Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 12 Mira sakit atau hamil


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul 18.30 wib. Waktunya Mas Lengga pulang. Aku ingin segera menumpahkan amarahku padanya. Rasanya diri ininsudah tak sabar ingin memaki, menjambak dan mencakarnya. Sungguh hati ini terasa sangat gregetan. 


"Mas! Kamu ini kelewatan banget, ya! Ngasih duit ke aku hasil ngutang dari Sinta, mantan istrimu! Bilang aja kamu mau ketemu dia kan?!" sungutku ketika melihat dia sudah berada di depan pintu. Ya ampun bahkan aku tidak bisa menunggunya masuk dulu ke dalam. Wajah lelahnya setelah pulang bekerja nampak jelas. Tapi, aku sendiri tidak tahu kenapa ingin sekali rasanya mengunyel dirinya.


"Serba salah gue jadi laki lo! Ya lo pikir gue ng**p**t! gue gak bawa duit, lo manyun! Gue bawain duit, marah-marah!" 


Hah … elo, gue? Ini kali pertama aku mendengar dia berkata kasar. 


"Iya tapi kan lo gak harus ngutang! Sama Sinta lagi!" balasku mengikuti bahasa dia. 


"Lo sendiri gak mau kan tidur di lantai tanpa kasur! Lo pingin punya ini punya itu! Gue gak minta buat lo bayarin utang gue! Gue bakal bayar sendiri!"


"Kalau gitu ngapain lo nyuruh gue berhenti kerja? Emang lo kerja apa?" 


"Satpam kantor!" jawabnya lalu bergagas ke kamar. Sudah kuputuskan besok aku akan mulai kembali kerja. 'Kirain dapat kerja kantoran, cuma satpam!" Akhirnya malam ini pun kami lewati tanpa kata. 


***********____****_______******_______


Semenjak hari itu, Aku dan Mas Lengga sering berdebat. Aku juga kembali bekerja. Meskipun masih dengan posisi yang sama. Gajih Mas Lengga tidak cukup untuk berdua, gajih tiga juta perbulan, mana cukup untuk beli kebutuhan lain, wajahku juga sudah mulai kusam, akibat gajih Mas Lengga yang tidak lagi mampu membelikanku secincare. Entah suamiku itu punya malu atau tidak, dia bekerja menjadi satpam di dekat bekas kantornya dulu apa tidak malu di tertawakan oleh mantan istrinya. Kalau kurasa setelah menikah dengannya hidupku jadi seperti ini, lebih baik dulu aku menerima pinangan Heru. Sekarang justru berbanding terbalik, orang yang pernah kutolak dan kugantungkan cintanya kini hidup enak. Memang penyesalan selalu datang di akhir cerita. Tapi, jujur saja jika Mas Lengga memiliki uang, rasa sayangku timbul.


*****


"Mas aku kayanya gak kerja deh, gak enak badan pusing, tadi si udah bilang sama Pak David ijin," ucapku pada Mas Lengga yang sudah rapi dengan seragam satpamnya pagi ini.


"Ya udah, kamu istirahat saja. Biar aku aja yang kerja," ucapnya santai dan penuh cinta. Entah kenapa, mendengar dia berkata seperti itu, emosiku kembali mencuak.

__ADS_1


"Kamu aja yang kerja! Cukup buat makan doang sama bayar rumah? Itu juga masih kurang!" celetukku kesal.


"Mangkanya, jadi perempuan itu bersyukur! Jangan kufur! Supaya Allah kasih rezeki tambahan! Shalat berdoa minta sama Allah, doain suami," ucapnya dengan nada rendah, tapi terdengar sedikit sinis. Kalau sudah seperti ini aku kalah Perdebatan. Selama ini Mas Lengga memang cukup sabar menghadapi sikapku yang gampang marah. Hampir semua kerjaan rumah, aku mengabaikannya semenjak kembali bekerja.


"Ya udah aku berangkat dulu," pamitnya.


Aku tidak lagi menjawab, hawanya terasa malas, bertengkar setiap hari terasa lelah, semua pemacunya bukan hal lain. Tapi, masalah ekonomi yang mulai mencekik. Entah bagaimana kabar mantan istrinya, pasti makin sukses. Agh sial ….


Huueekk … Huueekk …. 


'Ya ampun mual banget, magh kali ya, dari tadi mual banget. Aduh, jangan hamil dulu, aku belum memiliki uang yang cukup. Ada ketakutan tersendiri dengan kehamilan, mengingat pekerjaan Mas Lengga masih seperti itu. Tapi, suamiku itu sudah menginginkan seorang anak. Lama-lama badanku terasa lemas, kepala juga pusing, rasanya aku tak cukup kuat untuk duduk ataupun berdiri. Alhasil, aku berbaring seharian sambil memejamkan mata, berharap rasa pusing di kepala segera hilang. Bahkan untuk bermain ponsel, akupun tak mampu melawan rasa pusingnya.


****


"Mira! Mira!" Panggil Mas Lengga, sepulangnya dia kerja. Mungkin karena aku tidak menyahut, dia langsung mencariku di kamar. 


"Beum, Mas. Pusing, mual," jawabku lemah. 


Hooeekk … hooekk … aku kembli, merasa mual, tapi tidak ada isi perut yang dikeluarkan.


"Hami kali," cetus Mas Lengga dengan binar kebahagiaan. "Ayo ke bidan terdekat!"ajaknya.


"Emang punya duit?!" sinisku.


"Ada, hari ini kan gajihan." Dia menyerahkan semua gajihnya padaku. Seperti biasa sikapku kembali melembut. Semoga saja dia tidak menyadari cintaku jika dia beruang. Akhirnya aku pun pergi ke bidan terdekat diantar Mas Lengga, menggunakan sepeda motor yang baru beberapa bulan kami keredit. Yah walaupun hidup susah, setidaknya lumayan sudah kebeli motor meski kredit. 

__ADS_1


***


Sampai di tempat Bidan, aku mengalami serangkaian pemeriksaan. Tidak lama, Bu Bidan mengatakan hasilnya.


"Ibu sedang hamil muda sudah menginjak usia empat minggu, mohon dijaga kandunganya ya, Bu." ucapnya. Senyum bahagia sangat nampak di wajah suamiku.


"Allahmdullillah, terima kasih, Bu," ucap suamiku. Sedangkan aku sendiri, antara senang atau sedih.


"Tapi kan belum di taspeck, Bu." cetusku.


"Iya tapi memang Ibu sedang hamil," kekehnya. Bagaimana dia bisa tahu sedangkan di tes juga belum.


"Saya mau tespeck! Nanti, Bu bidan salah prediksi lagi!" Bu bidan dan Mas Lengga hanya saling bertatap. 


"Di tespeck aja, Bu. Biar dia tidak penasaran dan yakin," ucap Mas Lengga ramah. Iya sikap ramah yang membuat kau mencari perhatiaannya dulu.


Bu bidan mengeluarkan satu tespeck yang baru di buka dari kemasan dan memberikannya padaku, dengan cepat aku masuk ke kamar mandi, dan memasukan alat itu di air seniku. Hatiku dag dig dug … karena  tidak mengharapkan kehamilan. Setelah menunggu, tespeck itu menunjukkan garis dua. Ternyata aku hamil, pikiranku melayang kemana-mana. Bagaimana kalau aku berhenti kerja? Bagaimana kalau nanti tidak bisa bayar kontrakan atau cicilan sepeda motor. Segala kegundahan menyerang secara tiba-tiba. Dengan lemas dan wajah lusuh, aku keluar dari kamar mandi.


"Gimana hasilnya?" tanya Mas Lengga. Tanpa menjawab, aku memberikan hasil tespeck itu. Bu bidan dan dia tersenyum sumringah. Hanya aku yang manyun.


Mas Lengga mengusrus pembayaran, sedang aku menunggu dari luar. Bu bidan membawakan aku obat-obatan serta susu kehamilan. Katanya obat itu vitamin.


"Ayo." Mas Lengga menggandeng tanganku naik ke sepeda motor.


"Hati-hati," ucapnya. Dia menjadi sangat perhatian mendadak. Tapi aku mengabaikannya. "Mulai besok kamu jangan kerja," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Bawel banget si kamu! Ngomong terus!" ketusku. Akhirnya perjalanan pulang kami lalui dengan keheningan.


__ADS_2