
Betul dugaanku, dibalik keluguan Mira, tersimpan hati yang jahat. Dia perempuan hanya mau enak saja. Kasian dengan Lengga, tapi biar dia tahu rasa. Aku tidak perlu membencinya. Melihatku masih akrab dengan mantan mertuaku pun pasti mampu membuatnya menyesal, walaupun aku sendiri tidak tahu benar atau tidak dugaanku, dengan menunjukkan sikap terbaikku mungkin dia juga menyesal, sebab dari caranya dia bercerita aku pun masih merasa kalau dia masih menaruh hati padaku, entah betul atau tidak ….
****
Hati ini terasa lega, sudah memberi tahu kabar pernikahanku padanya. Aku sengaja mengundang Mira, ingin melihat reaksinya, saat itu dia bersumbar, akan bisa sukses memulai kehidupan dari nol bersama Mas Lengga. Nyatanya, mendengar cerita Lengga, dia selalu mengajaknya bertengkar, kasian kamu, Mas. Semoga saja besok dia bisa datang. Kenapa sepupunya itu menikah pada hari yang sama denganku? Hem semoga saja Mereka bisa hadir. Pernikahanku dengannya, akan di selenggarakan di hotel mewah bintang lima, hotel terbesar para pengusaha, hotel adnita, siapa yang tidak tahu hotel itu, hotel itu adalah hotel termewah di kota metropolitan ini, milik perusahaan Sanjaya group. Pemilik hotel itu termasuk rekan bisnis calon suamiku, beruntungnya aku mengenal dia. Ya, calon suamiku adalah salah satu pengusaha tambang terbesar dalam negri.
*********_______*******_________********__
"Ma, setelah acara pernikahan Mama dan Om Adrian, Revan jadi berangkat ke Australi?" tanya anakku menghampiri.
"Memang kamu serius mau lanjut sekolah di sana?" tanyaku.
"Iya, Ma. Revan mau lanjut di sana. Tinggal sama Nenek dan Kakek." cetusnya.
"Sebenarnya Mama berat ngelepas Revan, tapi kalau memang mau Revan seperti itu, Mama dukung," ucapku.
"Iya, Ma … nanti Revan berangkatnya bareng sama Nenek dan Kakek. Lagi pula Mama kan bisa tengokin kami di sana."
Orang tuaku memang pindah ke Australia, semenjak kuberi modal untuk usaha berjualan toko di sana, allhmdullillah, berkembang pesat, jadilah toko Mama yang terkenal berjualan prodak Indonesia. Nah, sekarang anakku bahkan ingin sekolah di sana. Kalau saja aku tidak dalam mengurus bisnis, mungkin aku juga ingin tinggal di sana beberapa saat.
****
[Sayang … kamu bisa ke hotel sekarang? Kamu nginep aja di sini. Jadi besok kamu tidak terburu-buru] sebuah pesan masuk dari Adrian menghiasi layar ponselku.
[Siap, Boskuh. Aku di jemput apa bawa mobil sendiri]
[Hem … bukan aku gak mau jemput. Tapi, aku sedang memantau persiapan pernikahan kita]
__ADS_1
[Ya udah kalau gitu, aku naik Taxsi aja]
[Okey, hati-hati di jalan. Love you somach]
Hem … jadi seperti anak muda aku diperlakukan seperti ini. Ya, meski usianya lebih tua aku satu tahun, tapi wajahnya tetap tuaan dia. Jadi berasa muda xixixi.
Tanpa riasan make-up, aku begagas menghampiri calon suamiku.
"Revan! Mama!Papa!"panggilku.
Mereka bertiga datang bersamaan.
"Apa si, Sing? Ganggu kami bergurau saja," protes Papa. Sudah kuduga Revan di kamar mereka.
"Kita ke hotel, Yuk. Gak usah bawa keperluan apapun, di sana sudah di siapkan."
"Serius dong."
"Oke, cus. Asikk ke hotel mewah," celetuknya.
"Nora deh, cucu Kakek," goda Papa.
"Ya udah. Buruan yuk." Kami ber- empat langsung bergagas. Tapi tidak jadi naik taksi, Papa yang bawa mobil.
"Sifa!" panggilku. Tidak menunggu lama Sifa datang menghampiri.
"Iya, Tante."
__ADS_1
"Bilang Ibu, Tante Sinta nginap di hotel. Besok pagi, kalian nyusul kesana naik taksi ya," ucapku sambil menyodorkan lima lembar uang ratusan.
"Iya, Tante. Makasih. Hati-hati di jalan."
******
"Wah, Ma … keren banget. Ini si nyenyak tidurnya. Hahahhaa" Raut wajah bahagia nampak jelas di mata Revan sesampainya kami di hotel. Adrian langsung menghampiri kami ketika dia melihat kalau kami telah tiba. Dia calon suamiku lebih dulu menyambut orang tuaku, menyapa dan mencium tangan mereka.
"Ayok, Pa, Ma. Biar Adrian antar ke kamar kalian," tutur calon suamiku ramah. Mereka berdua mengikuti langkah Adrian. Rasa haru menyuak dalam hati, bahagia melihat keharmonisan ini.
"Sayang, Papa. Eh, Sayangnya Om. Gak ikut mau tetap berdiri di sini?" godanya pada Revan.
"Ikut dong," ucap Revan berlari kecil menghampiri.
"Aku ditinggal?!" cetusku manja. Sepertinya ucapanku tidak dihiraukan, hanya kode centil dari matanya. Namun, terlihat sangat manis.
Aku berharap, semoga Adrian adalah jodoh sehidup dan sematiku. Semoga pengalaman kelam masa lalu tidak datang kembali.
****
"Ini kamar, Mama dan Papa," tunjuknya. Mereka langsung masuk ke dalam dan berucap terima kasih.
"Ini kamar anak Papa." Revan masuk dan berucap terima kasih. Senangnya, melihat mereka akrab.
"Dan aku?" cetusku ketika tinggal aku seorang.
"Dan ini … ini kamar bidadari surgaku. I love you," bisiknya mesra di telingaku. Sebelum akhirnya dia pun berlalu melanjutkan pengawasannya.
__ADS_1
'Terima kasih untuk kebahagiaan ini, Ya Robb. Terima kasih telah membawa kembali warna cinta dalam hidupku. Terima kasih telah mencintai dan menerima setiap kekurangan dalam diri ini, terima kasih telah menerima anakku seperti anakmu, calon suamiku.' Aku menatapnya hingga dia tidak dapat terlihat lagi oleh kedua bola mataku. Setelah benar-benar menghilang, aku masuk dan menutup pintu. Kemudian, berbaring memejamkan mata dengan perasaan ternyaman. Tidak sabar lagi untuk menunggu hari esok ….