
Karia Nandafisa
Rinno Galaf Marangga
Karia langsung menyembunyikan dirinya dibawah selimut begitu ia masuk kedalam kamarnya. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu pada Rinno dan ia dijadikan tersangka.
Rasa cemas terus menghantui perasaan Karia hingga matanya terpejam sendiri.
Tok tok tok
" Sayang, bangun. Nanti keburu siang berangkat sekolahnya," ucap Rina didepan pintu kamar Karia.
Karia pun menggeliat pelan. Ia tampak lupa dengan kejadian yang dialaminya semalam.
" Iya Mah, Karia udah bangun."
Karia mengambil handuk lalu pergi kekamar mandi untuk membersihkan diri.
****
Chandra tampak menunggu Karia dikelasnya. Ia langsung menghampiri Karia yang sudah masuk kelas.
" Kar, gimana? Loe udah ngomong sama mama loe?"
" Udah Chan."
__ADS_1
" Terus tanggapannya gimana?"
" Mama terlihat sedih dan kecewa tapi mama ngedukung gue dan meminta gue buat menjaga kandungan gue. Biar gimana pun gue adalah korban disini."
" Terus mama loe nggak pengen nerusin kasus ini ke ranah hukum?"
" Gue nggak mau Chan. Gue nggak mau bikin mama gue malu dengan aib ini. Mungkin setelah ujian gue bakal pindah rumah."
Chandra menggenggam tangan Karia dan menatapnya.
" Setelah ujian, gue bakal nikahin loe Kar seperti perkataan gue waktu itu."
" Jangan libatin diri loe Chan. Dengan loe nikahin gue, sama aja loe menghancurkan harapan kedua orang tua loe. Sekarang loe pikir, orang tua mana yang merelakan anak lelaki mereka yang masih abg menikahi wanita yang sama sekali bukan jadi tanggung jawabnya. Gue sangat berterima kasih dan menghargai niat baik loe Chan, tapi gue nggak bisa menerimanya."
Chandra hanya diam dan lebih memilih meninggalkan Karia untuk menenangkan pikirannya.
****
" Dek, harusnya kamu itu berangkat sekolah bukannya nemeni kakak disini."
" Aku khawatir banget sama Kakak, lagian siapa sih orang jahat yang udah bikin Kakak terluka kayak gini padahan kan Kakak jago bela diri."
" Semalem Kakak sakit makanya nggak bisa nglawan. Ya udah kamu tolong urusin administrasinya terus kita pulang."
Rinsa mengangguk lalu keluar dari ruang perawatan Rinno.
Rinno mengendarai mobilnya sendiri tanpa bantuan supir. Saat berhenti dilampu merah, samar- samar ia melihat gadis yang membuatnya berdarah semalam sedang berjalan menuju apotik.
Rinno melajukan kembali kendaraannya dengan lebih cepat.
__ADS_1
" Dek, setelah sampai rumah Kakak langsung pergi ya soalnya ada urusan penting."
" Tapi kan Kakak baru sembuh!"
" Cuma luka kayak gini nggak masalah."
Setelah mengantar Rinsa ke rumah, Rinno segera berbalik arah menuju tempat ia melihat Karia tadi. Ia menunggu hingga Karia keluar dari apotik.
Tak berapa lama, orang yang ditunggunya pun sudah keluar. Ia mengikuti Karia dari belakang dengan mengambil jarak aman.
Karia sengaja memilih jalan pintas agar tak terlalu jauh. Namun Karia merasa jika ia diikuti oleh seseorang.
Karia menoleh kebelakang dan muncullah Rinno dengan senyum yang mengerikan.
" Rinno!"
" Kenapa? Kaget? Loe pikir gue udah mati?" tanya Rinno sambil berjalan cepat kearah Karia.
Karia segera berlari untuk menghindari Rinno. Rinno pun mengejar Karia yang berlari tak terlalu cepat.
" Hah..hah...hah...tolong." Karia berteriak dengan napas yang ngos-ngosan.
Karena tak kuat, Karia pun jatuh hingga obat yang ia pegang berserakan.
" Mau kemana loe? Loe pikir, loe bisa lari dari gue!"
Karia memundurkan dirinya karena takut hingga tubuhnya terpentok pagar tembok yang tinggi.
Rinno tersenyum dan ia memaksa mencium bibir Karia.
__ADS_1
Bersambung....