "Betul itu kata, Nak Sinta, Mira!" sambar Ibu. Aku mengabaikan ucapan Ibu dan fokus pada wanita hebat di sampingku.
"Kalau Mira ini pelakor apa bukan? Jawab jujur, Mba." Maklum aku benar-benar takut akan mengalami hal yang sama. Gak mau pokoknya.
"Yang kamu lakukan pada Lengga ketika beristri apa?" tanyanya.
"Menarik perhatiannya, menggoda dengan kecantikan wajah yang kupunya. Setelah mendapatkan, aku tidak puas sampai disitu, aku ingin dia menikahiku, Mba," jawabku dengan wajah menunduk malu.
"Itu namanya kamu juga pelakor, Mira! Penggoda laki orang!" Mba Sinta masih terlihat santai.
"Sudah! Sudah! Kalau tidak ada kejadian ini, tidak mungkin Sinta menjadi istriku. Ambil saja hikmah dari kejadian ini! Hanya saja cara kamu mendapatkan Lengga slaah. Bukan karena takdir, tapi karena merebut. Kalian berdua pelaku penghianatan tetap salah, apapun alasannya!" tangkas Mas Adrian.
"Apa yang harus Mira lakukan, Mba?" Fokusku hanya pada Mba Sinta. Bagiku berbicara dengannya menciptakan ketenangan tersendiri.
"Cari bukti bukan dengan Pertengkaran, tapi taktik yang cerdik." tegasnya.
"Siap, Mba. Terima kasih, mulai sekarang Mira akan menjadi orang yang lebih baik. Maafkan semua kesalahan Mira, Mba," lontarku. Mba Sinta hanya tersenyum.
'Ya Allah, setelah episode pertama mantan istri suamiku menjadi sepupuku, masa iya kini episode kedua, pelakor ketemu pelakor, kan gak afdol!. Hik … hik … huhuhuhuhu.
"Muka kamu kenapa kaya orang mau nangis, pleat pleot gitu, Mir? Sakit?" Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaannya. Padahal dalam hatiku, iya aku sakit … sakit kalau Mas Lengga punya WIL lagi … dasar serakah! Hhhuuuaaa ….
__ADS_1