Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 19 POV Fera


__ADS_3

POV Fera.


Salahkah aku jika mencintai dia yang telah beristri? Entah kenapa aku melakukan hal yang sama? Tiga kali aku melakukan perselingkuhan. Pertama dengan mantan kekasihku, hubungan kami berakhir karena istrinya mengetahui perselingkuhan ini. Namun, hubungan ini tetap berlangsung meski hanya sebatas teman. Walau kutahu, dia masih memiliki perasaan sama. Perselingkuhan kedua dengan Wendra, dia juga mantan kekasihku. Aku sangat mencintainya. Dia seorang anak band … meski usianya sudah matang, dia tetap terlihat muda. Bahkan lebih muda dari suamiku. Hubungan kami berakhir, karena Mas Raka mengetahui perselingkuhan ini. Seiring berjalannya waktu, Mas Raka memaafkanku. Aku berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Saat itu, aku meminta cerai dari Mas Raka, tapi dia tidak mau menceraikanku dan memilih untuk bertahan. Setelah beberapa tahun, aku sudah tidak ada lagi berhubungan selingkuh dengan siapapun, rasa cinta pada Mas Raka pun sudah kembali tumbuh. Namun, kesetiaan cinta untuk Mas Raka kembali diuji setelah kedekatanku dengan Lengga. Perselingkuhan ketiga pun terjadi, dari dia kudapat kesempurnaan cinta, wajahnya tampan, pakaian bagus, tubuh perfect, Lengga benar-benar pria idaman. Awalnya perasaanku biasa saja, tapi karena seringnya bercanda, jadi berubah cinta. Dengan dia aku berani melakukan semuanya. Awalnya hanya sebatas wajah, tapi kelamaan semua yang ada didiriku rela kuberikan. Tidak ingat lagi jikalau aku telah memiliki anak dan suami. Yang ada di perasaanku, aku senang berada didekatnya. Aku senang, dia memperlakukanku dengan manis. 


Seperti tidak ingat dosa, aku membalas setiap perlakuan manisnya. Ada perasaan bersalah dan menyesal setiap habis melakukannya. Tapi semua itu terkalahkan oleh nafsu. Aku telah dibutakan cinta pada Lengga. Ada rasa sakit melihat dia banyak menghabiskan waktu untuk istri dan anaknya, aku ingin memiliki dia seutuhnya, tapi itu tidak mungkin.


****


Hari ini kantor pulang cepat, aku dan Mas Lengga pulang bersama ke rumah kontrakan yang memang sengaja kami sewa untuk memadu kasih. Kami tinggal berkata pada pemilik kontrakan itu kalau kami ini suami istri. Aku memang sudah merasa menjadi istrinya, karena semua telah mampu kudapat darinya. Bahkan sangking aku mencintai dia, setiap kali aku melakukan kewajiban pada Mas Raka, wajah dia yang kupikirkan. Seakan aku ini ingin menjerit sekencangnya.


***


Sampai di kontrakkan, suasana sangat sepi. Mungkin tetangga lain masih sibuk bekerja. Aku dan Lengga masuk ke dalam. Membaringkan badan untuk beristirahat. Kami hanyut dalam obrolan hening, hingga akhirnya … kami larut di dalamnya. Ketika sedang asyik menikmati moment ini ….


Brak!!!!! 


Pintu di dobrak begitu kencang. Yang mengejutkan ternyata di luar ada bos dan istrinya. Ada Mas Raka dan Maya. Aku yang terkejut, mendorong tubuh Lengga hingga tersungkur. Tidak ada yang bisa kukatakan untuk mengelak, mereka telah melihatnya sendiri. Lengga sibuk memakai pakaiannya, dan aku menutup tubuhku dengan selimut. Tubuhku bergetar, ada rasa takut dan campur aduk. Tangis tidak dapat lagi terbendung. Mas Raka membawa batu besar dan melemparkan tepat mengenai tubuh Mas Lengga. Sepasang orang tua dan aku berteriak bersamaan. Tidak, batu itu tidak mengenai tubuh Lengga, tapi mengenai kepala bagian belakang hingga 


mengeluarkan darah segar. 


"Mas!" triak Mira yang tak lain juga istrinya. Mira menangis sambil menggoyang-goyang tubuh Lengga. Aku ingin mendekat, tapi dia menatap tajam ke arahku. Perlakuan kasar Mas Raka tidak cukup hanya melukai Lengga. Dia menghampiriku, mulai menjambak rambutku dan membenturkan kepalaku ke tembok. Sakit sekali … berkali-kali aku memohon ampun, tapi dia semakin ganas seperti hewan buas yang ingin memakan mangsanya. Bosku dan sang Istri membantu Lengga masuk ke dalam mobilnya. Mungkin mereka hendak membawa Lengga ke rumah sakit. Sepasang orang tua yang menangis, mengikuti Mira berjalan dari belakang dan ikut masuk ke mobil Pak Adrian.


Plak! 


Tamparan keras melayang di pipiku.


"Dasar murahan! Menjijikan! Perempuan laknat!" maki Mas Raka. Aku hanya menangis ….

__ADS_1


"Dasar keluarga murahan! Kemarin baru saja Kakakmu tega pergi dengan pria lain dan meninggalkan anaknya yang cacat! Sekarang kau!" hinanya.


"Sudah kukatakan, aku ingin bercerai darimu, Mas! Ceraikan aku!" bentakku. Aku memang sudah pasrah apa yang akan terjadi pada rumah tanggaku. Aku salah, lebih baik aku meminta cerai darinya. 


"Cerai? Kamu minta cerai? Baik, aku akan menceraikanmu! Jangan harap, anak-anak ikut dengan Ibu sepertimu!"


Cuih! 


"Menjijikan! Perempuan murahan! Gampangan! Dengan mudah menyerahkan kehormatan pada pria lain! Ternyata kamu ini tidak pernah berubah! Tobat kau tobat!" pekiknya. Aku malu sekali, banyak penghuni kontrakan yang berbondong-bondong menyaksikan drama ini. Saat ini perasaanku hancur menahan malu yang luar biasa ….


Setelah puas memaki, Mas Raka menarik kasar tanganku keluar meninggalkan rumah kontrakan itu. Dengan berbalut selimut aku tergopoh-gopoh mengikuti langkah kasarnya. Dia membuka pintu taxsi dan mendorong kasar tubuhku hingga terduduk.


"Aww, sakit," dengusku. Karena bahuku menabrak sepion depan. 


Mas Raka tidak mempedulikan, seperti gelap mata, dia berkendara di atas rata-rata. Kini hidupku seperti di ujung tanduk. Di ujung tanduk antara hidup dan mati. 


****


Tepat pukul 19.00 wib, kami tiba di kontrakan. Bersyukur suasana sedang sepi.


 


Kulihat kedua anak lelakiku sedang menonton  televisi ketika aku sudah masuk ke dalam. 


"Ibu," sapa mereka. Aku tersenyum … dan melanjutkan langkah menuju kamar. Kedua putraku sangat kebingungan. 


Tiba-tiba saja Mas Raka mengeluarkan dua tas besar.

__ADS_1


"Kalian ikut Ayah pergi ke rumah Nenek dan Kakek. Pakaian kalian sudah Ayah rapikan," cetusnya membuatku kaget. Apa maksudnya. 


"Kenapa mendadak Ayah?" tanya Rizki putraku yang pertama. 


"Tidak ada apa-apa, ayok," ajaknya.


"Kami pamit pada Ibu dulu." Rizki dan Adit menyalamiku, sambil menatap nanar wajahku, mungkin mereka ingin bertanya, tapi tidak ada keberanian. "Kami pergi, Bu," ucap mereka bersamaan. Seperti akan ada perpisahan yang cukup jauh, aku meraih kedua putraku dan memeluknya erat. Setelah itu mereka berlalu mengikuti Ayahnya. 


Seperginya Mas Raka, aku mengeluarkan tangisku. Kuakui aku tidak bisa melupakan Lengga. Aku terus berfikir tentangnya. Justru dalam tangis, aku terus memanggil namanya. Bukan, bukan aku ingin kembali padanya, tapi karena ada rasa bersalah. Gara-gara aku dia jadi seperti ini. Seluruh badanku terasa sakit. Lebam biru hampir memenuhi kulitku yang putih. Aku berani bermain api, jadi aku harus berani menanggung resikonya. Usai lelah menangis, aku memakai pakaian khas rumah, dan mencoba untuk beristirahat. Lagi dan lagi tangisku tetap pecah.  


*****


Klekkkk!!!!


Sura pintu terbuka, aku dapat mendengar karena memang aku belum dapat memejamkan mata. 


"Siapa yang kau tangisi?!" cetus Mas Raka marah. Matanya kembali memerah. Lalu, dia pergi ke dapur. 


Setelah kembali dari dapur, dia membawa sebuah parang di tangannya. Seketika tubuhku gemetar, keringat panas bercampur dingin keluar dari tubuhku. Bibirku bergetar ngeri, dengan parang di tangannya dia terus menatapku.


"Sudah kuperingatkan kamu! Sekali lagi berselingkuh, maka akan kupenggal kepalamu dan kuberikan pada orang tuamu!" bentaknya. 


"Ampun, Mas …." 


"Tidak ada lagi ampun! Kau sudah terlalu membuatku sakit! Hhhhaaaaaaaaa!"


Grreekk …!

__ADS_1


Aku tidak tahu, apa lagi yang terjadi ….


__ADS_2