
[Telah terjadi pembunuhan sadis yang dilakukan oleh suami terhadap istrinya. Motif pembunuhan itu, dikarenakan pelaku sakit hati berkali-kali diselingkuhi oleh sang istri. Pelaku mengaku, istrinya yang berinisial FA, dipergoki sedang melakukan hal tidak senonoh di kontrakan yang di sewa oleh korban dan selingkuhan korban berinisial LA. Keluarga selingkuhan korban termasuk istri menggerebek, kejadian itu. Pelaku yang sudah kalap mata, mengantarkan kedua anaknya pergi ke rumah orang tua pelaku, lalu kembali lagi ke kontrakan. Awalnya pelaku mengaku ingin menyelesaikan secara kekeluargaan. Namun, ketika pelaku sampai di rumah kontrakannya, pelaku melihat sang istri menangis dan terus menyebut nama selingkuhannya. Sehingga menyebabkan pelaku hilang kesadaran kemudian mengambil sebuah parang dan menebaskannya ke leher korban. Sebelum itu, pelaku juga mengaku telah menyakiti selingkuhan korban dengan memukul kepalanya menggunakan batu besar, sehingga selingkuhan korban mengalami luka-luka dan saat ini sedang koma di ruamah sakit.]
[Setelah itu pelaku sendiri yang berinisial RA, menyerahkan diri ke kantor polisi, dengan membawa kepala korban]
[Pak, saya telah membunuh istri saya,] [ucap pelaku sambil menyerahkan barang bukti pada polisi. Polisi sendiri sedang menindak lanjuti kasus tersebut. Untuk sementara, motif yang bisa disimpulkan oleh polisi, adalah motif sakit hati.]
***
Sebuah berita dari media sosial, yang tidak sengaja lewat di branda-ku, membuat mata ini seketika terbelalak. Aku mengenal betul kontrakan yang ada di foto ini. Raka … aku tidak pernah menduga kalau dia bisa berbuat sesadis itu. Tubuhku bergetar, ada rasa ngeri tersendiri. Kalau aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan memberi tahu Raka. Bagaimana nasib kedua putra dan orang tua mereka. Pasti sangat terpukul. Aku jadi merasa bersalah dengan keputusan yang telah kuambil. Malang sekali nasib kamu, Fera. Ternyata kasus pengkhianatan mampu menghancurkan segalanya. Semoga ini bisa menjadi contoh, agar berfikir dahulu sebelum bertindak. Tuhan masih sayang kepadaku, hingga seseorang yang telah tersakiti karena ulahku, tidak sampai senekat itu. Beruntung Sari pun tidak sampai mengalami hal serupa, untung saja dia hanya di labrak dengan cabai, itu saja sudah bisa membuat kapok. Sungguh mendengar kekalapan Bang Raka, membaut ngeri. Apa dia tidak mampu berfikir jernih? Atau memang sudah dirasuki amarah, hingga tidak lagi mampu mengontrol emosinya, sehingga membuat dirinya gelap mata? ….
****
__ADS_1
Tok … tok …!
Seseorang mengetuk pintu. Perasaanku tidak enak, mungkin saja polisi. Benar saja, ketika aku membuka pintu, dua laki-laki berseragam menanyakan kondisi Mas Lengga. Mereka menanyakan Mas Lengga, karena pengakuan dari Bang Raka yang telah menyakiti Lengga. Urusan menjadi panjang dan ribet. Setelah mendapat keterangan, mereka kembali lagi.
"Kenapa ada polisi?" Mertuaku yang barusan berpapasan ketika hendak masuk ke ruangan Mas Lengga bertanya.
"Ini, Bu. Berita perselingkuhan Mas Lengga dan Fera sudah masuk media sosial." Ibu mertuaku nampak terkejut.
"Tapi bagaimana bisa? Bahkan kalaupun masuk media sosial, kenapa harus ada polisi segala?" tanya Ibu bingung. Meskipun Mas Lengga terluka akibat ulah Bang Raka, tapi kedua mertuaku tidak berniat untuk melapor pada polisi. Mereka merasa malu.
"Masuk dulu, ayo. Bicara di dalam." Kami ber-empat masuk dan langsung menutup pintu. Kutatap wajah Mas Lengga yang masih lelap dalam tidur panjangnya. Ruang VIP yang Adrian pilihkan untuk Mas Lengga, membuat kami sedikit nyaman berada di dalam dan mampu menjaga privasi.
__ADS_1
"Lengga belum siuman juga?" tanya Mba Sinta. Aku hanya menggeleng. Kasihan juga aku padanya, meski bagaimanapun dia adalah suamiku. Ayah dari anakku.
"Mas Adrian, Delisaa rewel gak?" Aku teringat akan anakku yang kutinggal dengan Ibu. Susu formula sementara yang diberikan.
"Enggak si anteng. Lagi pada kumpul juga di rumah Ibu," jawabnya. "Oh iya, bagaimana ceritanya Raka nekat membunuh Fera?" sambungnya bertanya. Ibu dan Mba Sinta mengangguk tak kalah penasaran.
"Ini, Mas." Aku menyerahkan selembaran koran untuk dibaca. Beritanya ada di halaman depan. Selain itu, di media sosial seperti aplikasi yang berwarna biru juga sudah ramai dibincangkan, bahkan tombol share dan koment sudah mencapai ribuan.
"Mbak Sinta, coba cari di aplikasi biru, Mba," cetusku. Sementara Adrian sibuk dengan koran yang dipegangnya. Membaca jeli setiap tulisan yang ada. Mba Sinta pun mulai sibuk dengan aplikasi biru di ponselnya.
"Sekarang kan sudah pukul 12.00 wib. Biasanya suka ada berita kejahatan di tivi," cetus Ibu. Ide bagus, aku pun juga penasaran. Kuambil remot dan menyalakan televisi. 'Wah benar saja, judul utama, berkali-kali selingkuh seorang istri di habisi suaminya.' Bang Raka dengan kepala tertutup kain hitam, hanya terlihat mata dan mulutnya, sedang melakukan adegan rekonstruksi. Mata kami fokus pada layar di televisi.
__ADS_1
"Sadis," lirih Ibu. "Terkadang dia sudah dibutakan oleh amarah,Bu. Mangkanya penting sekali untuk kita mengontrol diri ketika sedang marah," cetus Mba Sinta.
"Bukan salah Raka sepenuhnya, sudah berkali-kali dimaafkan. Namun, si istri ini mengulangi lagi dan lagi. Bahkan sampai berhubungan badan, jelas sebagai laki-laki biasa dia merasa marah. Entah apa yang di rasa oleh Raka setelah melakukannya, apa dia menyesal. Ini bisa diambil pelajaran. Tidak semua laki-laki berhati lembut, dan mampu menahan amarah jika hatinya sudah benar-benar merasa sakit, mereka akan kalap karena kehilangan kontrol diri. Berfikir sebelum melakukan hal tidak benar itu memang perlu, jangan selalu mikir senang dan puasnya. Tapi, mikir juga konsekuensinya," papar Mas Adrian. Kami hanya mengangguk. Karena, apa yang diungkapkan Adrian dari sudut pandang laki-laki memang ada benarnya juga. Terutama jika pada dirinya tidak memiliki iman yang kuat, sangat mudah bagi syetan masuk ke dalamnya. Seseorang yang sakit hati bukan hanya memaki dengan ucapan yang sadis, tapi juga bisa lebih parah dari itu.