Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 13 POV Lengga


__ADS_3

POV Lengga.


Kalau bukan karena nasihat dari Sinta, mungkin sudah kutinggalkan Mira. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, semenjak hamil sikap buruk Mira semakin menjadi. 


Baru tahu aku sikap aslinya, sangat berbanding terbalik dengan Sinta. Mungkin ini yang Sinta maksud, dengan mengambil semua harta milikku yang aku kumpulkan selama bersamanya, akankah Mira mampu menemaniku dari nol. Nyatanya tidak, dia hanya menginginkan uang, uang dan uang. Jika aku memiliki uang, maka sikap sayangnya akan nampak, tapi jika aku tidak memiliki uang, semua hinaan dan cercaan dia lemparkan. Rumah tangga seperti apa ini.


Entah seperti sudah tidak ada kata lagi untuk mengeluh akan sikapnya. Beruntung Sinta masih mau menjalin hubungan baik denganku. Jelas saja tanpa sepengetahuan Mira. Berkata masalah cinta pada Sinta, iya aku masih mencintainya, tapi cinta itu aku yang menyimpan rapat. Sedangkan Sinta sendiri sedang dekat dengan pria kaya yang sering aku lihat ketika sedang bertugas di bagian pintu utama kantor. Maklum saja, bekas kantorku berhadapan dengan kantor Pak Gani pemilik kantor tempatku bekerja. Sedangkan kedua orang tuaku, mereka juga masih menjalin hubungan baik dengan Sinta, bahkan keduanya sering singgah ke rumah Sinta, untuk menengok Revan.


Setiap bulan aku memberikan gajih bulanan pada Mira, tapi entah kemana uang itu, jawabannya selalu habis tanpa sisa. Sikap borosnya benar-benar membuatku mengelus dada. 


Terkadang melihat sikapnya yang seperti ini aku selalu ingat Sinta, tapi apalah guna semua sudah terlanjur. Meski dia sudah menjadi mantan istri, setidaknya dia masih menjadi sahabat, aku kira dia akan membenciku, ternyata Sinta telah memaafkanku. 'Semua akan terasa jika seorang yang disia-siakan tidak lagi ada di samping kita'


****


"Mira … kamu ngapain aja di rumah? Kok gak ada masakan? Perutku lapar." 


"Mas beli aja! Aku malas masak, Mas!" cetusnya. Benar-benar dengan keadaanku yang sekarang ini dia tidak ada hormat sedikitpun untukku. 


"Kalau terus-terusan beli makanan, sama aja boros, Mira! Kamu ini sudah hamil tua! Beberapa bulan lagi butuh biyaya untuk melahirkan!" sentakku.


"Makanya, Mas, kamu cari kerjaan lain! Jangan jadi satpam! Rumah ngontrak, motor kredit! Gajih segitu mana cukup!" jawabnya tak kalah lantang. Astagfirullah. 


Suami pulang kerja bukan di sambut, disediakan makanan, justru diajak bertengkar, Mira … Mira ….


Dengan langkah gontai aku keluar dari rumah.


"Mau kemana kamu, Mas?" tanyanya cetus.

__ADS_1


"Ke rumah Sinta!"


"Ngapain kamu ke rumah Sinta? Selingkuh sama dia?!" tuduhnya. Padahal aku!mau minta pekerjaan di tempatnya agar aku tidak selalu dihina oleh Mira.


"Sembarangan kamu! Aku tahu siapa Sinta! Dia tidak akan mau diajak berhubungan terlarang, apa lagi sama suami orang!" ketusku, mungkin terdengar menyindir.


"Berani kamu keluar selangkah saja dari rumah ini, aku akan menonjok perutku!" ancamnya. Benar-benar bingung menghadapi sikap Mira yang egois. Ya Allah … nyesal sekali aku menikah dengan wanita ini.


Aku tidak jadi melangkah, karena Mira memang sangat nekat. Akhirnya, aku melangkah ke dapur dan memasak mi instan untuk mengisi perut yang lapar, dalam hati aku sungguh merasa sesak dan sedih, hanya saja aku laki-laki, jadi harus tetap bersikap tenang.


Saat aku kembali dari dapur, Mira sudah pergi ke kamar, pasti tidur duluan. Hanya bisa beristighfar …. 


"Mas! Ibu bilang besok lusa kita harus pergi ke pernikahan sepupuku Adrian! Kabar bagusnya, dia membuka perusahaan baru di sini, dan dia akan mengajakmu untuk bekerja dengannya, mungkin menjadi sekretarisnya! Calon istrinya trauma dengan sekretaris perempuan katanya! Jadi kita harus datang! Ini juga kesempatan kamu, Mas! Buat ngerubah nasib kita. Cuma herannya kok sepupuku yang kaya itu mau ya sama janda, anak satu pula." terangnya panjang lebar ketika keluar lagi dari kamar. 


"Mas! Denger gak si orang ngomong! Sahutin kek! Sombong amat! Sukur dapat tawaran kerja dari sepupuku! Walau bagaimana, Ibu, dia telah membantuku! Tidak seperti orang tuamu! Jaya tapi tidak mau membantu anak susah! Malah ngekepin orang lain yang udah gak jadi mantunya!" ketus Mira kesal.


"Seterah kamu! Puji aja terus itu mantan Istrimu!


Brak! 


Pintu kamar dia banting cukup kencang. 


****______*****______*****______****___


[Mas, maaf ngabarinnya mendadak, kalau bisa, besok datang ke pernikahanku ya, ajak Mira juga] pesan dari Sinta membuat mataku terbelalak, entah mengapa membaca pesan singkat itu, hatiku seperti tertusuk duri.


[Kamu nikah, Sin? Wah selamat, ya] balasku meski hati terasa sesak, tapi tak kutampakan padanya.

__ADS_1


[Iya, Mas. Datang ya. Kabarin juga Mama dan Papa kamu, Mas] 


[Hem … nanti, Mas akan kabari mereka. Kalau Mas dan Mira, belum tahu bisa datang atau enggak, soalnya, besok juga hari pernikahan sepupu Mira]


[Oh, gitu ya Mas. Oke gak apa-apa. Tapi kalau keburu, datang ya. Kasian Revan juga pasti ngarapin kedatangan, Mas]


[Iya, Sin … semoga lancar sampai hari H] pesan terakhir hanya dibaca, tidak ada balasan lagi.


Air mata tiba-tiba saja terjatuh membasahi pipi. Dosakah aku kalau berdoa pernikahannya gagal? Sakit sekali rasanya … apa setelah dia menikah hubungan kami akan baik-baik saja? 


"Mir, besok kita di undang ke pernikahan Sinta. Sinta nyuruh kamu buat datang!" ucapku menghampri Mira yang sedang duduk di ruang tamu. Hari ini dan esok, kebetulan aku mendapat jatah libur. 


"Mas, gimana si, ya gak bisalah! Kan kita mau datang ke pernikahan sepupuku!" sinisnya. 


"Iya, tadi juga Mas bilang gitu sama Sinta." 


"Tunggu, tadi? Jadi Mas Berhubungan sama Sinta?" selidiknya.


"Hanya teman biasa, Mir. Besok juga dia akan menjadi istri orang."


"Awas aja kalau kamu macam-macam, Mas," ancamnya. 


"Kamu itu jangan kebanyakan ngamuk, Mir. Nanti darah tinggi setruk! Aku juga capek dengar kamu itu kalau ngomong selalu ngegas dan pakai urat. Nanti setelah waktunya, akan kuberi kamu uang. Jangan rendahkan aku ketika aku miskin."


"Bodo amat! Udah agh brisik! Ceramah Mulu! Iyalah waktunya, orang nanti kamu kerja sama sepupuku!" Dengan sombong Mira mengucapkannya.


"Hem … okelah," jawabku kemudian berlalu.

__ADS_1


__ADS_2