Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 17 Awal kehancuran hati Mira


__ADS_3

Dari kedatangan Adrian dan Sinta hingga mereka pulang, sampai Ibu pun ikut pulang, Mas Lengga belum juga kembali. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya. Namun, ponselnya ia matikan. Tidak ada aktifitas lain selain aku memikirkan suamiku. Sebelumnya, aku tidak berfikir sejauh ini. Apa harta memang mampu merubah seorang suami?


Setelah melahirkan, bukan perhatian yang kudapatkan, justru sebaliknya. Mau mengeluh pada Ibu? Aku jelas malu. Dalam keadaan masih lemah seperti ini, aku harus mengurus anakku seorang diri. Alhasil, sepanjang malam, aku hanya memikirkan Mas Lengga, rasanya makan hati. Kepalaku jadi sakit, loyo, lemas dan tidak bersemangat. Ingin marah, ingin melontarkan makian, ingin bertanya selama seminggu belakangan, dia kemana? Apa yang dia lakuin, dan sama siapa. Aku sungguh ingin mencabik-cabik wajah Mas Lengga.


*****


Krek ….


Bunyi pintu di buka, membangunkan tidurku yang sembari memberi asi pada putriku. Kulepas pelan payudaraku dari mulutnya dan berjalan perlahan kearah ruang tamu. Semua lampu di dalam rumah dalam keadaan padam, sehingga terasa lumayan gelap. Tapi, bisik suara masih dapat kudengar meski pelan. Dan bayangan seseorang masih dapat sedikit terlihat. Karena sorotan cahaya lampu dari teras tetangga.


"Mas Lengga," lirihku ketika dia masuk mengendap-endap sambil menengok kanan kiri, lalu menarik seseorang. 


"Hati-hati," ucapnya sambil memegang tangan seseorang. Sepertinya, perempuan, karena dapt kulihat kibasan rambut dari cahaya ponsel yang di pegang wanita itu.


Perempuan itu terus bergelayut manja, dan mencumbu leher suamiku. 


Setelah masuk, mereka duduk di kursi ruang tamu, aku masih berdiri di balik lemari pajangan, ingin menyaksikan apa yang sedang mereka lakukan. Mas Lengga benar-benar tidak menyadari jika aku berdiri mengawasinya. Dia sibuk mencari sesuatu di sebuah rak tempat menaro DVD. Tidak lama, cahaya terang itu muncul dari televisi. Ternyata, Mas Lengga memutar sebuah film yang tidak senonoh. 'Inalilahi wainailaihi rojiun' kututup mulut dengan kedua tangan. Sesak, perih seperti belati menusuk sampai kehati. Yang lebih membuatku sakit, mereka memperaktikannya. Aku melihat setiap adegan demi adegan. Sakit, sesak … hik … 


"Setop, Sayang … pindah," ucapnya penuh manja. Mereka berdua bangkit dari kursi hendak melangkah ke kamarku. 


Klek …!

__ADS_1


Lampu kunyalakan. Mas Lengga dan perempuan lacur itu terbelalak melihatku berdiri tepat di hadapan mereka.


Plak ….! 


Plak ….! 


Aku menampar keduanya secara bergantian.


"Mira, kamu sudah pulang?" ucap Mas Lengga sembari membenarkan seleting celananya yang sedikit terbuka. Sakit sekali aku harus menyaksikan kejadian ini di depan mataku. Sedangkan perempuan itu, membenarkan kancing kemejanya dan mulai merapikan rambut panjangnya. 


"Kamu wanita lacur!" makiku padanya. 


"Hey, jangan berkata aku lacur, kalau kau sendiri tidak jauh berbeda dariku!" jawabnya membentaku. 


Plak!


Aku kembali menampar wajahnya. 


"Kalian selesaikan hubungan ini, atau kulaporkan pada warga sini!" triaku. 


"Enggak bisa! gue lagi hamil!" cetus wanita itu. 

__ADS_1


"Hamil anak siapa lo?!" Diam. "Anak kambing! Atau anak A*****g?" Aku berkata kasar sambil menatap wajah Lengga. Kutarik dirinya yang diam melihat pertengkaran kami. Aku yang sudah tidak mampu lagi menahan emosi, menjambak rambut dan mencakar wajahnya hingga aku meninggalkan bekas merah di wajah mulusnya. Sedangkan perempuan itu, aku mengambil air panas dari dispenser dan menyiramkan ke wajah perempuan itu sambil menyeret keluar dari rumahku. Tidak kupedulikan lagi sakit perut akibat caesar, dengan kuat aku menendang bokong perempuan itu, lalu kembali masuk dan menutup pintu serta menguncinya dari dalam.


***


Urusan perempuan itu sudah selesai, aku juga sudah puas menyiramkan air panas tepat di wajahnya. Kemarahanku tidak berhenti sampai disitu. Aku kembali menghampiri Mas Lengga dengan tatapan murah penuh kebencian. Tidak kupedulikan suara tangis dari putriku. Namun, suara itu kini amat mengganggu. Secepat kilat, aku mengambil empeng dan memberikannya pada Delisa hingga dia kembali terdiam dan tidur.


"Maaf, Mira. ucap Mas Lengga ketika aku menghampirinya kembali.


"Maaf? Maaf katamu?" Aku kembali menghampiri dan menjambak rambutnya. Betul … aku seperti orang kesetanan dengan sebuah pisau berada di tanganku. 


"Maaf aku tidak akan mengulanginya. Aku hanya lelah dengan sikapmu!" Dia terus menghindar ketika aku terus mendekat.


"Persetan dengan maaf! Di mana otakmu ketika aku sedang membutuhkan suamiku! Kau malah asik berselingkuh dengan perempuan lacur!" pekiku. Air mata terus mengalir deras membasahi pipi ini. 


"Kamu tega, Mas," lirihku sambil menjatuhkan pisau yang kupegang. Mas Lengga menghampiri dan hendak memelukku. Tapi aku menghindarinya. Aku merasa jijik …. 


Ternyata seperti ini rasanya di selingkuhi, baru aku tahu rasa sakitnya wanita yang telah kurebut suaminya. Aku sadar akan siapa aku dulunya, mungkin ini karma untukku. Benar, seseorang yang telah berani berselingkuh, tidak menutup kemungkinan dirinya kembali berselingkuh. Aku kapok pernah jadi pelakor, kalau akhirnya aku harus ketemu pelakor.


****


Bagaimana kisah hidupku setelah kejadian ini? Akankah karmaku masih ada atau cukup sampai di sini? Percayalah, sesungguhnya aku sedang merasakan sakit luar biasa malam ini. Sakit bekas luka belekan, tidak seberapa dengan goresan luka yang telah di torehkan oleh Mas Lengga. Tidak ada yang abadi dari hasil mengambil milik orang, ya itu benar. Seperti aku yang tidak instan mendapat balasannya. Mungkinkah maaf Mas Lengga itu nyata? Atau hanya fatamorgana?

__ADS_1


 


__ADS_2