
POv Rakha
Tidak ada rasa menyesal setelah aku menghabisinya. Yang ada hanya kepuasan tersendiri. Puas telah menghabisi perempuan murahan seperti dia. Hanya dengan kematian yang mampu mengakhiri penghianatannya. Jika terus kumaafkan, dia pasti akan melakukannya lagi dan lagi.
Terbukti ini bukan kali pertama dia melakukan perselingkuhan. Aku sudah berusaha menjadi suami yang baik, dan bertanggung jawab. Tapi, dia tidak sedikitpun mau menghargaiku. Dia pandai bersilat lidah, pandai juga menyimpan kebohongan, seolah-olah dirinya benar-benar telah berubah. Selama menjadi suami Fera, aku sudah cukup sabar dan diam menghadapi dirinya. Aku juga tidak pernah meminta agar Fera bekerja, dia sendiri yang memaksa untuk bekerja, dengan alasan tidak bisa membeli ini dan itu jika memakai uangku. Padahal, aku tidak pernah melarang dia belanja apapun. Ya, karena dia bekerja memang untuk kebutuhannya sendiri, karena hobinya adalah belanja online. Apapun yang iya suka dan mau pasti iya beli. Mau di pakai atau tidak, yang terpenting sudah ia dapatkan. Kadang yang membuatku protes, banyak barang-barang yang telah dibeli menjadi mubzir karena tidak digunakan. Terkadang ucapan kata cerai yang terlontar dari mulutnya juga mampu membuatku sakit. Dengan entengnya, jika dia ketahuan berselingkuh, dia selalu berteriak "Sekarang mau kamu apa?! Ceraikan aku!" Itu kata-kata yang mampu menghujam hatiku. Sungguh aku merasa seperti seorang suami yang tidak dibutuhkan, dan itu dia lakukan karena demi orang ketiga, yang belum tentu baik untuknya. Hingga pada akhirnya tiba sudah puncak emosiku yang mampu membuat seluruh mataku gelap, ya … ketika aku tiba dari rumah orang tuaku untuk mengantar Rizki dan Adit, dia sedang menangis menyebut nama Lengga … Lengga … dan Lengga … bagaimana perasaanku? Sakit bukan? Saat itu juga tidak sengaja aku mengambil parang … lalu kembali dan langsung saja aku melakukannya ….
Setelah sadar dengan apa yang telah kulakukan, aku termenung sesaat, menangis memohon ampun pada yang maha kuasa, aku telah membunuh, bukan menyesal karena telah menghabisinya, tapi aku menyesal karena telah melakukan dosa serta tidak memikirkan nasib kedua anakku. Emosi itu telah membuatku lupa segalanya. Setalah sadar, aku berjalan cepat menuju kantor polisi membawa semua bukti termasuk bagian tubuh itu ….
*****
"Saudara Raka, apa kau menyesali perbuatanmu?" tanya Pak polisi.
"Tidak! Tapi aku puas!" jawabku lantang dan tegas.
Tidak lama kemudian, datang keluarga Fera dengan beribu kalimat cacian. Mereka meminta polisi untuk menghukum perbuatan kejihku seberat mungkin. Kedua mertuaku nampak hancur dan rapuh, dengan lunglai mereka mengambil anggota tubuh Fera yang kubawa untuk dimakamkan. Sebelum mereka pergi, mereka terus berteriak dengan berbagi macam ucapan sumpah serapah.
__ADS_1
****
Setelah kedua mertuaku kembali ke rumahnya, tidak beberapa lama aku kembali kedatangan tamu. Ternyata mereka kedua orang tuaku. Beberapa pertanyaan Ibu dan Bapak lontarkan.
"Raka, kenapa kamu melakukan hal sebodoh dan segila ini?" Ibu bertanya dengan tangis yang tidak bisa ditahan. Aku tidak mampu menjawab pertanyaan Ibu.
"Ayah…," lirih kedua putraku bersamaan, mereka menghambur memeluku erat. Hatiku bagai tersayat sembilu melihat orang tua dan anakku menangis. Aku tidak bisa berkata apapun selain kata maaf.
Bodohnya aku harus menghabiskan hidup di penjara, orang tuaku sudah menua … mengapa aku tidak mampu berfikir kesitu saat itu?
"Adit … Rizki … Ayah minta maaf. Ayah telah berbuat salah dengan membunuh Ibu kalian. Ayah minta tolong, Jaga Nenek dan Kakek," pintakku. Orang tuaku masih menangis. Sepanjang sejarah, anakku akan mencatat kalau Ayahnya seorang pembunuh.
"Ibu!" triaku. Ibu menengok. "Di koper Adit, ada uang lima puluh juta rupiah dan di tas Rizki ada buku tabungan untuk masa depan mereka!" cetusku. Setelah itu, polisi kembali membawaku masuk ke dalam sel tahanan. Semoga uang yang sudah kutinggalkan bisa berguna untuk masa depan mereka. Setidaknya, dengan uang itu, kedua orang tuaku bisa membangun usaha kecilan. Dan harapanku, semoga Adit dan Rizki bisa menjaga Nenek dan Kakeknya. Sebenarnya aku tidak merencanakan pembunuhan ini sebelumnya, saat itu aku pergi ingin meninggalkan Fera, sehingga uang tabungan bisa ikut terbawa, entah setelah mengantar anak-anak, perasaanku ingin kembali lagi ke rumah kontrakan, alhasil, ternyata itu yang kulakukan. Kalau saja aku tahu akan melakukan itu, aku tidak akan pernah kembali ke kontrakan itu.
Semua telah terjadi, nasi sudah menjadi bubur,,, terlambat sudah untuk menyesali. Aku menyesal telah menyakiti hati orang tua dan anakku serta mertuaku. Bukan menyesal telah mengakhiri hidup si wanita murahan.
__ADS_1
Semoga kasusku ini bisa menjadi contoh bagi pelaku perselingkuhan,,, sebelum melakukan, pikirkan imbas yang bisa ditimbulkan ….
Tidak terasa, sudah dua Minggu ini aku ada di penjara, tinggal menunggu keputusan berapa lama aku akan menjalani hukuman. Raut ikhlas dan senyum anak-anak mulai terukir ketika ikut Nenek dan Kakeknya menjengukku. Sebuah surat yang telah kutulis untuk orang tua Fera, kutitipkan pada Ibu untuk memberikannya.
\*\*\*\*\*\*
Sekarang sudah waktunya aku menjalani hukuman dengan tenang. Dan memfokuskan diri beribadah pada Ilahi Robby.
__ADS_1
Doa dan harapan-ku semoga tidak ada Fera-Fera yang lain, tidak ada lagi Raka yang lain. Cukup kami yang menjadi contoh tragis kisah perselingkuhan yang berakhir sadis bagi mereka.