
"Mas buruan! Lama banget!" Heran punya suami lelet banget.
"Sabar kenapa, jangan grasah grusuh! Emang udah kelar semuanya?"
"Kalau belum kelar, gak mungkin aku nyuruh kamu cepetan!" Segera mungkin suamiku itu mulai mengeluarkan sepeda motornya.
"Cepet naik! Tadi nyepet-nyepetin!" sungutnya.
"Sabar dong! Aku kan lagi hamil," kilahku. Namanya juga perempuan, harus selalu menang dong.
Di sepanjang jalan aku tidak habis pikir, kenapa sepupuku yang terkenal kaya, tampan, dan sukses itu mau nikah sama janda, punya anak lagi, gak salah milih calon istri gitu?
"Acaranya dimana?" tanya Mas Lengga.
"Di hotel Adnita, Mas," cetusku.
"Waow, keren. Orang kaya kah?" cetusnya.
"Iyalah orang kaya! Usahanya giat, otaknya cerdas! Beruntung itu perempuan yang jadi istrinya," pujiku. "Oh iya, pengusaha lagi. Kerjanya aja keluar masuk negara orang!"
"Owh, bagus dong," ucapnya singkat. Aku tidak berniat lagi untuk menjawabnya.
***
Mataku begitu takjub ketika tiba di depan hotel Adnita, dari luar sudah sangat indah, banyak tamu bermobil lalu lalang, memakai pakaian keren nan indah, tidak seperti pakaianku lusuh, kaki ini begitu gemetar untuk melangkah ke dalamnya ketika sepasang nama terpampang di karangan bunga.
Rama Adriansyah dan Dewi Sinta.
"Mas …," lirihku pada Mas Lengga yang sedang memarkir motornya.
"Hem …."
"Coba lihat nama yang terpampang." Aku menunjuk karangan yang bertuliskan nama Adrian dan Sinta. Tidak kalah kagetnya, Mas Lengga juga tertegun untuk sejenak.
"Mungkinkah mereka?" tanyaku.
"Bisa jadi," lirihnya. "Ayok masuk." Mas Lengga menggandeng tanganku yang masih tertegun.
Sial … kalau benar istrinya si Sinta. Kenapa si beruntung banget. Kenapa aku justru menjadi sepupu Sinta.
***
Ternyata ketika kami tiba, acara akad sudah di laksanakan. Dan … ternyata beneran Sinta ….
Perempuan itu, kenapa tidak lepas dari bayangan hidupku. Huft … kesel banget aku, gak suka aku lihat dia bahagia.
__ADS_1
"Mira! Kenapa berdiri di situ? Kasih selamat buat pengantinnya!" ucap Ibu yang sedang berdiri bersama Mba Desi.
"Mir, Lengga! Sini," panggil Mba Desi. Kami pun menunda untuk memberi selamat pada pengantin, malah sepertinya tidak perlu.
"Iya, Mba."
"Kalian lihat deh, perempuan itu, wanita yang juga sukses. Dulu dia pernah menikah, tapi suaminya katanya selingkuh, dan berakhir perceraian. Dan kamu tahu dia siapa? Dia sahabat saya dulu. Membuang sampah dapat berlian Adrian," cetus Mba Desi. Ngek … sebuah bodem seperti menimpa tubuhku. Ya bodem dari mulutnya. Apa mereka sengaja atau emmang tidak tahu kalau yang mereka maksud itu aku dan Mas Lengga. Oh, Iya, wajar mereka tidak tahu, bahkan Sinta tidak menampakan diri pada keluargaku dulu. Lagi pula Mba Desi juga tidak menghadiri acara pernikahanku.
"Iya, bodoh laki-laki yang membuang perempuan seperti dia." cetus Ibu.
"Bu kalian tahu dia siapa?" sungutku kesal.
Ibu menggelengkan kepala, sedangkan Mba Desi menjawab, "Dia itu sahabtku dulu, kita lama banget gak ketemu," jawabnya.
"iya, dia Sinta mantan istri, Mas Lengga! Yang kalian bicarakan aku, Mba!" ketusku kesal. Mba Desi dan Ibu menutup mulut bersamaan. "Maaf, Ibu gak tahu!" lirih Ibu. "Lengga maafkan Ibu," sambungnya. Mas Lengga hanya diam saja.
"Nah begini emang, kalau ngerbut suami orang, suka diomongin!" cetus Mba Desi sinis.
"Udah, Mba Diam!" bentakku.
"Ya udah, sana kalian kasih selamat buat penganten!" ucap Mba Desi.
***
Mata Sinta menatap aneh kala aku menghampirinya, sedangkan Adrian, dia tersenyum penuh ramah.
"Mas, kenalin suami, Mira." Mas Lengga menjabat tangan Adrian, mereka berpelukan khas laki-laki. Mas Lengga memberi ucapan selamat. Sedang wajah Sinta sendiri terlihat bingung.
"Istri Mas, Mira. Kenalin!" Aku menghampiri Sinta dan memberi selamat. Sepertinya Adrian juga tidak tahu. Entah kapan mereka berkenalan.
"Mas, mereka ini saudaramu?" tanya Sinta.
"Iya, Mira ini sepupuku, Ibunya Mira, adik dari Ibuku. Jadi, kamu ini Mbak-nya Mira," terang Adrian pada Sinta.
Dasar apes … apes …. 'ini si judulnya mantan istri suamiku menjadi Sepupuku.'
Pandangan Mas Lengga menatap kosong. Berulang kali dia mengusap matanya yang hendak mengeluarkan buliran bening dengan tangannya. Tatapan sendu dia arahkan pada Sinta. Sungguh membuat hatiku panas tersulut cemburu. Untuk menyadarkan dari tatapannya, aku mencubit kencang pinggangnya hingga dia mendengus kesakitan.
"Aww," pekiknya. Tidak ingin lebih lama berada diantara mereka, kami segera mengambil foto untuk sebuah kenangan.
Hooekkk … jijik sekali aku berfoto bareng Sinta. Serasa najis!....
"Kami pulang duluan, ya Adrian." Tanpa ada jawaban aku hendak menarik keluar tangan Mas Lengga dari hotel mewah yang sudah tidak terasa lagi kemewahannya.
"Mir ... jangan lupa besok suamimu langsung datang ke kantorku ya, nanti ku kirim alamatnya, dia akan mengurus semua selama aku cuti bulan madu," ucap Adrian sebelum kami melangkah. Setelah menjawab dengan anggukan, aku dan Mas Lengga segera beranjak.
__ADS_1
Tidak habis pikir aku bisa sepupuan dengan orang yang sangat kubenci. Rasa benciku pada Sinta, seperti sudah mendarah daging. Jujur saja aku iri melihatnya bahagia, sedangkan aku, suamiku harus kembali menjadi bawahan sepupuku yang kini menjadi suaminya. Kenapa nasib tidak selalu berpihak padaku.
*****
Seperti yang Adrian katakan, saat hari pernikahannya, Mas Lengga yang akan menggantikan pekerjaan dia. Sudah dua Minggu ini Mas Lengga mengurus pekerjaan di perusahaan baru milik Adrian, Karena dirinya harus pergi berbulan madu dengan Nenek lampir alias Sinta. Untung saja suamiku ini sangat cerdas, sehari Adrian memberi tahu semua pekerjaannya, dia langsung sigap dan tangkap.
Penampilannya kini kembali tampan seperti Lengga yang aku kenal dulu, pokoknya sudah cocok untuk menjadi suami Mira, Adrian juga memberi cuma-cuma uang dua puluh juta rupiah sebelum dirinya pergi. Lumayan, untuk melunasi sisa cicilan kredit motor. Kehidupan kami sudah mulai membaik. Semua jelas berkat sepupuku yang baik hati itu.
******____*******
Dua bulan berlalu, kehamilanku sudah menginjak detik-detik melahirkan, hubunganku dengan Sinta juga sudah membaik, kami telah saling memaafkan. Bahkan, aku sering berkunjung ke rumah Sinta. Jelas perdamaian ini terjadi atas permintaan sepupuku Adrian, setelah mengetahui masalah diantara kami. Lagi pula, Sinta di Indo hanya tinggal sendirian di rumah besar Adrian. Orang tuanya kini tinggal di Australia, sedang-kan Revan juga menempuh pendidikan di sana. Sedang Rumah Sinta di tunggu oleh pembantu dan anaknya.
****
Dua bulan bekerja dengan Adrian, aku dan Mas Lengga sudah mampu membeli rumah Minimalis. Bonus dari hasil kerjanya saat menggantikan posisi Adrian, lumayan.
Suamiku memang luar biasa, bahkan kendaraan kami sudah berganti menjadi roda empat. Keluargku juga sudah memaafkan kami, ini semua juga berkat maaf dari Sinta, karena aku menjalin hubungan baik dengan mereka. Tetap saja, dalam hati masih ada perasaan tidak suka, meski rasa itu tidak kutampakan. Ada yang berubah dari Mas Lengga, meski dia berharta, tapi waktunya sudah tidak banyak lagi di rumah, dia lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah. Meski aku kerap kali memaki, tetap saja aku sedikit posesif. Aku takut Mas Lengga mengulanginya, meski dia berkata tidak.
**************
"Mas, kalau pulang kerja itu langsung pulang! Jangan mampir …," ucapku sebelum Mas Lengga menyalakan mesin mobilnya.
"Iya," jawabnya lalu menarik gas mobil hingga kini mobil itu sudah keluar dari gerbang.
Entah kenapa, semenjak Mas Lengga bergajih besar, justru perasaanku menjadi tak tenang dan sedikit takut. Jika dulu waktu dia susah aku bisa berbuat semauku, tapi kini berbeda. Dia punya semua, jadi aku harus
kembali menurut padanya.
****
Waktu yang ditunggu-tunggu sudah tiba, sepertinya aku mengalami kontraksi, perutku terasa sakit. Sakit sekali ….
"Mas … Lengga! Mas ….!" triaku lemas.
Mas Lengga yang baru keluar dari kamar mandi, langsung berlari menghampiriku.
"Kamu kenapa? Mau ngelahirin?" ucapnya panik.
"Sepertinya, Mas." Ketika hendak bangkit dari tempat duduk, tiba-tiba saja ada air yang keluar dari barang berharga milikku, apa ini yang dimaksud air ketuban? Mas Lengga semakin panik dan langsung membawaku ke rumah sakit terdekat menggunakan mobilnya.
***
Setelah beberapa menit, kami sampai di rumah sakit, Mas Lengga membopongku sambil meneriaki petugas… tidak lama, datang dua orang petugas menarik brankar, rupanya darah juga keluar dari barang berharga milikku, rasanya sakit tak karuan, tak bisa diucapkan dengan sebuah kata, aku pasrah, diantara hidup atau mati. Tidak ada sesuatu apapun yang kupikirkan selain rasa takut. Dokter dan perawat membawaku ke ruang operasi, dapat kudengar ketika beliau meminta persetujuan suamiku ….
*********
__ADS_1
Di dalam ruang operasi, aku mulai di suntik, hingga setengah badanku tidak dapat digerakkan, grasah grusuh dokter dan suster masih terdengar, bunyi alat kesehatan juga terdengar berdentingan. Entah tiba-tiba saja dokter bilang "Pendarahan! Pendarahan!" Yang teringat saat itu, semoga Allah mengampuni dosaku. Aku menyesali semua perbuatan zholimku, teringat akan sesalku menyakiti hati Sinta, teringat akan salahku tidak menghargai perjuangan Mas Lengga justru aku selalu memaki suamiku sendiri. Aku pasrah, beberapa kalimat suci aku ucapkan dalam hati.
"Pendarahanya tidak mau berhenti, Dok." Saat itu aku sudah tidak mengingat apapun. Semua terasa gelap.