Kapok Jadi Pelakor

Kapok Jadi Pelakor
Bab 8 Bingung


__ADS_3

"Mas, kita pergi kemana?" tanyaku pada Mas Lengga. 


"Kita numpang di tempat Kakakmu dulu sampai aku dapat pekerjaan. Kamu juga cari kerja habis itu, kita cari kontrakan kecil sementara," jawabnya.


"Kenapa gak numpang di tempat orang tuamu saja, Mas?" Tidak mungkin aku meumpang di tempat Mba Desi. 


"Tidak enak, Mira. Mas gak mau ngerepotin mereka. Ini juga mereka belum tahu kalau Mas bercerai dengan Sinta."


"Mas kita pulang ke tempat orang tuaku. Kalau Ibuku pasti akan mengerti." 


"Ya udah, sementara kita tinggal di rumah mereka." 


Keputusan pun telah diambil, untuk sementara waktu kami akan tinggal di rumah orang tuaku. Aku dan Mas Lengga akan mulai mencari pekerjaan untuk membangun mimpi supaya bisa membungkam mulut Sinta. 


"Naik ojek aja, Mas. Di depan ada tukang ojek." Mas Lengga mengangguk, berjalan di belakangku sambil menyeret dua koper besar. Mudah-mudahan di tempat Mang Udin aman, karena untuk menuju tempat kang ojek, harus melewati tempat berjualan Mang Udin.


"Mau kemana Mira? Pak Lengga," sapa Mang Udin dengan ramah.


"Mau pulang ke tempat orang tuaku, Mang," jawabku tak kalah ramah. Mungkin Mang Udin bingung kenapa tidak menggunakan mobil, orang kaya kok jalan kaki. Mungkin ….


"Mas, ayo cepetan! Keburu tukang nyinyir pada datang." Aku menarik tangan Mas Lengga. "Mang kami pergi dulu," pamitku pada Mang Udin. 


"Hati-hati, Mira."

__ADS_1


"Iya, Mang. Terima kasih."


****


"Bang ojek! Dua motor ya."


"Siap, Mira. Tumben naik ojek," bingung Mang Sukri.


"Udah, Mang. Jangn bawel, ayok jalan." Aku menepuk pundak Mang Sukri. "Mas ayo!" Sedangkan Mas Lengga naik motornya Mang Bidun. Semua yang tukang-tukang, aku memanggilnya dengan sebutan Mang bukan bang, rasanya gimana gitu, lebih nyaman panggil Mang.


****


Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, kami telah tiba di tempat orang tuaku, tepatnya di perkomplekan PPC Jakarta Selatan. Ya walaupun rumah biasa tidak sebesar rumah yang di rebut Mba Sinta di perumahan Bukit Mas.


Tidak lama, Ibu kembali dengan dua gelas sirup dan satu botol air putih dingin. Ibu duduk dan mulai menyelidik. Aku sudah dapat menangkap maksud Ibu, karena matanya tertuju pada tiga koper hitam yang kami bawa.


"Kok kalian bawa-bawa koper? Kaya orang mau pindahan?" tanya Ibu sedikit hati-hati. Mungkin takut menyinggung.


"Gini, Bu, sebenarnya kami mau menumpang di sini untuk sementara waktu, sampai Mira dan Mas Lengga dapat pekerjaan, lalu kami akan pindah dan mengontrak rumah," paparku pada Ibu.


"Memang rumah kalian? Dan … bukankah Lengga memiliki perusahaan?" Ibu kembali bertanya, kali ini wajahnya menampakkan kebingungan.


"Semua diambil alih oleh Sinta, Bu. Dia telah merencanakan niat jahatnya sudah sejak lama. Ternyata dia hanya berpura-pura menerima pernikahan kami."

__ADS_1


"Ibu juga kalau dapat madu pernikahan yang seperti kamu, akan melakukan hal yang sama." Deg … jawaban Ibu membuat aku dan Mas Lengga saling bertatap. Mas Lengga hanya diam saja tidak banyak berbicara, mungkin dia bingung apa yang ingin dia katakan. 


"Awalnya si Ibu malu, banyak dari tetangga yang bergosip kalau kamu menjadi simpanan bosmu, eh ternyata kalian menikah. Kalau saya di posisi Sinta, Lengga, saya mungkin sudah rapuh. Tapi Istrimu kuat dan cerdas. Dari awal hubungan kalian sudah salah, sejatinya tidak ada satu perempuan di muka bumi ini yang di madu. Atas ijin istri pertama saja, menyakiti. Apalagi kalian berhubungan secara diam, berselingkuh! Kamu itu seperti perempuan penggoda Mira, yang dengan bangganya mau menikah dengan pria beristri, nikmati saja sekarang nasibmu! Kalian memang harus bangkit dari nol!" ucap Ibu panjang lebar. Kali ini Mas Lengga membuka suara.


"Ibu mau menolong kami atau tidak? Kalau tidak ingin memberi tumpangan, saya mohon jangan menyudutkan kami. Semua sudah terjadi dan dapat di jadikan sebagai pelajaran," tandas Mas Lengga membuat Ibu diam sekejap.


"Ya Ibu tidak masalah kalau kalian mau tinggal di sini, lagian kan masih ada kamar kosong. Ya udah kalian istirahat, Ibu tinggal ke kamar dulu. Kalau mau makan, di dapur sudah tersedia makanan." 


***


Aku dan Mas Lengga langsung beristirahat di kamar bekas Mba Desi. Meski kecil, kamarnya sangat rapi dan tenang. Mas Lengga langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dengan kedua tangan sebagai bantal dan mata menerawang ke langit-langit kamar. Wajahnya lesu, seperti banyak hal yang di pikirkan.


Aku mulai mendekatinya, rasa iba akan kehancurannya juga aku rasakan. Berbekal ijasah SMK, aku akan mencoba melamar kerja esok.


"Mas, jangan pikirkan ucapan Ibu. Maafkan aku," ucapku pada Mas Lengga. Semua ini terjadi memang gara-gara aku. 


"Aku tidak memikirkan ucapan Ibumu," jawabnya dengan memejamkan mata. 


"Terus kamu mikirin apa?" Meskipun wajahnya terlihat tenang, tapi aku yakin banyak hal yang di pikirkan. Mudah-mudahan dia tidak memikirkan Sinta. Aku takut kalau dia menyesali keputusannya. Betul ucapannya semua ini bisa dijadikan sebagai pelajaran.


Aku dan Mas Lengga akan memulai semua dari nol. Sekarang aku adalah istri satu-satunya Mas Lengga.


****

__ADS_1


__ADS_2