
Jujur aku sudah merasa lelah menjaga Mas Lengga. Bukan apa, setelah dua Minggu di rawat dan di perbolehkan untuk pulang, Mas Lengga mengalami kelumpuhan dan sedikit idiot. Kini aku harus merawat dua orang sekaligus.
Mengurus Mas Lengga lebih parah daripada merawat Dalisa.
Rasa hati ingin mengeluh, kenapa setelah menikahi dia bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, justru sebaliknya.
Hah, ingin rasanya meminta cerai.
Tapi, ada perasaan tidak enak. Apa yang harus aku lakukan sekarang?
****
Prang!
Ya Tuhan, apa lagi yang dibuat gaduh olehnya.
Aku meninggalkan Delisa di kamar dan menghampiri sumber suara itu.
Ada rasa iba memandangnya meski ada juga rasa kesal padanya.
Kulihat Mas Lengga sedang bersusah payah mengambil minum.
Sambil berdengus aku menghampirinya.
"Kan sudah aku bilang, kalau butuh apa-apa bunyikan lonceng!" ucapku sedikit ketus. Bukan apa, kalau dia mencoba sendiri, justru tidak akan beres dan menambah pekerjaan untukku. Seperti ini contohnya, aku harus membersihkan pecahan gelas.
"Hem … hem …." Hanya itu yang sering diucapkan, dia tidak mampu berbicara, kepala selalu miring ke kanan. Kaku semua yang ada di badannya. Kecuali, tangan sebelah kanan masih bisa untuk digerakan. Lantas, bagaimana dia akan melakukan sesuatu.
"Ini!" Dengan sewot aku menyodorkan minum untuknya. "Nyusahin banget si kamu, Mas," dengusku.
Tidak ada jawaban, hanya mata ber-embun yang iya tampakan. Sekali lagi aku hanya mendengus.
"Makanya, Mas, selingkuh itu cukup sekali jangan keterusan! Ini sama istri orang juga diembat! Kamu gak tahu kan, kalau selingkuhanmu itu udah dibunuh sama suaminya!" sungutku. Memang Mas Lengga tidak tahu soal Fera dan Raka. Badannya tiba-tiba saja menjadi kejang. Ham … hem … saja dari tadi dan kejang seperti orang ayan.
"Sudah, Mas. Toh semua sudah berakhir. Raka sudah di penjara, Fera sudah tenang. Namanya manusia tempatnya salah dan dosa. Yang penting kita sungguh-sungguh untuk bertobat. Nah seperti aku yang menyesal telah menikah denganmu, Mas. Kalau tahu akan seperti ini tidak mau aku, Mas. Yakin aku kapok pernah jadi pelakor. Terlalu horor rintangan hidupnya, hanya kebahagiaan semu, kebahagiaan sementara, pada akhirnya aku pun merasakan hal yang sama," keluhku yang hanya di tanggapi dengan perasaan diam. Mas Lengga menekan alat di kursi rodanya dan berlalu meninggalkanku. 'Hah, belum lagi sore, aku harus memandikannya, memberi makan, mengurus semua kebutuhannya. Merepotkan sekali kamu, Mas.'
Tapi ini sudah menjadi kewajiban sebagai seorang istri, meski pernah dicap menjadi wanita tidak baik, tapi aku telah berubah.
Aku tidak ingin lagi banyak orang menjudge istri tak tahu diri meninggalkan suami dalam keadaan rapuh. Berkat Nasihat dari Mba Sinta, aku bisa menjadi seseorang yang lebih baik, toh ulah yang menyakiti hatinya sudah mendapat ganjaran yang setimpal, dan aku juga sudah menyesalinya.
*******
Pagi ini setelah mengganti pampers untuk Mas Lengga dan Dalisha, aku menyuapi keduanya. Belum lagi aku juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Beruntung, aku pandai memasak sehingga bisa menghasilkan uang dengan berjulan nasi uduk dan lontong sayur setiap pagi di depan teras rumah. Allhamdullillah banyak Ibu-ibu yang sudah menjadi langgananku.
"Bu Mira, rajin banget. Sabar ngurusin suami sakit. Kalau saya mah ogah, Bu. Sudah ditinggal selingkuh, karma ini buat Pak Lengga suka main perempuan," cetus Bu Tantri sambil memilih gorengan bakwan.
"Iya, salut saya sama Bu Mira, sudah diselingkuhi, tapi tidak mengembalikan ke keluarga Pak Lengga. Malah diurusin. Beruntung ya Pak Lengga menikahi Bu Mira," sambung Mak Ijah dengan menatap sinis ke arah Mas Lengga yang sedang menghirup udara segar pagi hari sambil duduk di kursi rodanya.
"Ya sudah ini Ibu-ibu pesenannya." Aku menyerahkan pesanan mereka secepatnya supaya mereka tidak lebih lama lagi bergosip di tempatku. Andai mereka tahu siapa aku dulunya, mungkin mereka akan menertawakan nasibku yang sekarang.
**********__****____****_____*******
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun keadaan Mas Lengga masih tidak ada perubahan. Justru sekarang kondisinya semakin melemah, badan yang dulu berisi kini tinggal tulang belulang, wajah yang dulu tampan kini sudah tidak beraturan. Miris sekali aku melihat keadaannya. Kini aku harus bekerja lebih giat lagi, sebentar lagi Delisa akan memasuki PAUD.
__ADS_1
Sering kali Mba Sinta dan Adrian serta Ibu dan mertuaku datang mengunjungi kami, untuk menjenguk keadaan Mas Lengga. Mereka iba melihat keadaanku yang sekarang, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan. Sebenarnya, mereka ingin membantu dengan siap menanggung biyaya kebutuhan kami. Namun, aku menolak karena merasa tidak enak. Aku masih mampu bekerja, badan pun masih sehat, lantas kenapa tidak berusaha terlebih dahulu. Telah kukatakan pada mereka, aku akan meminta bantuan kala aku benar-benar sudah tidak mampu dan dalam keadaan buntu.
****
"Tante …" Suara pemuda tampan menyadarkan dari lamunan. Mas Lengga dengan kursi rodanya menghampiri kami. Dia mendekati pemuda itu. Aku sedikit pangling, kutatap lekat wajahnya ….
"Revan?" ucapku penuh kebahagiaan.
"Iya, Tant." Revan tampan sekali, persis wajah Papanya waktu muda. " Papa, kenapa jadi seperti ini? Maafkan Revan yang baru bisa nengokin Papa sekarang," ucapnya sambil memeluk Mas Lengga. Mata Mas Lengga mengeluarkan air mata, berkali-kali dia mencoba mengusap air matanya dengan tangan kanan. Mungkin Mas Lengga ingin mengatakan sesuatu, hanya saja lidahnya kaku, dipeluknya Revan dengan erat meski hanya dengan sebelah tangan. Sungguh aku sendiri mengeluarkan air mata.
"Mama." Delisa menghampiriku dan bergelayut manja.
"Mama?" cetus Revan. Mas Lengga mengangguk-angguk.
"Oh, jadi ini adik Bang Revan, ya? Manis sekali, sini, Sayang." Dalisa menghampiri Revan yang masih berjongkok di depan Papanya.
"Kapan kamu kembali?" tanyaku sambil menyuruhnya masuk. "Kenapa lebih cepat?" sambungku. Aku menuangkan minum untuknya. Sungguh penampilannya sangat berbeda. Usianya kini sudah 20 tahun kurang lebihnya. Entah aku tidak begitu tahu. Calon pengusaha muda.
"Iya aku masuk akselerasi. Jadi lebih cepat, Tan."
"Ngurus perusahaan Papa dong ya?" Dia hanya tersenyum dan mengangguk.
*****
Semenjak mengurus perusahaan Papanya, Revan rajin berkunjung sambil membawa setok kebutuhan pokok, aku juga sudah tidak terlalu lelah karena Revan menyewakan PRT untuk kami. Dia rajin memberi uang. Meski sudah kutolak tapi, dia tetap bersikekeh. Beralasan kalau ini sudah tanggung jawabnya mengurus Ayahnya.
"Tante, seburuk apapun Papa dimasa lalu, Papa tetap lah ayah Revan. Ini sudah tanggung jawab Revan sebagai anak. Allah saja maha pemaaf, masa aku tidak mau memaafkan kesalahan Papa? Lagipula kasihan Papa, aku tidak ingin menyia-nyiakan beliau selagi masih ada usia." Aku selalu teringat ucapannya. Mba Sinta mampu mendidik anak berkarakter baik, semoga Dalisa bisa bersikap baik seperti itu.
*****
"Mas … kamu kenapa?" Dia masih kejang-kejang. Kalau mau pergi, pergilah Mas aku ikhlas dan telah memaafkanmu. Air mata menetas membasahi pipiku.
Tidak ada gerakan lagi. Ketika aku sampai aku hanya melihatnya kejang setelah itu dia tidak lagi bergerak. Aku mencoba memanggil dan menepuk-nepuknya tapi tidak ada tanggapan, detak nadi coba kupegang tapi tidak ada detakan. Tidak ada lagi nafas yang di keluarkan dari hidung. Apakah suamiku telah pergi? Kuraih ponselku disampingnya untuk menghubungi semua keluarga. Sebelum mereka tiba, aku memanggil beberapa tetangga dekat untuk melihat keadaan suamiku.
Mereka mengatakan Mas Lengga sudah tiada. Ada sedih, tapi juga ada tenang. Dia tidak lagi bersusah payah menahan sakitnya.
"Sabar, Mira …." Beberapa tetangga menepuk pundakku menenangkan. Dalisa di bawa pergi oleh tetangga lain. Banyak dari mereka yang membantuku.
Tidak lama kemudian, keluarga besar telah tiba, meski merasa terpukul, tapi mereka sudah mengikhlaskannya. Terutama pada Mba Sinta, aku atas namanya benar-benar meminta maaf yang sebesar-besarnya pernah menorehkan luka di hatinya.
"Mas Lengga sudah tidak kuat lagi untuk bertahan," lirihku.
Semua mendoakan, semoga Mas Lengga tenang dan diterima di sisi Sang Maha Pencipta. Pengurusan jenazah Mas Lengga pun di mulai.
*****
Seminggu setelah kepergian Mas Lengga, aku merasa asing tinggal di rumah itu. Akhirnya, aku memutuskan pindah ke rumah kontrakan yang lebih kecil. Dan rumah peninggalan Mas Lengga, akan kujual.
Orang tua Mas Lengga meminta kami untuk tinggal dengannya. Namun, aku menolak.
Setelah pindah ke rumah kontrakan, Bibi yang dicarikan Revan kubawa untuk menjaga Dalisa. Bersyukur Revan memberiku pekerjaan di kantornya. Aku kembali ke kantor itu, setaf lama melirik dengan sinis, tidak kupedulikan itu. Terutama Sekretaris Revan yang diturunkan menjadi setaf admin biasa. Dia amat sangat tidak terima meski akhirnya menyetujuinya.
"Itu kan pelakor dulu. Kasian ya, ngerebut suami Bu Sinta tapi tidak dapat apa-apa," lirih staf perempuan yang di iyakan secara serempak oleh yang lain. tapi masih dapat kudengar ketika aku berjalan melewatinya. Ternyata mereka masih mengenangku sebagai pelakor. Haduhhhhhhh … padahal aku sudah berubah.
__ADS_1
"Jangan didengerin, Tant. Nanti juga mereka akan diam sendiri," ucap Revan yang kujawab dengan anggukan.
Setelah beberapa hari mulai bekerja, akupun terbiasa dengan gosip mereka dibelakangku. Aku di sini bekerja, dan pemilik perusahaan sendiri yang memilihku jadi masa bodo dengan ucapan mereka. ' semangat Mira! Abaikan mulut nyinyir yang berkicau'
****
Kini semua sudah ada jalannya, Adrian, Mba Sinta dan Revan sudah menemukan kebahagiaannya, bahkan sekarang Mba Sinta sedang mengandung.
Bang Raka menghabiskan waktu di penjara, beruntung kedua anaknya tidak terlantar dan kedua orang tuanya memiliki usaha warung sembako.
Fera … harus berakhir dengan kematian di tangan suaminya.
Mas Lengga, sudah pergi untuk selamanya.
Dan aku, meski sudah mendapat maaf, tapi nama pelakor tetap melekat indah untukku. Memalukan, tapi sudah menjadi konsekuensinya. Bahkan teman kantor yang biasa diantar jemput oleh suaminya, mereka ketakutan kalau suami mereka akan digoda olehku. Sungguh terlalu! Sampai segitunya … hik … hik ….
*****
"Hay …," sapa seseorang. Aku menengok ke arah sumber suara itu. Seorang Pria baru keluar dari mobilnya. Sepertinya rekan bisnis Revan yang rapat tadi. Ternyata benar.
"Minta nomor HP dong," ucapnya dengan senyum ramah … memang wajahnya tampan, bermobil pula. Mirip Mas Lengga dulu. Aku hanya tersenyum ramah takut kalau dia tersinggung aku menyuekinya.
Namun, tiba-tiba saja saat aku ingin mengeluarkan ponsel, seorang perempuan masuk ke dalam mobilnya.
"Cepat, Pa! Ngapain si? Ternyata Cintia. Aku kira sekretarisnya tadi waktu di dalam. Ternyata istrinya. 'ckcckkckc' aku tersenyum pada Cintia dan berpamitan pulang duluan. Sambil melangkahkan kaki, aku tertawa cekikikan.
'Serem … udah punya istri rupanya. Nah mungkin istrinya jadi sekretarisnya karena sang suami suka jelalatan, ckckckck.'
'Hem … embat enggak ya?' Tapi, setelah kupikir, kayaknya enggak deh.
'Kapok jadi Pelakor.'
*****
Tamat ….
**____***_____***
Pesan yang bisa di ambil dari cerita Mira,
Ingat, bahagia merampas milik orang lain hanya kebahagiaan semu, apalagi jika hubungan itu berawal dari perselingkuhan. Jadi pikirkan sebelum melangkah.
Nyatanya, hukum itu bukan hanya pidana, ada hukum karma, meski perosesnya lama. Seperti tokoh Mira yang sempat bahagia, tapi merasakan hal yang sama. Dan tokoh Sari yang sampai dilabrak istri sah karena menjlin hubungan dengan suami orang. Malunya luar biasa.
Penghianatan akan menghancurkan segalanya, seperti tokoh Fera dan Raka, tidak semua memiliki kesabaran yang sama. Ternyata ada juga yang sampai berbuat kalap karena sakit hati di khianati.
Dari tokoh Revan Dan Sinta, bisa diambil pesan positifnya, untuk memaafkan seseorang yang mengakui kesalahannya. Tidak semua kejahatan dibalas dengan kejahatan.
*****
Intinya pesan yang bisa diambill ,,, supaya berfikir sebelum melakukan tindakan terutama perselingkuhan, tidak semua sifat orang sama yang mau memaafkan ada juga yang kalap mata. Tidak memikirkan nasib keluarga asal puas melakukan hal yang diinginkan ketika emosi sudah memenuhi relung hati. Kebahagian yang di ambil dari hasil merampas juga semu ... Meski bisa memiliki,,, tetap hatinya terbayang dosa karena rasa bersalah.
Sekian, mohon maaf apabila masih banyak kekurangan 😊😊🙏🙏 Terima aksih yang tidak sungkan membaca cerbung ini….🙏🙏🙏. Buang buruknya, ambil sisi baiknya.
__ADS_1