Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 18 informasi Selingkuhan Lengga


__ADS_3

"Siapa dia, Mas!" Siapa perempuan itu?!" pekiku bertanya. Emosi kembali mencuak setelah aku melihat adegen mesum tadi.


Mas Lengga hanya terdiam. Aku kembali mengambil pisau yang telah kujatuhakan dan mengarahkan ke lehernya. 


"Jawab, siapa perempuan tadi!" gretaku. 


"Lebih baik kamu mati, Mas. Daripada aku melihat kamu bersama perempuan itu! Tega sekali kamu sama aku, Mas! Apa salahku? Huhuhuhuhu." Aku terus menangis. Setelah merasa lelah telah meluapkan amarah, aku kembali masuk tertidur dengan perasaan hati yang melelahkan. 


****


Berhari-hari setelah kejadian itu aku mendiamkannya. Tidak ada sepatah kata manis atau sapaan untuknya. Kusibukan diri untuk fokus mengurus putriku yang mungil, hanya dia yang membuatku kuat. Setiap kali aku berbaring memandang wajah Delisa, mataku selalu berkaca, air mata tumpah dengan sendirinya. Sakit …  luar biasa, aku tidak pernah menyangka Mas Lengga tega menduakanku. Wajahnya yang kalem, sifatnya yang pendiam, tutur katanya yang ramah, ternyata itu hanya topeng semata. Ketika Delisa sudah tertidur, aku mencoba bangkit dan menatap kaca besar di kamar. Kulihat bentuk lekuk tubuhku, wajah cantikku, semua masih sama. Aku masih cantik, masih langsing, kenapa Mas Lengga masih saja mendua? 


"Mira … aku ingin berbicara," sapanya kala aku sibuk bercermin. Dapat kulihat wajahnya penuh sendu, memohon iba. Tanpa kupinta, dia menceritakan semua yang membuatnya selingkuh. Setelah berhari-hari, kenapa dia baru menceritakannya. Meski aku tidak menanggapi, tapi aku mendengar jelas setiap kata yang keluar dari bibir busuknya. Mendengar pengakuannya, oke kali ini aku dijadikan alasan dia untuk berselingkuh, ya alasan kalau aku, a,b,c,d, hingga z. 


****


Aku tidak menceritakan pada siapapun prihal perselingkuhan Mas Lengga dengan perempuan yang bernama Fera. 


Setelah kutahu infonya dari Mas Lengga, ternyata Fera pun sudah memiliki suami bernama Raka. Fera dan Raka sudah memiliki dua orang anak laki-laki. Suami Fera hanya seorang pengemudi taxi online. Mas Lengga berkata, bahwa awalnya mereka hanya teman biasa. Pekerjaan Fera sendiri OB di kantor Adrian. Namun, menurut Mas Lengga, Fera cantik. Lebih cantik dariku. Perasaan mereka tumbuh ketika mereka sering pulang bersama, keduanya saling curhat seputar rumah tangga mereka. Ya Allah … betapa kasihannya, suaminya bekerja keras, tapi sang istri malah berselingkuh di belakang mereka. Kalau aku sudah dapat maklum, mungkin ini memang balasan atas semua perbuatanku. Aku terima dengan ikhlas. Lalu, kutanya apa benar Fera hamil? Mas Lengga berkata tidak benar, dia hanya tidak ingin pisah darinya. Tidak dapat kubayangkan bagaimana reaksi suami Fera jika mengetahui istrinya telah berselingkuh. Aku sudah memaafkan kesalahan Mas Lengga dan memberikannya kesempatan kedua. Aku harap, dia benar-benar berubah.  


Saat Mas Lengga sudah terlelap tidur, diam-diam aku mengambil ponselnya dan menyimpan nomer Fera.


[Ternyata pengkhianatan bukan cuma dilakukan seorang suami, tapi ternyata juga bisa dilakukan seorang istri] Ku kirim pesan itu untuk Fera. Hanya dibaca, tidak ada balasan. Aku kembali mengirim pesan padanya.


[Bagaimana reaksi suami lo kalau dia tahu, lo selingkuh sama suami gue?] 


Tetap tidak di balas, hanya dibaca. Aku geram. Akhirnya, aku mencoba mengirimkan pesan lagi padanya.


[Hey … balas pesan gue! Kenapa lo, takut! Dasar gatel lo! Udah punya laki, masih mau ama suami orang! Kurang puas ya Lo. Awas lo kalau masih deketin laki gue! Gue laporin ke laki lo!] Aku mengancamnya. Namun, foto profil sudah tidak nampak di kontakku, ternyata … aku di blokir toh. Siall ….


***************


"Mas, kamu jangan berani macam-macam lagi!" ancamku pada Mas Lengga sebelum dia berangkat bekerja. 


"Iya" jawabnya sambil berlalu tanpa mencium Delisa. 


Sudah beberapa Minggu setelah kejadian itu, Mas Lengga tidak pernah pulang larut malam lagi. Aku sudah mengancamnya untuk tidak mendekat ataupun berbicara dengan Fera. Entah mengapa, instingku mengatakan kalau mereka masih berhubungan.


Tanpa sepengetahuan Mas Lengga, aku menghampiri dia di kantor, tidak ada kata risih atau apapun, lagi pula pemilik kantor itu adalah sepupuku. Sengaja aku tidak memberitahunya, ingin tahu apa mereka masih saling berbicara. Tepat jam 12.00 wib, aku sampai di kantor Adrian. Sekarang jam makan siang, bisa saja mereka makan bersama. Meski sudah tidak berhubungan ketika sampai di rumah, belum tentu ketika di luar rumah. Aku kan tidak mampu menjaganya 24.00 jam. 


"Mba, Pak Lengga ada?" tanyaku pada sekretaris Mas Lengga Nurma. Kebetulan dia masih di ruangannya sedang merapikan berkas. 


"Coba, Ibu pergi ke kantin kantor. Karena ini kan jam makan siang. Kantinnya, tinggal lurus saja dari sini, Bu." 

__ADS_1


"Oke, Makasih." Aku berjalan menuju kantin kantor. Di sekeliling, aku mencoba mencari keberadaan suamiku. Ternyata instingku tidak meleset, kutangkap pemandangan yang mengejutkan. Mas Lengga sedang berada berdua dengan Fera, di meja yang sama, menikmati makanan dan penuh canda tawa. 'Oh, ternyata mereka tidak kapok'


Kali ini aku tidak gegabah. Kubiarkan mereka berdua. Teringat nama Mba Sinta, aku menghubungi, dan menceritakan semua masalahku dengan Mas Lengga, serta perselingkuhan Mas Lengga. Beberapa tak tik cantik Mba Sinta, diajarkan kepadaku. Aku mulai memeratakannya. 'Siap-siap, Fera'


***


Berbekal ilmu cantik dari Mba Sinta, aku mulai memperaktikannya. Kutinggalkan mereka yang sedang asyik bermesraan. Dasar kadal! Buaya di kadalin! Lengga … Lengga ….


Dalisa kutitip di rumah Ibu, jadi aman. Sekarang, waktunya menguntit mereka seharian. Hem, sebelum mereka melakukan aksinya, aku mencari informasi tentang Fera, di mana rumah dan suaminya. Info telah kudapat dari OB yang bernama Iis teman Fera. Jelas aku tidak bertanya hal yang mencurigakan. 


****


Tepat pukul 13.40 wib, aku sampai di kontrakan milik Fera. Kontrakannya kecil, kawasannya juga sungguh kumuh. Kebetulan, saat aku sampai, aku melihat pintu rumahnya terbuka. Segera mungkin aku menghampiri dan mengucap salam. 


"Assalamualaikum," ucapku.


"Waalaikumsalam." Seorang pria sedikit tua, keluar dan menjawab salamku. Rambutnya sudah beruban, maka dari itu, bagi Mira, suami Fera sudah tua. 'cckckkckck' Tapi, apa iya dia suami Fera. 


"Maaf, Bapak siapanya Fera?" tanyaku sambil mengulurkan tangan.


"Saya suaminya. Ada perlu apa ya?" jawabnya sedikit bingung. Kujelaskan maksud dan tujuanku, kuceritakan tentang hubungan mereka. 


"Pantas waktu itu wajahnya memerah." Hahaha … iya merah kan disiram air panas oleh Mira. Ada raut marah dari wajahnya seakan ingin menghabisi mereka.


*****


"Kita tunggu di sini saja. Sebentar lagi mereka pulang kantor. Tadi saya sudah menghubungi Adrian, sepesial untuk hari ini semua staf kantor pulang lebih cepat.


Tepat pukul 15.00 wib, para setaf mulai berbondong-bondong keluar. Bola mata ini mencari sosok manusia yang sedang kuintai.


"Mba Mira, itu bukankah Fira? Apa itu suami Mba Mira?" tanya Raka sambil menunjuk ke arah mereka, mataku mengikuti arah jari Raka menunjuk. Kuperhatikan penampilan Raka dan Lengga, sangat jauh … Raka terlihat lebih tua dari Lengga, meski umurnya tak berbeda jauh. Raka kurus, Lengga berisi. Raka supir taxsi, Lengga … pegawai kantor. Pantas saja Fera mau dengan Lengga. 


"Mba Mira … kok bengong. Itu atau bukan suami, Mba Mira?" tanyanya lagi.


"Iya betul. Sekarang saya mau menghubungi suami saya." Aku menekan nomor Mas Lengga. Tidak beberapa lama, telepon terhubung.


"Hallo …," jawabnya dari sebrang telpon.


"Mas di mana?"


"Masih kerja, kayaknya pulangnya agak malam, ada. lembur." 'Kurang ajar lembur apaan, orang kamu lagi naik mobil kok sama Fera.'


"Oke. Hati-hati!" 

__ADS_1


Klik!


Ponsel kumatikan. Panggilan terputus.


"Tu kan, Pak. Mereka bohong," cetusku pada Raka. Raka ingin keluar dari taxsinya tapi kucegah. "Sekarang kita ikuti mereka," ucapnya penuh amarah. 


Dasar kamu, Mas. Tidak ada kapoknya! Sudah dimaafkan masih saja main belakang. Mba Sinta dan Adrian yang tahu perselingkuhan Mas Lengga dengan istri orang. Menjijikan. Wajah Raka nampak merah padam, giginya saling bertautan sehingga mampu menimbulkan bunyi yang dapat kudengar.


"Sabar, Pak," ucapku berusaha mendinginkan. Padahal aku sendiri juga panas. 


***


Setelah satu  jam-an mengikuti mereka, keduanya berhenti di sebuah kontrakan kecil yang bagus. Mas Lengga memarkirkan mobil di halaman rumah kontrakan itu. Tempatnya lumayan asing, sepi, dan tidak banyak hiruk pikuk. Jarak dari rumah ke rumah yang lainnya juga tidak terlalu dekat. Sepertinya, semua yang ngontrak di sini adalah karyawan, karena terbukti tempatnya sangat sepi. Itu hanya dugaanku saja. 


"Mba Mira, tolong jangan panggil saya, bapak," pinta Raka. 


"Eh iya maaf Bang Raka."


"Apa kita mengintip dari balik pintu saja?" Aku yang kepo dengan apa yang mereka lakukan, memberi ide pada Raka. 


"Ide bagus! cetusnya. Kami berdua segera turun dari taxsi dan menguping di balik pintu. Tidak ada celah untuk mengintip, alhasil hanya kuping yang digunakan untuk menguping. 


"Bang Raka, tolong jauh-jauh ya." Aku tidak tahan dengan bau badannya. Hhooeek, dasar jorok bau ketek si.


 


"Kalau kita ketahuan lagi gimna, Mas?" Suara ketakutan terdengar dari mulut Fera.


"Kita pintar-pintar aja. Kalau di rumah, kamu jangan hubungi aku, kecuali aku hubungin kamu!" Oh begitu ya, Mas Lengga.


"Aku cinta banget sama kamu. Beneran cinta, aku takut kehilangan kamu," ucap Fera. Aku dan Raka saling bertatapan. 


"Mas, kalau suatu saat hubungan kita ketahuan gimna?" Pertanyaan yang bagus.


"Jangan sampai ketahuan kalau bisa. Kamu kan punya keluarga, jangan sampai keluargamu hancur. Aku juga sudah punya keluarga." Ooww pintar kamu, Mas. 


"Kamu serius gak si, Mas sayang sama aku?" tanya Fera pada Lengga.


"Iya, aku serius." Bulshit! Aku melirik ke Raka, dia seperti hampir kehilangan kesadaran.


Setelah beberapa menit, tidak terdengar suara obrolan mereka. Hanya ada sedikit suara rintihan yang samar terdengar.


"Bagaimana ini, Bang?" tanyaku pada Raka.

__ADS_1


"Kita dobrak saja? Atau?" Bang Raka balik bertanya.


__ADS_2